
Tanpa melepaskan sedikit pun genggaman tangannya, Noran terus berdiri di samping Nazila yang sedang ditangani intensif oleh dokter. Air mata Noran jatuh berderai saat melihat nafas Nazila tersengal-sengal. Seumur hidupnya, Noran tak pernah merasakan takut kehilangan. Seumur hidupnya, Noran tak pernah merasakan kesedihan mendalam karena seseorang, tapi kini ia begitu ketakutan melihat sang istri sedang berada diantara hidup dan mati.
Setelah beberapa saat, dokter pun berhasil mengatasi kejang-kejang yang dialami Nazila. Awalnya Noran dapat bernafas dengan lega, tapi setelah mendengar pernyataan dokter kalau Nazila mengalami koma, dunianya seakan runtuh. Jantungnya seakan dihantam palu gadam. Akhirnya Noran jatuh merosot ke lantai, bahunya bergetar hebat, isakan yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah memenuhi ruangan dimana Nazila berada. Dokter dan perawat yang melihatnya ikut merasakan pedih yang kini Noran rasakan. Bahkan tanpa sadar, mereka ikut berkaca-kaca.
Beberapa hari merawat Nazila membuat mereka tahu bagaimana cintanya Noran pada Nazila. Bahkan tanpa sungkan, Noran sendiri yang membersihkan tubuh istrinya itu. Perawat sudah menawarkan diri untuk membantu, tapi Noran menolak mentah-mentah. Ia ingin merawat Nazila dengan tangannya sendiri. Ia harap dengan begitu, Nazila dapat merasakan kesungguhan cintanya, tapi mengapa ... tapi mengapa Nazila seakan belum puas menghukumnya dan mengalami koma? Noran jatuh, terpuruk tak berdaya. Rasanya bumi berhenti berputar, ia takkan sanggup bila harus kehilangan Nazila sedangkan ia belum pernah membahagiakannya sama sekali.
Dipukulnya lantai dingin itu sekuat tenaga hingga buku-buku jemarinya mengeluarkan darah. Tak peduli sakit itu kian menjalar ke seluruh tubuh sebab sakit karena ketakutan kehilangan Nazila lebih mendominasi.
"Stop, berhenti Noran, apa kau ingin mematahkan jari-jarimu?"
Kevin berseru sambil menahan tangan Noran yang tak henti-hentinya memukul lantai. Bahkan lantai putih itu kini sedang dipenuhi bercak darah dari jemari Noran.
Noran mengangkat wajahnya. Tampak wajah tampan itu terlihat begitu berantakan dan menyedihkan dengan air mata yang masih mengalir deras dari sudut matanya. Sorot matanya memancarkan kepedihan, kepiluan, kesakitan, ketakutan, kekhawatiran akan kehilangan Nazila.
Ia harus apa? Ia harus bagaimana? Ia bingung. Ia kalut. Ia takut.
Apa yang harus ia lakukan?
Ia takut Nazila benar-benar meninggalkan dirinya dan putra mereka.
"Na-Nazila, dia ... dia ... koma. Aku harus bagaimana? Tolong katakan, aku harus bagaimana? Kau seorang dokter bukan? Tolong aku, tolong bantu aku selamatkan Nazila! Aku mohon, aku mohon tolong Nazila!"
Kevin terdiam, ia justru terlebih dahulu menarik bahu Noran agar berdiri kemudian menatapnya lekat.
"Aku bukan Tuhan. Sama seperti dokter lainnya, kami hanya bisa berusaha namun Tuhan lah yang menentukan. Kita telah berusaha semaksimal mungkin, kini giliran kita menggaungkan doa pada sang Pemurah agar memberikan Ila kesembuhan," ujar Kevin membuat Noran tertunduk lesu. "Aku tahu bagaimana perasaanmu, Noran. Tapi kita tidak boleh ikut terpuruk. Kalau kita juga terpuruk, siapa yang akan membantu Ila bangun dari komanya. Ila masih ada kesempatan sembuh. Jiwanya sedang berpetualang lalu tersesat tak tentu arah. Karena itu, tugas kita membantunya menemukan jalan pulang. Koma bukan berarti ia tak sadar, telinganya masih berfungsi dengan baik. Ia mendengarkan setiap kata-kata kita, kalau kau berputus asa, bisa jadi Ila akan ikut putus asa. Tuntun Ila menemukan jalan pulang. Ajak ia bicara setiap hari. Bahas apa saja itu, terserah. Lebih bagus lagi bahas hal-hal yang mungkin ia sukai," imbuh Kevin membuat Noran tertohok.
'Apa yang Nazila sukai?' gumamannya lirih.
...***...
Waktu bergulir begitu cepat, sudah satu purnama terlewati, tapi tampaknya Nazila masih tetap setia memejamkan matanya. Demi Nazila, ia bahkan rela meninggalkan pekerjaannya dan menitipkannya dengan Jay. Bila ada hal yang penting, maka Jay akan menemui Noran di rumah sakit.
"Sayang, berapa lama lagi kau akan memejamkan matamu? Apa kau tidak merindukanku dan putra kita. I miss you so bad, you know!" desahannya di samping Nazila. Kini ia tengah berbaring tepat di samping Nazila.
Ya, semenjak Nazila koma, Noran memilih tidur di samping Nazila. Ia tak ingin jauh-jauh dari istrinya itu. Sangat besar harapannya, saat Nazila membuka matanya, dialah orang pertama yang menyaksikannya. Dia jugalah yang pertama Nazila lihat.
"Sayang, apa kamu nggak lelah tidur melulu, hm? Bukalah matamu, sayang! Apa kau tidak ingin melihat wajah tampan anak kita dan menyusuinya? Bangunlah sayang, kami merindukanmu," lirih Noran seraya memeluk tubuh Nazila dari samping dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
...***...
... ...