UNWANTED BRIDE

UNWANTED BRIDE
Ch.39



Flashback on


Sekeluarnya dari apartemen, Nazila tampak menyusuri jalanan ibu kota dengan langkah gontai. Tubuhnya masih terasa lemas, namun ia tak mungkin terus berada di apartemen itu. Ia khawatir, tiba-tiba Noran kembali dan membuat niatannya untuk menjauh jadi gagal. Hingga sampailah ia di sebuah pangkalan ojek yang cukup jauh dari lingkungan apartemen. Nazila sebenarnya tidak memiliki tujuan, ia hanya mengikuti langkah kakinya yang entah hendak membawanya kemana. Ia yakin, atas ijin Allah, semua akan baik-baik saja.


Kemudian Nazila meminta tukang ojek itu mengantarkannya ke terminal bus. Namun belum sempat ia mengangkat kakinya untuk menaiki motor itu, seseorang tiba-tiba menabraknya hingga hampir jatuh.


"Aaakh ... " Pekik Nazila terkejut dengan tubuh terhuyung ke belakang.


"Mana anakku, kembalikan anakku. Anakku dimana." racau perempuan yang baru saja menabraknya membuat Nazila bingung melihat perempuan cantik itu.


"Kayaknya di ODGJ deh mbak, mending kita buruan pergi, mbak!" ujar tukang ojek itu yang diangguki Nazila.


"Kau, pasti kau yang mengambil bayiku, kan! Kembalikan anak saya, sialan! Mana anak saya! Kembalikan anak saya!" teriak perempuan itu sambil menarik-narik lengan Nazila membuat Nazila ketakutan.


"Heh, lepas! Dasar orang gila, jangan ganggu penumpang saya!" bentak tukang ojek itu.


Mendengar bentakan itu, perempuan itu lantas menangis hingga meraung yang kini membuat Nazila makin bingung.


"Mas, kita nggak boleh bersikap gitu! Mungkin dia memang mengalami gangguan kejiwaan, tapi tetap saja kita tidak boleh bersikap kasar apalagi menghardiknya. Kita tidak pernah tahu apa yang ia alami sehingga membuatnya jadi seperti ini." sergah Nazila seraya mengingatkan dengan lembut. Melihat perempuan itu, Nazila jadi teringat dengan mendiang ibunya yang sempat mengalami hal demikian. Mentalnya terganggu, walaupun tidak sampai melakukan hal seperti ini. Ia yakin, perempuan itu pasti telah mengalami hal menyakitkan sehingga membuatnya jadi demikian. Mungkin ia kehilangan bayinya sehingga membuat mentalnya terganggu karena perempuan itu terus menanyakan keberadaan anaknya.


"Neli ... " pekik seorang pria paruh baya membuat Nazila menoleh ke arahnya. Tubuhnya membeku, jantungnya berdegup kencang, mengapa ia dipertemukan kembali dengan lelaki itu. Satu-satunya tersangka yang membuat ibunya mengalami penderitaan hingga akhir hayat hidupnya.


"Bapak, mana bayiku. Aku mau bayiku. Pak, pasti perempuan itu yang menculik bayiku. Kembalilah bayiku, aku mohon kembalikan bayiku. Jangan sambil bayiku, dimana bayiku."


Perempuan bernama Neli itu tak henti-hentinya meraung sambil berusaha menarik lengan Nazila yang dihalangi tukang ojek itu. Pria paruh baya itu lantas menahan tubuh Neli kemudian mengangkat wajahnya hingga tatapan beradu dengan mata Nazila. Seketika pria paruh baya itu tersentak dengan mata membulat. Ia ingat perempuan yang tak sengaja ditabraknya itu, tapi baru kini ia bisa menatapnya dengan jelas. Mata itu sama persis dengan mata perempuan yang pernah mendampinginya hingga terpaksa harus ia tinggalkan demi ego dan keserakahannya.


"Ka-kamu ... "


Nazila tersenyum miring, terlihat jelas kilah amarah dan kebencian di matanya membuat pria paruh baya itu menelan ludahnya.


"Pak, mana bayiku, bayiku, mana anakku, kembalikan anakku." Neli berusaha untuk memberontak tapi pria paruh baya itu menahannya sekuat tenaga. Tak lama kemudian sebuah mobil sedan putih terparkir tak jauh dari posisi mereka.


"Neli ... " pekik wanita paruh baya yang baru saja dibantu turun dari dalam mobil kemudian didudukkan di sebuah kursi roda.


"Ya Allah Neli, kamu kenapa kesini, nak! Ayo pulang, sayang!" ujarnya dengan terisak.


Nazila menatap nanar perempuan itu. Nazila tanpa sadar tersenyum getir, mengapa bisa-bisanya dipertemukan dengan keluarga penghancur ini.


"Mas, kenapa diam? Ayo bawa Neli pulang!" ujar perempuan paruh baya itu sambil menyeka air matanya.


Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Nazila yang menatap mereka bertiga datar.


Tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat saat mata mereka saling bersirobok.


"Nazila ... kamu Nazila kan!" cetus pria paruh baya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Nazila, iya mas, itu pasti putrimu, Nazila. Nazila, kamu ingat Tante, Tante teman ibu kamu, Sumarni." ucap wanita paruh baya itu.


"Nazila? Siapa ya? Maaf, mungkin kalian salah orang."


"Nggak, aku nggak mungkin salah orang. Aku yakin kamu anak bapak. La, ini bapak, kamu hanya pura-pura aja kan melupakan bapak?" ucapnya lirih menolak pernyataan Nazila kalau ia bukan anaknya.


"Bapak? Maaf, bapak saya udah mati sekian tahun yang lalu dimakan siluman rubah. Jadi jangan ngaku-ngaku kalau Anda bapak saya ya!"


"Nazila, Tante mohon maafkan Tante, ini salah Tante karena Tante udah merebut bapakmu dari kalian, Tante mohon maafkan Tante," ujar Sumarni sambil terisak lirih.


"Ila, bapak mohon, maafkan bapak, izinkan bapak ketemu ibu kamu. Bapak ingin minta maaf atas kesalahan-kesalahan bapak. Bapak dan Tante kamu kini sudah menerima hasil perbuatan kami, nak. Akibat perbuatan kami, anak kami yang menuai karmanya. Ia ditinggalkan oleh suaminya dalam keadaan hamil. Anaknya meninggal saat dilahirkan sehingga ia mengalami gangguan kejiwaan. Tidak cukupkah kami menoreh hasil perbuatan kami, nak. Kami tahu kami salah, maka izinkan kami memohon maaf atas segala perbuatan kami di masa lalu. Maafkan kami, nak. Pertemukan kami dengan ibumu, kami salah, mohon bantu kami, maafkan kami," imbuh pria paruh baya yang merupakan ayah dari Nazila.


"Iya, La. Tante juga sudah menuai hukuman atas kesalahan yang Tante lakukan. Kau lihat, kaki Tante lumpuh. Tante tidak bisa berjalan normal kembali. Tante sudah cacat." tukas Sumarni.


Nazila tertawa sumbang memperhatikan pasangan suami istri itu. Mereka sungguh tak tahu malu meraung di pinggir jalan seperti ini. Dasar nggak ada otak, bukannya coba ajak kemana kek, bicara baik-baik kek, bukannya nyerocos di pinggir jalan seperti ini.


Tukang ojek itu hanya bisa menatap bingung pada calon penumpangnya yang belum juga naik-naik.


"Serius kalian mau minta maaf?"


Kedua orang itu mengangguk mantap membuat Nazila tersenyum remeh.


"Oke, susul aja ke alam kubur. Ibu udah meninggal beberapa hari yang lalu. Kau udah kaya kan sekarang? Minta anterin aja sama istrimu yang kaya itu naik helikopter atau jet pribadi ke alam baka, biar nyusul sekalian. Setelah kalian membuat ibu menderita gangguan kejiwaan bertahun-tahun lamanya, setelah kalian membuatku menjadi seolah anak yatim, setelah kalian membuat aku dan ibu menderita bertahun-tahun, kalian pikir sebuah kata maaf dapat memperbaiki semua? Selama ini kalian kemana? Mengapa baru sekarang? Itupun karena pertemuan tak sengaja. Bagaimana bila tidak bertemu, mungkinkah kalian akan meminta maaf? Baiklah, aku akan memaafkan kalian bila kalian bisa membuat aku kembali ke masa lalu dimana ibu dan aku masih bahagia atau minimal bawa ibuku kembali ke sisiku, baru aku akan memaafkan kalian. Bagaimana? Bisa?"


Nazila terkekeh. Baru kali ini ia bisa meluapkan kekesalannya pada kedua orang penyebab kehancuran keluarga kecilnya.


"Kalau nggak bisa lebih baik menyingkir. Kalian merasa menderita, hm? Lalu bagaimana kami? Kalian masih enak, hidup berkecukupan dan memiliki seseorang untuk tempat kalian bersandar, seperti putri kalian, biarpun ia mengalami gangguan kejiwaan, tapi ia memiliki kalian. Lalu bagaimana ibu saat itu? Bagaimana juga dengan aku yang masih sangat kecil tapi sudah harus mengurus ibunya yang depresi? Dan kini, bagaimana dengan aku setelah kehilangan ibu? Kini aku sebatang kara. Bullshitttt dengan permintaan maaf kalian. Permintaan maaf kalian sudah basi. Teruslah tenggelam dalam penyesalan karena sampai kiamat pun aku takkan pernah memaafkan kalian." Tukas Nazila menggebu-gebu.


Nazila lantas segera naik ke atas motor dan meminta tukang ojek itu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Ia sudah muak berlama-lama di dekat kedua orang munafik itu. Sudah cukup ia meluapkan segala emosinya pada sang ayah. Terserah mereka mau mengatakan dirinya egois, mereka pun selama ini tak peduli dengan penderitaan dirinya dan ibunya, jadi buat apa memikirkan penderitaan mereka.


Ayahnya dengan tega meninggalkan ibu dan dirinya yang masih sangat kecil demi perempuan lain yang lebih kaya. Padahal ia tahu, perempuan itu merupakan sahabat istrinya sendiri tapi ia tetap saja melakukannya. Ia jijik, ia benci, ia marah. Jadi jangan salahkan dirinya yang begitu membenci mereka karena mereka lah yang membuat ibunya menderita hingga mengalami tekanan batin.


Salahkah bila dirinya memilih tidak memaafkan kedua orang itu?


...***...


...Happy reading 🥰🙏💪...