True Colors

True Colors
Not me



Gerbang sekolah telah terbuka. Ini saatnya bagi para murid Akademi Lydenn untuk mulai absen dan masuk ke kelasnya masing-masing. Pintu absen otomatis sudah mulai ramai, Lobby sudah mulai terdengar hiruk pikuk kehidupan.


Tangga menuju lantai berikutnya selalu dipenuhi oleh murid-murid. Pagi ini benar-benar pagi yang cukup sibuk di Akademi Lydenn. Mr. Sandro akan melakukan inspeksi tata tertib. Banyak murid yang merasa panik. Adapun yang sedang sibuk membenahi seragamnya.


Mr. Sandro merupakan salah satu guru di Akademi Lydenn. Beliau sendiri adalah guru tertua di Akademi tersebut. Beliau memiliki penampilan yang bugar meskipun sudah berusia 67 tahun. Mr. Sandro merupakan seorang mantan petugas militer, oleh karena itu tak heran mengapa beliau dipercaya sebagai penegak kedisiplinan di Akademi Lydenn. Dan beliau terkenal sebagai guru yang sering melakukan razia dadakan.


Adreano dan Joseph bergerak menuju pintu elektronik dan mengeluarkan pass murid mereka. Kemudian masuk kearah Lobby dan berjalan menuju gedung utama. Adreano menggendong tas ransel hitam di bahu kirinya.


Sementara itu Joseph memulai percakapan dengan Adreano saat sedang keduanya menaiki anak tangga yang ramai.


"Bro! Mr.Sandro mau adaiin razia nih keliatannya. Pada sibuk hahaha... Untung aja gw mah murid teladan!" Seru Joseph sambil menyerobot antrean menaiki tangga satu persatu.


Adreano hanya mengernyitkan dahinya dan berjalan mengikuti langkah Joseph.


"Baru mulai Semester Baru, kan? udah ada razia aja?" Tanya Adreano pada Joseph.


"Yaah, begitulah. Kau tahu sendiri bukan seperti apa Akademi Lydenn ini" Jawab Joseph sambil menggelengkan kepalanya.


Keduanya menaiki tangga hingga akhirnya berada di lantai 2. Banyak murid-murid yang berada di luar kelas. Mereka bercengkrama dan sibuk membicarakan tentang razia. Dari banyaknya pembicaraan yang di dengar sepanjang perjalanan menuju kelas 2-2, diketahui bahwa ada murid yang kedapatan membawa beberapa gram narkotika.


Adreano yang mendengarnya merasa sedikit terkejut karena barang haram tersebut benar-benar ada yang mengkonsumsinya di sebuah sekolah. Joseph nampaknya sudah mengetahui maksud razia dadakan tersebut. Dia hanya tersenyum kecil tiap mendengar kata-kata yang diucapkan oleh beberapa murid di koridor.


Tak jauh dari kelas 2-2, Kelas 2-1 sedang ramai sekali. Ternyata setelah dilihat-lihat, dua orang murid sedang bertengkar. Kelas 2-1 pun ramai dengan banyak murid yang penasaran melihat kejadian tersebut. Mereka bertengkar bahkan saling memukul. Setelah mengetahui penyebab keramaian tersebut Adreano segera meninggalkan kerumunan, begitupula Joseph.


Dari arah yang berlawanan, seorang anak laki-laki yang setengah berlari tersebut menabrak Adreano yang hendak mencoba keluar dari kerumunan. Ransel Adreano jatuh dari bahunya dan tubuhnya ambruk.


"Maaf, maafkan aku. Aku sedang buru-buru" Kata Anak laki-laki yang menabrak Adreano


"Iya, sudahlah aku tahu" Balas Adreano sambil berdiri kembali.


Anak laki-laki itu mengambilkan ransel Adreano yang jatuh di lantai. Ia memberikan tas ransel itu kembali ke pemiliknya. Sementara itu Joseph baru berhasil keluar dari kerumunan. Ia segera menanyakan Adreano.


"Gimana? Bro? gak apa apa kan?" tukas Joseph sambil menepuk punggung Adreano.


"Gak apa apa, jalan aja ke kelas buruan " Balas Adreano yang menggendong lagi ranselnya.


Mereka pun segera memasuki kelas 2-2. Suasana kelas sama saja dengan hari pertama Adreano masuk. Tampak Hyerim dengan nada ceria menyapa keduanya. Sementara Youngjoo hanya menaikan tangannya tanda menyapa. Mukanya tertutup oleh buku di atasnya. Ia duduk di kursi nya dan terlihat lelah. Hyemi duduk di atas meja milik Youngjoo.


"Yoo, Mr. Cardia and Mr. Heinze! Selamat Pagi" Sapa Hyerim.


"Pagi Miss Cerewet" Joseph menyapa balik Hyerim. Adreano hanya mengangguk.


"Apa?! kau bilang aku apa?!" Tanya Hyerim dengan nada kesal.


"Ya, kau cerewet" balas Joseph lagi dengan nada mengejeknya.


Hyerim kemudian mendekati Joseph dan memukulinya. Adreano hanya melihat tingkah keduanya sambil menggelengkan kepala. Youngjoo yang sadar akan kehadiran Adreano segera mengambil buku yang menutupi wajahnya dan menatap kearahnya Adreano.


"Yoshh... mulai hari ini gue pindah duduknya di sini" Kata Youngjoo.


"Sejak kapan kau bisa pindah-pindah begini?" tanya Adreano heran.


"Privilege ketua kelas mungkin" Jawab Youngjoo sambil tertawa.


Adreano kemudian memasang tampang datarnya. Ia tak percaya bahwa Youngjoo akan menjawabnya seperti itu.


"Oh iya, mau ada razia. Siap-siap, tapi kau anak baru jadi ga ada masalah sih seharusnya. Seharusnya begitu" Kata Youngjoo lagi.


"Ya, dari informasi yang kau berikan padaku kemarin malam. Bukankah harusnya sekolah tidak akan mengusik masalah ini?" Tanya Adreano.


"Seharusnya sih memang gak. Tapi, kita tidak tahu apa yang akan dilakukan dengan pihak netral besar ini" Jawab Youngjoo serius.


Adreano melirik kearah jam tangannya. Lima menit lagi bel jam pelajaran pertama akan berbunyi. Adreano buru-buru menanyakan hal lain kepada Youngjoo.


"Apa maksudnya pihak netral besar?" Tanya Adreano dengan nada berbisik.


"Katanya Kepala sekolah tidak memihak siapapun, begitupula Mr. Sandro dan beberapa guru. Mereka Anti-suap. Bahkan ibuku saja tidak sanggup menyuap mereka hahaha" Balas Youngjoo sambil tertawa dan menepuk pundak Adreano.


'Jadi, ada yang masih menjalani hidup baik di masa sekarang' gumam Adreano dalam hati.


Bel berbunyi, tanda jam pelajaran pertama dimulai. Kemudian Youngjoo melirik Adreano sebentar dan berkata,


"Kau mulai sekarang harus hati-hati" Katanya.


Pintu depan terbuka, seorang guru paruh baya bernama, Mr. Jonathan memasuki kelas. Semua murid segera duduk di tempatnya masing-masing. Mr. Jonathan mengisyaratkan ke Youngjoo untuk memulai salam.


"Siap!" Tegas Youngjoo. Semua murid di kelas 2-2 segera berdiri.


"Memberi salam!" Tegas Youngjoo lagi. Murid- murid membungkuk memberi salam kepada Mr. Jonathan.


"Good morning, Mr. Jonathan!" seru kelas 2-2.


"Morning everyone! Silahkan Duduk!" Sambut Mr. Jonathan. Ia kemudian naik ke mimbar depan papan tulis dan membuka papan file berisikan absen yang di bawanya.


Mr. Jonathan memperhatikan seisi kelas dan berhenti saat melihat wajahnya Adreano dan menunjukknya.


"Kau, murid pindahan itu?" Tanyanya pada Mr. Jonathan.


"Siap, yes mister" Jawab Adreano.


"Ekhemm, Mr. Jonathan, izinkan saya melakukan inspeksi pada kelas anda" Jelas Mr. Sandro yang melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas 2-2.


"Silahkan Mr. Sandro. Sudah memang tugas anda" Jawab Mr. Jonathan dengan senyum terpaksanya.


Setelah itu Mr. Sandro mulai berkeliling di kelas. Satu persatu murid meletakkan tasnya di atas meja. Suasananya hening. Mungkin karena panik atau sedikit nervous. Setelah beberapa saat kemudian, Mr. Sandro menghampiri Adreano. Kemudian mengangkat sebelah alisnya. Kemudian memegang ransel milik Adreano.


Adreano hanya tenang saja, karena ia merasa dirinya tidak melakukan apa-apa yang melanggar tata tertib. Ia pun menjunjung tata tertib sejak masih di Akademi Militernya dulu. Mr. Sandro berhenti mencari ke dalam ransel Adreano, ia mengangkat sebuah plastik ziplock berisikan Methamphetamine (sabu). Adreano terkejut dan memasang tampang kagetnya.


'Bagaimana bisa aku punya narkotika di ranselku?! ' Tanya Adreano dalam hati.


Joseph, Hyerim dan Youngjoo menatap kearah Adreano dengan tampang tidak percaya. Mereka pun juga kaget, bagaimana bisa narkotika tersebut ada di Adreano. Banyak suara bisikan murid-murid kelas yang tak percaya akan hal itu juga.


'Ha? dia anak baru sudah pakai itu? '


'Apa jangan-jangan dia pindah ke sini untuk mendapatkan itu? pffftt '


'Wah wah, padahal ganteng ya, tapi sayang banget masa mudanya pakai narkotika '


Terdengar sayup-sayup dari berbagai penjuru kelas yang mengomentari itu. Kelas tak lagi dalam kondisi yang hening. Adreano tetap tenang karena ia merasa tidak bersalah atas kepemilikan narkotika ini. Ia menutup matanya sejenak. Ia semakin mendengar banyak kata-kata dari segala penjuru kelas.


...Plakkk...


Bunyi tamparan keras terdengar dan membuat suasana kelas menjadi diam. Tamparan keras tersebut mendarat tepat di pipi kanan Adreano serta membuat Adreano membuka matanya spontan. Pipi Adreano tampak merah dan berdarah, namun ia tetap menahan rasa sakit tersebut dan tetap dalam kondisi sadar dan tenang. Murid-murid lain tak berani menatap kearah Adreano dan Mr. Sandro.


"Jawab setiap pertanyaan ku dengan jujur Mr. Heinze!" Bentak Mr. Sandro.


"Siap baik mister !" Balas Adreano.


"Apa Methamphetamine (sabu) ini milik kau?!" Teriak beliau.


"Siap, bukan mister !" Jawab Adreano dengan wajah datar.


Prakkk... Prakkk


Suara Rotan yang dipukul ke arah lengan Adreano. Adreano hanya diam dan tidak berkutik, ia menahan rasa sakit dari pukulan itu.


"Lantas kalau bukan punya kau, kenapa ada disini Mr. Heinze!" Tanya Mr. Sandro lagi.


"Siap,saya juga tidak tahu..." Adreano spontan menjawab. Jawaban tersebut membuat Mr. Sandro semakin marah.


"Sudah ku katakan padamu, untuk menjawab pertanyaan ku dengan jujur!" Tegas Mr. Sandro seraya menaikan tangannya yang hendak memukul Adreano lagi.


Youngjoo yang duduk di bangku depan Adreano, berdecak kesal dan menghentikan tangan Mr. Sandro. Dan menatap kearah beliau dengan tatapan serius.


"Mister sudah melewati batas" Ucap Youngjoo


"Atas dasar apa kau berani-beraninya menentang ku seperti ini! Mentang-mentang ibu mu ketua Komite" Jelas Mr. Sandro.


Setelah mendengar kata-kata dari Mr. Sandro Youngjoo semakin kesal dan melotot.


"Mister ini tak ada hubungannya dengan saya sebagai anak komite atau apalah ! Saya hanya ingin bilang Mister sudah melawati batas. Apa tidak malu menjadi pendidik memiliki sikap dan tempramen yang seperti ini?" Balas Youngjoo.


"Sudah sudah, hentikan! Mr. Sandro saya akui anda juga berlebihan dan tidak melihat keberadaan saya disini sebagai wali kelas. Lepaskan tanganmu darinya. Kim Youngjoo!" Perintah Mr. Jonathan.


Youngjoo segera melepaskan cengkraman tangannya dari tangan Mr. Sandro. Mr. Sandro nampak kesal ia langsung berjalan menuju pintu keluar kelas. Dan kemudian kembali menatap lagi kearah Youngjoo, Adreano dan Mr. Jonathan.


"Jangan harap kau hari ini bisa lepas! Aku akan menuliskannya dalam jurnal pengawasan hari ini! dan tunggu waktu rehabilitasi kau ditetapkan!" Tegasnya seraya keluar kelas.


Di luar kelas 2-2, beberapa murid keluar dengan wali kelasnya karena keributan yang terjadi di jam pertama. Termasuk Simon dan Harris. Mereka bertanya-tanya ada apa di kelas 2-2.


. . .


[ Sementara itu di dalam kelas. . . ]


"Kim Youngjoo tenangkan dirimu! Dan yang lainnya berhenti bergosip dan mengobrol. Adreano Heinze, pergilah ke klinik sekolah sekarang!" Perintah Mr. Jonathan.


Youngjoo duduk kembali ke kursinya dan menatap keluar jendela. Kemudian, murid lainnya segera membuka buku pelajaran mereka. Hyerim melihat kearah Adreano dengan raut wajah yang khawatir, begitupula Joseph. Segeralah Adreano berjalan pelan menuju keluar kelas. Raut wajahnya datar dan tetap berusaha menahan rasa sakitnya.


Di luar kelas, berdirilah Simon dengan raut wajah bingung setelah melihat luka di pipi kanan Adreano. Ia langsung menarik lengan Adreano. Hal tersebut membuatnya semakin kesakitan.


"Woy ! jangan tarik tangan. Kau menambah perih lukanya, bodoh!" Ucap Adreano spontan.


Simon melepaskan genggamannya. Seraya tertawa kecil dan meminta maaf.


"Maaf maaf, biar ku obati di klinik sekolah" Ucapnya dengan lembut sesuai dengan karakter dirinya yang tenang.


"Hah?! kenapa?" tanya Adreano pada Simon sambil berjalan perlahan.


"Mungkin karena kau belum tahu klinik sekolah dan hari ini aku ada jadwal membantu di Klinik sekolah" Jawabnya sambil tersenyum.


"Oh... tolong bantuannya ke Klinik sekolah" Pinta Adreano yang kemudian mengikuti langkah Simon yang mengantarnya ke Klinik Sekolah.


Sepanjang perjalanan menuju Klinik Sekolah Adreano benar-benar diam, bahkan dia tidak mau menanyakan kepada Simon kenapa dia mau menolongnya. Sementara itu Simon melihat kearah Adreano sebentar, ia ingin menanyakan apa yang terjadi padanya. Namun keduanya tetap diam.


'Bukan aku...' Kata Adreano dalam hati sambil terus mengikuti langkah Simon menuju Klinik Sekolah.


. . .