Twins But Different Nature

Twins But Different Nature
BAB 28. PERSIAPAN PERNIKAHAN



KEDIAMAN KELUARGA WIJAYA


Malam ini aku bersama kedua orang tuaku, brianna, dimas, dan Johannes berkumpul di rumah untuk membahas tentang pernikahan kami yang akan dipercepat.


"nak dimas, brianna, papa dan mama mengumpulkan kalian di sini untuk membicarakan tentang pernikahan kalian berempat. Bagaimana kalau pernikahan kalian dipercepat saja? Kalian tentu tau tentang masalah Johannes dan Arianna. Apalagi perempuan yang bernama olive itu begitu berambisi untuk mendapatkan kembali Johannes. daripada nantinya Johannes dan arianna tidak jadi, maka lebih baik urusan pernikahan dipercepat supaya kalau ada apa-apa, Johannes dan arianna bisa menghadapinya bersama-sama tanpa ada jarak." jelas papa


"tapi bukannya olive ada di penjara, pa?" tanya brianna


"memang betul dia ada di penjara! Tapi orang tuanya olive itu bukan orang sembarangan jadi gampang saja kalau mereka mau mengeluarkan olive dari penjara." jelas Johannes


"ya sudah kalau begitu tidak apa-apa, pernikahan kita bisa dipercepat. Kalau begitu kita harus konsultasi dengan romo untuk memberikan kita kursus kilat." ucap dimas


"iya aku setuju, kalau begitu besok aku dan dimas untuk pergi ke Gereja untuk berkonsultasi, dan kalian berdua bisa menyiapkan urusan yang lain." balas Jo


Aku dan brianna pun setuju dengan usul dari dimas itu.


"terimakasih ya brianna dengan pengertian kalian berdua." ucapku sambil memeluknya


"iya, sama-sama. Lagian kebahagiaanmu itu juga adalah kebahagiaanku." balas brianna


Dan aku pun tersenyum bahagia sambil terus memeluknya.


"apa kalian akan terus berpelukan seperti teletubbies?" tegur mamaku yang memanggil kami berdua untuk makan malam.


"Papa, Dimas, dan Johannes susah menunggu kalian untuk makan malam." ucap mama


"oh iya ma, maafkan kami berdua! Karena terlalu senang sampai melupakan calon suami kami." ucap brianna sambil tertawa


"hmmm, kalian berdua itu. Ayo kita ke ruang makan sekarang." ajak mama sambil menggandeng tangan kami berdua.


Kami bertiga pun segera melangkah menuju ruang makan dan mengambil tempat duduk di samping pasangan masing-masing.


Aku dan brianna melihat cara mama melayani papa pada saat makan malam. Akhirnya kami berdua pun melakukan yang sama, kami pun melayani calon suami kami masing-masing.


"besok-besok kalau sudah menikah, kalian harus melayani suami seperti itu," pesan mama kepada kami berdua, aku dan brianna pun mengiyakan pesan mama.


Selesai makan malam, kami berbincang-bincang sebentar hingga akhirnya dimas dan johannes pamit pulang.


"kalian berdua hati-hati ya? Kalau sudah sampai rumah beritahukan kepada kami." pesanku kepada johannes dan juga dimas. Aku dan brianna mengantarkan pasangan kami sampai di depan teras, setelah itu kami pun segera masuk ke dalam kamar masing-masing dan beristirahat.


***


Pagi ini dimas dan johannes pergi ke Gereja untuk menemui romo. Sedangkan aku seperti biasa pergi ke butik untuk memeriksa beberapa berkas-berkas. Brianna pun hari ini pergi bekerja, karena ada beberapa client yang membutuhkan bantuannya.


"selamat pagi ibu," sapa mira kepadaku.


"pagi juga mira, kamu ikut dulu ke ruanganku." jawabku


Mira pun mengikuti aku sampai ke dalam ruangan kerjaku. " duduk dulu," ucapku kepadanya.


"apakah selama 4 hari aku tidak masuk ada tamu yang datang?" tanyaku.


"tidak ada, ibu." jawab mira


"ibu, saya ijin kembali ke tempat saya." ucap mira dan aku pun mengijinkannya.


Aku pun kembali berkutat dengan berkas-berkas yang ada di mejaku. Untuk urusan administrasi dan keuangan ada asistenku yang mengurusnya sedangkan aku hanya mengecek pemasukan dan pengeluarannya setiap bulan.


Ketika aku sedang serius bekerja, tidak lama johannes masuk ke dalam ruangan dan mengagetkanku.


"hai sayang, kamu serius banget...!" ucap Johannes kepadaku


"sayang, kamu datang?" sapaku sambil tersenyum manis kepadanya, dan dia pun duduk di kursi yang ada di hadapanku.


"kamu gak ke kantor, sayang?" tanyaku.


"aku rindu calon istriku makanya aku malas mau ke kantor." jawabnya sambil tersenyum menggodaku


"kamu tuh ya, bisa aja! lama-lama kamu kena pecat." ucapku


"pecat? Kamu lupa ya sayang, kalau calon suamimu ini adalah bosnya, pemilik perusahaan tersebut." jawabnya lagi


"hmmm...sombong! Tau deh yang pemilik perusahaan." balasku lagi dan membuat pria tampanku ini pun tertawa


"sayang, gimana tadi? Apa yang romo katakan?" tanyaku penasaran.


"tenang saja sayang, hari ini kita urus berkas-berkas dulu, dan hari kamis ini kita sudah bisa mengikuti kursus selama dua hari." jelasnya kepadaku


Aku bersyukur karena Tuhan memberikan jalan untuk kami berempat untuk segera menikah supaya jangan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Johannes pun menemani aku sampai aku menyelesaikan laporan-laporanku dan setelah itu dia mengajakku untuk makan siang di sebuah restaurant mewah.


***


Restaurant ini sangat mewah dan juga elegant, dengan bangunannya yang seperti bangunan jaman belanda tapi dengan cat yang baru dan motif yang begitu indah. Dan biasanya untuk meeting-meeting besar akan diadakan di restaurant ini, karena memang disini sudah disediakan sebuah ruangan khusus untuk mereka yang mau membuat pertemuan. Ditambah lagi makanan-makanan di sini begitu memanjakan lidah dan juga sangat enak.


"sayang, kamu mau pesan apa?" tanya Jo


"aku mau pesan steak dan juga orange juice." jawabku


Lalu jo juga menyebutkan pesanannya dan segera memberitahukan kepada pelayan tersebut. Dan 15 menit kemudian pelayan itu segera membawakan pesanan kami, dan memang pelayanan di sini sangat gesit dan tidak bertele-tele.


"ini pesanannya pak, ibu, selamat menikmati." ucap pelayan itu sambil tersenyum ramah kepada kami.


"terimakasih," jawabku sambil membalas senyumannya.


jangan kaget kalau jo bermuka datar, karena memang dia jarang mau tersenyum dengan orang yang baru dikenalnya.


"sayang, enak sekali steak ini! Kamu mau mencobanya?" tanyaku


"mau sayang?" aku pun segera memotong steak itu dan menyuapkan ke dalam mulutnya. Dan dia pun langsung memelototkan matanya karena memang steak itu begitu enak, lembut, dan juga berasa.


Kami pun melanjutkan makan siang kami dengan sedikit mengobrol, sampai ada suara yang lumayan keras menegur aku dan jo.


"ohh, jadi perempuan ini yang membuat kamu sampai memenjarakan putriku...??"


***BERSAMBUNG***