Twins But Different Nature

Twins But Different Nature
BAB 6. BERTEMU BRIANNA



Hari ini aku pulang lebih cepat dari biasanya, aku sudah tidak mempunyai semangat lagi untuk menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda itu.


setelah mendapatkan telepon dari mama, entah mengapa aku merasa hatiku sangat hancur dan juga terluka.


entah kenapa mama selalu membela brianna, mau dia benar ataupun salah tetap akan dibela oleh mama.


aku memilih untuk pergi shopping, daripada aku stres memikirkan brianna.


aku pergi ke mall terbesar di kota itu, aku membeli banyak baju, sepatu dan juga tas. aku juga membeli kalung yang sangat cantik dan juga jam tangan.


tidak apa juga kalau sekali-sekali menyenangkan diri- sendiri. selesai berbelanja aku pergi ke restaurant yang ada di mall itu untuk makan, karena memang aku sudah sangat lapar.


aku memesan steak dan juga orange juice. aku memilih tempat di paling ujung, aku duduk di sana sambil menunggu pesanan datang.


tidak berselang lama makanan yang aku pesan pun datang. aku segera menyantapnya dengan lahap. ketika aku sedang menikmati makanan, aku mendengar ada yang memanggilku.


"arianna...?" aku merasa tidak asing dengan suara itu. aku pun segera melihat orang yang memanggilku itu.


"kamu...?" iya, itu adalah brianna, wanita yang sangat aku benci.


"kebetulan kita bertemu di sini, bisa kita berbicara?" tanyanya padaku.


"aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan dengan seorang pengkhianat sepertimu." teriakku dengan sangat marah


para pengunjung restaurant itu banyak yang memperhatikan kami, karena mendengar teriakanku.


aku pun buru-buru memanggil pelayan untuk membayar billnya. selesai membayar aku pun segera keluar dari restaurant tersebut.


"arianna, tunggu kita perlu bicara. jangan seperti anak kecil begini, ar?" teriaknya lagi padaku.


aku pun segera menoleh ke belakang dan langsung menatapnya dengan sengit.


"apa kamu bilang, anak kecil? kalau kamu yang berada di sisiku, apa yang akan kamu lakukan?"


aku sangat jengkel melihat wajah perempuan di depanku ini. rasanya aku ingin menampar dan menjambak rambutnya itu.


seenaknya dia bicara, dia tidak pernah mengerti perasaanku. bukan hanya pacarku yang dia ambil, tapi juga kasih sayang dari kedua orangtua kami.


"kamu jangan pernah lagi mengganggu hidupku, kamu mengerti!" teriakku padanya sambil menunjuk dirinya.


sebelum aku sempat beranjak dari tempat itu, aku mendengar brianna berkata, "aku sudah putus dengan dimas, ar. jadi, kalau memang kamu mencintainya, kamu bisa kembali kepadanya." aku rasanya ingin tertawa mendengar perkatannya.


"aku tidak perduli kalian masih pacaran ataupun sudah putus? dan aku juga tidak mau menerima lagi pengkhianat seperti kalian." aku pun segera berlalu meninggalkannya.


enak sekali dia berkata, seolah-olah laki-laki sudah tidak ada lagi dan seolah-olah aku sudah tidak laku.


aku pun segera menuju tempat parkir untuk mengambil mobilku.


sore ini aku akan mengambil semua barang-barangku yang masih tertinggal di rumah.


aku segera melajukan mobilku menuju rumahku. sampai di sana aku segera mengambil kunci cadangan dan membuka pintu itu.


dan aku pun segera mengemasi semua barang-barangku tanpa tersisa. setelah semuanya beres, aku sempat menatap sekeliling kamar ini. kamar di mana aku menghabiskan masa kuliah hingga bekerja dan bersenda gurau dengan brianna. tapi itu semua tinggal kenangan, yang takkan mungkin lagi terulang karena pengkhianatannya.


sebelum aku pergi dari tempat itu, aku sempat melihat kamar brianna.


ternyata kamarnya tidak dikunci, aku pun segera masuk ke kamar itu, dan seperti biasa kamarnya selalu rapi.


ketika aku melihat meja riasnya, aku sempat melihat foto dimas dan brianna yang sedang berpelukan sangat mesra.


entah kenapa, ketika melihat foto itu emosiku kembali membuncah. aku pun langsung membanting foto itu, aku melempar semua barang-barang yang ada di meja riasnya, aku melempar semua bantal-bantal dan juga sepreinya. dan juga mengeluarkan semua baju-baju yang ada dalam lemarinya. tidak sampai itu saja aku segera mengambil lipstik berwarna merah dan menulis di cermin meja rias dengan tulisan "*****".


setelah puas dengan yang telah kulakukan, aku segera meninggalkan kamarnya dalam keadaan terbuka. dan aku pun segera mengunci pintu utama, memasukkan barang-barangku ke dalam bagasi mobil dan segera meninggalkan rumah itu.


aku tersenyum sambil mengendarai mobilku, aku yakin ketika brianna sampai di rumah, dia pasti akan sangat kaget.


***BERSAMBUNG***


arianna betul- betul sangat jahat ya, hehehe...kita lihat nanti bagaimana reaksi brianna ketika sampai di rumah


***


jangan lupa like dan comment ya...