True Colors

True Colors
Just Another Day



Hari-hari lain tetap berlanjut. Setelah kejadian hari itu, Simon menepati janjinya. Ia kemudian bernegosiasi dengan Amane, Hyerim, Harris, Joseph, dan Youngjoo. Hal itu membuat Adreano semakin mantap dalam memikirkan kesuksesan misinya. Karena, benar apa yang dikatakan Simon, bahwa dia akan membuat yang lainnya percaya dan menjalin kerjasama ini. Selama tujuan yang dimiliki kedua pihak tentunya hampir sejalan.


Setelah melihat chat dari Simon, sebuah pesan muncul. Ternyata pesan itu dari Harris, ia bertanya kebenaran dari penjelasan Simon,


"Hei, ini Harris. Kau yakin? " Tulisannya pada balon pesan.


Adreano membacanya dalam hati, kemudian membalasnya,


"Ya, kita lihat saja" balasnya.


Sebuah balon pesan muncul lagi,


"Apa rencanamu yang sebenarnya?" Tanya Harris.


Adreano kemudian kembali mengetik pesannya,


"Menyelesaikan misi dan kembali" Ketiknya.


"Baiklah, aku percaya padamu" Balas Harris kemudian.


Adreano tersenyum melihat layar handphonenya, kemudian ia mengunci layarnya. Diletakkannya handphone tersebut di kantong mantel musim dinginnya. Lalu ia menggunakan sarung tangan kulit berwarna hitam dan melilitkan syal di lehernya. Tak lupa ia membawa tas ransel berwarna hitam. Adreano membuka pintu kamarnya.


Joseph sedang berkumpul dengan yang lainnya. Ruang Asrama mereka sepi. Segeralah Adreano keluar dari area Asrama yang kemudian menuju arah gerbang dekat hutan. Adreano memastikan agar dirinya tidak tampak mencurigakan. Langkahnya cukup santai, pandangannya lurus menuju arah gerbang dekat area hutan.


Beberapa menit berjalan, Adreano telah sampai di tujuannya. Terdapat mobil sedan hitam terparkir di pinggir jalan dekat hutan. Adreano melihat keadaan sekitarnya dan membuka pintu mobil itu lalu masuk kedalamnya. Tampak seorang pria berjas hitam dan mengenakan topi serta kacamata hitam. Adreano kemudian memberi salam, Pria itu membalas salamnya.


"Bagaimana keadaanmu disini?" Tanya Pria berkacamata hitam itu.


"Baik, Pak" Ucap Adreano.


Pria itu kemudian mengangguk tanda mengerti dan melanjutkan perkataannya lagi,


"Kau sudah bertemu Anggota luar kita?" tanyanya.


Adreano mengangguk pelan,


"Siap, sudah Pak" Jawab Adreano mantap.


Adreano meletakkan tas ransel hitam ke pangkuannya, kemudian membuka tas nya perlahan. Dikeluarkannya sebuah map coklat besar dari dalamnya. Adreano memberikannya kepada pria berkacamata itu. Pria berkacamata itu kemudian menerimanya dan membuka map coklat besar itu.


Map coklat besar itu berisikan file laporan Adreano selama di Akademi Lydenn. Pria berkacamata itu membacanya satu persatu, hingga akhirnya berhenti di file terakhir.


"Festival Olahraga Musim Dingin?" Tanyanya kepada Adreano.


"Benar Pak, acaranya akan dimulai besok dan berlangsung tiga hari sebelum liburan semester..." Jelas Adreano kepada pria itu.


Pria berkacamata itu mengangguk-angguk dan kembali membaca file tersebut.


"Pasti dihadiri oleh para tamu penting seperti dari penyokong Akademi ini, tak jarang juga para orang tua lainnya" Lanjut Adreano.


Kemudian Pria berkacamata itu menoleh kearahnya dan bertanya lagi,


"Bukankah ini momen yang tepat untuk menjalankan misi?" Ucapnya.


Adreano mengangguk setuju,


"Tetapi menurut yang saya perhatikan, ini juga bisa menjadi cara kita menemukan maksud dari Menteri Kesehatan" Ucap Adreano meyakinkan.


"Baiklah Pak, nanti saya akan berikan kabar terbaru lagi" Kata Adreano tegas, kemudian ia memberikan hormat dan segera keluar dari mobil sedan hitam itu.


Setelah keluar, mobil tersebut kemudian segera berjalan meninggalkan area Akademi Lydenn. Adreano kemudian dengan cepat berjalan kembali menuju asrama. Setelah melewati jalan panjang, ia kembali memasuki area asrama barat. Ia memperlambat langkahnya dan berjalan santai. Adreano melangkahkan kakinya memasuki area gedung asrama. Kala itu lorong-lorong asrama cukup ramai dengan siswa yang berbincang-bincang. Adreano mengabaikan suasana itu dan berjalan menuju ruang asramanya.


Sesampainya di dalam ruang asrama, ternyata sudah ada Joseph yang duduk di sofa. Sepertinya ia menanti Adreano pulang. Adreano melihat kearah meja kecil di hadapan Joseph dan melihat dua gelas kopi hangat serta dua paket sushi. Melihat kepulan asap putih dari kopi itu, Adreano berpikir bahwa ia belum lama kembali. Segeralah ia mendekati Adreano dan duduk di kursi kayu dekat dapur.


"Bro! kau sudah pulang? aku tak mendengar mu, maaf, aku melamun" ucap Joseph semangat.


"Iya, aku pulang" Balas Adreano singkat.


"Aku membawakan mu sushi dari tempat biasanya, dan minumlah kopi ini" Ucap Joseph yang kemudian meminum kopi hangatnya.


"Nanti akan aku makan. Terimakasih. Bagaimana pertemuan kalian?" Tanya Adreano sambil meletakkan tasnya di lantai dan membuka mantel serta sarung tangannya.


Joseph memakan salah satu paket sushi yang ada dihadapannya,


"Aku sudah mendengar semuanya dari Simon, aku setuju dengan itu" Ucap Joseph lalu memakan sushinya perlahan.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Adreano penasaran.


"Menurutku semuanya bisa diatur asal tidak ada penghianat diantara kita. Dan lagi, Simon bilang kau mau mengekspos para guru dan penyokong Akademi yang korup. Aku pikir itu baiklah. Dan kami tidak suka OSIS karena mereka terlihat menyembunyikan sesuatu" Jelas Joseph sambil lanjut memakan makanannya.


Adreano mengangkat sebelah alisnya dan berpikir sejenak,


'Kurang lebih begitu, kau tak perlu tahu file terlarang itu. Semua orang akan terbutakan dan kerjasama ini tidak akan berjalan ' Pikir Adreano.


"Apa kalian membencinya hanya karena menyembunyikan sesuatu?" Tanya Adreano yang kemudian mengambil gelas kopi hangat dihadapan Joseph dan kembali duduk ditempatnya semula.


'Aroma kopi biasa, setidaknya dia tidak meracuniku. Anak naif seperti ini...' Batin Adreano yang kemudian meminum perlahan kopinya.


"Bro, kau tak tahu ceritanya! Biar aku selesaikan makanku ini dulu dan aku akan menceritakan sebuah kisah yang sangat menarik untukmu. Tunggu saja..." Ucapnya yang kemudian memakan sushinya dengan lahap.


Adreano hanya menggelengkan kepalanya dan pasrah dengan sikap Joseph. Ia kemudian membiarkan Joseph menikmati makanannya. Adreano membawa kembali tas hitam dan mantelnya serta sarung tangannya kembali ke kamarnya. Ia kembali lagi duduk bersebelahan dengan Joseph di sofa dan mengambil sekotak paket sushi dan memakannya perlahan.


"Seenak itu kah?" Tanya Adreano sambil tertawa kecil melihat Joseph yang memakan sushinya dengan lahap.


"Tentulah, aku lapar! hehehe" tawa Joseph.


Kemudian keduanya menikmati makanan mereka dengan tenang. Setelah beberapa saat keduanya merapihkan meja dan meletakkan gelas kopi di wastafel dapur. Adreano mengambilkan dua gelas berisi air putih dan memberikannya kepada Joseph.


"Minumlah, dan ceritakan!" Kata Adreano sambil menyodorkan gelas berisi air putih ke Joseph.


Joseph meminumnya perlahan dan Adreano kembali duduk di kursi kayu dekat dapur,


"Karena kita akan bekerjasama aku akan menceritakan suatu hal. Oh iya! ini menyangkut adikmu itu juga" Ucap Joseph bersemangat.


Adreano menampilkan ekspresi wajah yang serius dan tegas, Ia ingin mengetahui cerita dibalik kematian kembarannya itu. Adreano tampaknya mulai percaya dengan Joseph, ia berniat untuk mengetahui hal itu darinya.


"Ini berdasarkan cerita yang telah diverifikasi oleh ibu Youngjoo selama penyelidikan dan beberapa keterangan serta cerita dari banyak murid, dengarkanlah..." Kata Joseph dengan wajah seriusnya.


Adreano mengangguk dan bersiap menyimak ceritanya. Joseph pun mulai menceritakan sebuah kisah.


. . .


N E X T > > >