
Auhhh...aku merasa sakit di keningku. dan ketika aku melihat siapa orang yang aku tabrak, aku kaget. karena ternyata dia adalah
"Dimas...?"
kenapa aku harus bertemu dengan pengkhianat ini di sini. aku sangat membenci pria ini, pria yang telah mematahkan hatiku sampai berkeping-keping.
"arianna, akhirnya kita bisa bertemu kembali. selama ini aku berusaha untuk menhubungimu tapi nomormu tidak pernah bisa dihubungi. apakah kamu sudah mengganti nomor handphonemu?" tanya dimas.
"buat apa kamu mencariku? apa belum puas kamu menyakiti hatiku ini!" jawabku dengan sangat ketus.
"aku tau kalau aku salah, tapi tidak bisakah kamu mendengarkan dulu penjelasanku?"
"apalagi yang mau kamu jelaskan? semua yang terjadi itu sudah cukup jelas bagiku." tegasku padanya.
aku pun segera berlari menuju toilet wanita karena aku sudah tidak tahan lagi ingin buang air kecil.
sambil mencuci tanganku di wastafel, aku berharap dimas sudah pergi. karena memang aku tidak mau lagi melihat wajahnya.
tapi ternyata yang aku harapkan salah karena saat aku keluar dari toilet, dimas masih menungguku di depan toilet wanita.
"ya ampun dimas, kamu mau apalagi sih sebenarnya?" aku merasa risih karena dia tidak mau pergi-pergi juga.
"aku tidak akan pergi sampai kamu mau dengerin penjelasanku terlebih dahulu." ucapnya dengan tegas padaku.
"aku sudah tidak butuh lagi penjelasan darimu! karena apapun yang akan kamu jelaskan nantinya, tidak akan pernah membalikkan keadaan seperti dulu lagi." jelasku padanya.
"sudahlah, lebih baik sekarang kamu pergi dari hadapanku! hubungan kita sudah selesai dan tolong jangan pernah lagi ganggu kehidupanku." tegasku padanya.
tapi di saat aku mau pergi, dimas malah mencengkram lenganku dengan sangat kasar dan itu membuatku merasa kesakitan.
"lepaskan aku dimas, ini sakit sekali." ucapku padanya.
"LEPASKAN DIA!!" aku langsung melihat ke arah suara yang berteriak sangat keras itu.
"johannes" ucapku padanya.
"lepaskan dia, kalau memang arianna tidak mau berbicara lagi denganmu, janganlah dipaksa." tegur johannes kepada dimas.
dimas pun segera melepaskan cengkramannya dari lenganku, dan aku pun segera berpindah tempat di samping jo.
"kamu gak apa-apa kan, ar?" tanya johannes.
"aku gak apa-apa kok jo, makasih ya sudah menolongku." jawabku
"maaf kalau aku kasar kepadamu arianna, aku hanya mau ngejelasin semuanya kepadamu. aku mohon pengertianmu, kamu boleh membenciku, tapi jangan pernah membenci brianna. karena ini semua bukan salahnya melainkan salahku, aku yang tidak bisa menahan perasaanku. kamu harus tau kalau brianna sangat menyayangi kamu." jelas dimas
"sayang kamu bilang? simpan saja rasa sayangnya itu, karena aku sudah tidak perduli lagi! jo, bisakah kita segera pergi dari sini, aku betul-betul sudah sangat muak."
"tapi, apakah kamu tidak mau mendengar dulu penjelasannya?" tanya johannes.
"aku sudah tidak mau lagi mendengar penjelasan apapun darinya. kalau kamu tetap memaksa, biar aku pulang sendiri saja!" tegasku padanya.
"jangan! kamu datang ke sini bersamaku, maka kamu pun harus pulang bersamaku." ucap johannes.
maka kami pun segera pergi dari tempat itu. aku memang masih merasakan lapar, tapi karena bertemu dimas, nafsu makanku jadi menghilang.
***
"langsung kembali saja ke butik, nafsu makanku sudah tidak ada lagi!" jawabku dengan ketus.
johannes pun tidak bertanya apapun lagi kepadaku sampai kami tiba di butikku. aku pun mengajaknya untuk masuk ke dalam ruang kerjaku, karena sebenarnya aku kasihan kepadanya, gara-gara dimas acara makan siang kami jadi berantakan.
aku meminta mira untuk membuatkan teh dan juga membawakan cemilan untuk kami berdua.
mira pun membawakan kami teh dan juga cemilan, setelah itu mira pun meninggalkan kami berdua.
"maaf kalau aku boleh tau, pria tadi itu siapa?" tanya johannes
"dia adalah dimas, mantan kekasihku yang lebih memilih brianna, kembaranku." jawabku
"ohh...kenapa kamu tidak mau memberikan kesempatan untuk penjelasannya, ar?" tanya johannes.
"buat apa jo? aku sudah tidak butuh penjelasan apapun darinya! toh, biarpun dia memberikan penjelasan padaku tidak akan merubah semuanya yang sudah terjadi." jawabku dengan sedikit ketus.
"okelah, aku minta maaf ya." akhirnya jo mengalah denganku.
tidak lama kemudian mira pun datang lagi sambil membawakan beberapa tote bag yang berisi makanan.
"ini dari siapa, mir?" tanyaku dengan kebingungan.
"katanya ini untuk pak johannes dan ibu arianna." jawab mira.
"itu aku yang memesan, ar. tadi kan kita belum sempat menghabiskan makanan kita, jadi aku minta mereka membungkuskan dan mengantarkannya ke sini." jelas johannes padaku.
"hmmm...baiknya kamu jo, terimakasih ya." ucapku tulus kepadanya.
aku pun memberikan 1 bungkus untuk mira, dan sisanya kami lanjutkan makan di ruanganku.
setelah selesai makan, johannes pamit untuk kembali ke kantornya.
"terimakasih ya jo, gimana kalau malam minggu nanti gantian aku yang mengajak kamu makan malam?" tanyaku kepadanya.
"oke, siap. malam minggu nanti kamu hubungi aku ya, ar?" jawab johannes.
johannes pun segera pamit dan keluar dari ruanganku untuk kembali ke kantornya.
***
sore ini aku pulang agak cepat ke apartemenku karena aku merasa sangat lelah dan sepertinya mau sakit, entah yang kenapa?
ketika aku keluar dari lift, aku seperti melihat ada seorang pria yang sedang berdiri di depan kamarku. aku sendiri tidak tau siapa orang tersebut? ketika sudah sangat dekat, aku merasa kepalaku sangat sakit, pusing dan pandanganku saat itu mulai kabur dan aku pun langsung pingsan saat itu juga.
"ARIANNA...??"
***BERSAMBUNG***
jangan lupa like dan comment ya...