True Colors

True Colors
Drowned



Setelah pertemuan tersebut, Adreano diberikan banyak Informasi mengenai Akademi Lydenn. Hari mulai malam dan mereka semua kembali ke Asrama mereka masing-masing.


Semenjak mendengar penjelasan dari mereka semua, sikap Adreano hanya diam seribu bahasa hingga perjalanan menuju Kamar Asramanya. Joseph yang melihat keadaannya berusaha untuk membuat Adreano tenang.


"Kau kenapa bro? Dari tadi cuman melamun aja. Jangan diem gitu lah, kesannya gw lagi marahan sama lu." Kata Joseph yang merangkul pundak Adreano.


Adreano hanya tetap diam dan terus berjalan menuju kamar Asrama mereka tanpa menghiraukan ucapan Joseph. Joseph hanya pasrah dan menghembuskan nafas panjangnya. Ia tetap berjalan bersama Adreano hingga akhirnya sampai di depan pintu Asrama.


Adreano berhenti dan memandangi pintu kemudian melirik kearah gagang pintu yang membukanya harus dengan kode itu. Joseph juga ikutan memandangi pintu tersebut, tiba-tiba Adreano menatap kearahnya.


"Kau tak mau buka?" Ucap Adreano sambil mengernyitkan dahinya.


Joseph yang sadar akan hal tersebut buru- buru memencet tombol berdasarkan kode yang sesuai dan akhirnya pintu terbuka. Adreano segera masuk dan mengganti sepatunya dengan sandal khusus asrama. Joseph memandangi sikap Adreano dengan tampang pasrah dan menawarkannya untuk makan malam.


"Hey, kau belum makan bukan sejak tadi? Saat Amane menawarkan sushi kau menolaknya. Kau mau kubuatkan Pasta?" Kata Joseph yang berusaha menghidupkan suasana.


Adreano menoleh kearah Joseph dengan pandangan lesu.


"Aku tidak berselera, terimakasih atas tawarannya, selamat malam" Jawab Adreano yang segera memasuki kamarnya.


Joseph terdiam lagi dan menggantungkan mantelnya di tempat menggantung mantel dekat pintu. Ia akan membiarkan Adreano untuk mengambil keputusannya ataupun memikirkan apa yang sudah dia dengarkan. Joseph pun masuk ke kamarnya.


Sementara itu Adreano yang sudah lebih dulu masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya, Ia hanya duduk termenung di kasurnya. Kemudian ia menyalakan lampu. Ia menarik koper besarnya dan membuka koper tersebut.


Koper besar itu berisikan baju dan perlengkapan Adreano serta satu buah tempat kecil berwarna hitam yang diletakkan paling bawah diantara baju-bajunya. Ia menariknya keluar dan membuka tempat kecil hitam kotak itu dengan hati-hati. Didalamnya terdapat sebuah pistol dengan beberapa bar peluru.


Pistol bertipe Glock Meyer 22 itu dipegang oleh Adreano. Ia memandangi pistol tersebut dan segera meletakkannya kembali di tempatnya. Adreano menutup kembali kotak tersebut dan membuka lemari yang disediakan Asrama. Ia meletakkan kotak hitam tersebut di bagian dasar tempat untuk menggantungkan pakaian.


Adreano segera merapikan pakaian-pakaiannya dan mengisi lemari pakaian tersebut. Ia melihat kearah jam digital di meja dekat kasurnya. Pukul sepuluh lewat lima belas. Adreano kemudian merapikan beberapa buku yang ia bawa di ranselnya. Setelah melakukan semua hal tersebut Adreano menarik kursi dan duduk di meja belajarnya. Ia membuka sebuah buku bersampul coklat dan bertekstur kulit. Bolpoin Parker ditangannya mulai menggurat kertas buku tersebut.


Adreano menuliskan sesuatu dan terhanyut dalam pikirannya. Ia menulis hal berikut :


...20XX Bulan XX Tanggal XX , Aku menuliskan hal ini. Pada awalnya semuanya berjalan sesuai dengan rencanaku. Ternyata diakhir hari ini aku akan sedikit mengubah rencananya karena suatu hal. Mereka semua benar-benar seperti plot yang aku inginkan. Hari ini aku bertemu salah satu kubu dari Akademi Lydenn. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah temannya Adrianne. Seseorang bernama Wang Jia Rong, adalah seseorang yang cerdas dan pandai menilai kondisi. Sedangkan, Simon Howard merupakan pemuda yang terlihat tenang namun sepertinya ia memiliki banyak ide dan tegas melakukan tindakan. Lalu, Oda Amane Gadis ini sifatnya terlihat manis serta tenang namun memiliki jiwa keras dan pemberani. Harris Widjaja, Pemuda yang tidak ingin diganggu kehidupannya. Park Hyerim, Sedikit Tsundere namun memiliki kemampuan analisis yang baik. Kim Youngjoo, Dia tidak bisa dianggap remeh, meskipun ia pintar dalam ilmu eksak namun sepertinya ia memiliki keterampilan ilmu beladiri yang hebat dilihat dari fisiknya. Joseph Cardia, Tingkahnya konyol dan bahasanya tidak formal, tapi untuk saat ini ia yang paling mudah untuk didekati....


Adreano berhenti menulis dan segera menutup bolpoin Parker ditangannya. Ia menutup buku tersebut dan meletakkannya di salah satu laci dan menguncinya. Kuncinya ia letakkan di dalam vas bunga yang berada di jendelanya. Adreano melihat keluar jendela, wajahnya terkena cahaya bulan malam dengan raut wajah yang kaku namun nampak sedih.


Ia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan mematikan lampu. Dipikirannya banyak sekali hal-hal yang rumit. Seperti pada pertemuan tadi, Informasi akademi ternyata benar. Akademi ini ternyata tidak beres. Terutama semenjak dijadikan sekolah elite swasta. Akademi ini ternyata benar-benar melakukan sebuah penelitian tentang bahan yang melibatkan nuklir. Mereka juga banyak melakukan suap terhadap banyak pejabat negara. Bahkan membuat beberapa murid melakukan bisnis kotor seperti perjudian dan penyelundupan narkotika. Jelas-jelas ini bukanlah sekolah namun alat yang digunakan para kaum kapitalis dan elite politik untuk mengendalikan sesuatu. Dari informasi yang didapatkan tadi, akademi ini benar benar hanya tempat berkedok sekolah, walau memang kualitas pendidikannya bagus namun tidak menjamin keselamatan muridnya. Kebanyakan murid yang dikirim kesini adalah mereka yang dari keluarga terpandang tetapi memiliki beberapa skandal, seperti pencucian uang ataupun penggunaan narkotika. Tak jarang pula ada yang anak dari beberapa pejabat yang melakukan kegiatan korupsi. Sekolah ini benar-benar seperti bukan tempat yang baik-baik.


Adreano menarik selimutnya dan menatap langit-langit kamarnya. Ia kembali memikirkan suatu hal. Jia Rong mengatakan bahwa ia adalah peluru yang bebas, apa mungkin maksudnya semua murid disini merupakan sebuah amunisi yang sudah dimiliki, dan harus siap digunakan sewaktu-waktu untuk kubunya atau akademi. Lalu, apa maksud dari Joseph yang mengatakan bahwa mereka tidak setamak orang tua mereka? Atau sebenarnya Terdapat 3 Kubu dan tidak tercantum di informasi yang diterima sebelumnya.


Adreano menendang selimutnya dan mengacak-acak rambutnya. Ia tampak gelisah dan bingung kemudian kembali berguling menghadap kanan dan tertidur.


Dimimpinya, Adreano melihat seorang anak laki-laki yang terbaring di pangkuannya dengan luka tembak di dada dan punggung ia mengenakan baju seragam latihan militer. Anak laki-laki itu sekarat dan terus memegang tangan Sesosok Adreano kemudian tersenyum dan menutup matanya. Adreano melihat kearahnya dan menangis serta panik. Di mimpinya Adreano mengambil pin nama milik anak laki-laki tadi, suasana berubah menjadi ruangan kosong dan gelap. Ia menggenggam erat pin nama tersebut dan tiba-tiba keluar darah dari telapak tangannya sosok anak laki-laki yang dipangkunya merangkulnya dari belakang tubuhnya dan membisikan kata-kata di telinganya.


"Kau takkan bisa menjadi aku, kau akan mati sama sepertiku..." bisik sesosok anak laki-laki tadi dalam mimpi.


Tubuh anak laki-laki itu tersenyum menyeramkan dan mencekik leher Adreano. Ia bahkan menarik Adreano kedalam cairan merah yang akan melahap mereka.


Akibat dari mimpi tersebut Adreano bernafas berat dan tidak tenang dari tidurnya. Ia berusaha bangun agar lepas dari cengkraman mimpi mengerikan tersebut. Dengan berbagai usahanya ia akhirnya berhasil bangun dari mimpinya. Tubuhnya berkeringat dan mata yang langsung terbuka lebar. Adreano segera menghirup udara sebanyak mungkin. Ia merasa sesak nafas namun berusaha juga ia untuk membuat dirinya sendiri tenang.


Adreano sudah benar-benar sadar, kemudian melihat ke arah jam digital yang berada di meja sebelahnya. Pukul lima lewat duapuluh sembilan. Adreano segera bangun dan mengambil handuk serta beberapa pakaian ganti kemudian berjalan menuju kamar mandi.


Saat di kamar mandi segeralah Adreano melepaskan pakaiannya dan membasahi sekujur tubuhnya dengan air dingin dari shower. Ia masih memikirkan mimpinya semalam. Setelah mandi dengan shower air dingin Adreano menatap kearah cermin. Cerminnya sedikit berembun karena uap, kemudian Adreano mengusapnya. Ia melihat wajahnya di cermin dengan serius kemudian mengeringkan rambutnya dan menggosok gigi.


Ketika melihat kearah cermin, perasaan yang dirasakan Adreano adalah gelisah dan gundah seperti ia tidak mau melihat wajahnya itu, karena mirip dengan seseorang. Segeralah Adreano mengeringkan tubuhnya.


Kemeja putih lengan panjang itu menutupi tubuh atletisnya. Celana panjang seragam musim gugur dipakainya. Rambut coklat kemerahannya disisir dan ditata lagi dengan rapih. Tak lupa ia mengusapkan bibirnya dengan pelembab karena suhu musim ini sudah dingin, membuat bibirnya terkadang mengering.


Adreano segera kembali ke kamarnya dan mengenakan rompi seragam. Ia membawa jas seragamnya serta baret berwarna gelap tersebut ke ruang tamu dan meletakkannya di sofa. Ia mengenakan jam tangannya. Pukul enam duabelas. Masih satu jam lagi gerbang utama sekolah akan dibuka. Sekolah akan dimulai pukul delapan.


Karena kebiasaannya dulu di Asrama Militer, Adreano terbiasa bangun awal di pagi hari. Kalau dulu dia akan pergi mengisi air dan pergi ke tempat sarapan, setelah itu pergi latihan pagi bersama kemerad lainnya. Namun kali ini terasa berbeda, akhirnya Adreano memutuskan untuk membuat sedikit hidangan sarapan untuk dirinya dan Joseph. Ia pun pergi ke arah dapur kecil tersebut dan membuka kulkas. Ternyata, Joseph mengisi kulkasnya dengan bahan makanan. Adreano menggulung kedua lengan bajunya sampi ke siku. Segeralah Adreano menghangatkan susu putih dan membuat kopi di mesin espresso kecil. Ia memanggang roti gandum kemudian mengolesinya dengan butter. Adreano memecahkan tiga butir telur lalu memberi bumbu kemudian memanaskan butter di atas teflon, lalu memasak telurnya. Ia terampil juga dalam hal ini. Sebelumnya ia telah mencuci sayuran seperti tomat, bawang bombai, timun dan sedikit selada, lalu memotong-motongnya. Setelah ia memasak telurnya, kemudian ia meletakkannya di atas roti panggang yang sudah dilengkapi sayuran segar tadi dan saus tomat/cabai. Setelah itu ia hendak memotongnya dengan pisau, ternyata Joseph sudah berdiri di depan meja makan kecil yang langsung tersambung dengan cabinet dapur.


Adreano segera menyelesaikan tugas memasaknya. Dan duduk di meja makan tersebut.


"Silahkan..." Ucap Adreano sambil menyodorkan segelas susu putih hangat ke arah Joseph yang baru bangun.


Joseph yang kaget melihatnya langsung saja duduk di meja makan dan meminum susu putih hangat yang diberikan oleh Adreano. Adreano hanya diam sambil menikmati secangkir kopi yang dibuat olehnya.


"Bro, wah ga nyangka...Kau bisa masak sampai seperti ini. Gimana kalau setiap minggunya kita jadwal yang buat sarapannya?" Tukas Joseph sembari memakan sandwich nya.


Adreano menatap kearah Joseph dengan datar seraya berkata,


"Oke" jawabnya singkat.


Joseph tersenyum dan mengangguk kemudian melanjutkan sarapannya. Adreano yang melihat itu hanya bisa memalingkan wajahnya dan menggigit perlahan sandwich nya lalu melihat kearah jam tangannya, pukul enam empat puluh.


Seusai sarapan tadi, Joseph segera bergegas mandi dan mengenakan seragamnya agar Adreano tak lama menunggu. Sementara Adreano menatap layar ponselnya dan membalas sebuah pesan dari seseorang. Ia menunggu dan kemudian berangkat menuju sekolah bersama Joseph.


. . .