UNWANTED BRIDE

UNWANTED BRIDE
Ch.43



"Nduk, kamu kenapa?" tanya seorang wanita berusia di atas 50 tahunan pada Nazila yang sedang meringis memegangi perutnya. Tadi mbok Yem meninggalkan Nazila menonton televisi dalam keadaan baik-baik saja. Tapi setelah ia kembali lagi, Nazila justru sedang merintih kesakitan membuatnya panik seketika.


"Ila nggak tahu, mbok. Perut Ila tiba-tiba aja sakit." Jawab Nazila sambil merintih.


"Yuni, Yuni, sini nduk!" pekik mbok Yem pada cucunya.


"Iya mbok, sebentar." sahut Yuni.


"Buruan Yun!"


"Iya, mbok. Ada apa sih, mbok? Aduh, mbak Ila kenapa? Mbak ... mbak kenapa?" tanya Yuni ikutan panik saat melihat Nazila merintih kesakitan seraya memegangi perutnya. Yuni makin panik saat melihat rok yang Nazila kenakan memerah karena aliran darah. Sepertinya darah itu mengalir dari sela paha Nazila.


"Mbok ... mbok gimana ini? Itu ... itu ... " tunjuk Yuni pada darah yang sudah makin banyak.


"Ya Allah, nduk. Yun, ayo kita bawa Mbak mu ke puskesmas. Mbok takut Mbak mu kenapa-kenapa." Tukas Mbok Yem panik seraya memapah Nazila untuk berdiri. Yuni pun segera membantu. Saat telah berada di luar rumah, Yuni meminta salah satu tukang becak mengantarkan mbok Yem dan Nazila ke puskesmas. Sedangkan Yuni akan menyusul dengan sepeda motornya. Di rumah itu, mbok Yem hanya tinggal berdua dengan cucunya, Yuni yang masih duduk di bangku SMA. Kedua orang tua Yuni telah tiada. Karena itu Mbok Yem senang sekali saat melihat kedatangan Nazila ke kampung kecil mereka. Awalnya Nazila numpang bertanya untuk mencari rumah kontrakan. Lalu mbok Yem menawarkan Nazila tinggal di rumahnya yang sebenarnya cukup besar dengan 4 buah kamar. Walaupun rumah itu terbuat dari kayu yang sudah mulai usang, tapi tetap terasa nyaman. Nazila awalnya menolak karena takut merepotkan tapi mbok Yem terus meyakinkan. Apalagi ia dapat melihat kondisi Nazila yang sedang hamil, akan lebih baik ia tinggal di sana agar ada yang bisa membantunya saat ia tiba-tiba membutuhkan bantuan seseorang seperti yang tengah terjadi saat ini.


Setibanya di puskesmas, para bidan yang bertugas pun segera membantu memindahkan Nazila ke atas brankar dan membawanya ke salah satu ruangan pemeriksaan.


"Kondisi cucu Anda tidak begitu baik, nek. Apakah cucu nenek pernah mengalami operasi sebelumnya?" tanya Sang dokter desa bernama Rizky itu.


"Duh ... anu dok ... saya ndak tahu. Sebenarnya dia bukan cucu kandung saya jadi saya ndak tahu soal itu. Emangnya kenapa ya dok?" tanya mbok Yem.


Dokter Rizky itu tertegun di tempatnya kemudian ia kembali bertanya.


"Apa Anda kenal suami, keluarga, atau sanak saudaranya?"


Mbok Yem, disusul Yuni yang baru saja berdiri di sana pun menggeleng bersamaan.


"Kami nggak kenal suami maupun keluarga mbak Ila, dok. Kami juga kenalnya pas mbak Ila datang kemari cari kontrakan. Jadi kami nggak kenal siapa suami ataupun keluarga mbak Ila sama sekali." Sahut Yuni yang diangguki mbok Yem.


"Begini nek, keadaan pasien tidak baik-baik saja. Sepertinya ia pernah mengalami operasi sebelumnya, tapi kami kesulitan untuk mengetahuinya. Selain karena pasien dalam keadaan tak sadarkan diri, kami juga tidak memiliki daftar riwayat medis pasien. Alat-alat medis puskesmas di sini masih sangat minim membuat kami kesulitan untuk memeriksanya. Mungkin sebaiknya kita menunggu pasien sadarkan diri untuk melakukan pemeriksaan lanjutan dan menentukan tindakan apa yang harus diambil. Beruntung nenek dan cucu nenek cepat membawa pasien kemari kalau tidak kemungkinan pendarahan itu akan berakibat fatal bagi pasien dan calon anaknya." tukas dokter Rizky itu menjelaskan membuat Mbok Yem dan Yuni iba melihat nasib Nazila yang harus menjalani kehamilannya seorang diri tanpa orang terdekatnya.


Selama tinggal dengan mbok Yem, Nazila belum pernah satu kali pun menceritakan perihal masalah dan kehidupannya pada mbok Yem. Seperti biasa, Nazila selalu menyimpan rapat masalah pribadinya. Ia tak mudah terbuka dengan orang lain. Bahkan ia tak sekalipun menghubungi orang-orang yang dikenalnya seperginya dari kota asalnya. Ia juga tidak mengingat nomor ponsel siapapun selain Karin. Itupun diingatnya karena hanya nomor Karin lah yang paling sering ia hubungi.