UNWANTED BRIDE

UNWANTED BRIDE
Ch.40



Dddrttt ...


"Tante Gina," gumam Noran saat melihat nama pemanggil di layar ponselnya. Tante Gina merupakan ibu dari Sarah. "Kenapa Tante Gina telepon? Tumben," Gumamnya heran sebab tidak biasa-biasanya orang tua Sarah menghubunginya.


"Halo, assalamu'alaikum, Tan!" ucap Noran.


"Wa'alaikum salam, nak. Nak, kamu kenapa beberapa hari ini nggak menghubungi Sarah. Dia mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit Citra Medika ruang mawar nomor 17."


"Apa? Mengapa Tante baru menghubungi sekarang? Baiklah, saya segera kesana." Tukas Noran sebelum Gina menutup panggilan itu.


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Noran sibuk dengan pikirannya. Karena terlalu sibuk mencari keberadaan Nazila, ia sampai lupa satu hal penting, yaitu untuk mencari tahu siapa pengirim foto-foto itu.


Dugaannya tertuju pada Sarah, tapi ia tetap harus mencari tahu kebenarannya? Kalaupun iya, tapi mengapa? Apa mungkin hanya karena faktor cemburu? Kalau benar, tetap itu salah. Sebab perbuatannya telah mengakibatkan Nazila pergi dalam keadaan hamil entah kemana. Ia sangat mengkhawatirkannya keadaan Nazila. Ia khawatir, Nazila melakukan sesuatu yang buruk atau terjadi sesuatu padanya. Tidak, ia memang telah membuatnya terluka dengan sikapnya, tapi jujur dalam hati, tak ada sedikitpun niat untuk menyakiti perempuan yang telah menjadi istrinya tersebut.


Noran memang belum menyadari perasaannya pada Nazila, tapi satu yang pasti, ia tidak ingin Nazila pergi dari sisinya. Ia ingin, Nazila tetap menjadi pendampingnya. Oleh karena itu, ia telah membuat keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Sarah. Ia akan mencari waktu yang tepat untuk itu. Ia tahu, ia salah karena telah berjanji pada Sarah akan segera meninggalkan Nazila setelah 6 bulan bila tidak hamil dan satu tahun bila sampai Nazila hamil. Kemudian mereka akan melanjutkan pernikahan yang tertunda setelahnya.


Namun, hal tak terduga yang terjadi. Ia membutuhkan Nazila di sisinya. Ia membutuhkan Nazila sebagai pendampingnya. Ia tidak ingin kehilangan dirinya. Ia sudah terlampau nyaman dengan keberadaan yang singkat itu. Kehadirannya memang singkat dalam hidupnya, tapi memberikan efek yang begitu besar. Kehadirannya, rasa masakannya, kehangatannya, perhatiannya, kepeduliannya, bahkan mungkin juga rasa bibirnya yang begitu lembut hingga membuatnya sering terbayang. Pokoknya semua tentang dirinya entah sejak kapan membuatnya begitu tertarik. Apalagi saat Kevin begitu perhatian dengan Nazila, ia kesal, ia marah, ia ... cemburu. Ya, ia baru sadar kalau sebenarnya ia cemburu. Mengapa rasa ini baru ia sadari justru setelah Nazila pergi entah kemana?


"La, aku mohon maafin kesalahan ku. Aku tahu aku salah, sangat salah. Izinkan aku memperbaiki hubungan ini! Izinkan aku memulainya kembali dari awal. Aku ingin kamu, aku ingin anak kita, aku ingin kita bersama. Aku ingin kita membangun keluarga kecil yang bahagia. Aku menyayangimu, La. Aku membutuhkan kamu. Aku menginginkan kamu. Jangan pergi, La! Kembalilah! Aku merindukanmu." Lirih Noran yang terus dibayangi penyesalan dan kerinduan yang mendalam. Rasa rindu itu kian menggerogoti seluruh hati, jantung, dan pikirannya. Bahkan kini ia selalu tidur di kamar Nazila sembari memasang baju Nazila yang tertinggal di bantal gulingnya. Dipeluknya erat bantal itu setiap hendak tidur membuatnya seolah-olah memeluk Nazila sama seperti saat ia sedang sakit.


Noran tersenyum tipis saat mengingat bagaimana ia dan Nazila berpelukan dalam satu selimut yang sama dengan tubuh nyaris tanpa busana. Kehangatan saat kulit mereka saling bertemu menghantarkan gelenyar unik ke seluruh tubuhnya. Ia bahkan nyaris tak dapat tertidur saat itu. Namun, ia pura-pura memejamkan matanya agar tidak membuat Nazila semakin malu.


Tak lama kemudian, Noran lun tiba di rumah sakit. Ia pun segera menuju ruangan Sarah di rawat.


"Hmmm ... kau kenapa? Mengapa bisa sampai kecelakaan? Kapan itu terjadi? Mengapa kau tidak mengabariku? cecar Noran membuat Sarah dan Gina yang berada di ruangan itu terkekeh.


"Nanya itu ya satu-satu, Nak. Gimana Sarah mau menjawabnya coba kalau pertanyaanmu sebanyak itu," tukas Gina membuat Noran tersenyum canggung.


"Ah, maaf ... "


"Nggak papa, aku tahu itu karena kau begitu mencintaiku, bukan. Jadi kau begitu mengkhawatirkanku. Terima kasih, sayang. Aku nggak papa kok."


"Nggak papa gimana? Lihat, kepala diperban, bahu dan kaki di gips, itu yang nggak papa." Sarkas Noran sambil geleng-geleng kepala.


"Maaf!" cicit Sarah merasa bersalah.


"Udahlah, yang penting kamu banyak istirahat. Sudah makan?"


Sarah menggeleng, lalu dengan telaten Noran menyiapkan makanan di atas meja portabel yang ada di ruangan itu. Makanan sudah dibawakan suster barusan saja. Karena pundak kanan Sarah digips, tentu ia kesulitan untuk makan sendiri. Ia pun membantu Sarah makan dengan menyuapinya.


Noran tidak berlama-lama di sana, sebab 30 menit kemudian ia mendapatkan telepon dari Jay kalau ada meeting penting yang harus dihadirinya sekitar satu jam lagi.


Belum 15 menit Noran meninggalkan rumah sakit, tiba-tiba ia baru sadar kalau ponselnya tertinggal di atas nakas kamar rawat Sarah. Ia pun segera mencari tempat untuk memutarbalikkan mobilnya kembali ke rumah sakit.


Saat telah berada di depan kamar Sarah, ia mendengar suara Sarah sedang berbincang dengan seseorang seraya tergelak. Dengan perasaan yang begitu bahagia, mereka membicarakan kesuksesan rencana mereka. Noran terkekeh getir, ia tak menyangka dua orang terdekatnya lah yang merencanakan segala kekacauan dalam hidupnya. Entah apa salah dan dosa dirinya pada kedua orang itu sehingga mereka tega melakukan itu semua. Karena mereka, hidupnya jadi kacau. Karena mereka, kehidupan Nazila pun ikut kacau. Karena mereka Nazila pergi dan karena mereka Nazila pergi dengan calon anak mereka entah kemana.