UNWANTED BRIDE

UNWANTED BRIDE
Ch.47



Tanpa banyak bicara, Noran pun segera turun dari dalam mobil dan membukakan pintu lebar-lebar agar wanita hamil dan orang yang akan menemaninya ke rumah sakit kota dapat masuk ke dalam dengan mudah. Lalu ia membuka pintu depan dan berniat duduk di samping sopirnya.


Hingga terlihat seorang pria dengan dengan pakaian santainya tapi tetap terlihat tampan. Jelas sekali terlihat pria itu bukan warga desa itu. Noran pikir, mungkin dia yang gadis tadi sebut sebagai dokter Rizky. Dokter tersebut melangkah tergesa ke arah mobilnya dengan seorang perempuan hamil di gendongannya. Tapi yang membuat Noran memicingkan matanya adalah dari jauh perempuan itu mirip dengan seseorang yang ia kenal. Hingga pria itu telah berada di samping mobil barulah Noran benar-benar membelalakkan matanya.


"Na ... Nazila ... " Serunya dengan mata berkaca-kaca dan lidah yang kelu. Apalagi terlihat sekali wajah Nazila sangat pucat dan tak bertenaga.


Sontak Yuni, mbok Yem, dan dokter Rizky menolehkan wajah mereka menghadap Noran dengan dahi berkerut.


"Anda mengenalnya?" tanya dokter Rizky bersamaan dengan tangan Noran yang terulur untuk mengambil Nazila dari gendongan pria itu.


Air mata Noran akhirnya tumpah jua membuat dokter Rizky terkejut.


"Dia ... Nazila ... istri saya. Biarkan saya yang membawanya." Tukas Noran yang sudah hendak mengambil alih Nazila, tapi dokter Rizky justru mundur selangkah. Bukan tanpa alasan, bisa saja pria itu hanya mengada-ada pikirnya. Ia tak mau mengambil risiko sama sekali apalagi Nazila sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Sopir Noran pun maju untuk melihat istri majikannya itu.


"Nyonya ... Ya Allah, tuan, buruan masuk. Nyonya udah kemas banget itu." Seru pak Danu.


"Nanti saya akan buktikan, kemarikan istri saya. Saya jauh-jauh kemari memang untuk mencari keberadaannya." tukas Noran cepat. Ia takut, ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Nazila.


Mata Nazila sedikit terbuka lalu melirik ke arah Noran . Ia sedikit membulatkan matanya saat mata mereka saling bersirobok.


"M-mas No-ran, a-pa a-ku ber-mim-pi," cicit Nazila terbata dengan sorot mata sendunya. "Aaargh ... " erangnya menahan sakit.


"Tidak La, ini bukan mimpi, ini beneran aku, Noran, suami kamu. Bertahanlah, sayang. Aku mohon. Kita akan segera ke rumah sakit sekarang." Ucap Noran yang sudah berurai air mata melihat keadaan istrinya yang begitu menyedihkan. Kini Nazila sudah berada di gendongan Noran. Dokter Rizky akhirnya mengalah saat melihat Nazila menyebut nama Noran.


Lalu Noran segera masuk ke dalam mobil dengan Nazila di pangkuannya. Dipeluknya erat kepala Nazila. Ia terisak pilu melihat tubuh Nazila yang makin kurus. Hanya perutnya saja yang sedikit membuncit.


Lalu dokter Rizky dan pak Danu pun masuk ke kursi depan.


"Saya ikut. Saya yang tahu riwayat medisnya selama hamil," tukas dokter Rizky sebelum Noran bertanya mengapa ia ikut serta.


Sedangkan Mbok Yem dan Yuni lebih memilih menunggu kabar dari rumah mereka. Selepas mobil Noran berangkat, Mbok Yem dan Yuni saling berpelukan dengan mata sembab karena menangis sejak tadi.


"Ya Allah, semoga mbak Ila dan dedek bayinya baik-baik aja," lirih Yuni yang diaamiinkan dirinya juga mbok Yem. "Bisa kebetulan banget ya mbok ada mobil suaminya. Dari mobilnya, kayaknya mereka keluarga kaya ya mbok tapi kenapa mbak Ila malah datang ke desa kita seorang diri," gumam Yuni yang bingung sekaligus penasaran.


"Udah, nggak usah banyak mikir. Itu urusan rumah tangga mereka. Kita nggak berhak ikut campur. Yang penting kita berdoa terus aja. Mbok juga khawatir banget sama keadaan mbakmu itu." pungkas Mbok Yem membuat Yuni bungkam.


Selama perjalanan menuju rumah sakit kota, Noran tak henti-hentinya mengecupi setiap bagian wajah Nazila. Tak peduli dokter Rizky yang meliriknya berkali-kali dari spion di atas kepalanya.


"La, aku mohon bertahanlah. La, aku merindukanmu, tolong jangan seperti ini, La. Aku nggak sanggup bila harus kehilangan kamu. Aku sayang kamu, La. Aku cinta kamu. Aku butuh kamu. Aku mohon bertahanlah sayang," lirihnya pilu. Air mata terus menetes tanpa henti membuat siapa saja paham betapa Noran takut kehilangan istrinya itu.


Dokter Rizky dan pak Danu yang mendengar ucapan Noran pun ikut bersedih. Pak Danu pun tak tega melihat pasangan itu, setelah berbulan-bulan lamanya terpisah, kenapa saat kembali bertemu harus dalam keadaan seperti ini.


"Anda seorang dokter?" tanya Noran to the point setelah mengusap kasar air matanya.


Dokter Rizky mengangguk, "Saya bertugas di puskesmas desa itu. Perkenalkan saya dokter Rizky. Saya yang biasanya memeriksa keadaan istri Anda." Sahut dokter Rizky.


"Istri saya sebenarnya mengapa? Bisa Anda tolong jelaskan?"


Dokter Rizky menarik nafas lalu mulai menjelaskan, "Apakah Anda tahu kalau istri Anda pernah mendonorkan ginjalnya pada seseorang?"


Noran tiba-tiba tertegun mendengar pertanyaan itu. Bagaimana ia tidak tahu, sebab ginjal itu Nazila donorkan untuk dirinya. Tanpa ia ketahui, ternyata sejak lama mereka telah saling terhubung.


"Ke-kenapa memangnya? Apa ada yang salah?" tanya Noran terbata. Ia khawatir sendiri dengan jawaban dokter Rizky.


"Sepertinya ginjal Nazila kini bermasalah. Efek tertekan, stres, dan kelelahan merupakan beberapa faktornya. Saya sudah berkali-kali memintanya memeriksakan diri ke rumah sakit kota yang lebih lengkap, tapi dia selalu menolak. Entah apa sebabnya padahal saya sudah mengingatkan, kalau hal ini dibiarkan akan sangat berbahaya, bukan hanya bagi sang ibu tapi juga calon anak kalian." Jelas dokter Rizky membuat nafas Noran seketika tercekat.


'Apa? Ginjalnya bermasalah? Bagaimana ini? Ginjal Nazila hanya ada satu, bila bermasalah bagaimana dengan hidupnya? Tidak, aku tidak mau kehilangan Nazila. Tapi aku harus apa? Aku bahkan belum pernah membahagiakannya sekalipun. Ya Allah, aku mohon, selamatkanlah istri dan anakku. Aku mohon.' lirih Noran yang sudah tak mampu membendung air matanya. Ia sangat-sangat menyesal tidak bisa mendampingi istrinya di masa-masa kehamilannya.


"Bukankah usia kehamilannya baru 7 bulan, kenapa ia sudah ingin melahirkan?" tanya Noran. Bila menghitung waktu pertama kali mereka melakukan itu, memang ini sudah berjalan 7 bulan.


"Mungkin faktor banyak pikiran dan penyakitnya. Menurut mbok Yem, selama tinggal di desa itu, Nazila memang banyak melamun. Dia juga kurang napsu makan. Ia bahkan sampai harus sering dirawat karena kekurangan asupan." tukas dokter Rizky membuat rasa bersalah Noran makin membesar.


Lalu Noran pun mengambil ponselnya dan segera menghubungi Kevin. Kevin merupakan salah satu keturunan orang berpengaruh dan pengusaha terbesar di negara ini, ia yakin pasti ia mengenal dokter terbaik yang bisa membantunya.


'Ya, halo,' ucap Kevin dari seberang telepon.


"Tuan Kevin, ini saya, Noran, suami Nazila."


'Ada apa ya? Apa Anda telah menemukan Ila?'


Sebenarnya Noran cemburu mendengar Kevin bisa memanggil istrinya dengan nama panggilannya, tapi ia harus menepis rasa cemburu itu sebab saat ini keselamatan Nazila yang menjadi prioritasnya.


"Ya, saya sudah menemukannya. Tapi ... kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Bisakah kau membantuku mencarikan dokter terbaik untuk Nazila? Dia sudah akan melahirkan tapi kondisinya sangat buruk. Aku mohon, bantu kami. Sekarang kami sedang dalam perjalanan, mungkin kurang dari 2 jam lagi kami tiba di kota." Ucap Noran memelas. Tak peduli ia harus merendahkan diri, yang paling penting Nazila harus selamat.


'Apa?' serunya tak percaya. 'Baiklah, aku akan segera membantumu mencari dokter terbaik. Nanti aku hubungi lagi." putus Kevin cepat lalu tanpa basa-basi ia menutup teleponnya.


"Bertahanlah sayang, aku yakin kamu bisa. Kamu adalah perempuan sekaligus seorang istri dan ibu yang kuat, aku mohon bertahanlah," lirih Noran seraya mengusap pipi Nazila yang seputih kapas membuat jantung Noran kian berpacu khawatir.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...