Twins But Different Nature

Twins But Different Nature
BAB 25. BERBAIKAN KEMBALI



Tapi tidak lama terdengar suara orang memanggilku dan langsung masuk ke dalam ruangan rawatku.


"arianna...??"


Kami bertiga pun melihat ke arah pintu, dan ternyata yang datang adalah Johannes.


"jo, kamu sudah datang?" tanya sandra kepadanya


"iya, aku cepat pulang dengan pesawat pribadi. Aku melihat banyak panggilan dari arianna, dan membaca pesannya. Tapi pas aku telepon balik, arianna malah tidak mau mengangkatnya. jadi aku pun memutuskan untuk cepat-cepat pulang dan segera menyusul kesini." jelas Johannes


"enak ya pergi ke jogja, ketemu sama mantan pacar, dipeluk lagi." ucapku dengan sinis


"dipeluk mantan pacar, apa maksudnya arianna?" tanya Jo


Sandra pun yang melihat suasana sepertinya memanas memilih mengajak brianna keluar dari sana dulu, dan membiarkan arianna dan Jo menyelesaikan kesalahpahaman ini.


"kami berdua pamit keluar dulu ya? tanyakan baik-baik sayang, jangan cepat terbawa emosi dan percaya begitu saja dengan perempuan ular itu." nasehat sandra kepadaku, lalu mereka berdua pun meninggalkan aku dengannya di dalam kamar.


"apa saja yang kamu lakukan di jogja?" tanyaku kepadanya


"melakukan apa? Aku pun baru menyelesaikan meetingku lalu makan siang di cafe." jawab Jo


"dan bertemu dengan Olive kan di sana?" cercaku lagi


"bukan bertemu dengannya, tapi tidak sengaja bertemu dengannya! Aku sendiri tidak tau kenapa tiba-tiba dia sudah ada di cafe itu." jelas jo


"kamu menipuku jo?" aku pun langsung menunjukkan foto-foto yang dikirim oleh nomor baru yang aku tidak tau siapa pemilik nomor itu. Jo pun lalu memandangi foto tersebut, dan aku melihat ada kemarahan yang tergambar di wajahnya.


"kurang ajar wanita ini, dia mau menjebakku lalu menyuruh orang mengambil foto tersebut dan mengirimnya kepadaku. Sepertinya aku harus memberinya pelajaran agar dia jera!" ucap jo dengan penuh amarah


"apa maksudmu dengan olive menjebakmu? Tidak usah berpura-pura Jo, bilang saja kalau kamu masih mencintainya." ucapku


"demi Tuhan, arianna! Aku tidak membohongimu. Dia yang tiba-tiba datang ke cafe dan langsung memelukku tanpa aku berusaha menghindar karena aku merasa kaget. Kalau kamu tidak percaya, baiklah aku akan meminta pemilik cafe itu mengirimkan bukti cctv kepadaku saat ini juga." jelas jo


Lalu tidak lama Johannes menelepon pemilik cafe yang ternyata adalah temannya dia sendiri. Dan dia meminta rekaman cctv pada saat dia sedang makan siang, dan memintanya untuk segera mengirimkan video tersebut.


"kamu tunggu saja arianna, dia akan mengirimkan video kepadaku." ucap jo


Lalu tidak lama kemudian terdengar bunyi sms masuk di handphonenya Jo. Dan jo pun langsung memberikan handphonenya kepadaku.


"ini kamu bisa lihat sendiri! Dari video ini kamu bisa menilai aku berkata benar atau tidak?" ucap Jo dengan tegas kepadaku


Aku pun segera menerima handphone itu dan menontonnya. Dan benar apa yang dikatakan oleh Jo, bahwa di video itu olive yang menggoda Jo dan berusaha membuat Jo agar tertarik lagi kepadanya. Aku sangat jijik melihat kelakuan olive yang tidak tau malu itu, ingin rasanya aku memukul wanita itu.


Aku senang melihat Jo mengancam wanita itu, karena wanita itu sudah sangat keterlaluan. Aku pun yang suddah selesai melihat video itu merasa malu kepada Jo, karena aku sudah menuduhnya yang bukan-bukan.


"bagaimana? Kamu lebih percaya dengan foto yang dikirim itu atau lebih percaya kepada calon suamimu ini." tanya Jo


Aku pun yang merasa bersalah pun hanya bisa tertunduk malu.


"maafkan aku sayang! Bukan maksudku tidak mempercayaimu. hanya saja aku takut kalau sampai dikhianati lagi. Bagaimanapun aku sudah sangat mencintaimu Jo, dan tidak mau kehilangan dirimu." jawabku


jo pun segera mengangkat daguku dan mencium bibirku dengan lembut, "kamu tidak usah takut sayang, aku pun sangat mencintai dan menyayangimu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Mulai sekarang percayalah padaku, kalau ada yang seperti ini lagi, langsung tanyakan kepadaku." pesan Jo


"iya sayangku, terimakasih banyak." aku pun langsung memeluk dirinya dengan kuat.


"sudah sayang, sekarang jelaskan kepadaku kenapa kamu bisa ada di rumah sakit, dan apakah ada yang sakit sayang?" tanya Jo


"aku hanya sedikit kaget dan trauma sayang. Hanya saja yang parah adalah bapak tua yang menolongku tadi. Dan aku habis mendonorkan darahku untuknya, karena beliau membutuhkan darah banyak. Aku belum tau kondisinya sekarang, tadi aku ada meminta tolong kepada james dan dimas untuk mengecek keadaan bapak tersebut." jelasku


"apakah kamu mencatat nomor plat mobil yang mau menabrakmu sayang?" tanyanya lagi


"aku tidak sempat mencatatnya sayang, karena aku sangat kaget dan takut. Ditambah lagi bapak tua yang menolongku itu sudah tersungkur di jalan dan mengeluarkan banyak darah." jelasku lagi kepadanya


"tapi yang pastinya di sekitar jalanan itu ada cctv kan sayang?" tanyanya lagi


"sepertinya ada sayang." jawabku


Dan tidak lama kemudian Johannes menelepon asistennya untk mengecek cctv yang ada di tempat kejadian untuk mengecek nomor plat EB mobil hitam yang telah menabrakku itu.


Jo adalah orang yang tidak suka basa-basi ataupun bertele-tele dengan hal-hal yang berurusan dengan pekerjaan, keluarga, dan juga percintaan.


Tidak lama kemudian james, dimas, sandra, dan brianna masuk ke dalam ruang rawatku.


"gimana masalah kalian berdua apakah sudah selesai?" tanya sandra


Aku pun hanya tersenyum mendengar pertanyaan sandra. "hmmm...aku tau kalau sudah tersenyum berarti masalah kalian berdua sudah selesai. Sudah aku bilang kan arianna? jangan pernah percaya dengan perempuan ular itu." ucap sandra sambil tertawa


"oh iya gimana sama keadaan bapak tua itu?" tanyaku kepada mereka


"masa kritis beliau sudah lewat, hanya saja dia belum sadarkan diri. Dan dimas pun sudah menjelaskan kronologisnya kepada keluarga korban, dan berjanji akan menanggung semua biaya rumah sakit. Mereka pun hanya bilang terimakasih dan berharap semoga pelaku cepat tertangkap dan mendapatkan hukuman yang setimpal." jelas brianna


"uhh...semoga saja bapak tua cepat sadar, aku sangat kasihan kepadanya Jo." ucapku dengan penuh penyesalan


"iya sayang, pokoknya kamu tenang saja ya. Kita pasti bisa melewati semua ini." hibur Jo


"iya, apa yang Jo katakan benar. Anggap saja ini semua adalah ujian dari Tuhan." sambung dimas


Aku pun hanya tersenyum dan berdoa dalam hati semoga semuanya cepat selesai, dan bapak tua itu cepat diberikan kesembuhan.


Tidak lama aku mendengar bunyi telepon dari handphone Jo.


"iya, bagaimana? Oke, baiklah aku akan segera ke sana sekarang." jawab Jo dengan tegas


"dimas dan james mungkin bisa menemani aku ke kantor polisi karena katanya si penabrak sudah berhasil ditangkap dan sekarang ada di kantor polisi." jelas Jo


"benarkah sayang? Apakah aku juga boleh ikut?" tanyaku lagi


"tidak usah sayang, kamu beristirahat saja dulu di sini. Kalau memang dokter bilang kamu sudah bisa pulang? Kamu nanti pulanglah bersama brianna dan sandra. Aku akan mengabari kamu sesegera mungkin." ucap jo sambil mencium keningku, setelah itu mereka bertiga pun segera pergi menuju kantor polisi.


***


KANTOR POLISI


Aku bersama dimas dan james akhirnya sampai juga di kantor polisi, sampai di dalam aku melihat dua orang pria berbadan besar dan bertato sedang diinterogasi polisi dengan tangan diborgol.


"selamat sore pak? Ini para pelakunya tapi mereka tidak mau memberitahu siapa orang yang menyuruh mereka." jelas pak polisi


"oke pak, biarkan serahkan kepada kami bertiga untuk mengurusnya." ucapku dengan tegas


"sekarang katakan siapa yang menyuruh kalian berdua untuk mencelakai calon istriku?" tanyaku kepadanya


"kami tidak akan pernah memberitahu kalian! karena kami sudah berjanji untuk menutup mulut kami." jawab salah satu di antara mereka


"oke baiklah kalau itu mau kalian? James, dimas telepon orang suruhan kita untuk menghabisi anak dan istri mereka tanpa tersisa." ucapku sambil menyeringai kepada mereka berdua


"A-apa? Tolong jangan lakukan itu. kasihanilah istri dan anak-anakku." ucap mereka berdua


"sekarang kalian tinggal pilih? Mau memberitahukan yang sejujurnya atau anak-istri kalian mati?" tanyaku kepada mereka berdua


Tapi mereka berdua masih tetap bungkam dan tidak mau berbicara jujur.


Aku pun menyuruh dimas dan james menunjukkan video dimana anak dan istri mereka sedang diikat di rumah mereka masing-masing. Mereka sampai melotot melihat video itu dan memohon untuk melepaskan anak istri mereka.


"kalau memang kamu mau anak istrimu dilepaskan, berbicaralah yang jujur!" bentak dimas kepada mereka berdua


"ba-baiklah kami akan jujur! Sebenarnya yang menyuruh kami adalah Nona Olive."


"olive siapa?" tanyaku lagi


"nona olive natasya kusuma." jawab mereka serempak


"deg!! a-apa, kurang ajar...??


***BERSAMBUNG***