UNWANTED BRIDE

UNWANTED BRIDE
Ch.38



Noran tampak sibuk dengan berkas-berkas di hadapannya, tapi tidak dengan pikirannya. Sudah 2 hari berlalu tapi ia tak kunjung menemukan keberadaan Nazila. Ia sudah meminta orang mencari keberadaan Nazila, namun aneh, Nazila hilang bak ditelan bumi. Jejaknya tidak terlihat sama sekali. Noran sampai frustasi dan melemparkan berkas di tangannya kasar ke atas meja.


"Kamu dimana, La? Maafkan aku kalau sikapku selama ini sangat buruk. Maafin aku yang tidak pernah mempedulikan dan memikirkan keadaanmu. Aku mohon kembalilah, La. Aku ... hmppp ... "


Uwekkk ...


Noran terduduk lemas di lantai setelah kembali memuntahkan isi perutnya. Kepalanya terasa begitu pusing karena hampir semalaman ia terjaga dari tidurnya. Di dalam pikirannya saat ini hanya ada Nazila. Entah dimana perempuan itu sekarang dan bagaimana keadaannya. Apalagi perempuan yang berstatus istrinya itu dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ia pasti sedang dalam keadaan terpuruk karena kehilangan ibunya yang belum sekalipun ia temui. Ia merutuki dirinya yang belum pernah mengunjungi sekali pun ibu mertuanya itu menjadikan rasa bersalahnya kian menggunung. Namun, yang kini paling mengkhawatirkan bagaimana kalau Nazila sampai berbuat nekad untuk mengakhiri hidupnya karena tekanan demi tekanan yang menderanya selama ini.


"Tuan, tuan nggak papa?" tanya Jay cemas saat melihat Noran terduduk lemas di depan wastafel kamar mandi.


Noran hanya mengangguk lesu dengan wajah pucat. Ia berusaha untuk berdiri, tapi karena tubuhnya terlalu lemas ia hampir tersungkur ke lantai. Untung saja Jay sigap menangkap tubuh Noran dan memapahnya keluar dari kamar mandi menuju sofa.


Setelah Noran terduduk di sofa, Jay segera menuju dispenser di ruangan itu dan menuangkan air hangat ke dalam gelas dan memberikannya pada Noran. Dengan patuh, Noran meminum air hangat itu hingga tandas.


"Tuan, apa perlu saya panggilkan dokter?" tanya Jay ragu.


Noran menggeleng sambil menghela nafas, "Percuma, saya sudah beberapa kali menemui dokter dan hasilnya sama aku tidak apa-apa. Tidak ada yang salah di tubuhku," ujarnya.


Jay mengerutkan keningnya merasa aneh, kalau tidak apa-apa mengapa Noran sering mengalami mual muntah akhir-akhir ini, bahkan hal ini sudah terjadi sejak beberapa Minggu yang lalu. Noran yang merasa diperhatikan pun lantas menoleh ke arah Jay yang tampak sedang mematung.


"Kenapa? Aneh? Jangankan kamu, saya pun merasa aneh! Dinyatakan sehat tapi mual muntah terus sudah seperti ibu hamil saja." cetusnya sambil merebahkan kepalanya di sandaran sofa.


"Apa Nazila hamil?" gumam Jay pelan nyaris tanpa suara.


...***...


Noran pulang ke apartemen dalam keadaan sangat kusut. Pikirannya benar-benar kalut. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah dimana keberadaan Nazila. Detektif yang sengaja ia sewa untuk mencari keberadaan Nazila pun beli menemukan petunjuk.


Saat berjalan menuju kamarnya, langkah Noran justru berbelok ke arah kamar Nazila. Ia sendiri bingung dengan tubuhnya yang seolah merindukan keberadaan istrinya itu.


"La," gumamnya lirih seraya menatap sekitar berharap sosok yang dicarinya itu muncul di hadapannya tapi sepertinya harapan itu tinggallah harapan. Nazila sudah pergi meninggalkannya entah kemana.


"Ya Allah, tolong lindungilah Nazila dimana pun berada."


Hingga suara dering ponsel Nazila yang ada di saku celananya berbunyi. Ia pun segera mengambil ponsel itu dan membuka pesan masuk itu. Ada beberapa pesan yang ternyata telah dikirim sejak siang tadi. Ada juga yang baru masuk.


*La, kamu dimana sih kok nggak pernah balas chat aku?


Ila, kata Kevin loe resign?


La, kok nggak balas sih? Balas please!


Hai bestie, gue kangen banget sama loe. Please, jangan sedih lagi! Gue tau, loe masih sedih setelah kepergian ibu loe, tapi loe harus ingat, loe sekarang enggak sendiri lagi. Ada calon baby loe yang butuh loe jadi loe harus kuat, oke! Jangan lupa makan dan minum vitamin. Gue nggak mau keponakan gue sampai kenapa-kenapa. Oke kalau sekarang loe nggak mau diganggu, tapi tetap ingat pesanku tadi oke! Gue sayang loe, La. Miss you*. 🤗


Brakkk ...


Ponsel Nazila jatuh bebas dari tangan Noran. Mata Noran yang masih merah kini kian berkabut. Perlahan, tangis itupun pecah. Noran mencengkram rambutnya sendiri dengan tubuh yang sudah merosot ke lantai. Ia merasa bodoh tidak menyadari kalau istrinya itu sedang hamil anaknya. Kenapa ia sampai tidak menyadarinya?


"Ya Tuhan, Nazila, kamu dimana? Maafin aku, maafin aku," racaunya frustasi membayangkan Nazila harus menghadapi kehamilannya seorang diri.


...***...


Di sebuah tempat nan jauh di sana, di sebuah desa kecil di ujung kabupaten, tampak seorang perempuan cantik tengah berdiri di teras rumah menatapi langit yang bertabur bintang dengan tubuh ditutupi sweater rajut yang baru pagi tadi ia beli di pasar desa. Tempat ini cukup terpencil, namun sangat indah dan menenangkan. Mengasingkan diri, jauh dari orang-orang yang ia kenal, entah untuk berapa lama.


Bukan maksud hati untuk melarikan diri dari masalah, tapi ia membutuhkan ketenangan. Berada di sana, hanya membuat hatinya perih. Masalah yang datang bertubi-tubi, sungguh menyiksa batinnya. Belum lagi saat mengingat pertemuan tanpa sengajanya dengan sang ayah yang kembali terjadi beberapa hari yang lalu. Entah, ia harus iba atau tersenyum mengejek atas apa yang kini mereka alami. Ia pikir, ayahnya takkan pernah mengingat dirinya lagi sebab saat pertama kali bertemu di rumah sakit, ia seperti tidak mengenalinya sama sekali. Namun ternyata di pertemuan ke dua, ayahnya dapat mengingatnya. Tapi rasanya percuma, mengingat sekarang rasanya tiada guna. Setelah apa yang telah mereka buat dan lakukan, sungguh kata maaf takkan lagi berarti setelah apa yang mereka lakukan pada ibunya.


Ya, Nazila bisa memaafkan kesalahan orang lain pada dirinya, tapi tidak dengan ibunya. Apalagi akibat perbuatan mereka, membuat ibunya depresi. Mungkin apa yang mereka alami saat ini merupakan buah dari perbuatan mereka pada ibunya. Bukankah katanya, apa yang kau tabur, itu yang kau tuai. Mereka telah menghancurkan kebahagiaan ibunya, dan kini giliran mereka lah yang akan menuai kehancuran. Mau meminta maaf sampai bersujud pun percuma, semua takkan bisa mengembalikan apa yang telah terjadi. Bila ibunya masih hidup, mungkin saja ia masih bisa memaafkan, tapi kini ibunya telah tiada. Jadi bila mereka ingin meminta maaf, minta maaflah saja ke alam baka.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...