True Colors

True Colors
Escaped



Suasana pesta kacau balau, banyak polisi yang datang mendekati area TKP, para tamu undangan di interogasi satu-persatu. Banyak yang shock dan pingsan. Jasad seorang pemuda ditemukan hancur di taman belakang Hotel Marianne. Kala itu suasana benar benar kacau.


Adreano, Joseph dan Simon berhasil melarikan diri dari kerumunan dan segera meninggalkan area Hotel Marianne dengan Youngjoo. Kondisi saat itu benar-benar membuat keempatnya terkejut, terutama bagi Simon.


Simon melihat detik-detik terakhir kalinya Sesosok Rion terjun bebas dari kaca lift ketika hendak naik ke Penthouse. Sekarang ia diam seribu bahasa dan terlihat lemas. Adreano dan Joseph sampai sampai memapahnya untuk menuju ke arah basement hotel. Saat di mobil pun dia hanya diam dengan wajah pucat.


Youngjoo yang melihat keadaannya merasa tidak enak dan ia merasa bersalah, karena dia yang menyuruhnya saat itu untuk menaiki lift menyusul Adreano dan Joseph. Suasana di mobil terasa hening. Joseph menoleh kearah Adreano dan mengisyaratkan padanya untuk membuka topik pembicaraan. Adreano yang melihat isyaratnya pun paham kemudian ia melaksanakannya.


Adreano berdeham pelan, sehingga memecahkan keheningan.


"Eummm... Maafkan aku" Ucapnya memulai percakapan.


"Maaf untuk apa?" Tanya Youngjoo.


"Kalian menghawatirkan ku saat di ajak nona tadi. Terimakasih banyak..." Jawab Adreano.


"Sudahlah, kita tidak terlibat dalam pembunuhan itu yang penting. Dan kau hebat Adreano bisa lolos dari cengkraman mereka" Kata Joseph yang ikut meramaikan percakapan.


Simon masih terdiam dan termenung. Adreano, Joseph dan Youngjoo saling bertatapan, lalu mereka memutuskan untuk menyerah membicarakan kejadian hari ini. Mobil terus bergerak menuju area asrama. Malam sudah semakin larut, keempatnya hanya bisa diam hingga akhirnya sopir menurunkan keduanya di dekat asrama. Youngjoo menyapa penjaga asrama dan mengisyaratkan untuk diam. Penjaga asrama pun mengisyaratkan 'oke' dan membiarkan mereka masuk.


Keempatnya berpisah dan menuju asrama masing-masing. Adreano dengan Joseph, Simon dengan Youngjoo. Mereka nampaknya lelah sekali dan buru-buru memasuki asramanya. Adreano memasuki kamarnya begitupula Joseph. Mereka benar-benar tidak berbincang-bincang satu sama lain.


. . .


Malam itu Adreano, mengunci pintu kamarnya. Ia membuka lemarinya dan mengeluarkan handphone lainnya. Dia menekan tombol '2' dan menelponnya. Telpon terhubung.


"Bereskan semuanya, jangan sampai namaku terangkat ataupun dengan ketiga anak lainnya itu!" Perintah Adreano kepada yang ditelponnya.


Sesaat setelahnya, Adreano mematikan panggilan tersebut dan menonaktifkan handphonenya itu, lalu meletakkannya di lemari pakaiannya di suatu tempat tersembunyi.


Adreano melepaskan mantelnya lalu menggantungnya pada hanger kayu. Adreano melihat ke jam digital di mejanya, sudah mau pukul sebelas. Pandangan Adreano beralih menuju meja belajarnya, ia pun duduk dan mengeluarkan buku catatan yang ada di ransel sekolahnya, rupanya ia kembali menyalin catatan pelajaran dan membacanya.


Bermenit-menit telah berlalu. Malam semakin larut saja. Adreano melirik kearah laci meja yang terkunci dan membukanya. Ia mengambil buku jurnalnya lagi, dan mengguratkan penanya di tiap lembar kertasnya.


...Hari ini, Tanggal XX, Bulan XX masih di tahun yang sama....


.......


...Aku pergi ke acara yang menarik, disana terdapat banyak orang-orang berpengaruh. Mereka semua ada di data. Kebiasaan hidup mereka tetaplah akan seperti itu. Tapi, hari ini terdapat suatu hal yang menarik. Terjadi Pembunuhan di Hotel Marianne. Korbannya merupakan Murid Akademi Lydenn. Simon Howard yang melihat saat terakhirnya kemudian menjadi pucat. Selain itu aku bertemu dengan saudari target, Estelle Blaire. Gadis itu berambut hitam, warna mata biru, tinggi sekitar 164cm dan penari yang baik. Aku berhasil mendekati Estelle dan mendapatkan sedikit informasi darinya, tentang keluarganya. Saat ini, aku akan menunggu perintah selanjutnya. Karena sebelumnya ketika Estelle mengajakku ke ruangan privasi itu, ia juga nampak keheranan karena tidak ada orang di dalamnya, ia juga berusaha menutupi kebingungannya. Mungkin yang menyuruhnya sudah tau kalau salah satu orangnya telah membocorkan informasi. Setelah, itu kami langsung berpisah, sebelum pembunuhan itu terjadi. Sehingga aku selamat dari dugaan Kim Youngjoo, yang menyatakan bahwa aku di jebak sebagai pembunuh. Tapi, kita masih tidak tahu apa niat dari Estelle....


.......


Begitu selesai menuliskan jurnalnya, Adreano segera bergegas untuk tidur. Besok merupakan hari yang berat baginya, karena ia akan berurusan dengan Mr.Sandro. Adreano segera mematikan lampu kamarnya dan mecoba untuk tertidur.


. . .


Pukul lima kurang sepuluh menit, Adreano terbangun dan menatap langit-langit kamarnya. Ia memikirkan banyak hal.


Ia berpikir bahwa kejadian ini semuanya tampak tidak jelas dan tak masuk akal. Dari awal dia datang ke Akademi Lydenn hingga melewati serangkaian hari di sini. Selain itu dia memikirkan untuk tetap menjaga identitas aslinya. Bukan sebagai Heinze, tapi sebagai Agent yang posisinya sebagai tim penyelidik badan Intelejen. Adreano memang tidak akan menyerahkan mimpinya semudah itu.


Adreano berusaha mencari kejelasan jalan ceritanya. Ia berpikir bahwa berakting juga perlu melihat kejelasan skenarionya. Ia sangat terganggu dengan perasaan mengganjal di hatinya.


'Apa mungkin mereka tahu akan ada intelejen yang akan masuk?' gumamnya.


Adreano segera bangun dan melihat ke arah handphonenya. Ia membuka laman pencarian lalu mengetik 'Estelle Blaire' dan menge-scroll layar handphonenya serta mengamati foto-foto Estelle. Hingga satu foto dimana Estelle tersenyum manis tertangkap oleh mata Adreano. Hal itu membuatnya mengingat pertemuan pertama dengan Estelle di kala pesta Masquerade.


Tak mau berlarut-larut dalam senyuman, Adreano segera mengeluarkan laman web tersebut dan mengunci layar handphonenya. Ia bergegas untuk mandi dan menyiapkan sarapan.


Setelah selesai mandi, Adreano mengeringkan rambut dan badannya. Ia membalut pinggangnya dengan Handuk besar berwarna putih. Karena lupa membawa baju ganti Adreano berpikir tidak apa-apa keluar sebentar seperti ini, karena ia yakin pasti Joseph belum bangun. Kemudian ia memantapkan langkah untuk keluar kamar mandi.


Ternyata Joseph sudah duduk di kursi dekat meja makan dengan piyama dan rambut acak-acakannya. Hal itu membuat Adreano kaget setengah-mati dan berteriak ke arah Joseph.


"Heh! Kau sudah bangun? sejak kapan kau disana!!" Teriak Adreano.


Joseph hanya menutup telinganya seraya menjawab.


"Berisik banget sih, masih pagi ini bro!".


"Ya justru karena masih pagi kenapa kau udah bangun, heh!" Teriak Adreano lagi.


"Kenapa sih, emang bangun pagi ga boleh? hehehe" Jawab Joseph sambil terkekeh.


Pandangan mata Joseph tertuju ke arah badan atletis Adreano dan pinggang ke bawah tertutup oleh Handuk putih. Adreano yang menyadari hal itu segera menyilangkan tangannya dan menutupi dadanya.


"Apa yang kau lihat?! Sudah gila ya!" Tegas Adreano yang segera masuk ke kamarnya.


Joseph yang mendengar itu hanya tertawa keras dan mengambil mantel handuknya dan ingin bergegas mandi.


"Hahaha, Bro kalau aku gadis muda mungkin kau udah gak akan selamet hahaha" Tawanya lagi menuju kamar mandi.


Adreano yang kesal mendengar tawa Joseph hanya bisa pasrah dan buru-buru mengenakan pakaian seragamnya. Tak lupa ia menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan Joseph. Sebelum Joseph menyelesaikan persiapan sekolahnya, Adreano sudah pergi menuju gedung sekolah, kala itu pukul lima empat lima. Adreano bertemu Mr. Sandro yang berdiri menunggunya di tempat absen.


"Good morning, Sir!" seru Adreano.


"Mornin', Mr. Heinze" Balas Mr.Sandro.


Adreano menempelkan ID pass nya untuk absen dan memasuki Lobby Sekolah. Mr. Sandro hanya melihat tingkah Adreano dan mengangguk seraya memberikan sebuah file kertas berisi keterangan tidak bersalah.


"Tanda tangani itu sekarang juga!" Tegasnya kepada Adreano.


"Siap laksanakan, Sir! " Respon Adreano yang kemudian mengambil pulpen di saku kirinya. Ia kemudian segera menandatangani surat tersebut dan menyerahkannya kembali ke Mr. Sandro.


"Jangan kau ulangi lagi," Ucap Mr. Sandro sambil mengambil surat dari tangan Adreano.


"Baik, Sir! Saya tidak akan pernah menggunakan barang seperti itu!" Jelas Adreano.


"Mr. Heinze!" katanya.


"Yes, Sir? " Kata Adreano menanggapi.


"Untuk yang sebelumnya, Saya minta maaf. Rawat luka mu dengan baik, jangan sampai infeksi..." Ucapnya kepada Adreano.


Adreano tersenyum dan melambai kepada Mr. Sandro yang ada di lantai satu.


"Thank You, Sir!" Jawab Adreano yang kemudian menaiki anak tangga satu persatu menuju lantai dua.


. . .


Sepanjang jalan lorong menuju kelas 2-2, terasa sepi. Banyak siswa yang belum datang, karena memang masih pagi sekali. Meskipun begitu, koridor sudah terang dari cahaya matahari musim gugur. Rupanya suhu udara semakin menurun dan terasa dingin.


Adreano mengencangkan syalnya dan membuka pintu kelas 2-2 perlahan. Ia kaget melihat Hyerim sudah datang. seperti biasa, ia sedang memakan permen Chupa Chups nya. Adreano melangkahkan kaki menuju kursinya dan segera duduk. Hyerim mendekatinya. Ia duduk di kursi Youngjoo dan menatap kearah Adreano.


"Hei, bagaimana kondisi mu?" Tanya Hyerim sambil meletakkan beberapa obat-obatan dan plester.


"Ah, sudah baik. Keadaan juga telah membaik" Balas Adreano seraya memperhatikan tangan Hyerim yang hendak memegang tangan Adreano yang luka.


"Kau pasti lupa mengganti perbannya, bukan?" Ucapnya pada Adreano.


Adreano hanya mengangguk pelan kemudian Hyerim tersenyum lalu merawat luka Adreano, membersihkannya dan mengganti perbannya. Bahkan, ia juga mengobati luka yang ada di pipi Adreano. Suasana benar-benar kikuk dan ditambah kelas yang sepi, terasa ruangan ini hanya untuk Adreano dan Hyerim saja. Setelah itu, keduanya merasa tidak nyaman. Hyerim berusaha memalingkan wajahnya yang memerah karena Adreano sambil merapikan plester dan obat-obatan. Adreano yang melihatnya kemudian membuka topik pembicaraan.


"Ah... Hyerim, mau ke Cafètaria? Aku belum pernah ke sana..." Ucap Adreano yang berjalan mendekati pintu.


Hyerim yang mendengarnya seketika langsung terkejut dan kaget. Ia meletakkan obat-obatan tadi di dalam ranselnya.


"O-Okeyy" Jawabnya.


Kemudian, keduanya berjalan melewati koridor. Nampaknya sudah banyak siswa-siswi yang mulai berdatangan. Tiga puluh menit lagi, Bel masuk berbunyi dan absensi pass di hentikan. Hyerim dan Adreano berjalan bersama menuju Cafètaria sekolah. Di sana rupanya banyak murid yang sudah berdatangan. Mereka menuju Cafètaria untuk sarapan.


Cafètaria Lydenn, benar-benar luar biasa dan luas. Banyak stand makanan tersedia. Adreano melihat stand donat dan langsung teringat hari dimana Joseph membelikannya donat. Adreano tersenyum melihat suasana yang damai dan tertib.


Terlena akan pemandangan Cafètaria, Adreano melupakan Hyerim disisinya dan segera menanyakan apa yang ingin ia makan.


"Hyerim, kau mau apa? Biar aku yang bayar, sebagai terimakasih karena sudah merawat luka ku" Tanya Adreano kepada Hyerim.


"Serius? kau mau membelikan ku apa saja?" Kata Hyerim yang balik bertanya.


"Tentu saja, kau pilih lah!" Ujar Adreano.


Hyerim yang mendengar itu senang sekali dan memilih agar Adreano membelikannya stoples besar berisi permen Chupa Chups di stand makanan ringan.


"Adreano! Boleh kan??" Tanya Hyerim dengan mata berbinar-binar dan memeluk stoples permen.


"Kau ambil saja..." Ucap Adreano tenang.


Hyerim terlihat bahagia mendengarnya dan segera memeluk erat stoples penuh dengan permen. Hal itu membuat Adreano tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Adreano mengambil dompet dari saku seragamnya dan membayarnya cash. Sambil menunggu kembalian Adreano melihat kearah kulkas berisi minuman, dan di dalamnya terdapat susu stroberi yang sama saat Hyerim memberikan untuknya.


"Tolong tambahkan sekarton susu stroberi itu kedalam jumlahnya" Pinta Adreano kepada penjual Stand.


"Baiklah!" Jawab si Penjual.


"Kau punya yang tidak dingin bukan?" Tanya Adreano.


"Tunggu sebentar, saya ambilkan di dalam kotak penghangat..." Jawab si Penjual.


Kemudian, Penjual itu memberikan dua karton susu rasa stroberi kepada Adreano beserta kembaliannya.


"Satu ini untukmu, Pacarmu pasti senang minum bersama dengan mu..." Ucap si Penjual sambi tersenyum hangat.


"Oh! dia bukan paca-" Belum selesai Adreano membalas, Hyerim menoleh kearah Adreano yang memegang dua karton susu hangat di tangannya.


Adreano melihat kearahnya Hyerim dan memberikan sekarton susu itu ke Hyerim dengan meletakkan di kepalanya.


"Satu untukmu, ini hangat. Jadi, cepat kau minum biar kau tumbuh sedikit lebih tinggi..." Ucap Adreano sambil tersenyum dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Hyerim di belakangnya.


"Heiii!! aku cukup tinggi tahu!" Teriak Hyerim sambil setengah berlari mengejar langkah Adreano dengan membawa stoples permen dan sekarton susu hangat di tangannya.


Keduanya pun menjadi akrab, dan berjalan menuju kearah kelas 2-2. Di sepanjang koridor ternyata sudah ramai. Sepuluh menit lagi Bel jam pelajaran pertama akan segera berbunyi. Adreano dan Hyerim memasuki Kelas bersamaan.


Rupanya Joseph dan Youngjoo sudah berada di kursinya masing-masing dan sedang mengobrol. Kemudian keduanya melihat kearah Adreano dan Hyerim yang datang bersamaan


"Pfftt- Apa-apaan ini? Miss Cerewet Sama Adreano?" Seru Joseph sambil tertawa kecil.


"Ah, ini tadi Hyerim membantu mengobati luka ku jadi ku belikan sesuatu di cafètaria" Jelas Adreano sambil meletakkan sekarton susu hangat stroberi di meja Joseph.


"Ini buatku nih bro?" Tanya Joseph senang.


"Iyaa, tolong habiskan. Pagi ini aku baru minum kopi" Ujar Adreano.


"Kau gak belikan aku?" Tanya Youngjoo sambil membenarkan kacamatanya.


"Maaf... Tapi, aku ada permen Chupa Chups untuk mu..." Jawab Adreano yang tersenyum tipis sambil meletakkan permen di tangan Youngjoo.


Youngjoo menerimanya dengan senang hati dan menyimpannya untuk nanti. Sementara Joseph langsung menghabiskan sekarton susunya. Hyerim terlihat bahagia sambil memainkan stoples permen pemberian Adreano di mejanya.


Tak terasa, bel jam pelajaran pertama telah berbunyi. Semuanya melakukan kegiatan belajar-mengajar seperti biasanya.


. . .