
Pov Dimas
"ARIANNA...??"
sore itu aku sengaja mendatangi apartemen milik arianna yang baru. aku mengetahui alamat apartemen arianna yang baru dari orang suruhanku, yang selama ini aku minta untuk mengikuti arianna. aku masih belum puas kalau belum berbicara dan mendapatkan maaf dari dia.
aku memang sangat menyayangi arianna tapi bukan lagi sebagai kekasih tapi lebih sebagai seorang teman.
bohong kalau aku bilang selama 9 tahun kami bersama tidak ada kenangan di antara kami berdua yang kadang membuat aku merindukannya.
arianna saat itu bukan hanya sebagai pacar, tapi juga bisa sebagai seorang adik dan sahabat yang baik. dia selalu ada untukku dan mengerti dengan keadaanku.
hanya saja seiring berjalannya waktu aku mulai menyadari kalau arianna itu bukan wanita yang aku temui saat pertama kali masuk universitas.
aku tidak sengaja dan telah menabrak seorang gadis hingga dia terjatuh. gadis itu sangat cantik, lucu, dan sepertinya dia sangat pemalu. dan ternyata gadis itu bernama brianna, saudara kembar dari arianna, gadis itu adalah cinta pertamaku. kemiripan di antara mereka berdua yang membuatku salah meletakkan hubungan.
saat aku masih berpacaran dengan arianna, aku sering datang berkunjung di rumahnya mereka. sehingga aku selalu bertemu brianna, dan di sana aku mulai melihat sifat mereka masing-masing. arianna seorang yang humble, sedangkan brianna seorang yang pemalu. dari situlah aku mulai tau bahwa cinta pertamaku adalah brianna bukan arianna.
dan aku pun akhirnya karena tidak bisa menahan perasaanku, aku pun mengungkapkan perasaanku kepada brianna. awalnya dia menolak karena tidak mau merusak hubunganku dengan arianna. tapi entah setan apa yang membuat brianna membalas perasaanku dan kami pun bercumbu mesra sampai pada akhirnya arianna datang dari luar negeri dan mengetahui perselingkuhan kami.
disitulah awal kehancuran hubungan arianna dan brianna, juga berakhirnya hubunganku dengan arianna.
dari situlah aku merasa bersalah dengan arianna dan juga brianna. dan aku berusaha untuk mengembalikan hubungan persaudaraan antara arianna dan juga brianna. walaupun aku tau itu sulit, ķarena aku tau betapa keras kepalanya arianna jika sudah membenci seseorang.
END POV
***
arianna pingsan di hadapanku, awalnya aku bingung harus berbuat apa? tapi pada akhirnya aku memberanikan diri mencari kunci apartemennya dan segera membuka pintu, lalu menggendong arianna ke dalam dan menidurkannya di sofa.
aku pun segera mencari minyak angin di dalam tasnya, ketika aku mendapatkannya, aku pun segera menggosok di tangan, kaki, dan juga menggosokkan sedikit di hidungnya agar ia tersadar.
tidak lama kemudian dia pun tersadar, dan segera membuka matanya. "di mana aku, dan kamu siapa?" tanya arianna kepadaku.
"kamu di apartemenmu, dan ini aku dimas." jawabku
"HAAA...mau buat apa kamu di sini? pergi kamu dari sini...!!" teriak arianna kepadaku.
"kamu tenang dulu ar...tadi kamu pingsan, makanya aku langsung membuka pintu apartemenmu dan menidurkanmu di sofa." jelasku kepadanya
"aku gak butuh bantuan dari laki-laki jahat seperti kamu, munafik, pengkhianat...!!" ucap arianna
"kenapa kamu gak bisa memberikan kesempatan satu kali aja untuk aku menjelaskan semuanya, ar." ucapku dengan lirih
"buat apa lagi dijelasin dimas, apa dengan menjelaskan semuanya, luka hati aku akan sembuh, begitu?? gak dim, mau dijelaskan seperti apapun, tetap saja rasa sakit hati ini akan tetap ada dan kamu juga tetap saja sudah berselingkuh di belakangku." ucap arianna dengan nada marah.
"sekarang lebih baik kamu pergi dim, terimakasih sudah menolongku. jangan ganggu aku lagi, kalau memang suatu saat aku bisa melupakan semuanya itu, mungkin aku akan memaafkanmu." ucapnya dengan lirih kepadaku
"aku menunggu waktu itu, ar. makasih buat sembilan tahun ini, aku berharap kamu pun bisa segera menemukan pria yang terbaik untukmu. jaga kesehatanmu selalu, ar. aku pulang dulu." pamitku kepadanya, dan arianna pun hanya diam tanpa mau melihat wajahku.
***
"maafkan aku Tuhan, bukan maksudku jahat seperti itu kepadanya. tapi susah untukku melupakan semuanya itu. aku hanya memohon kepadamu semoga suatu saat nanti, aku bisa memaafkan kesalahan mereka berdua." ucapku dalam hati
aku pun segera menelepon sandra dan memintanya untuk datang ke apartemenku ini.
"kenapa say?" tanya sandra setelah dia mengangkat teleponku ini.
"kamu lagi sibuk gak say?" tanyaku lagi padanya.
"gak kok say, yang kenapa say?"
"kamu ke sini ya say, temani aku. aku lagi butuh teman ngobrol." ucapku kepadanya
"ya udah, kamu tunggu situ ya, sedikit lagi aku ke sana." jawab sandra dan segera mengakhiri panggilan telepon kami berdua.
***
setengah jam kemudian, terdengar bunyi bel pintu apartemenku. aku pun segera membukanya, dan betul di sana sandra sudah menungguku membukakan pintu untuknya. dia langsung masuk memeluk dan menciumku, "tumben kamu minta aku datang ke sini, biasanya langsung ngajak aku ke club?" ucapnya sambil tersenyum mengejek kepadaku.
"hmmm...kamu nih ya. aku udah bosan pergi ke tempat-tempat seperti itu. saatnya sekarang berpikir ke depan." ucapku lagi kepadanya
aku pun segera membuka lemari kulkas dan mengambil coca cola 2 kaleng dan juga cemilan untuk kami nikmati berdua.
"tadi aku pingsan say di depan kamarku dan kamu tau siapa yang menolongku?" tanyaku kepada sandra
"siapa...?" tanya sandra dengan wajah penasaran.
"dimas yang menolongku tadi say." jawabku kepadanya
"kok bisa ar...?" tanyanya lagi
"iya, awalnya dia datang ingin meminta maaf kepadaku. dan saat itu aku baru saja pulang dari kantor, dan entah kenapa aku merasakan pusing yang teramat sangat, dan aku pun pingsan, lalu dia pun langsung menggendongku ke dalam sini dan menggosokkan minyak angin di kaki, tangan dan juga hidungku hingga aku pun tersadar. dan lagi-lagi dia meminta maaf padaku, tapi entah kenapa untuk saat ini sangat sulit bagiku untuk memaafkan kesalahan mereka berdua, apakah salah jika aku berbuat seperti itu sand?" tanya ku kepadanya
"aku tidak bisa mengatakan kamu salah atau tidaknya say, itu semua tergantung dari hati kamu say, dan itu semuanya hanya dirimulah yang tau. intinya aku selalu mendukung apapun keputusanmu itu." jelas sandra.
"makasih ya sandra, kamu memang sahabat terbaikku." ucapku sambil memeluknya.
di saat kami sedang berbincang dan mengobrol, aku mendengar suara ketukan di pintu.
kami pun saling berpandangan, siapa yang datang? karena yang tau apartemenku ini hanya sandra, johannes dan juga dimas. apa mungkin dimas kembali lagi ke sini, tetapi untuk apa?
daripada penasaran aku pun memilih untuk membuka pintu tersebut dan betapa terkejutnya aku karena ternyata yang datang adalah mamaku dan juga brianna.
"Ma-mama...??"
***BERSAMBUNG***