
Setelah Diana dan Bi Arum pergi, Noran kembali duduk di sofa ruang tamu dengan perasaan gamang. Ia tak mengerti, mengapa Nazila tiba-tiba pergi seperti itu? Apa karena pertengkaran terakhir mereka ditambah ia tidak hadir di saat-saat titik terendah Nazila karena kehilangan ibunya untuk selama-lamanya?
Noran meremas rambutnya frustasi. Apalagi saat ia mengingat cerita bi Arum tadi betapa menderitanya Nazila selama ini. Kemudian ia menambah kepedihan itu dengan sikapnya. Noran pun kembali mengingat pertengkaran terakhir mereka, entah mengapa sebersit rasa bersalah seakan menggerogoti jantungnya. Perasaannya mulai gamang. Keraguan menerpa, mungkinkah Nazila bisa bersikap sedemikian hingga mempermalukan Sarah di hadapan orang banyak. Tapi ia telah mengenal Sarah cukup lama, apakah mungkin Sarah membohongi dirinya.
Setelah mendengar penuturan Feri tempo hari, Noran langsung menghubungi Sarah untuk mendapatkan konfirmasi tentang bagaimana peristiwa itu terjadi. Sambil terisak, Sarah menceritakan kalau ia dipermalukan oleh Nazila di sebuah restoran yang ada di Angkasa Mall. Untuk memperkuat penuturannya, ia juga meminta temannya menghubungi Noran dan menjelaskan apa yang terjadi. Alhasil, Noran termakan kebohongan Sarah sehingga amarahnya meledak.
Bodohnya dirinya tidak meminta penjelasan Nazila dahulu. Bahkan ia mencemoohnya tanpa ampun. Setelah pertengkaran itu, Nazila juga tidak pulang setelah tiba-tiba pergi karena sebuah panggilan telepon yang ia tidak tahu dari siapa itu. Seharusnya saat itu ia mencari tahu. Seharusnya ia menghubunginya terlepas mereka masih terlibat pertengkaran. Bagaimanapun Nazila masih istrinya tapi ia malah mengacuhkan hingga tidak menghubunginya berhari-hari.
"Bego'! Loe emang baji-ngan, Noran! Seharusnya loe bisa bersikap bijak bukannya bersikap acuh tak acuh kayak gitu. Gimana pun Nazila itu istri loe! Astaga, kamu kemana sih, La!"
Noran merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh. Seandainya ia lebih bijak dalam bersikap, tentu semua persoalan ini takkan menjadi kian rumit.
Tiba-tiba perut Noran kembali seperti diaduk-aduk bahkan diobok-obok. Dengan langkah lebar, Noran bergegas menuju wastafel dan memuntahkan isinya. Pernah ia berpikir asam lambungnya lah yang naik, tapi saat dokter memeriksanya, tidak ada masalah apapun di tubuhnya. Kalau ia tidak mengidap sakit apapun, lalu kenapa ia jadi begitu sering merasa mual dan muntah? Kadang ia merasa seperti perempuan hamil saja. Namun Noran tidak berpikir mungkin saja Nazila lah yang tengah hamil sebab ia tidak pernah tahu kalau seorang suami pun juga bisa mengalami morning sickness yang lebih sering disebut sindrom couvade atau kehamilan simpati.
Tubuh Noran seketika melemas apalagi sejak kepulangannya semalam, ia belum menyantap makanan sedikit pun. Hanya air putih saja yang masuk ke dalam kerongkongannya, tak ada yang lain.
Dengan langkah sempoyongan dan tangan berada di atas perut, Norma berjalan menuju kamarnya. Ia belum bisa berpikir jernih harus mengambil tindakan apa. Apalagi rasa mual itu masih begitu mengobok-obok isi perutnya. Mungkin bila ia mencium sesuatu yang tidak enak sedikit saja, ia akan kembali memuntahkan isinya.
Saat berjalan, tanpa sadar, Noran malah menuju kamar Nazila. Ia baru sadar saat telah berdiri di depan kamar yang tertutup rapat itu. Ia memantung sambil menatap handel pintu. Entah mengapa, ia ingin sekali kembali masuk ke dalam sana. Tadi ia masuk ke sana hanya untuk memeriksa keberadaan Nazila, tapi ternyata tempat itu kosong.
Setelah berpikir sejenak, Noran pun masuk ke dalam kamar yang dekorasinya masih seperti semula. Tidak ada yang berubah. Tapi entah mengapa, udara di dalam sana terasa begitu menenangkan dan menyegarkan. Bahkan rasa mual yang tadi sempat menyerbunya seketika hilang.
Mata Noran mengedar memandangi sekitar. Tak ada satupun barang Nazila yang tertinggal. Seingatnya memang saat merawat Nazila sakit, ia tidak melihat banyak barang Nazila. Sepertinya ia memang tidak membawa banyak barang. Mungkin inilah tujuannya, saat ia pergi, ia tidak perlu membawa banyak barang. Noran menarik nafas panjang, ia sadar, dirinya tak pernah memperhatikan istrinya itu.
Lalu Noran mendekati nakas di samping ranjang dan membuka satu persatu lacinya hingga ia menemukan sesuatu yang membuat matanya membulat. Kartu debit yang sempat ia berikan ternyata ada di dalam sana. Ternyata Nazila tidak membawanya. Perasaan bersalah itu kian menggerogoti hati dan jantungnya. Betapa ia sebagai seorang lelaki juga suami yang sangat buruk.
Noran terduduk lesu di atas ranjang. Perasaan nyamannya tadi kini berganti perasaan bersalah yang kian menyesakkan jiwa. Noran memejamkan matanya sejenak. Baru saja ia hendak berdiri, tangannya seperti menyentuh sebuah benda segi empat yang keras tertutup bantal guling. Ia pun segera menggeser bantal guling itu dan menemukan ponsel Nazila yang dalam keadaan mati.
Noran pun bergegas menghubungkan ponsel itu ke kabel charger hingga beberapa saat kemudian tampak ponsel itu mulai terisi daya dan Noran pun segera menyalakannya.
"Shittt!" umpatnya saat melihat ponsel itu ternyata memiliki password dan ia tidak tahu apa password-nya.
Mata Noran menyipit saat melihat notifikasi yang tak henti-hentinya masuk.
La, loe dimana? Kok nggak bisa dihubungi sih?
Ila, kamu kenapa? Please balas pesan aku!
Ila ..
Ila, loe kemana sih? Jangan buat gue sama Kevin khawatir!
Hei, ja*lang, gue harap loe lekas pergi sejauh mungkin karena loe nggak pantes menjadi pendamping Noran.
Sekali bit*ch tetap aja bit*ch. Nggak tahu malu, dasar benalu. Udah tahu Noran mencintai orang lain, bukannya pergi malah bertahan. Loe pikir loe bisa mendapatkan hati Noran.
Hai, bit*ch!
Gue harap bit*ch kayak loe segera lenyap loe dari muka bumi ini.
Noran tertegun di tempatnya saat melihat satu persatu notifikasi pesan yang masuk ke ponsel itu. Beberapa pesan masuk ia yakini merupakan pesan dari Karin dan Kevin, tapi ada beberapa pesan yang membuatnya penasaran.
"Apakah itu teror? Tapi siapa yang melakukan itu?"
Ia pun segera menghubungi Jay. Berharap ia bisa membantunya membuka ponsel itu tanpa menghapus data-datanya.
"Bagaimana? Kamu bisa?" tanya Noran pada Jay yang sedang menghubungkan ponsel Nazila dengan laptop miliknya. Ia baru saja datang setelah mendapatkan panggilan dari Noran.
Jay mengangguk, tak butuh waktu lama, Jay berhasil membuka ponsel itu. Noran yang sudah tak sabar, segera mengambil ponsel itu dan memeriksa pesan masuk yang jumlahnya sangat banyak. Matanya terfokus pada pesan-pesan tanpa nama pengirim. Dibacanya semua pesan masuk yang ternyata mulai dikirim sejak hari pertama pernikahan mereka. Ia tak mengerti, mengapa Nazila tak pernah memberitahukan semua itu padanya? Lalu ia membaca pesan yang terakhir kali dikirim, matanya seketika membulat saat melihat beberapa foto dirinya dan Sarah. Tangannya mengepal. Ia yakin, pesan-pesan inilah yang memaksa Nazila mengambil keputusan pergi tanpa pamit.
"Kurang ajar! Sebenarnya siapa yang sedang bermain-main denganku? Sepertinya aku harus mulai bertindak. Tapi ... " Noran kembali memperhatikan foto-foto itu. Bukankah kejadian itu terjadi di dalam kamar hotel dan bagaimana bisa ada yang mengambil foto itu? Orang yang mengambil gambar itu sepertinya begitu ahli sampai-sampai bila orang lain yang melihatnya akan segera salah paham.
"Bagaimana mungkin? Siapa yang mengambil foto itu dan mengirimkannya pada Nazila? Apakah mungkin ada orang lain di sana? Tapi siapa? Sepertinya ini sudah direncanakan dengan baik. Apa mungkin ini perbuatan Sarah?" gumamnya dengan penuh tanda tanya.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...