True Colors

True Colors
Cooperating with Him ( 2 )



"Jadi, aku akan membantumu dalam mencari sesuatu itu. Aku tak akan menyelidiki sesuatu yang personal tentang mu. Kalau kau butuh bantuan aku akan datang hahaha" Jawab Joseph sambil tertawa kecil.


Adreano yang mendengarnya hanya terheran-heran seraya menggelengkan kepalanya. Bahkan dia heran mengapa dia bekerjasama dengannya.


'Bodoh...' kata Adreano dalam hati.


Suasana menjadi hening sejenak dan terdengar suara handphone berdering nyaring milik Joseph. Hal tersebut memecahkan keheningan sekaligus suasana yang kaku. Nampaknya, Joseph buru-buru mematikan handphonenya. Adreano melirik kearah Joseph.


"Kenapa tak kau angkat?" Tanya Adreano.


"Ah... masalah rumah. Aku hanya merasa terganggu". Jawab Joseph.


Adreano kembali melihat kearah file-file yang berserakan di atas meja. Kemudian melihat kearah paper bag besar yang berisikan seragam. Adreano meraihnya dan melihat isi paper bag tersebut.


Dia mengeluarkan satu-persatu setelan baju yang ada didalamnya. Terdapat 4 setelan baju untuk 4 musim yang berbeda dan mantel musim dingin. Kemudian, ada 4 macam seragam olahraga. Pakaian olahraga yang terdiri dari pakaian olahraga panjang, pakaian tenis, pakaian olahraga musim panas dan baju renang. Terdapat 2 macam baret bermotif Gingham (kotak-kotak) berwarna gelap dan terang. Tak lupa didalamnya juga terdapat 2 buah pin perak bertuliskan nama 'Adreano Heinze' .


Semua setelan Pakaian dan atributnya terdapat lambang Akademi Lydenn. Bahan yang digunakan untuk seragamnya pun bukan main, semua merupakan kualitas terbaik.


"Sudah selesai melihat-lihat seragamnya? Kalau sudah mari kita bahas informasi yang kau butuhkan" Tanya Joseph dengan serius.


"Ya, Sudah. Bicaralah apa yang kau ingin beritahukan?" Jawab Adreano dan meletakkan paper bag di bawah meja dekat dengan kakinya.


"Kau merasa ada yang mengganjal bukan ketika pertama kali dokumen transfer mu diurus dengan cepat dan rahasia?" tanya Joseph.


"Ya, mungkin sedikit. Ada apa?" Ucap Adreano.


"Kau lihat Kim Youngjoo? Dia datang pertama kali memperkenalkan diri padamu bahkan menjemput mu? Itu Karena, Ibunya ketua Komite Sekolah. Dia memiliki alasannya sendiri membiarkan dirimu ada di lingkungan sekolah ini. Kau tahu? Kelas 2-2 adalah kelas yang spesial." Kata Joseph menjelaskan.


"Apa maksudmu Spesial?" Tanya Adreano singkat.


"Kelas 2-2 merupakan kelas yang didalamnya terdapat anak-anak pemilik perusahaan besar, pejabat, gangster, bahkan Intel negara" Ucap Joseph yang terdengar pelan.


"What? Intel? kau tahu darimana?" Balas Adreano.


"Bro, kau harus dengar ceritaku hingga selesai."


"Baiklah..."


Joseph menceritakan segala informasi mengenai kelas 2-2 yang dianggap spesial tersebut.


Joseph menjelaskan bahwa kelas 2-2 adalah kelas yang berisikan orang-orang yang tidak suka sistem sekolah. Bahkan diantaranya berniat menguak segala kebusukan yang ada di sekolah tersebut. Kelas 2-2 bahkan tak memiliki anggota OSIS didalamnya. Karena, OSIS dianggap sebagai penggerak sistem sekolah dan posisinya diduduki oleh anak-anak bangsawan dan orang berpengaruh terhadap Sekolah. Namun, Kelas 2-2 berhasil mengamankan posisinya sebagai kelas beraliran Oposisi dengan cara Memenangkan pemilihan Ketua Komite Sekolah serta beberapa kursi Majelis Perwakilan Kelas (MPK) di duduki oleh beberapa siswa dari 2-2.


Sejauh ini terdapat 2 kubu besar di lingkungan Akademi Lydenn. Mereka yang menentang keras kebijakan OSIS dan sekolah dan mereka yang merupakan pihak Oposisi yang berusaha memperbaiki reputasi sekolah. Selama beberapa tahun terakhir mereka melakukan Perang Dingin. Hingga kematian Adrianne membuat pihak Oposisi semakin tertarik untuk menyerang.


Joseph Menjelaskan bahwa keberadaan Adreano di Lingkungan Akademi Lydenn membuat OSIS tertarik. Oleh karena itu, mereka pasti cepat atau lambat akan segera menemui Adreano. Ibu Youngjoo yang memprediksi hal tersebut segera memerintahkan Youngjoo untuk membuat Adreano berada di kubunya. Bahkan ia menyuruh kepala Administrasi mempercepat proses perpindahan Adreano. Saat ini, keadaan Adreano benar-benar menarik perhatian kedua kubu.


Kelas 2-2 meskipun menentang keras pihak OSIS mereka bukanlah orang-orang biasa. Kelas 2-2 merupakan pusat dari kubu Oposisi sekolah, dilanjutkan kelas 1-1, 1-4, 2-3, 2-5 dan 3-1. Sisanya merupakan kubu OSIS dan ada yang seperti belum menentukan pilihan atau tidak ingin terlibat masalah. Meskipun demikian, Kubu Oposisi OSIS tidak dapat diremehkan walau jumlahnya tidak sebesar kubu pendukung OSIS. Karena, mereka berisikan orang-orang yang sama hebatnya bahkan beberapa ada yang lebih kuat daripada Kubu pendukung OSIS.


Adreano semakin serius mendengarkan semua penjelasan dari Joseph. Dia berpikir dengan ini dia akan menemukan alasan kenapa Adrianne terbunuh. Adreano ingin sekali mengetahui kebenarannya walau ia tak tahu harus memihak siapa. Karena bagi Adreano sebelum ia mengetahui segala hal tentang kematian Adrianne, ia akan tetap di antara mereka yang berperang.


Sebelum Joseph melanjutkan penjelasannya tiba-tiba suara bel asrama mereka berdering. Tepat sekali Adreano sedang serius-seriusnya mendengarkan, hal tersebut benar-benar membuatnya tidak senang.


Joseph segera membuka pintu asrama. Tampak, Kim Youngjoo dengan pakaian casualnya dengan kacamata bulat ber-frame emas. Ia mengenakan mantel hitam dan masker hitam.


"Ha? kau ngapain kesini?" Tanya Joseph setelah melihat wujud Youngjoo.


"Kau lupa?" Youngjoo bertanya balik seraya memukul kepala Joseph yang lebih tinggi darinya.


"Hei!! Santai-Santai, Handphone gue baru aja gue matiin. Gue lupa, maaf..." Jawab Joseph dengan bahasa gaul-santainya.


Youngjoo menerobos masuk dan melihat kearah Adreano. Adreano pun melihat kearah Youngjoo dengan tatapan heran. Sementara itu Joseph kembali menutup pintu asrama.


Joseph mengatakan kepada Adreano untuk mengganti pakaiannya dan mengenakan mantelnya. Adreano mengikuti perkataan Joseph dan setelah itu kembali lagi keruang tamu yang disana terdapat Kim Youngjoo.


"Apa yang kau bicarakan dengan Joseph?" Tanya Youngjoo seraya menurunkan maskernya.


Adreano melirik kearah Joseph yang baru saja keluar dari kamarnya setelah berganti pakaian. Melihat itu, Joseph paham dan kemudian berkata bahwa tidak apa-apa menjawabnya dengan jujur.


"Berbagi Informasi tentang Akademi..." Ucap Adreano.


Youngjoo hanya tersenyum singkat.


"Setelah ini kau akan tahu banyak hal lebih dari yang diceritakan olehnya" ucap Youngjoo sambil menunjuk kearah Joseph.


Youngjoo berdiri dan bergerak menuju pintu diikuti oleh Joseph. Adreano masih duduk di sofa dan menatap Joseph membuka pintu. Youngjoo menoleh kearah Adreano.


"Kau ngapain duduk diam di sana? cepat kemari dan ikut!" Ucap Youngjoo sambil mengikuti Joseph keluar.


Adreano segera mengikuti Joseph dan Youngjoo keluar. Joseph menutup pintu dan terkunci otomatis. Mereka berjalan menuju pintu gerbang keluar sebelah timur yang tertutup hutan lebat. Disana sudah terparkir sebuah mobil SUV hitam. Seseorang sudah menunggu mereka. Dia melambaikan tangan kearah Youngjoo, Adreano, dan Joseph.


Seorang Anak laki-laki dengan tinggi sekitar 183cm. Rambutnya berwarna hitam seperti gelapnya malam. Matanya berwarna gelap, tidak sipit juga tidak terlalu lebar. Hidung mancung serta alis yang simetris. Bibir tipis bila tersenyum menambah kesan tampan. Ia mengenakan Mantel panjang berwarna abu-abu dengan kemeja putih serta celana panjang hitam yang terlihat seperti mengatung karena proporsi badannya. Tak ketinggalan ia mengenakan sepatu kulit berjenis Derby Shoes berwarna gelap. Kombinasi kasual yang pas.


Anak laki-laki itu tersenyum dan membuka pintu SUV itu. Mereka berempat pun naik ke mobil. Mobil tersebut dikendarai oleh sopir dan melaju kencang ke arah luar kawasan Akademi Lydenn bagai menerobos Hutan.


Adreano melihat kearah jam tangannya. Pukul Setengah Enam sore. Langit terlihat berwarna oranye dan sedikit merah. Suasana cukup hening di mobil. Adreano berpikir, ia akan dibawa ke tempat yang seperti apa. Terlihat Youngjoo memejamkan matanya sejenak dan tidak berkata apapun. Begitupula Joseph, ia sibuk melihat layar Handphonenya. Hanya tersisa anak laki-laki yang tersenyum kearahnya yang bahkan ia tak tahu namanya.


"Simon Howard" Ucapnya tiba-tiba memecah keheningan.


Adreano tersentak kaget mendengarnya. Simon tersenyum hangat kearahnya. Adreano membalas sebentar senyumannya.


"Adreano Heinze" Jawab Adreano singkat.


. . .