Twins But Different Nature

Twins But Different Nature
BAB 26. DITANGKAP



Pov Johannes


"nona olive natasya kusuma." jawab mereka serempak


"deg!! a-apa, kurang ajar...??


Beraninya dia melakukan itu kepada calon istriku, kalau seandainya pak karman kemarin tidak mendorong arianna, mungkin saat ini arianna sudah terbaring di rumah sakit dengan keadaan yang sangat parah.


rupanya ular beracun ini memang mau mencari masalah denganku. Baiklah kita lihat saja siapa yang lebih pintar, dan jangan pernah berharap bisa menyembunyikan kebusukanmu dariku.


"pak, aku sudah tidak ada perlu apa-apa lagi dengan mereka, biar mereka kembali ke selnya saja. Karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan pak." ucapku kepada bapak polisi itu


Bapak polisi itu pun setuju, beliau menyuruh anak buahnya untuk mengembalikan dua orang preman itu ke dalam jeruji besi.


"Pak, bisakah anda membantu saya?" tanyaku kepada pak polisi.


"tentu saja bisa pak, memangnya saya harus membantu apa, pak?" tanyanya


Aku pun segera menceritakan rencana untuk menjebak perempuan jahat itu kepada pak polisi, dan beliau pun setuju untuk membantuku menangkapnya. Setelah selesai semuanya, kami pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, untuk menjemput calon istri kami masing-masing.


"apakah kamu yakin dengan rencana yang kamu buat?" tanya dimas


"iya, aku sudah yakin. Aku memang harus membuat rencana seperti itu agar dia percaya kepadaku, lalu membuatnya berkata jujur dan setelah itu memasukkannya ke dalam jeruji besi." jawabku dengan mantap


"oke, baiklah kalau memang seperti itu rencanamu, kami akan mendukungnya." ucap dimas


"terimakasih bro," balasku sambil tersenyum kepada dimas yang duduk di sebelahku sedangkan james duduk di bangku belakang.


"memang benar perempuan ular seperti itu harus diangkat tinggi dulu baru dihempaskan ke tanah." ucap james


"hahaha...iya kamu benar bro." balasku


satu jam kemudian kami sampai juga di rumah sakit, dan segera menuju ke kamar dimana arianna beristirahat. Dan Sesampainya kami di kamar ternyata sudah ada orangtua dari arianna dan juga orangtua dariku.


"pa, ma," sapaku sambil menyalami dan mencium tangan mereka berempat begitu juga yang dilakukan oleh dimas dan james kepada mereka.


"apakah sudah ada kabar dari kantor polisi, siapa pelakunya, nak Jo?" tanya tante tia, ibunda dari arianna


"hmmm...sebelumnya saya minta maaf, karena kesalahan saya arianna sampai harus diteror bahkan sampai coba untuk ditabrak." ucapan Jo membuat orang yang ada di dalam ruangan itu bingung.


"maksud kamu apa sih sayang? Aku gak mengerti." ucap arianna


"sebenarnya ini semua adalah perbuatan olive, dia cemburu dengan arianna. sehingga dia mencari cara untuk mengakhiri hubungan kami berdua sampai dia tega mencelakai arianna walaupun pada akhirnya di salah sasaran." jelasku kepada mereka semua.


"Ya Tuhan, jahat sekali wanita itu!" ucap mamaku sambil merangkul arianna kuat.


"trus apakah kalian sudah menangkap wanita itu?" tanya


"belum ma, aku sudah mempunyai rencana untuk menjebak wanita jahat itu."


"rencana apa, nak?" tanya mama


Aku pun mulai menceritakan tentang rencanaku untuk menjebak olive.


"kamu yakin mau melakukan itu, sayang?" tanya arianna


"aku tidak ikhlas, jangan sampai nanti kamu malah jatuh cinta lagi kepadanya." ucap arianna meragukanku


"kamu tenang saja sayangku, aku pastikan hanya kamu di hatiku. Olive sudah tidak ada arti apa-apa lagi untukku." ucapku meyakinkannya


Akhirnya mereka semua pun menyetujui rencanaku dan juga mendukungnya.


Dan sekarang tinggal aku yang akan mengatur skenarionya. dan olive hanya tinggal menunggu saja.


***


Hari ini aku menelepon seseorang dan mengajaknya bertemu di cafe Bintang.


30 menit kemudian aku sudah sampai di cafe Bintang, dan segera memesan meja sambil menunggu seseorang itu.


"hai, selamat pagi jo? Aku senang sekali kamu mau mengajakku bertemu." ucap wanita itu


"hai, silakan duduk!" sapaku dengan lembut kepadanya


"iya, jujur saja olive aku sangat merindukanmu." jawabku sambil menggenggam tangannya


"sudah kuduga kamu tidak akan pernah bisa menghapus memoriku dari ingatanmu, sayang. Lalu bagaimana dengan calon istrimu itu." tanya olive


"kenapa dengan calon istriku?" tanyaku lagi


"maksudku apakah dia tidak marah kamu menemuiku di sini?" tanyanya lagi


"kamu tenang saja, dia tidak tau kalau aku menemuimu."


"lalu apakah kamu nantinya akan jadi menikah dengan wanita itu?" tanyanya lagi


"entahlah, aku masih bimbang! Aku merindukanmu dan masih sangat mencintaimu, olive."


"kalau begitu, kamu tinggalkan saja arianna dan kembali kepadaku. Aku pun masih sangat mencintaimu sayang, aku akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan cintamu walau aku harus melakukan hal kotor sekalipun." ucap olive


"hal kotor? Memangnya hal kotor apa yang telah kamu lakukan?" tanyaku lagi


"hmmm...tidak ada sayang, aku tidak melakukan apapun." ucapnya


"arianna hampir saja ditabrak oleh seseorang, apakah itu semua ada hubungannya denganmu?" tanyaku menyelidik


"a-aku tidak tau Jo, memangnya siapa yang mau melukai arianna? Tanyanya


"entahlah, kami belum tau siapa pelakunya. Tapi yang pasti aku akan mencari tau, dan kalau ketawan aku pastikan dia akan mendekan di penjara selama bertahun-tahun." ucapku, dan di situ aku melihat perubahan wajah olive yang tadinya berseri sekarang menjadi sangat pucat.


"kamu kenapa olive? Kenapa wajahmu kelihatan sangat pucat?" tanyaku lagi


"ohh...gak apa-apa kok jo, tapi sepertinya aku lapar." jawabnys dengan gugup


"ohhh...ya ampun, baiklah kalau begitu aku pesankan kamu makanan ya?"


"iya, boleh Jo." jawabnya


Aku pun segera memanggil waiters dan memesankan makanan untuk kami berdua.


Segera setelah hidangan datang, kami segera menyantapnya.


"hmmm...Jo kamu bilang kamu tidak mencintai arianna, tapi kenapa kamu peduli sekali untuk menghukum orang yang mau mencelakai arianna." tanya olive


"memangnya aku ada bilang kamu kalau aku tidak mencintai arianna kah?"


"hmmm...memang tidak sih? Tapi kan tadi kamu bilang kamu masih sangat mencintaiku, itu berarti kan kamu tidak mencintai arianna." jelas olive


'hmmm...percaya diri sekali wanita ini, kalau bukan karena ingin menjebaknya, aku tidak sudi duduk berlama-lama dengan perempuan iblis ini.' ucapku dalam hati


"entahlah olive, aku masih bimbang." jawabku


"untuk meyakinkannya, gimana kalau aku mengajakmu ke hotel?" ucap olive


"ke hotel mau untuk apa?" tanyaku bingung


"untuk membuktikan apakah cintamu lebih besar kepadaku atau kepada arianna?" ucapnya lagi


"apakah memang harus ke hotel?"


"iya sayang," jawabnya meyakinkanku


"okelah kalau begitu, kita jalan sekarang!" jawabku dan aku melihat senyuman bahagia dari wajah olive.


Aku pun segera memanggil waiters dan membayarnya, lalu aku pun segera menggandeng tangan olive keluar dari restaurant itu, dan olive merangkul lenganku dengan sangat mesra.


Ketika kami baru sampai di parkiran dan mau masuk ke dalam mobil, tiba-tiba


"angkat tangan anda, dan jangan bergerak!" ucap suara itu dengan lantang


"a-apa -apaan ini...??"


***BERSAMBUNG***