True Colors

True Colors
Belief



"Berikan bolanya padaku, Kapten!!" seru seorang anggota tim kepada Simon. Simon tidak menanggapi ucapan rekan satu timnya dan melesat cepat di atas permukaan es ke arah penjaga gawang lawan.


Karena kecepatannya, banyak rekan-rekan club hoki yang sedang berlatih bersama menyingkir dari hadapan sang kapten yang melesat bagai peluru hilang kendali. Stik hoki tersebut memukul keras puck (nama dari bola hoki es) dengan sangat keras. Bola hoki itu melesat dan masuk kedalam gawang lawan dengan mulus.


Simon membuka helmnya dan melemparnya ke permukaan es. Ia mendengus kesal dan segera keluar dari ice rink (arena lapangan es). Semua timnya melihat ke arah sang kaptennya yang terlihat gusar sejak awal permainan. Adreano yang melihat itu segera izin ke beberapa anggota tim untuk menenangkan Simon. Adreano pun mengikuti Simon yang keluar rink.


Simon tidak menghiraukan Adreano yang berjalan dibelakangnya. Ia kemudian melepaskan sepatu skating nya dan berjalan menuju ruang ganti. Adreano dengan sabar mengikutinya menuju ruang ganti. Hingga akhirnya keduanya telah berada di ruang ganti.


Simon tampak memukul keras loker besi bertuliskan namanya. Adreano hanya melihatnya sambil menyender di dekat pintu masuk. Simon nampaknya frustasi dan kemudian ia diam sambil memukul keras loker besinya berkali-kali. Adreano dengan santai melihat tingkahnya. Sampai akhirnya Simon berteriak kesal.


Tak lama kemudian, Simon terdengar seperti bergumam dengan suara agak keras,


"Arggghhh! Buat apa!"


"Dia pergi begitu saja?"


"Kenapa ini menggangguku padahal aku bukan pacarnya!"


*Slammm*


Suara pukulan keras dari loker yang dipukul oleh Simon.


Kini Simon duduk di lantai dan merasa gusar. Ia menarik rambutnya dengan kedua tangannya. Adreano berjalan perlahan mendekati Simon,


"Hey! Howard sadarlah!" Seru Adreano sambil melepaskan tangan Simon dari rambutnya.


"Aku tidak tahu, Adreano. Bantu aku bawa dia kemba-" Belum selesai Simon menyelesaikan kalimatnya, pukulan keras mendarat di pipi kiri Simon.


Adreano menonjok Simon hingga tak sengaja pipi dan hidungnya berdarah sedikit. Dengan pukulan itu sukses membuat Simon membalas pukulannya ke Adreano. Meskipun begitu Adreano tidak membalasnya lagi dan meraup kedua sisi pipi Simon dengan kedua tangannya dan berteriak tepat di hadapannya.


"Tenanglah! Howard!" Seru Adreano dengan nada seriusnya khas sekali saat ia dulu di pelatihan akademi militer nya.


Mendengar teriakkan Adreano yang begitu serius dengan tatapan tajamnya, Simon kemudian terdiam dan menenangkan dirinya. Adreano masih memperhatikan Simon dengan tatapan tajamnya.


Semenjak kepergian Jia Rong dua hari yang lalu, sikap Simon seperti berbeda. Ia jadi tidak fokus dalam memimpin strategi untuk timnya. Ia juga sering mengabaikan teman-temannya yang mengkhawatirkannya. Adreano yang senantiasa santai dan memikirkan misinya, menjadi terusik oleh sikap Simon yang benar-benar mengganggu harinya.


Tak lama kemudian suasana di ruang ganti menjadi lebih tenang. Simon perlahan mengganti pakaiannya, begitupula Adreano. Keduanya merapihkan penampilannya, dan mengenakan seragam musim dingin. Simon menyodorkan beberapa plaster luka kearah Adreano, lalu Adreano mengambilnya dengan cepat. Ditempelkannya plester-plester itu pada bagian yang luka. Simon kemudian menutup lokernya dan mengambil tasnya, lalu berjalan keluar. Disusul dengan Adreano di belakangnya.


Keduanya pergi meninggalkan gedung tersebut dan berjalan berdampingan. Adreano melipat kedua tangannya di dada dan terus berjalan di samping Simon.


'Ada apa dengannya? karena cinta?' Pikir Adreano.


Adreano cukup kesal dengannya beberapa hari terakhir ini. Ia seperti menghambat misinya, karena ia berpikir untuk membuat teman-teman dari kubu oposisi membantunya. Namun, di hatinya Adreano menyimpan banyak perasaan mengganjal. Ia merasa seperti sedang bersama rekannya dulu, Rowan. Adreano kembali memandangi raut wajah yang dibuat Simon, tiba-tiba Simon memberhentikan langkahnya. Hal itu membuat Adreano tersentak.


"Maaf Adreano..." Ucapnya pelan.


"Ya" Jawab Adreano singkat.


Lima menit berlalu dan keduanya hanya diam ditempat. Adreano yang kesal kemudian menyeret Simon berjalan menuju luar kawasan Akademi Lydenn. Simon tak berdaya dan mengikuti langkah Adreano pergi. Keduanya berjalan cepat menuju area taman publik.


Keduanya berdiri di persimpangan jalan setelah jalan beberapa menit. Kala itu kota agak terlihat sepi. Hanya beberapa orang yang lewat. Banyak toko-toko yang sudah tutup, kecuali beberapa restoran dan café. Sebuah toko roti ternyata buka, Adreano yang mengenali tempat itu langsung saja memaksa Simon untuk berjalan bersamanya menuju toko rotinya. Lalu keduanya masuk kedalam toko roti itu.


Teng...Ting...


Suara bel toko itu berbunyi saat pintunya terbuka. Tampak seekor kucing menyambut keduanya datang. Kucing itu melingkar-lingkar di kaki Adreano, nampaknya Adreano juga mengingat kucing tersebut.


"Mreeooww...purrr...purr" Suara kucing itu.


Seorang Wanita paruh baya itu tersenyum kearah kedua pengunjung tokonya, dan nampaknya ia mengenal sesosok Adreano.


"Selamat datang kembali, kau anak muda yang waktu itu, bukan?" Ucap wanita itu ramah.


Adreano tersenyum seraya menggendong kucing tersebut di dekapannya. Kemudian ia duduk di meja dan kursi yang tersedia bersama Simon.


"Anda mengingat saya?" Tanya Adreano kepada wanita toko roti itu.


"Tentu saja, saya mengingat Anda. Tak banyak yang datang ke toko roti saya. Karena adanya toko roti yang baru di perempatan jalan sana..." Jelasnya kepada Adreano.


Adreano mengangguk lalu menoleh kearah Simon yang duduk berhadapan dengannya. Ia hanya diam dan memandangi kucing yang ada di dekapan Adreano.


"Kau mau pegang?" Ucap Adreano.


Simon mengangguk dan mengambil kucing itu dari dekapan Adreano. Ia tampak tenang dan mengelus perlahan kucingnya.


"Nyonya, Tolong dua menu rekomendasi anda, untuk kami" Pesan Adreano.


Harum aroma roti yang baru di panggang memenuhi seisi toko. Vas bunga di meja dengan bunga mawar ditempatnya membuat suasana menjadi tenang. Interior toko yang nyaman serta beraksen vintage membuat suasana toko menjadi lebih sedap di pandang. Di dalam toko ini hanya ada empat pasang meja makan. Meskipun tidak terlalu luas, tapi tempat tersebut terasa nyaman.


Simon bermain-main dengan kucing yang ada didekapannya. Adreano kemudian merasa lega dengan perubahan mood dari temannya itu.


"Kau sering kesini?" Tanya Simon dengan tenang.


"Baru beberapa minggu yang lalu, tak lama" Jawab Adreano.


"Kenapa kau membawaku kemari?" Tanya Simon lagi.


"Entahlah, mungkin karena aku jengkel dengan sikapmu akhir-akhir ini" Ujar Adreano dengan wajah datarnya.


Simon hanya tertawa kecil,


"Kau orang baik ya, Adreano?" Ucap Simon sesudah tawanya.


Adreano hanya tersenyum sebentar dan melipat tangannya ke dada. Tak lama kemudian wanita toko roti itu datang dengan membawa nampan panjang berisi pesanan Adreano.


Sebuah piring kecil dengan sepotong kue tiramisu dan secangkir kopi americano hangat diletakkan di hadapan Adreano. Kemudian Sebuah piring kecil dengan sepotong kue coklat serta sebuah mug berisi kopi susu hangat diletakkan di hadapan Simon. Wanita paruh baya itu tersenyum menatap kearah Simon.


"Cerialah anak muda!" Katanya kepada Simon.


Kemudian meninggalkan keduanya dan beranjak menuju dapurnya.


"Cobalah, ini enak" Ucap Adreano sambil meminum kopi hangatnya pelan.


Simon mengangguk dan mencoba kue coklat dihadapannya. Ia terkejut karena rasanya dan segera mencicipi kue itu lagi dan lagi. Tak lupa ia meminum kopi susu hangatnya perlahan.


"Aku berhutang pada mu lagi, ya kan?" Ucapnya sambil memegang gagang mug berisi kopi susu hangat.


"Mungkin iya," Balas Adreano singkat.


"Tapi aku tak bisa melupakannya..." Ucap Simon pelan.


Adreano hanya menghela nafas panjang.


"Tak perlu melupakannya. Yang sudah pergi, biarlah pergi. Kau hanya perlu mengingat kenangan bersamanya dan terus melanjutkan hidupmu. Kau juga punya jalanmu sendiri, ikhlaskan saja..." Jelas Adreano sambil kembali meminum kopinya.


Simon memandangi kopi susu yang ada didalam mug keramik itu. Dia mendengarkan perkataan Adreano dan memikirkan pesannya itu. Tak lama kemudian ia kembali tersenyum,


"Hei Adreano, kau mau aku membalas apa?" Tanya Simon sambil melihat kearah Adreano.


Adreano menolehkan kepalanya,


"Cukup jangan salah pengertian dengan kebaikan dari ku. Mari kita bekerjasama!" Jawab Adreano sembari meletakkan sebuah amplop coklat besar di atas meja.


"Apa ini?" Tanya Simon heran yang kemudian ia mengambilnya.


"Sesampainya di asrama, kau baca itu di kamarmu" Lanjut Adreano.


"Apa ini ada kaitannya dengan melawan OSIS?" Tanya Simon yang penasaran.


"Tentu saja, kau bisa memberitahuku lewat chat saat kau sudah yakin" Jawab Adreano denga. tenang.


"Tapi sebelumnya, mari kita berteman" Kata Simon lagi.


Adreano mengangkat sebelah alisnya,


"Kau tak menganggap kita semua teman sejak awal bukan? kalau kau mau kepercayaan dari kami semua, setidaknya berteman dengan baik, Adreano. Aku bisa membantumu untuk menjalin kerjasama ini dengan yang lainnya, walau aku tak tahu betul siapa identitas aslimu, warna aslimu dan apa tujuan utamamu. Tapi kita bisa menjadi sekutu karena setidaknya tujuanmu setidaknya menguntungkan untuk pihak kami juga" Ucap Simon dengan serius.


Adreano melihatnya dengan tatapan serius pula, ia kemudian menyodorkan tangannya kearah Simon,


"Mari berjabat tangan, kita akan menjadi sekutu dan teman mulai sekarang, Mr. Howard" Tegas Adreano.


Simon tersenyum ramah, kemudian menjabat tangan Adreano yang ada di depannya.


"Kau bisa mengandalkanku, Mr. Heinze" ucapnya.


Keduanya tampak tenang dan tersenyum seperti sedang melakukan bisnis. Keduanya pun kembali menikmati hidangan di depannya dikala matahari mulai terbenam dan langit gelap.


Lampu-lampu jalan mulai menyala, suasana diluar toko tampak terang dan terlihat tenang. Salju perlahan turun dan menutupi jalanan maupun bangunan. Udara mulai lebih terasa dingin. Suasana tenang setelah konflik yang akhirnya menjadi sebuah kesepakatan dan kepercayaan. Hal itu membuat atmosfer terasa lebih hangat walaupun kenyataannya suhu udara mulai menurun.


. . .