True Colors

True Colors
One Day Before Separated ( 1 )



[ Beberapa bulan sebelum kejadian Adrianne ]


Seorang gadis pemberani berwajah manis nan jelita berjalan menuju keluar asramanya. Ia tampak senang dan terlihat bersemangat. Kakinya melangkah menuju keluar gedung asrama Akademi Lydenn. Digendongnya tas ransel sedang berwarna hitam, seseorang menghampirinya.


"Adrianne! Pagi!" Seru gadis itu dengan bersemangat.


"Pagi juga Estelle, hari ini kita ada ujian bukan?" Tanya Adrianne kepada gadis bernama Estelle itu.


Estelle merupakan teman dekat dari Adrianne, mereka bertemu pertama kali pada saat masa orientasi dan kemudian keduanya kebetulan berada di kelas yang sama. Estelle merupakan half-sister dari Bianca yang terpilih menjadi ketua OSIS dalam pemilihan umum sekolah. Adrianne berteman baik dengan Estelle, ia sangat menghargainya.


Keduanya berjalan menuju bangunan sekolah,


"Kau sudah belajar belum nona Estelle?" Ucap Adrianne seraya menjitak perlahan dahi Estelle.


"Eh! Aku belajar kok! Kali ini aku benar-benar tidak akan mengecewakan kakakku..." Jawabnya yang terlihat sedih sambil memegang dahinya.


Adrianne yang melihat perubahan ekspresi dari Estelle itu kemudian merasa bersalah. Lalu ia mengalihkan topiknya,


"Ah! cepat kita hampir terlambat, Estelle" Seru Adrianne sambil merangkul pundak Estelle yang setengah berlari, keduanya pun tertawa dan bergegas menuju sekolah.


Pagi itu sedang musim semi, pepohonan rindang dengan daun hijau lebat berdiri kokoh di tiap-tiap jalanan, halaman serta hutan di kawasan Akademi Lydenn. Udara terasa hangat ditambah dengan sepoi-sepoi angin musim semi. Bunga bermekaran di taman-taman, pohon sakura dan plum berwana merah muda dan putih memperindah pemandangan.


Murid-murid Akademi Lydenn mengenakan setelan seragam musim semi. Blazer berwarna putih-hitam dengan kemeja hitam dan dasi berwarna biru muda. Lalu Bawahan bermotif garis-garis berwarna senada dengan dasi. Sepatu pantofel berwarna hitam menjadi pelengkapnya. Semua murid terlihat percaya diri dengan seragam yang mereka kenakan.


Musim semi merupakan mulainya tahun ajaran baru Akademi Lydenn. Setelah dinyatakan naik kelas, akan di adakan ujian penempatan kelas. Ujian tersebut akan menentukan dimana seorang murid akan menetap. Dengan nilai tertinggi akan dipertimbangkan untuk menjadi Dewan Perwakilan Kelas atau bahkan bisa mendapatkan beasiswa bagi mereka yang tak mampu. Selain itu kelas ini akan menentukan seorang murid menjadi kelas regular atau unggulan berdasarkan hasil akhir nilai ujian. Para murid melakukan yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang terbaik.


Ujian penempatan kelas kala itu berlangsung dengan baik dan lancar. Setelah ujian yang melelehkan itu, murid-murid akan menunggu hasil peringkat ujian mereka. Karena berbasis IT, nilai ujian dapat langsung terlihat setelah menyelesaikan ujian. Meskipun begitu, tetap saja harus menunggu peringkat resmi parallel dikeluarkan agar bisa mengetahui penempatan kelas.


. . .


Estelle yang duduk di kursi taman dekat bunga Camelia meminum sekarton susu stroberi yang diberikan Adrianne yang duduk disebelahnya.


"Fueeee!! Aku benar-benar lelah!" Seru Estelle yang menghela nafasnya.


Adrianne hanya melihat layar handphonenya sambil memakan roti sandwich di mulutnya. Ia tampak menggerakkan jarinya turun dan naik,


"Apa yang kau lihat Estelle? sampai kau mengabaikan ku?" Tanya Estelle dengan nada kecewa.


"Ini, kau ingat, bukan? Saudara kembarku berada di Akademi Militer. Ia kembali sebentar, jadi aku akan pulang. Kau mau ikut aku pulang?" Ucap Adrianne sambil mengunyah roti isinya perlahan.


"Iya aku ingat! Jadi, dia kembali.Tapi, maaf Adrianne aku tak bisa ikut denganmu. Aku dan Bianca ada urusan" Balas Estelle dengan nada yang terdengar sedih.


Adrianne yang melihat hal itu lagi merasa semakin tidak enak pada temannya itu. Adrianne kemudian berusaha menghiburnya lagi,


"Hei, Estelle! kau belum pernah melihat kembaranku, kan? Lihatlah!" Ujar Adrianne yang berusaha mengalihkan topik.


Adrianne menyodorkan handphonenya ke arah Estelle dan tersenyum hangat. Kemudian Estelle mengalihkan pandangannya ke layar handphone Adrianne itu.


Tampak foto seorang laki-laki dengan potongan rambut cepak khas sekali di kalangan anggota militer. Wajahnya sedikit mirip Adrianne. Warna rambutnya pun sama, namun ekspresi wajah mereka berbeda. Adrianne tampak terlihat lebih ceria sedangkan kembarannya itu terlihat dingin dengan wajah datarnya, namun tetap terlihat tampan.


"Siapa namanya?" Ucap Estelle spontan.


Adrianne yang kaget mendengar pertanyaannya langsung tertawa kecil,


"Kau menyukainya? bwahahaha..." Tawa Adrianne.


"Apa maksudmu? Aku hanya bertanya namanya. Apa tidak boleh tanya siapa nama saudara kembar teman dekatnya?" Bantah Estelle dengan wajah memerah hingga ke telinga.


Adrianne kemudian berhenti tertawa dan merangkul pundak Estelle,


"Kau benar juga, kita sudah lama berteman tapi kau belum tahu. Baiklah! Namanya adalah Adreano. Adreano Heinze. Dia sudah setahun pergi ke Akademi militernya" Jelas Adrianne pada Estelle.


"Apa kalian dekat? Maksudku, Apa kalian berdua seperti saudara kembar lainnya?" Tanya Estelle yang kemudian melepaskan rangkulan tangan Adrianne.


Adrianne terdiam sejenak, kemudian berbicara,


"Sangat dekat. Meskipun kami kembar, namun Adreano lebih dewasa dan lebih memahami banyak hal. Meskipun wajahnya datar dan dingin, tetapi dia adalah orang yang hangat dan baik. Ia juga sangat pemberani dan kadang tak peduli disekitarnya. Aku jamin! dia adalah orang paling baik! Hehehe " Jelas Adrianne dilanjut tawa kecilnya.


Estelle yang mendengar itu hanya tersenyum melihat temannya itu. Kemudian sebuah pesan muncul di layar handphone Adrianne. Ternyata pesan tersebut berasal dari grup kelasnya.


"Hei! Peringkat umum sudah keluar! cek di Lobby, cepat!" Tulis pesan notifikasi tersebut.


Adrianne tersentak kaget, begitu Estelle. Keduanya saling bertatapan lalu bangun dari tempat duduknya.


"Ayo! Cepat lihat!" Seru Estelle bersemangat sambil menarik tangan Adrianne dan kemudian mereka berjalan melewati taman-taman hingga akhirnya sampai di area Lobby sekolah.


. . .


Estelle pergi menyerobot kerumunan, meninggalkan Adrianne di belakang sendiri.


Terdengar suara seruan keras pemuda di sebelah Adrianne, ia kemudian menengok kearah suara itu.


"Astaga! Satu kelas denganmu? Kau bayar berapa untuk masuk kelas unggulan, hah?!" Tanya seorang anak laki-laki berkacamata di sebelahnya.


"Hei! jaga bicaramu. Kali ini aku benar-benar belajar tahu!" Bantah laki-laki lain dihadapannya. Laki-laki itu yang berseru kencang tadi. Penampilannya cukup mencolok dengan rambut pirang dan tingginya. Matanya berwarna biru dan berwajah ceria.


Ada seorang anak laki-laki yang hanya menggelengkan kepalanya dan memperlihatkan iPad yang dipegangnya kepada dua orang anak perempuan. Kemudian anak laki-laki lainnya dengan tubuh tinggi yang tampak tersenyum sabar melihat kearah dua anak laki-laki yang berseru di dekat Adrianne.


"Grup? Tampaknya mereka kenal satu sama lain..." Ucap Adrianne dalam hati seraya menaikkan alis sebelah kirinya.


Adrianne bergeser dari tempatnya ia berdiri dan menjauhi kelompok pertemanan itu. Kemudian, anak laki-laki tinggi dengan senyum sabar tadi, mendekati Adrianne.


"Maafkan temanku, ya?" Ucap laki-laki itu sambil membungkukkan sedikit badannya tanda meminta maaf.


"Tidak apa-apa, semuanya ramai disini. Jangan meminta maaf" Balas Adrianne dengan senyuman hangatnya.


Setelah itu, anak laki-laki berambut pirang itu juga menghampiri Adrianne dan kemudian merangkul pundak anak laki-laki yang berbicara pada Adrianne tersebut.


"Siapa ini? Kau mengenalnya?" Tanya Anak laki-laki berambut pirang itu.


Anak laki-laki yang pundaknya dirangkul itupun hanya menghela nafas dan tersenyum sabar lagi.


"Maaf jika aku mengganggu kalian. Aku sedang menunggu temanku yang melihat peringkat disana" Ucap Adrianne sambil menunjuk kearah kerumunan di depan layar besar.


"Kau belum tahu peringkat dan penempatan kelasmu?" Tanya anak laki-laki berambut pirang itu pada Adrianne.


Adrianne hanya mengangguk dan kembali tersenyum,


"Biar aku carikan, siapa namamu?" Tanya Anak laki-laki itu lagi.


"Adrianne Heinze, Ah! maaf tolong Carikan nama temanku juga, Estelle Blaire..." Ucap Adrianne dengan pelan karena merasa tidak enak.


"Baiklah! Tunggu sebentar" Ucap anak laki-laki berambut pirang itu.


Adrianne diam dan pandangannya tertuju pada Estelle yang masih mencari-cari nama,


'Maaf Estelle...' Batin Adrianne.


Tak lama kemudian, anak laki-laki berambut pirang itu datang lagi ke hadapan Adrianne dengan membawa iPad. Dia tampak senang dan bersemangat.


"Kau Adrianne Heinze, dari Heinze yang itu bukan? Lihatlah kau masuk kelas yang sama denganku, Kelas 2-2!" Ucap Anak laki-laki berambut pirang itu.


"Heinze yang itu..." Pikir Adrianne sambil tersenyum kearah anak laki-laki dihadapannya.


"Terimakasih sudah memberitahuku. Bagaimana dengan temanku?" Tanya Adrianne.


"Ah! Estelle, dia berbeda kelas denganmu, dia di 2-1..." Balas anak laki-laki itu.


Adrianne yang kaget mendengarnya langsung mengalihkan pandangannya ke arah kerumunan, namun Estelle telah berdiri di depannya dengan raut wajah sedih dan kecewa. Estelle kemudian berlari keluar dari area Lobby sekolah. Adrianne kemudian berusaha mengejar temannya yang tampak kecewa itu.


"Terimakasih! nanti kita bicara lagi rambut pirang!" Seru Adrianne sambil setengah berlari mengejar teman baiknya itu.


"Oke!" Seru anak laki-laki itu.


. . .


Di lapangan outdoor dekat dengan tribun penonton, Estelle berdiri menenangkan dirinya. Adrianne yang terengah-engah mengejarnya kemudian mendekati temannya itu. Ia kemudian menggapai pundak Estelle.


"Hei, Estelle maafkan aku" Ucap Adrianne.


Estelle berbalik dan menatap kearah Adrianne seraya berkacak pinggang, lalu tertawa,


"Hahaha... Adrianne! Untuk apa meminta maaf? Kita masih akan sering bertemu dan bermain bersama! Ruang kelas kita bersebelahan!" Tawa Estelle.


Adrianne yang kesal kemudian menjitak dahi Estelle dengan kuat, lalu tertawa bersamanya. Keduanya tampak berteman baik dan saling menghargai satu sama lain. Mereka tampak seperti biasanya dan menerima kenyataan. Tapi mereka masih tidak tahu masalah apa yang menanti hubungan persahabatan mereka.


. . .


p.s :


Manusia lama-lama akan berubah untuk menyesuaikan lingkungannya. Perbedaan sedikit saja dari orang terdekat dapat mempengaruhi hubungan antara keduanya. Itulah sebabnya perlu bagi kita untuk membagi waktu serta saling menghargai dan percaya.