
Sudah beberapa menit berlalu, tapi dokter yang memeriksa Nazila belum juga keluar. Kepala Noran pusing bukan kepalang. Jantungnya terus berdegup kencang, takut, was-was, khawatir, semua rasa bercampur aduk dan tak tergambarkan.
Noran menyandarkan kepalanya di sandaran kursi tunggu dengan lengan kanan menutupi matanya. Dalam hati, Noran tak henti-hentinya berdoa semoga istri dan anaknya dapat diselamatkan.
"Noran," panggil Diana dengan langkah tergopoh-gopoh diikuti Gultom di sampingnya. Wajah keduanya terlihat jelas kalut. Siapa yang tidak khawatir saat sang menantu dan calon cucunya sedang bertaruh antara hidup dan mati di ruangan serba putih.
Tak lama kemudian, bi Arum dan Mang Giman pun turut datang dengan raut tak kalah cemas.
Noran menurunkan tangannya lalu membuka kedua matanya. Matanya terlihat masih memerah bahkan sembab. Tak dapat ditutupi, Noran begitu terpuruk dengan keadaan sang istri. Andai bisa bertukar posisi, ia rela mengorbankan nyawanya demi anak dan istrinya. Seandainya bisa, ia akan kembalikan ginjal istrinya ini. Ia merasa tak pantas mendapatkan kebaikan begitu besar dari sang istri setelah apa yang ia perbuat. Seandainya ia bisa kembali ke masa lalu, ia lebih memilih mati dibandingkan membuat hidup Nazila menderita seperti ini.
"Ma ... Nazila ma ... dia ... dia sekarat. Bagaimana ma? Bagaimana cara Noran supaya mereka tidak apa-apa? Noran menyesal ma, Noran menyesal telah menyia-nyiakan Nazila. Noran menyesal tidak mendampinginya di saat-saat sulit seperti ini. Noran bodoh, ma. Noran memang suami breng-sek. Ma, Noran takut ... Noran takut ... " lirih Noran yang lagi-lagi menumpahkan air matanya di pelukan Diana. Gultom yang biasa bersikap diam dan dingin lantas menepuk pundak sang putra. Ia paham betapa putranya itu merasa terpuruk. Bagaimana putranya tak merasa hancur saat sang istri sedang bertarung untuk melahirkan putranya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ia pun turut merasa sedih. Seandainya ia sebagai seorang ayah bisa bertindak cepat setelah peristiwa di vila itu terjadi, mungkin hal demikian tidak akan terjadi. Pun Diana, dia pun menyesal mengapa tidak bisa lebih dekat dengan sang menantu. Mengapa ia tidak mencoba memahami dan mencari tahu juga mendampingi sehingga Nazila tak harus pergi saat mereka sedang tertimpa masalah. Sebagai seorang mertua, seharusnya ia bisa menjadi garda terdepan melindungi sang menantu saat putranya berbuat sesuatu yang berpotensi menyakiti menantunya itu.
Ya, dia akui, mereka semua telah bersalah dan berdosa besar pada Nazila. Mereka menumbalkan Nazila untuk menutupi malu tanpa mencoba menelisik bagaimana perasaan Nazila. Nazila adalah seorang perempuan introvert. Ia tak memiliki tempat mengadu dan bersandar selain memendam segalanya sendiri. Ia terlahir dari keluarga broken home sehingga membentuk karakter terlihat kuat tapi rapuh.
"Jangan salahkan dirimu sendiri terus menerus, Noran! Semua bukan serta merta salahmu. Kita semua bersalah. Kita semua ... Seharusnya mama bisa bersikap sebagaimana seorang ibu. Apalagi ia telah lama tidak merasakan kasih sayang seorang ibu apalagi ayah. Tapi mama justru terlalu sibuk dengan urusan sendiri sehingga abai dengan Nazila yang membutuhkan sandaran. Kita bodoh, Noran. Kita anggap kediamannya itu biasa saja padahal ia memendam segala rasa sakit itu seorang diri. Mama memang mertua yang bodoh dan jahat," lirihnya yang juga terisak. "Tapi ... kita tidak bisa terus-terusan terpuruk. Kita harus kuat untuk Nazila dan calon anak kalian. Mari kita berdoa, semoga Nazila dan anak kalian diberikan keselamatan," imbuhnya lagi seraya melepaskan pelukannya pada Noran.
Lalu Noran beralih pada bi Arum dan Mang Giman dan langsung bersimpuh di hadapan keduanya membuat keduanya tertegun dengan sikap Noran.
"Bi Arum, Mang Giman, maafkan aku yang bodoh ini. Maafkan aku yang jauh dari kata sempurna ini. Maafkan aku yang telah membuat Nazila jadi seperti ini. Maafkan aku ... " Noran bersimpuh seraya memelas dengan kedua telapak tangan menempel di lantai dan kepala tertunduk.
Belum sempat bi Arum menyahuti, pintu ruang UGD telah terbuka dan seorang dokter paruh baya keluar dari sana.
"Bagaimana dok keadaan istri saya?" tanya Noran tergesa setelah ia berdiri di hadapan dokter itu.
Dokter itu menarik nafas panjang dan menatap nanar Noran.
"Kondisi istri Anda sangat buruk. Istri Anda mengalami penurunan fungsi ginjal bahkan cenderung ke gagal ginjal kronik. Kecil kemungkinan ia dapat selamat. Bayi istri Anda juga sudah mulai melemah dan tindakan tercepat untuk menyelamatkannya adalah dengan operasi Caesar. Tapi itu tetap belum menjamin keselamatan baik ibu maupun bayinya. Karena itu, kami meminta kesediaan tanda tangan tuan untuk persetujuan melanjutkan tindakan medis ke meja operasi," tukas dokter itu.
Bagaikan disambar petir, apa yang barusan disampaikan dokter itu membuat hatinya gamang. Antara istri atau anaknya? Itupun belum menjamin keselamatan salah satu apalagi keduanya. Ia harus apa? Ia harus bagaimana?
"La," panggil Noran lirih seraya menggenggam tangan Nazila yang begitu dingin.
"Tu-tuan," cicit Nazila pelan nyaris tak terdengar. Lalu Nazila mengangkat kelopak matanya yang sayu.
"Tuan? Sayang, aku suamimu, bukan tuanmu," ucapnya seraya menggoda tapi dengan senyum getir. Bahkan ia belum pernah menghabiskan waktu selayaknya pasangan suami istri lainnya. Saling bercanda, saling merayu, dan menggoda. Mungkinkah ia memiliki kesempatan itu?
"Sa-sayang,"
"Iya, sayang. Aku sayang kamu, La. Maafkan aku kalau aku terlambat mengatakan ini. Aku sungguh sangat menyayangi dan mencintai kamu. Maafkan aku yang membuatmu harus melewati masa-masa sulit ini seorang diri. Aku mohon, La. Bertahan, demi aku dan anak kita. Aku nggak mau kehilangan kamu, La. Aku sayang kamu. Aku cinta kamu," tukas Noran berusaha tegar namun air matanya justru menunjukkan betapa rapuhnya ia saat ini melihat Nazila terbaring tak berdaya seperti ini.
"Mas No-ran," panggil Nazila lirih sambil membalas genggaman tangan Noran. Merasakan genggamannya dibalas, Noran mengangkat genggaman tangan itu dan mengecupnya dalam dan cukup lama.
Hati Noran menghangat saat Nazila memanggilnya mas apalagi saat sensasi hangat itu bertemu dengan tangan Nazila yang dingin.
"Apa sayang?"
"Mas, ka-lau mas be-nar-be-nar men-cintai ku, a-ku mo-hon ka-bulkan sa-tu permo-ho-nanuku," tukasnya terbata.
"A-apa itu?" tanya Noran takut-takut. Was-was itu pasti. Entah mengapa ia merasa khawatir dengan permintaan pertama istrinya itu. Ya, ini merupakan permintaan Nazila padanya untuk pertama kalinya.
"A-ku mo-hon, apa-pun yang ter-jadi, se-la-matkan a-nak kita. U-ta-ma-kanlah ke-se-lamatan a-nak kita. Mas No-ran, ma-maafkan a-ku bila se-lama ini aku be-lum bi-sa ja-di istri yang baik. Te-rima ka-sih a-tas ke-sempat men-jadi istrimu dan pernyataan cin-ta ba-rusan, a-ku se-nang. A-ku ju-ga men-cintai mas No-ran," ucapnya terbata dengan nafas terengah-engah.
Sontak saja, apa yang barusan Nazila ucapkan membuatnya tertegun. Entah harus senang atau sedih, nyatanya apa yang Nazila ucapkan membuat hatinya begitu nyeri. Di satu sisi ia senang mengetahui fakta kalau Nazila pun mencintainya, tapi di sisi lain ia takut akan kata-kata permintaan Nazila yang seolah-olah merupakan permintaan terakhirnya. Permintaan dan pernyataan itu sungguh membuatnya dilanda rasa takut luar biasa.
...***...