
Noran lantas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu. Ia juga tak menyangka istrinya benar-benar mendengarkan ucapannya.
"Itu ... sebenarnya ... "
"Mas, karena aku udah bangun, aku tetap bisa kan jadi ibu Noval. Jadi izinkan aku membesarkan Noval. Bukankah nanti mas bisa memiliki anak sendiri dari gadis yang mas cintai. Jangan ambil Noval dariku, mas! Aku mohon! Aku ... "
"Kamu ngomong apaan sih, sayang?" Dahi Noran berkerut hingga lipatannya terlihat jelas. "Siapa yang mau ambil Noval dari kamu?"
"Jadi kamu izinkan Noval ikut aku?" tanya Nazila dengan mata berbinar cerah.
Merasa gemas, Noran pun mengecup dahi Nazila dengan lembut.
"Bukan aku, sayang tapi kita. Dengar, KITA. Noval akan ikut kita berdua karena aku nggak ingin berpisah dari kamu. Pun kamu nggak boleh pergi dari sisiku. Kita akan menciptakan keluarga kecil yang bahagia yang di dalamnya hanya ada aku, kamu, dan anak kita. Kamu mau kan, sayang?" Ucap Noran dengan sorot mata penuh kesungguhan dan binar cinta membuat hati Nazila sontak menghangat.
Nazila begitu bahagia mendengar perkataan Noran. Namun, senyum itu tiba-tiba surut saat ia mengingat sesuatu.
"Lalu Sarah?" tanya Nazila setelah terdiam beberapa saat.
"Tidak usah sebut nama itu lagi. Mulai sekarang hingga seterusnya, hingga nyawa ini lepas dari raganya, hanya ada aku, kamu, dan anak kita. Yang aku inginkan jadi istriku itu hanya kamu, bukan yang lainnya. Lagipula aku sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan perempuan itu," tegas Noran membuat Nazila tersenyum bahagia hingga meneteskan air matanya.
Kemudian dokter yang menangani Nazila tadi maju kembali dan meminta agar Nazila dibiarkan istirahat terlebih dahulu untuk mempercepat masa pemulihannya
"Bagaimana?" seru Kevin saat melihat Noran keluar dari ruangan Nazila.
Senyumnya pun kian lebar lalu ia memeluk Kevin dengan perasaan membuncah.
"Dia sadar. Dia telah sadarkan diri. Nazila sudah membuka matanya," seru Noran yang turut tertawa lirih.
Kevin dan yang lainnya lun turut senang. Tak ada satupun yang tak bahagia. Semua orang tampak sangat bahagia dengan keadaan Nazila yang berangsur pulih.
...****...
Kevin mengangguk mantap, "Iya, mungkin untuk menebus segala kesalahannya di masa lalu walaupun itu takkan mungkin setidaknya ia bisa jadi orang yang bermanfaat untuk putrinya. Saat mendonorkan juga keadaan ayah Ila sudah tidak baik-baik saja. Beliau sudah mengalami serangan jantung dan sedang menunggu detik-detik terakhirnya saja. " Jelas Kevin menceritakan apa yang ia ketahui dari orang suruhannya.
"Jadi bagaimana keadaan ayah Nazila sekarang?" tanya Noran penasaran.
"Dia telah pergi, tepat satu hari setelah Ila operasi. Kayaknya dia ikut terpukul mendengar berita kepada Ila yang koma."
"Innalilahi wa Ina ilaihi Raji'un. Walaupun aku juga sebenarnya marah dan benci dengan perbuatan ayah Nazila yang menyebabkan penderitaan pada Nazila, tapi aku juga merasa sangat berterima kasih sebab berkat donor ginjal beliau lah istriku dapat kembali menghirup udara tanpa kesakitan lagi. Semoga saja beliau tenang di alam sana. Kalau kamu tau alamat makamnya, please info ke aku, oke!" ujar Noran yang diangguki oleh Nazila.
"Sebaiknya kita jaga rahasia ini, mungkin itu yang terbaik. Kamu sudah tau sendiri kan gimana Ila begitu kecewa dengan ayahnya. Takutnya ia nggak terima kalau ada ginjal ayahnya di dalam tubuhnya terus melakukan hal yang nggak-nggak."
"Ya, kau benar. Sebaiknya memang seperti itu," timpal Noran setuju.
"Apa kau serius mencintai Ila?" tiba-tiba saja Kevin mengajukan pertanyaan itu membuat Noran mengangkat kedua alisnya.
"Kenapa? Masih mau cari celah buat rebut Ila dariku?" Noran mendelik kepada Kevin yang ia pikir masih memiliki rasa pada istrinya.
"Whoa, santai bro nggak usah ngegas! Aku cuma bertanya, tapi yah kalau kamu nggak serius, aku mau minta kamu mundur sekarang juga. Aku siap kok menjadi penggantimu," tukas Kevin santai seolah tak peduli pada Noran yang wajahnya sudah merah padam dengan kepala yang seakan mengeluarkan asap.
"Nggak usah macam-macam kau! Aku serius sayang dan cinta sama Ila. Singkirkan pikiran bodohmu itu dari otak gilamu karena sampai kapanpun aku nggak akan pernah melepaskan Nazila karena aku sungguh-sungguh mencintainya."
"Yah, sayang banget!" Kevin mendesah lelah seolah-olah baru saja mengalami patah hati. Kemudian ia terkekeh sendiri melihat raut wajah kesal Noran. "Kidding, bro. Gitu aja ngambek," ejek Kevin. "Lagian ya, loe tenang aja, gue udah suka sama cewek lain kok. Loe doain aja ya semoga misi gue sukses," tukas Kevin seraya tersenyum penuh arti dengan sorot mata mengarah ke satu arah. Lantas Noran pun mengikuti arah pandang Kevin lalu ia membelalakkan matanya. Di salah satu meja, ia melihat Yuni yang tengah berbincang dengan Karin, saudara kembar Kevin yang baru saja datang.
"Bukannya dia itu masih bocah. Loe pedofil?"
"Enak aja. Dia udah cukup dewasa ya, udah mau kelulusan juga. Apa salahnya, kami cuma beda 7 tahun," ujar Kevin sambil menyengir lebar.
Noran lantas geleng-geleng kepala, namun ia tetap memberikan dukungan.
"Semoga sukses, bro!" ledek Noran membuat Kevin meninju pelan pundak Noran seakan mereka merupakan sahabat akrab.