Twins But Different Nature

Twins But Different Nature
BAB 10. KEDATANGAN IBUKU



"Ma-mama...??"


"selamat pagi arianna." sapa mamaku sambil memeluk dan menciumku


aku kaget karena mama datang ke apartemenku bersama brianna, dan darimana mama tau apartemenku yang baru ini?


"apakah mama dan brianna harus berdiri terus di luar?" tanya mamaku


aku yang tersadar pun segera mempersilakan mama dan brianna masuk, dan menyuruh mereka duduk. mama pun langsung memeluk dan mencium sandra, "kamu ada di sini juga, nak?" tanya mamaku kepada sandra


"iya tante, aku menemani arianna di sini." jawab sandra


dan aku pun pergi menyiapkan minuman dan cemilan untuk mereka berdua, sekesal apapun aku dengan mama dan brianna, aku akan tetap menghormati mereka yang datang ke apartemenku.


aku pun segera bergabung bersama mereka setelah meletakkan minuman dan cemilan di atas meja.


"darimana mama tau apartemenku? dan ada perlu apa mama dan dia datang ke sini?" tanyaku sambil menunjuk brianna.


"mama tau apartemenmu dari dimas, karena katanya kamu pingsan, dan dimas menolongmu. apakah itu benar?" tanya mama


"iya memang dia yang menolongku! apakah ada masalah? apakah putri mama yang cantik ini merasa cemburu?" tanyaku lagi


"dia tidak cemburu kepadamu arianna. hanya mama minta kepadamu untuk menjaga perasaannya, biar bagaimanapun sekarang dimas sudah bersama brianna, dan dimas sangat mencintai brianna." jawab mamaku tanpa perasaan sama sekali


"ma, kenapa kamu selalu membela anakmu ini! apakah mama tidak tau kalau brianna ini yang telah merebuf dimas dariku. selama sembilan tahun kami bersama pada akhirnya harus berpisah karena anak kesayanganmu ini!!" ucapku penuh emosi dan sandra pun berusaha menenangkanku


"dari kecil sampai sedewasa ini, mama selalu membandingkanku dengan wanita ini!" jawabku dengan sangat emosi


"mama tidak pernah membandingkan kalian berdua, mama menyayangi kalian berdua, kalian anak-anak mama yang mama sayangi. mama hanya mohon berbaikanlah dengan brianna, nak! mama yakin kamu pun akan mendapatkan kebahagiaan yang kebih lagi, relakanlah dimas bersama brianna." ucap beliau kepadaku


"dan kamu wanita pembohong! kamu bilang kamu sudah putus dengan dimas, tapi ternyata kalian masih menjalin hubungan sampai pada hari ini. dasar wanita munafik!" ucapku kepada brianna


PLAKK...


"ma-mama menamparku...??" ucapku dengan sangat kaget, bahkan sandra pun kaget dan langsung berdiri di sampingku.


"maafkan mama, nak! tapi kamu sudah sangat keterlaluan." ucap ibuku sambil berusaha memelukku, tapi aku menghindar karena aku tidak mau dipeluk olehnya.


"silakan kalian berdua pergi dari apartemenku." ucapku kepada mereka


"tapi nak, kita belum selesai bicara." ucap ibu


"PERGI...!! dan tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. anggap mama tidak pernah melahirkan aku ke dunia ini,, dan mulai hari ini anggap aku sudah mati." jawabku dengan tegas


dan akhirnya mama meninggalkanku dengan menangis dan dipapah oleh brianna.


"kamu akan menyesal karena telah melakukan ini, arianna." ucapnya dengan tatapan penuh amarah kepadaku, tapi aku tidak mau perduli lagi, aku benci brianna dan sangat membencinya.


aku pun langsung menangis di pelukan sandra, "sabar ya ar, kamu harus kuat. masih ada aku yang akan selalu bersamamu dan tidak akan meninggalkanmu." ucap sandra


aku pun hanya menangis terus tanpa berhenti karena aku benar-benar merasa sangat sedih.


***


aku tersadar dan merasakan pusing di kepalaku, dan aku pun kaget karena melihat aku sudah ada di dalam kamarku sendiri.


"arianna, kamu sudah sadar?" aku mendengar sebuah suara dan ternyata itu adalah suara sandra dan aku melihat wajahnya sangat cemas.


"kenapa wajahmu seperti itu...?" tanyaku padanya


"aku cemas say, kamu setelah menangis itu, kamu langsung pingsan. dan bahkan kamu tidak demam tinggi dan juga tidak sadarkan diri, syukur aku segera menelepon dokter. sehingga pagi ini kamu bisa sadar, ar...ya ampun aku takut sekali!" ucap sandra


"memang berapa hari aku tidak sadarkan diri?" tanyaku kepada sandra


"1 hari penuh sampai pada hari ini baru kamu sadar, ar. kamu harus sabar dan kuat, ingat masih ada aku yang selalu ada untukmu. dan sekarang lebih baik kamu bersih-bersih dulu karena ada tamu yang sedang menunggumu. apakah kamu sudah merasa baikan, ar?" tanya sandra


"apa perlu aku anterin ke kamar mandi?" tanyanya lagi


"gak perlu sand, aku bisa sendiri! kamu tunggu aja aku di ruang tamu." jawabku


dan akhirnya sandra pun meninggalkan aku, dan aku pun segera bersih-bersih. siapa sebenarnya tamu yang dimaksud oleh sandra itu? aku pun jadi penasaran, jadi aku pun buru-buru membersihkan badan, berganti pakaian, dan segera menuju ruang tamu.


"johannes," entah kenapa ketika aku melihat pria ini, aku sangat senang. karena aku baru melihatnya lagi hari ini.


"hai arianna, kamu sudah baikan?" tanyanya


"seperti yang kamu lihat jo," aku pun segera duduk di sofa seberang johannes dan sandra ternyata sedang membuatkan minuman untuk kami bertiga dan juga cemilan.


"maaf ya ar, kalau aku mengundang johannes ke sini tanpa memberitahukan kamu terlebih dahulu." ucap sandra yang sudah bergabung bersama kami.


"gak apa-apa kok sandra! gak masalah, aku malah senang kok melihat jo ada di sini, karena sudah beberapa hari aku tidak melihatnya." jawabku tanpa beban, yang membuat jo dan sandra berpandang-pandangan.


"ya udah diminum dulu tehnya dan juga dimakan cemilannya." ucap sandra


"ar, kamu kapan ke bandung? katanya mau peresmian butikmu itu." tanya johannes


"oh iya betul ya, aku sampai lupa jo. makasih ya udah mengingatkan! aku akan berangkat hari senin, karena hari rabu peresmiannya. aku mengundang kalian berdua ya untuk datang di peresmian butikku, itupun kalau kalian tidak sibuk" ajakku kepada mereka berdua.


"bisa say, aku akan menemani kamu. toh di salon ada vivi dan rini yang akan mengawasi." ucap sandra


sandra memiliki dua salon yang sangat besar, dia seminggu sekali baru mengecek salonnya itu, karena sudah ada dua orang yang bisa dipercayai untuk menghandle salonnya itu.


"baiklah say, kamu memang sahabat baikku. dan kalau dengan kamu gimana jo?" tanyaku lagi


"akan aku usahakan untukmu, ar." jawaban dari jo membuat aku sampai tersipu malu.


dan kami pun berbincang-bincang santai, dan sejenak aku bisa menghikangkan rasa sedihku itu.


***


POV BRIANNA


setelah kepulangan aku dari mall, aku segera pulang menuju rumah.


aku sangat sedih sekali, kenapa arianna sangat keras kepala. dia tidak pernah berpikir bahwa dialah yang telah mengambil dimas dari aku, dimas adalah cinta pertamaku.


tapi karena sikapnya arianna yang terlalu humble dan berani, akhirnya dimas bisa jatuh ke dalam pelukannya.


dan saat itu walaupun merasa kecewa dan marah terhadap arianna, aku tetap bersikap seperti biasa saja kepadanya, tapi kenapa sekarang dia malah membenciku dengan sangat besar.


aku pun segera masuk ke dalam rumah dan menuju kamarku, dan ketika aku sampai di kamarku, aku sangat kaget karena kamarku sangat berantakan dan juga kotor, dan aku lebih histeris ketika melihat di cermin meja riasku terdapat tulisan berwarna merah seperti darah, yang bertuliskan '*****' yang artinya ******.


aku pun berteriak histeris, sampai aku mendengar bunyi hpku yang berdering, dan aku pun segera mengangkat telepon itu yang ternyata dimas yang meneleponku dan aku pun berteriak histeris.


"brianna, kamu kenapa? kamu kenapa?" tanyanya


"tolong aku dimas, tolong." jawabku dengan penuh ketakutan


"iya, kamu tenang ya sayang. kamu di mana sekarang?" tanya dimas


"aku di rumah, cepat ke sini dimas, aku takut!" ucapku


"iya sabar sayang, aku akan segera ke sana." ucap dimas dan segera mematikan teleponnya


dan aku pun menunggu dimas dengan penuh ketakutan sambil bersembunyi di dalam ruang gantiku.


***BERSAMBUNG***