True Colors

True Colors
No Regret



Sejak hari pertemuannya dengan Harris, Adreano selalu melakukan kegiatannya dengan serius. Ia bertekad akan menyelesaikan misinya itu dan segera kembali ke Akademi Militer nya. Waktu telah berlalu hingga ujian semester pun tiba.


Seluruh murid sibuk mempersiapkan diri mereka dalam menghadapi ujian. Perpustakaan mulai dipadati oleh murid yang sibuk belajar. Tak terasa, musim gugur telah berganti menjadi musim dingin. Dan sebentar lagi, murid tahun terakhir di Akademi Lydenn akan lulus di musim semi.


Adreano dan teman-temannya sedang berusaha keras untuk mendapatkan hasil terbaik dalam ujian semester nanti. Mereka semakin akrab dari hari ke hari. Adreano menjadi semakin berbaur diantara mereka. Ia juga harus tetap menjalankan misinya.


Adreano berencana untuk membuat teman-temannya itu terlibat dalam misinya secara langsung namun, tanpa mengetahui itu adalah misi Badan Intelijen. Perlahan Adreano melakukan tindakan yang persuasif kepada beberapa temannya itu. Adreano berencana memanfaatkan mereka yang melawan OSIS.


Hari-hari mereka semua berlanjut hingga hari ujian tiba.


. . .


Dengan tas ransel biru di punggungnya Joseph datang menyerobot kerumunan di lobby sekolah. Terdapat layar besar yang menampilkan informasi, dan kala itu sedang menampilkan nilai-nilai para siswanya.


"Woiii !! Minggir semuanya! Minggir!" Teriak Joseph kepada orang-orang di depannya.


Setelah berhasil mencapai barisan depan kerumunan, matanya mencari-cari sesuatu di layar itu. Ia mencari namanya berada di peringkat ke berapa pada peringkat parallel.


Sementara itu, dari kejauhan Youngjoo dan Adreano tampak menepuk dahi mereka. Amane dan Hyerim hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Joseph.


"Astaga, Demi Tuhan anak itu..." Ujar Hyerim.


"Ya mau diapakan lagi, sudah dari sananya begitu..." Lanjut Adreano.


"Bodoh, palingan juga keluar dari peringkat lima puluh besar" Balas Youngjoo.


"Aku rasa tidak juga..." Ucap Harris yang datang tiba-tiba. Ia datang dan menunjukkan iPad nya ke arah Youngjoo.


Youngjoo kemudian melihat kearah iPad tersebut begitupula Adreano. Keduanya mencari nama Joseph,


"Wih canggih juga ini anak! Tumben loh dia masuk peringkat 50 besar!" Seru Youngjoo.


Mendengar suara Youngjoo dari kejauhan, Joseph berlari kearahnya dan menaiki pundak Youngjoo. Kemudian tersenyum lebar dengan tangan tanda Peace nya,


"I Made it! peringkat 49 hehehe!!" Serunya.


Youngjoo yang merasa keberatan dengan bobot tubuh Joseph segera memukulnya,


"Turun!! Berat, badan Lo ! " Balas Youngjoo dengan kalimat tidak baku.


"Ya maaf, bro ! Gimana kalau kalian?" Ucap Joseph sambil memaksa lihat iPad milih Harris.


"Astaga..." Kata Harris yang pasrah iPadnya diambil paksa.


Tertera di sana, Youngjoo mendapatkan peringkat pertama, Adreano peringkat ke tiga, Simon di peringkat lima, Hyerim peringkat ke dua puluh. Sedangkan Amane berada di papan peringkat angkatan yang berbeda. Setelah melihat itu, Joseph langsung merasa sedih dan mengembalikan iPad milik Harris. Youngjoo hanya tertawa keras melihat Joseph yang murung.


"Amane kau dapat berapa?" Tanya Hyerim


"Ah! Amane mendapat peringkat ke delapan belas, Hyerim-chan!" Ucapnya bersemangat.


Hyerim mengusap kepala Amane dengan lembut dan memeluknya erat.


"Awww!! Bagus sekali adikku..." Ucap Hyerim sambil membetulkan poni rambut Amane.


Tak lama kemudian, Simon datang dengan membawa beberapa bingkisan. dan menyapa teman-temannya itu,


"Selamat semuanya!!! Kali ini kita masuk 50 besar semua pada peringkat parallel" Ucap Simon yang melirik kearah Joseph.


"Hey ! Jangan lirik aku seperti itu ya!" Seru Joseph yang jengkel.


"Kau bawa apa ini? Katanya kau keluar tadi mengambil kiriman..." Kata Harris pada Simon.


Simon mengangkat bingkisan di dalam paper bag besar tersebut,


"Oh ini! Dapat kiriman dari Kakakku untuk kalian juga, katanya makan bersama-sama" Jawabnya.


"Waaahh! Kita dapat makanan!" seru Joseph kegirangan.


"Mr. Cardia berisik banget sih! " Ujar Hyerim memukul pelan punggung Joseph.


"Kalau makanan aja, dia peringkat pertama..." Balas Youngjoo sambil merangkul pundak Joseph. Joseph hanya terkekeh.


"Kalau begitu, mari kita ke tempat biasanya!" Seru Amane dengan semangat.


"Apa kalian melihat Jia?" Tanya Simon.


"Jia-senpai sudah pulang sejak tadi. Katanya ada urusan penting tapi aku akan menge-chat nya agar kita bisa berkumpul bersama" Jawab Amane sambil memegang handphonenya.


Mendengar itu ekspresi wajah Simon berubah menjadi khawatir. Adreano yang menyadarinya kemudian merangkul pundaknya,


"Ayo kita pergi lebih dulu, Jia nanti akan datang" Ucap Adreano meyakinkan Simon.


Kemudian, Simon mengangguk dan berjalan bersama dengan yang lainnya.


Bel tanda sekolah telah usai berbunyi. Seluruh siswa pergi menuju kearah gerbang sekolah dan segera kembali ke asramanya masing-masing. Sedangkan kelompok Adreano bergerak menuju tempat pertemuan mereka.


. . .


Sekolah telah usai hari ini. Lobby sekolah terlihat sepi, kelas-kelas telah kosong. Semua guru dan staff sudah separuhnya kembali ke asrama mereka. Hanya menyisakan para penjaga yang siap siaga di dalamnya.


Bianca berjalan menuju lobby sekolah, dimana layar pengumuman peringkat berada. Ia berhenti di tengah-tengahnya dan melihat kearah peringkat 50 besar. Bianca berada di peringkat pertama pada peringkat angkatannya. Kemudian, Bola matanya bergerak kebawah dan melihat peringkat lainnya,


"Adreano..." Ucapnya pelan.


Suara sepatu yang berjalan menuju kearahnya, mengalihkan perhatian Bianca. Seorang laki-laki tinggi dengan rambut pirang datang dengan gayanya yang khas, kedua tangannya di kantong celananya,


"Kau menyesal sekarang?" Ucapnya yang kemudian berdiri di samping Bianca.


Bianca tersenyum,


"Bukankah sudah terlambat untuk menyesal, Jonathan..." Balas Bianca.


Anak laki-laki bernama Jonathan itu menunjuk kearah layar seraya berkata,


"Setidaknya adikku memiliki peningkatan. Meskipun bodoh, tapi dia punya teman disisinya. Aku iri padanya. Hahaha" Tawa Sesosok Jonathan.


"Ini saat-saat terakhir diriku di sini. Aku tak bisa menyesal atau melangkah mundur..." Ucap Bianca dengan wajah datarnya.


"Begitu kau telah memilih jalan hidupmu, kau tak punya pilihan lain. Kau hanya akan bisa maju atau menyerah" Lanjut Jonathan.


"Kau benar. Pertunjukan kehidupan sebenarnya baru saja akan dimulai saat dewasa" Kata Bianca sambil tersenyum kecil.


"Tapi kau harus bertanggung jawab dengan pilihanmu. Walau terkadang kau menganggap memilihnya secara tak sadar atau tak menganggapnya" Ucap Jonathan bijak.


"Hati manusia, tidak ada yang tahu. Meskipun kau seorang Antagonisnya perasaan bersalah terkadang menghantui..." Ucap Bianca lirih.


Jonathan menghela nafas sejenak dan kembali menatap layar besar,


"Apa salahnya menjadi Antagonis, lagipula kita adalah protagonis utama dalam cerita hidup kita sendiri..." Ucap Jonathan.


Bianca yang mendengar perkataan Jonathan berbalik menatapnya,


"Apa maksudmu?" Tanya Bianca.


"Hei Bi, mereka hanya tak tahu luka kita. Mereka tidak melihat usaha kita, namun ketika kita berbeda pendapat dengan mereka atau tak sejalan dengan mereka... Mereka akan bilang kita lawan atau Antagonis. Jadi, tidak penting siapa yang Antagonis..." Jelas Jonathan.


Bianca hanya diam dan memandangi layar besar di depannya. Jonathan segera berjalan pergi meninggalkan Bianca dalam diam.


Bianca kemudian tersenyum,


"Tak peduli, menjadi Antagonis pun pasti memiliki sebabnya. Karena kami dibuat oleh orang-orang di sekitar kami, dan sikap kami tercipta karena suatu keadaan. Hanya untuk bertahan hidup..." Kata Bianca pelan.


Bianca pun pergi meninggalkan area sekolah. Ia berjalan perlahan di sepanjang jalan menuju asrama. Pemandangan putih, tertutup salju tebal. Udara semakin dingin. Salju berguguran dari langit. Bianca menghembuskan nafasnya dan menghasilkan uap di udara.


Tampak dari kejauhan seorang gadis menghampirinya dan memakaikan syal ke lehernya.


"Udara mulai dingin, aku membuatkan syal untukmu...Bianca" Ucap Gadis itu. Ia adalah Estelle.


Bianca hanya tersenyum tipis dan berjalan mendahului Estelle. Keduanya berjalan bersama menuju area gedung asrama. Atmosfir diantara keduanya benar-benar tenang dan sedingin salju tebal yang menemani perjalanan mereka. Kedua kakak beradik itu tak mengatakan apapun dan terus berjalan hingga tujuannya masing-masing.


. . .