
Simon mengantarkan Adreano menuju Klinik Sekolah. Sesampainya mereka di sana, Klinik Sekolah nampak sepi. Sepertinya Dokter Andrew sedang keluar. Simon mengambil peralatan yang digunakan untuk mengobati luka Adreano. Adreano duduk di kursi kosong yang berada di dekat jendela.
Langit berawan di awal musim gugur. Sedikit cahaya matahari yang menerobos awan. Namun, cahayanya cukup hangat di kala suhu mulai menurun. Pohon Gingko di luar jendela nampak menggugurkan daunannya. Warna kuning keemasan terhempas angin dan perlahan jatuh ke tanah. Adreano memejamkan matanya sejenak. Sementara Simon perlahan mengobati luka di pipi kanan Adreano.
Pipi kanan Adreano terlihat sedikit memar. Kemudian mulai diolesi antiseptik dan obat luka dengan kapas lembut. Begitu pula lengan tangan Adreano yang terdapat beberapa luka gores dari rotan. Simon dengan tenang menutup luka Adreano dengan kain kasa dan perban. Adreano masih memejamkan matanya.
"Apapun itu, aku yakin bukan kau yang melakukannya" Ucap Simon memecahkan keheningan.
Adreano yang mendengarnya kemudian membuka perlahan matanya dan melirik ke arah Simon yang sedang membalut tangannya dengan perban. Bulu mata Simon cukup lentik dan tangannya yang besar membalut tangan Adreano perlahan.
"Kenapa?" tanya Adreano tiba-tiba.
"Apanya yang kenapa?" balas Simon.
"Kenapa kau menolongku?" tanya Adreano lagi.
"Mungkin karena kita sudah menjadi teman satu aliansi?" jawab Simon sambil tertawa kecil.
"Kau percaya padaku?" balas Adreano.
"Kalau iya memang kenapa? Kau berencana menghianati kami?" Kata Simon sambil membenarkan balutan perban.
"Entahlah" jawab Adreano singkat.
"Terserah, apapun yang ada dibenakmu. Kau boleh menghianati aku tapi jangan kepercayaan yang lainnya..." ucap Simon ketika selesai membalut tangan Adreano.
Adreano hanya mengernyitkan dahinya, kemudian melihat tangannya yang sudah terbalut perban dengan rapih. Simon membereskan semua peralatan medis yang tadi ia gunakan. Dia cukup telaten dalam mengobati luka dan menanganinya. Adreano melirik kearah jam tangannya. Sekarang sudah jam pelajaran ke tiga.
"Terimakasih..." Ucap Adreano yang bangun dari kursinya.
Simon melihat kearah Adreano sambil meletakkan kotak peralatan medis tadi, ia tersenyum hangat. Simon bergegas mengikuti langkah Adreano yang segera meninggalkan klinik sekolah.
Keduanya berjalan dengan penuh keheningan lagi. Melewati koridor demi koridor yang terasa sepi. Hanya terdengar langkah kaki dari sepatu mereka. Satu persatu anak tangga dinaiki dan sampailah di depan kelas. Simon hanya menghela nafas panjang dan melirik sedikit kearah Adreano. Ia membuka pintu kelasnya dan masuk lebih dulu, ia meninggalkan Adreano tanpa sepatah katapun. Adreano yang melihatnya pun mengerti. Ia berdiri di koridor depan pintu kelasnya. Sesekali ia menghela nafas panjang. Adreano melihat keluar jendela yang ada di koridor. Nampak beberapa kelas sedang melakukan pelajaran olahraga. Adreano memejamkan matanya lagi sembari bersandar pada tembok.
'Ah... Terasa berbeda dengan Sekolah Militer. Ini terlalu tenang, walau sedikit tak wajar ' ucapnya dalam hati.
. . .
45 menit telah berlalu, jam pelajaran ke tiga sudah lewat. Sepertinya sudah saatnya bel istirahat berbunyi. Adreano membuka matanya, ia nyaris tertidur di koridor. Pintu Kelas terbuka, seorang guru keluar dari kelas. Bel berbunyi, mulai banyak murid yang berhamburan keluar kelas menuju cafétaria dan taman. Tampak Youngjoo yang berjalan kearah Adreano.
"Kau, salinlah pelajaran yang terlewat pagi ini" ucapnya seraya menepuk pundak Adreano.
Youngjoo kemudian pergi meninggalkan Adreano. Kemudian Adreano masuk kedalam kelas, dan rupanya Joseph dan Hyerim juga sudah lama meninggalkan kelas. Kelas terasa kosong dan hanya ada Adreano, ia kemudian duduk di kursinya. Nampaknya di meja sudah ada buku catatan Youngjoo. Adreano mengambil buku catatannya dan mengambil bolpoinnya, kemudian mulai menulis catatan.
Beberapa menit telah berlalu, Adreano sangat fokus pada penulisan catatannya, ia tidak menghiraukan sekelilingnya. Ia bahkan tak sadar Hyerim masuk ke kelas. Hyerim membawa sekarton susu berasa stroberi yang ia bawa dari cafétaria.
Hyerim memakan permen chupa chups dan berjalan perlahan mendekati meja Adreano. Hyerim melihat Adreano sedang fokus mencatat, lalu ia meletakkan karton susu stroberi itu di meja Adreano. Hyerim kemudian duduk dihadapan Adreano yang otomatis itu adalah kursi milik Youngjoo. Adreano kaget melihat sekarton susu stroberi diletakkan di mejanya.
"Ah... Hyerim rupanya" Kata Adreano yang melirik kearah Hyerim sebentar dan melanjutkan menulis catatannya.
Hyerim yang melihat reaksi Adreano terlihat sedih, kemudian ia meletakkan kepalanya di atas meja Adreano.
"Minumlah... ini waktunya istirahat" ucap Hyerim sambil melihat ke arah Adreano.
Adreano terhenti menuliskan catatan, karena ada kepala Hyerim di atas mejanya. Dan menatap Hyerim.
"Ini untukku?" tanya Adreano.
"Iyalah bodoh..." ucap Hyerim sambil menutupi wajahnya dengan kedua lengannya di atas meja.
Adreano mengambil karton susu tersebut dan membukanya perlahan. Hyerim mengintip di balik lengan tangannya dan tersenyum simpul. Ia kelihatannya senang melihat Adreano menerima pemberiannya. Sementara itu, Adreano mulai meminum susu stroberi tersebut.
'Padahal aku tak suka rasa manis ini. Tapi, apa boleh buat ' ucap Adreano dalam hatinya setelah meminum susu stroberi tersebut.
Adreano langsung menyelesaikan sekarton susu itu dengan cepat. Setelah itu ia mengambil bolpoinnya lagi dan bersiap-siap mencatat. Hyerim mengangkat kepalanya dari meja Adreano dan kembali memperhatikannya lagi.
"Kau gak apa apa?" tanya Hyerim pelan.
"Gak apa apa, Terimakasih..." Jawab Adreano seraya tersenyum hangat ke arah Hyerim. Ia kemudian melanjutkan menulis catatannya.
"Aku akan memb-" ucapan Hyerim terpotong oleh teriakan Joseph yang setengah berlari kearah mereka.
"Bro! Bro! " teriak Joseph sambil membawa sekotak kecil donat dari cafétaria dan sebotol air mineral.
Adreano menoleh kearahnya, Hyerim nampak kesal dengan kedatangan Joseph yang mengganggunya berbicara kepada Adreano.
"Selalu saja dirimu... ishh" ucap Hyerim pelan.
"Bro! kau sudah obati luka itu? ah! gue bawaiin donat cafétaria, cobaiin deh!" Kata Joseph yang kemudian meletakkan kotak kecil berisi donat dan air mineral itu di atas meja Adreano. Ia kaget melihat ada karton susu stroberi yang kosong di meja Adreano.
Hyerim buru-buru mengambil karton susu kosong itu dan bergegas keluar kelas untuk membuangnya.
"Kau... diberi susu stroberi oleh nona Cerewet itu? benar-benar..." ucap Joseph sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya, tadi... Terimakasih donatnya" balas Adreano.
"Kau makan satu saja dulu hehe" kata Joseph sambil terkekeh kecil.
"Ya, setelah aku menyelesaikan satu paragraf ini..." balas Adreano yang mempercepat tulisannya.
"Eh bro! Narkotika itu seharusnya ga berada di tas mu. Pasti seseorang sudah bergerak untuk menguji dirimu" bisik Joseph hati-hati.
"Kemungkinan seperti itu" jawab Adreano pelan.
"Kau tak mau mencari taunya? Memperbaiki reputasi kau lahhh!" bisik Joseph lagi.
"Apa lagi yang kau mau?" ucap Adreano seraya menutup buku catatannya dan milik Youngjoo.
"Ah, ini mungkin cara OSIS berkenalan denganmu. Narkotika itu tak bisa didapatkan di sekolah memang, tapi ada suatu tempat. Kalau kau tertarik aku akan membawa mu kesana" jelas Joseph pada Adreano dengan nada berbisik.
"Untuk menyelidikinya bukan? kau tak terlibat narkotika itu bukan?" tanya Adreano curiga.
"Mana ada itu! gue tau gara gara kakak gue OSIS, kan gue sering mata-mataiin dia..." Balas Joseph kesal.
"Oh, iya kah?" ucap Adreano lagi dengan meragukan Joseph.
"iya bener Bro! lagipula siapa yang ga tau hal itu sebagai salah satu kubu yang melawan mereka. Tentu kami menyimpan Informasi mengenai hal tersebut dan memonitornya asal kau tau aja..." ucap Joseph lagi.
Adreano hanya mengangguk pelan saja dan mengambil donat yang diberikan Joseph. Tak lama dari itu, Youngjoo datang menyerahkan sebuah file kearah Adreano. Ia melihat donat di tempat Adreano dan mengambilnya serta memakannya.
"Kau bebas dari panggilan Mr.Sandro tapi kau harus membuktikan ke benaranya..." Kata Youngjoo sambil memakan donat dan duduk di kursinya.
"Heh! heh! maen ambil aja kebiasaan banget dah, itu punya orang!" tegas Joseph dengan bahasa Informalnya.
"Yaudah bagi, Makasih" balas Youngjoo sambil memakan lagi donatnya.
Joseph memukul kepala Youngjoo namun Youngjoo berhasil menghindar, hal tersebut membuat Joseph kesal. Adreano mengambil file yang diberikan Youngjoo padanya. Terdapat informasi mengenai seorang murid dan fotonya. Adreano merasa tidak asing dengan wajahnya. Ia merasa pernah melihatnya. Dan tersentak.
"Ha! dia yang menabrak ku pagi ini" katanya seraya tersenyum menyeringai.
"Kau yakin? kenapa hari ini dia izin" tanya Youngjoo
"Apa? izin?" Adreano balas bertanya.
"Iya izin, daftar piket hari ini menyatakan dia izin keluar. Alasannya dia akan menemani ibunya operasi" jawab Youngjoo.
Joseph mengambil foto yang ada di tangan Adreano.
"Wah dia anak yang tahun ini di sponsori oleh keluarga Blaire bukan? Dia anak yang berbakat tapi dari keluarga miskin..." ucap Joseph.
"Iya, dia baru masuk tahun ini. Berarti dia se angkatan dengan Oda" balas Youngjoo.
Mereka bertiga mengangguk setuju. Tak terasa bel istirahat berakhir berbunyi. Buru-buru Adreano memasukkan file-file tadi ke dalam tas ranselnya. Ia memakan donat manis yang tak terlalu disukainya itu dengan cepat dan meminum air. Joseph, Hyerim dan Youngjoo kembali ke tempat duduknya masing-masing. Jam pelajaran berikutnya akan segera dimulai.
. . .
Waktu terus berlalu. Hari sudah mulai sore. Sekarang sekitar pukul tiga. Sudah saatnya untuk kembali ke asrama masing-masing. Siswa-siswi Akademi Lydenn mulai berhamburan keluar gedung sekolah dan menuju asrama mereka masing-masing.
Adreano, Joseph, Youngjoo serta Simon bertemu di luar gerbang bangunan sekolah. Mereka saling menyapa dengan biasanya dan menatap satu sama lain kemudian mengangguk sekali dan berjalan cepat menuju jalan ke asrama. Youngjoo dan Simon memasuki bangunan timur sedangkan Adreano dan Joseph segera kembali ke gedung bagian barat.
Setelah 15 menit berlalu, mereka kembali bertemu di depan bundaran air mancur depan asrama, dengan mantel berwarna gelap. Mereka bergegas menuju pintu gerbang keluar sebelah timur seperti sebelumnya.
"Mari kita mulai!" seru Joseph sambil berlari.
Yang lainnya ikut menyusul langkah Joseph dan mengangguk setuju.
. . .