True Colors

True Colors
Prolog



Langit muram kelabu, iringan tangisan terdengar. Peti kayu berwarna putih terbuka. Didalamnya terdapat gadis cantik jelita yang beristirahat. Gadis cantik dan anggun itu harus menemui ajalnya, dikala gadis sebayanya menjalani hidup dengan penuh warna.


Mata terpejam, kulit sebersih salju, badan kaku, rambut coklat kemerahan, bibir membisu dan wajah pucat pasi yang telah diberi riasan tipis. Gadis itu terbaring di dalam peti dengan dikelilingi bunga Camelia. Gaun putih membalut tubuhnya yang ramping menjadi gaun terakhirnya untuk 'berpulang'.


Hari itu Aula pemakaman benar benar suram. Sepasang suami-istri yang terus menangisi kepergian Gadis itu, terus berada di dekat peti tempat gadis itu terbaring. Para pengelayat mengucapkan belasungkawa dan memberikan karangan bunga. Mereka menyayangkan atas kepergian seorang gadis yang malang itu.


Seorang anak laki-laki berdiri disudut aula pemakaman, mengenakan jas serba hitam dan terus menatap keluar jendela. Pandangannya, tertuju kearah taman pemakaman. Tak setitik air matapun jatuh darinya. Tapi raut wajahnya amat sedih dan merasa marah. Anak laki-laki itu kemudian mengepalkan tangannya yang terbalut sarung tangan putih.


Tiba saatnya bagi Sang Gadis untuk di kebumikan. Sepasang suami-istri itu hanya bisa pasrah dan meng-ikhlaskan bahwa putrinya harus pergi lebih dulu. Anak laki-laki itu mengeggam erat bingkai foto gadis cantik itu. Semuanya menuju ke arah tempat peristirahatan terakhir gadis itu. Gadis itu telah di kebumikan.


Beberapa saat setelah gadis itu di kebumikan, gemuruh datang. Hujan pun tiba dengan lembut. Bau tanah dan aroma bunga Camelia tercium. Tanah basah dan udara lembab memasuki relung paru-paru. Semua orang berhamburan dan meninggalkan tempat di letakkanya nisan gadis itu. Hanya seorang anak laki-laki yang tetap berdiri mematung. Pandangannya mengarah ke nisan.


Jas hitam itu basah. Sepatu pantofel itu ternoda oleh Tanah. Rambut coklat kemerahannya menjadi lepek dan dia semakin berlarut dalam kesedihannya.


Seorang pria paruh baya, datang menghampirinya sambil membawa payung hitam besar. Pria paruh baya itu segera memayungi anak laki-laki itu dan memeluknya. Hujan turun semakin deras. Keduanya pun pergi meninggalkan area pemakaman dan kembali ke kediaman mereka.


. . .


Raut wajahnya seperti menampakkan kekecewaan serta penyesalan yang mendalam. Ia menyesal mengapa ia tidak bersamanya kala itu. Penyesalan itu terus berada di lamunanya.


Duabelas hari sudah dilewatinya dengan perasaannya yang seperti itu. Hingga akhirnya dirinya memutuskan mencari tahu apa yang mengganjal di hati dan pikirannya. Ia bertekad akan menemukan apa yang membuat gadis itu merenggang nyawanya.


Taring akan dibalas dengan taring. Nyawa akan dibayar dengan nyawa. Keserakahan akan dibalas dengan Kesengsaraan. Yang salah tak akan pernah lepas dari rantai kebenaran.


Semua berawal dari mereka yang tamak. Mereka tak pernah peduli dengan orang dibawahnya dan hanya memanfaatkannya sebagai hiburan semata. Mereka akan menutup mata dan telinga mereka demi melindungi komunitasnya. Saling menjatuhkan, saling berkonflik bahkan hingga tak segan membunuh orang. Mereka berani melakukan itu terhadap mereka yang menganggu 'permainan' mereka.


Kematian sang gadis tersebut pasti merupakan suatu awal permulaan. Seperti layaknya petunjuk untuk menguak rahasia terbesar.


Sang anak laki-laki terus memikirkan tentang kasus ini dan bahkan menyuruh orang tertentu untuk memberikan informasi rinci atas kasus yang kabarnya selalu berusaha diakhiri ini. Ia akhirnya memutuskan untuk 'masuk ke sarang harimau'. Karena dengan cara itu, dia akan mendapatkan kebenaran atas kematian sang gadis.


. . .