True Colors

True Colors
The First



Matahari bersinar terang, jam menunjukkan pukul Tujuh. Seorang anak laki-laki sedang bersiap-siap dan mengenakan seragam sekolahnya. Ia melihat kearah cermin dan merapikan dasinya. Matanya berwarna hazelnut, rambut coklat kemerahannya yang sedari lahir itu disisir rapi olehnya. Ia mengambil jam tangan yang talinya terbuat dari kulit, dari kotak jam dan segera mengenakannya.


tok...tok...tok...


Suara pintu diketuk membuat anak laki-laki itu menoleh kearah pintu.


"Tuan Muda, Apakah anda membutuhkan bantuan atau hal lainnya?", terdengar suara laki-laki paruh baya dari luar ruangan.


"Tidak usah, cukup. Siapkan mobil, kita akan berangkat seusai sarapan", jawab anak laki- laki itu sambil tersenyum tipis.


"Baik, Tuan." Jawab lelaki paruh baya itu.


Anak laki-laki itu segera mengenakan mantel cokelatnya dan mengenakan topi baret berwarna hitam. Ia segera membuka pintu kamarnya dan bergegas menuruni anak tangga menuju ruang makan keluarga.


Di ruang makan tersebut, sepasang suami-istri telah menunggunya. Mereka adalah Tuan dan Nyonya Heinze. Semua pelayan segera meletakkan makanan di meja makan keluarga yang cukup besar itu.


Raut wajah Nyonya Heinze tampak khawatir dan tak senang mengingat putranya akan pergi. Tuan besar Heinze sibuk melihat kearah iPad nya dan membaca artikel bisnis.


Anak laki-laki itu tersenyum dan segera duduk di meja makan.


"Selamat pagi Ibu, Ayah. Hari ini aku akan pergi ke akademi itu..." Sapa anak laki laki itu sambil tersenyum kearah keduanya.


"Adreano! kau serius? Ibu khawatir. Kamu harus menyerahkan mimpimu untuk masuk Akademi Militer itu dan memilih ke Akademi yang sama dengan Adrianne? Ibu benar-benar kaget, Reano!". Kata Nyonya Heinze sambil memegang tangan anak laki-lakinya itu.


"Tidak apa apa ibu, Adrianne adalah kembaran ku dan aku pasti bisa mencari tahu sesuatu. Ayah sudah setuju aku tak akan macam macam..." Seru Adreano.


Adreano Heinze adalah seorang anak laki-laki yang memiliki adik perempuan kembar bernama Adrianne. Adreano sebelumnya bersekolah di akademi militer di ibukota dan jauh dari rumah. Setelah kepergian Adrianne, ia memutuskan untuk kembali dan mengurus kepindahannya ke Akademi Lydenn yang menjadi tempat adiknya itu tewas.


Tuan Besar Heinze berdeham "Ekhemm..."


Nyonya Heinze segera melepaskan genggaman tangannya dari Adreano dan menepuk pundak suaminya pelan.


"Aiyooo... Kau lihat, putramu bilang akan pergi lagi dan jauh dari kita. Setidaknya berikan sedikit kata-kata" . Pinta Nyonya Heinze ke suaminya itu yang sedari tadi sudah rapih mengenakan setelan.


"... Bagaimana dengan urusan administrasinya?", Tanya Tuan Besar Heinze sambil melirik kearah Adreano.


Adreano tersenyum dan menanggapi pertanyaan ayahnya itu.


"Baik ayah, semua telah selesai dan siap. Terimakasih atas dukunganya. Akhirnya itu terselesaikan secara cepat dan rahasia".


Tuan Besar Heinze hanya mengangguk pelan sambil meletakkan iPad nya dan memulai sarapannya. Keluarga Heinze segera menyantap sarapan mereka.


Pukul Tujuh lima belas. Seorang pria berusia 32 tahun datang dengan membawa dokumen dan memberi hormat kepada Tuan Besar Heinze.


"Pak, sudah saatnya kita berangkat. Meeting dibuka pukul delapan." Kata Pria itu sambil memberikan dokumen yang ia bawa kepada Tuan Besar Heinze.


"Oh, baiklah kita berangkat sekarang Arigun." Balas Tuan Besar Heinze.


Tuan Besar Heinze berjalan menuju pintu utama. Segeralah Adreano mengucapkan salam perpisahan kepada ibunya dan mengikuti sang ayah yang berjalan menuju pintu utama.


Di pintu utama terdapat 2 mobil sedan hitam terparkir. Tuan Besar Heinze melihat kearah putranya dan mengucapkan salam perpisahan.


"Hati-hatilah. Hubungi seseorang dari rumah kalau kau butuh sesuatu" Tukas Tuan Besar Heinze.


Adreano tersenyum dan mengangguk perlahan.


"Aku akan mengandalkan kemampuan ku sendiri. Terimakasih atas sarannya Ayah" Jawab Adreano.


Tuan Besar Heinze segera memasuki mobil sedan pertama, diikuti dengan Arigun. Dan mobil itu segera berjalan meninggalkan gerbang kediaman mereka. Adreano kembali memasang wajah datar setelah melihat kearah perginya mobil tersebut. Ia melirik kearah jam tangannya. Pukul Delapan.


Seorang pria paruh baya datang menghampirinya membawa amplop coklat besar berisi dokumen. Ia adalah Butler kediaman Heinze. Yomou.


"Ini dokumen yang anda minta Tuan Muda." kata Yomou sambil menyodorkan amplop coklat itu.


"Kerja Bagus, Yomou. Aku akan membacanya dalam perjalanan ke Lydenn." Jawab Adreano bermuka serius yang sambil masuk kedalam mobil sedannya.


Yomou mengangguk dan memberi hormat, setelah mobil yang dinaiki Adreano berjalan menuju gerbang kediaman mereka.


Mobil tersebut melaju kearah tempat Akademi Lydenn berada. Sopir yang membawanya bertanya ke Adreano untuk memecah keheningan.


"Kali ini Tuan Muda mau bagaimana?" Tanya sopir tersebut dengan sopan.


"Aku sudah menentukan pilihan apapun dan mempersiapkan segala hal yang akan ku butuhkan. Untuk saat ini mungkin aku tidak bisa memakai jasamu, karena aku akan berada di asrama". Jawab Adreano seraya tersenyum.


"Ah, iya Tuan... kalau ada hal yang dibutuhkan anda bisa minta tolong ke saya. Saya akan segera laksanakan." Kata sopir itu sambil terkekeh pelan.


Adreano tersenyum hangat dan berkata bahwa ia akan membutuhkannya nanti. Setelah itu ia kembali melihat amplop coklat besar itu. Dibukanya amplop coklat besar itu dan di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas file berisikan Informasi akademi Lydenn.


Adreano melihat file-file itu dengan seksama dan teliti. File tersebut berisikan informasi penting dan latar belakang Akademi Lydenn serta pejabat yang menjadi petinggi di tempat itu. Adreano sesekali menaikan salah satu alisnya ketika melihat nama-nama orang penting di dalam file tersebut.


Niat Adreano adalah masuk ke Akademi itu tanpa menggunakan nama Heinze, namun banyak orang-orang elite disana yang sudah tau wajahnya. Adreano mengurungkan niat itu dan tetap pergi sebagai salah satu Keluarga Heinze. Akademi pasti akan merasa keberadaan Adreano menjadi suatu ancaman.


Pukul delapan duapuluh. Adreano melirik kearah jam tangannya. Ia segera memasukkan file-file tadi ke dalam amplop coklat besar itu. Ia meletakkan sikunya ke dinding pintu mobil seraya melihat kearah luar jendela mobil. Ia pun tersenyum singkat.


Mobil Adreano memasuki komplek Akademi Lydenn. Gapura besar terbuat dari bata merah kokoh dengan tulisan selamat datang serta pohon-pohon besar yang rimbun menemani perjalanan. Adreano membuka kaca jendela mobil sedikit dan merasakan sejuknya semilir angin. Barisan pepohonan mulai menghilang dan digantikan pemandangan alam danau Swansale. Gedung besar dengan 7 menara berarsitektur classic dan Eropa kuno mulai tampak. Dibelakang bangunan tersebut terdapat hutan Cemara yang rindang.


'Selamat Datang di Akademi Lydenn. Mari kita temukan apa yang tersembunyi di dalamnya' . Gumam Adreano.


Pintu gerbang memasuki Akademi Lydenn pun terbuka.


. . .