True Colors

True Colors
The Mission Details : Adreano POV



Waktu terus bergulir, Aku sudah di Akademi Lydenn beberapa minggu. Banyak hal yang tak ku mengerti disini. Banyak hal yang tak bisa ku jelaskan di dalam jurnal laporan. Aku masih tak tahu apapun disini. Serasa misi ini mustahil diselesaikan.


Awalnya, kedatanganku ke Akademi ini memiliki dua tujuan. Pertama, mengungkapkan alasan kematian kembaranku. Kedua, menjalankan misi dari pihak Akademi Militer. Kau heran, bukan? Aku juga. Aku terpilih atas misi ini karena, satu-satunya kemerad ku, dan satu-satunya temanku di Akademi Militer dulu, meninggal dalam misinya di Akademi Lydenn.


Aku pun bertanya-tanya, Akademi Lydenn ini pasti tidak jelas. Banyak hal yang tak masuk akal. Bahkan, jalan skenarionya pun aku tak mengerti. Untuk apa? sebuah tempat pendidikan harus se-kejam itu dan se-mengerikan itu. Rasanya muak sekali dengan misi ini.


Lagi-lagi, waktu terus bergulir. Atasanku belum memberikan perintah lanjutan. Menjadi murid disini memang tidak mudah. Baru pindah saja saat itu sudah disuguhi hal aneh-aneh. Narkotika dan pembunuhan, belum lagi ditambah cerita kubu-kubuan yang cukup merepotkan. Lagi-lagi, Aku terus bertanya, mengapa harus begitu rumit dan tidak jelas seperti ini?


Detail misi yang diberikan padaku juga tidak terlalu jelas. Aku kerap bingung dan tidak paham tentang perasaanku di Akademi Lydenn. Bukankah, ini normal? Hanya kehidupan mahasiswa yang biasanya. Lagi-lagi pertanyaan lain muncul dariku, Apa yang harus dipermasalahkan? Ini hanyalah permainan anak -anak.


Aku benar-benar tak habis pikir. Sampai akhirnya Aku diberi tahu, bahwa sebuah File rahasia bernama "The Execution" ada di sini, Di Akademi Lydenn. File itu berhasil diretas dan disimpan oleh pihak yang licik. Lalu, Misi ku secara jelasnya adalah, merebut kembali file itu dan menyerahkannya kepada Badan Intelejen.


Misi ini tidak berjalan dengan seharusnya. Tapi, Aku berhasil berbaur dengan 'mereka' dan mendapatkan kepercayaaannya. Akademi ini tak bisa diremehkan, meskipun banyak rumor buruk disekelilingnya namun, Akademi ini tetaplah berisi dengan orang-orang yang berambisi besar. Mereka siap melakukan apapun untuk mendapatkan nilai dan peringkat tertinggi. Mereka melakukan proses eliminasi saingannya dengan cara tak main-main.


Saat ini keadaan masalah Akademi Lydenn belum bisa Aku ikut campuri. Mereka sangat menunjukkan ke hati-hatian agar pihak luar tidak mencampuri urusan internal mereka. Semua terselesaikan dengan cepat apabila ada yang mencurigakan dan mengganggu tempo permainan mereka. Sekolah ini dijadikan tempat permainan elite politik dan jajarannya.


Mereka menyembunyikan sesuatu dibalik tempat menuntut ilmu untuk mengurangi kecurigaan pihak lainnya. Dengan begitu, mereka akan merasa aman dan melanjutkan kehidupan mereka yang sembrono. Tak ada yang putih benar-benar bersih, dan tak ada yang hitam benar-benar gelap. Tak ada yang tahu isi hati manusia.


. . .


Banyak hari telah Aku lewati. Sudah sebulan lebih sejak kedatangan pertamaku di Akademi Lydenn. Tidak ada yang mencurigakan dan nyaris normal sekali. Hal itu membuatku tidak tenang. Aku terus melakukan peranku sebagai "Heinze" dengan baik. Berkawan, belajar biasa, menjalani ujian, bersosialisasi dan seperti biasa tetap menulis jurnal laporan.


Siang di hari Sabtu, Aku duduk di meja belajar asramaku dengan layar laptop menyala. Aku melamun dengan banyak pikiran. Ku letakkan handphone keduaku di meja dan menatapnya dengan tatapan lesu. Ku ambil handphone itu dan mencoba untuk mengaktifkannya, dan membuka kunci layarnya.


"2 missed call ?" Ucapku pelan.


Aku segera melihat daftar panggilan tak terjawab itu. Ternyata nomer tak dikenal, nomer itu menelponku pagi ini. Aku berpikir mungkin ini perintah selanjutnya. Buru-buru Aku memastikan keadaan, Aku membuka pintu kamarku untuk mengecek apakah Cardia ada di kamarnya atau di ruang tamu kecil. Aku mengintip, dan tidak menemukan siapapun, lalu ku tutup kembali pintu kamarku rapat kemudian langsung menguncinya.


Aku kembali menatap layar handphone, dan bersiap menelpon kembali ke nomer tak dikenal itu.


Aku menelepon dan menunggu seseorang untuk menjawabnya. Telepon terhubung.


"Hello..." Ucapku pelan.


"Tuan, anda diminta untuk bertemu di rumahnya..." Kata seseorang dari handphone itu.


"Baiklah, Saya segera kesana" Balasku.


"Mobil akan datang menjemput anda pukul satu, di area luar akademi. Mohon sampai di sana terlebih dahulu..." Ucapnya lagi dan mengakhiri panggilan.


Aku segera mengambil jam tanganku dan memakai mantel abu-abu serta syal berwarna merah. Tak lupa aku mengambil topi barett di lemari. Ku buka laci tempat meletakkan notes jurnal dan mengambil jurnal serta dompet di dalamnya, kemudian menguncinya kembali. Buku jurnal itu ku letakkan di saku mantel yang ku kenakan.


Pintu kamar ku buka dan kunci kembali. Aku segera meninggalkan ruang asrama dan berjalan menuju luar asrama. Ku langkahkan kakiku pergi keluar menuju pintu gerbang dekat hutan untuk keluar dari kawasan Akademi. Gerbang ini biasa digunakan Youngjoo dan yang lainnya untuk keluar. Penjaga gerbangnya pun sudah hafal dengan wajah para kubu oposisi ini, dan termasuk wajahku. Aku pergi melewati gerbang dengan mudahnya. Ku lihat jam tanganku, pukul dua belas lewat empat lima. Ku percepat langkahku dan keluar dari area Akademi Lydenn.


Aku berjalan menuju kawasan kota. Tampak pohon rindang yang menggugurkan daunnya, ditemani hembusan angin semilir yang sejuk. Seekor kucing berbulu oranye, mengikuti langkahku. Banyak orang yang berlalu-lalang dan mengunjungi area taman publik. Suhu di siang kala itu cukup sejuk di musim gugur. Kucing Oranye, itu mengikuti tiap-tiap langkahku. Aku tersenyum dan mengangkat kucing itu dan berjalan bersamanya.


Kucing itu, tampaknya kedinginan sehingga ia tenang sekali di dekapanku. Aku melihat toko roti yang buka, segeralah Aku melangkahkan kaki ku untuk mengunjunginya. Ku letakkan Kucing itu di luar toko dan ku usap kepala dan pipinya.


"Mreeooww..." Suara kucing itu ketika aku tinggalkan masuk kedalam toko.


Teng...Ting...


Suara bel di pintu toko roti itu berbunyi saat aku membuka pintu tokonya. Nampak wanita paruh baya penjaga toko itu yang mengucapkan salam dan tersenyum kearah ku.


"Selamat Siang, silahkan dipilih semuanya fresh from oven..." Ujarnya sambil tersenyum.


Aku hanya mengangguk sambil mengambil karton untuk meletakkan roti yang hendak ku beli dan berkeliling melihat-lihat roti yang tampak lezat, hangat dan harum itu.


'Benar... Ini sepertinya enak, baru dari oven. Setidaknya datang bawa bingkisan, bukan? ' Gumamku.


Aku mengambil beberapa roti dan memasukkannya ke dalam karton perlahan. Kali ini aku cukup banyak membelinya. Segeralah Aku datang ke kasir kemudian membayarnya. Ku bawa dua tas bingkisan roti itu keluar toko. Terdapat mobil sedan hitam menunggu di depan jalan toko roti. Tak lama kemudian, seorang Pria tua mengenakan setelan jas berbicara padaku.


"Silahkan masuk ke mobil tuan..." Jelasnya.


Aku mengangguk dan berjalan masuk ke dalam mobil sedan hitam itu. Pria tua itu masuk kedalam mobilnya dan mulai menjalankan mobil. Aku hanya melihat kearah jendela.


"Bagaimana kau tahu aku di toko itu?" Tanyaku pada pria tua itu.


Tampak dari kaca spion tengah mobil, pria itu tersenyum hingga kumisnya terangkat.


"Tentu saja saya tahu, Tuan Adreano pasti akan membeli sesuatu sebelum pergi kerumah kakek Anda. Hanya toko itu yang buka..." Jelasnya.


Aku mengangguk tanda mengerti kemudian kembali menatap kearah jendela memandangi jalanan menuju kerumah kakek.


Tak terasa sudah duapuluh menit berlalu, Aku sudah memasuki kawasan rumah kakek. Gerbang hitam besar dengan gapura besar terbuka membiarkan mobil sedan hitam ini masuk. Pohon Maple sepanjang jalan menggugurkan daunnya. Mulai terlihat bangunan besar modern di ujung jalan. Sampailah aku dirumah kakek.


. . .


Sesampainya di rumah kakek, Aku disambut beberapa pelayan yang kemudian menyuruhku untuk masuk pergi ke ruang baca kakek. Aku mengikuti pelayan itu, ku serahkan bingkisan roti yang kubawa padanya dan meminta tolong padanya untuk menyajikannya dengan teh nanti. Kemudian, Aku telah sampai di depan pintu ruang baca milik kakek.


Tok...tok...tok


Suara pintu ku ketuk. Terdengar suara dari dalamnya.


"Masuk, Adreano..."


Ku buka pintu kayu tersebut dan menyapa laki-laki tua berpakaian kasual dengan kacamata bacanya. Dia Kakek ku.


"Selamat siang Kakek, Terimakasih sudah mengizinkan aku berkunjung ke sini..." Sapaku padanya.


"Siang Adreano, bagaimana harimu?" Tanya kakek sambil mengisyaratkanku untuk duduk di sofa.


"Hariku cukup baik, tak ada yang perlu dikhawatirkan" Jawabku.


"Apa itu?" Tanyaku spontan.


"Detail misi, kau ingin kejelasan bukan? Aku juga tak mau cucu laki-laki satu-satunya milikku menjadi korban mereka..." Jawabnya padaku.


Aku memperhatikan map coklat itu kemudian meminta izin membukanya. Kakek mengizinkanku dan aku membacanya.


Di file ini tertulis detail misi baru yang harus segera aku jalankan. Pertama, Aku tak punya banyak waktu lagi. Kedua, sudah saatnya serius untuk bergerak. Ketiga, di file lain berisi informasi Blaire Foundation. Keempat, terdapat denah area Akademi Lydenn dan yang terakhir ada lembar-lembar tempat menuliskan laporan.


Saat aku serius membaca halamannya, seorang pelayan datang meletakkan beberapa roti dan tea set di atas meja, kemudian segera meninggalkan ruangan. Kakek mengernyitkan dahinya, dan menuangkan teh ke cangkir dan meminumnya perlahan.


"Gunakan waktumu, baca dengan teliti. Pasti yang membuatmu tertarik adalah Blaire Foundation bukan?" Tanya kakek sehabis menyeruput teh hangatnya.


"Tentu saja, apakah ini kuncinya?" Tanyaku penasaran.


"Hmmm... entah kuncinya atau bukan, tapi Blaire Foundation cukup berpengaruh dalam kasus ini" Kata kakek yang kemudian mengambil sebuah roti dari piring dan tersenyum.


Aku menatap kakek sejenak dan kembali fokus membaca file mengenai Blaire Foundation.


. . .


...Blaire Foundation...


...Sebuah lembaga yayasan yang membantu banyak anak kurang mampu untuk bersekolah. Pendiri nya adalah Navi Blaire di tahun 19XX. Navi Blaire, mendirikan yayasan ini ketika ia berhasil menjadi investor saham yang sukses. Navi dan istrinya Vanessa, menjalankan yayasan ini dengan baik hingga akhirnya nama Blaire Foundation menjadi terkenal dan sangat sukses dibarengi dengan karir investor nya yang meroket. Navi dengan Vanessa memiliki anak perempuan bernama Bianca Blaire. Keduanya, menggelar pesta debut untuk Bianca, dan dari sana mulailah ada perpecahan di antara keluarga itu....


...Navi membawa seorang anak perempuan yang kemudian diperkenalkannya juga di acara pesta tersebut. Anak perempuan itu adalah Estelle Blaire. Ternyata skandal perselingkuhan Navi benar adanya. Anak perempuan itu memiliki darah Navi dan mirip dengannya kecuali matanya. Vanessa yang tahu akan hal itu langsung naik pitam dan menghancurkan suasana pesta. Vanessa pun menjadi gila, dan dikirim keluar negeri....


...Estelle yang ibunya sudah tiada, hanya memiliki ayahnya saja, Navi Blaire dan half-sister nya, Bianca. Bianca memiliki penampilan persis seperti ibunya, Vanessa. Hal itu membuat ayahnya merasa aneh dan tidak memperhatikan Bianca. Navi Blaire, menyayangi putrinya yang lain, Estelle....


...Disamping itu semua, Blaire Foundation telah banyak menyokong Akademi Lydenn dalam berbagai hal. Setelah itu, Bianca masuk ke Akademi lebih dulu dibanding Estelle yang terpaut jarak satu tahun. Bianca langsung menjadi sorotan di Akademi dan menjadi anggota OSIS. Di tahun ke-duanya di Akademi ia berhasil memenangkan pemilihan ketua OSIS....


...Data terbaru mengungkapkan sebelum Bianca masuk ke Akademi, mencuat kepermukaan banyak skandal dan rumor tak berdasar. Bahkan, beberapa rumor dan skandal itu benar adanya dan tak jarang disertai bukti. Namun, itu semua tidak ada tanggapan lanjut dari Blaire Foundation. Skandal paling fenomenal nya adalah, mengenai kasus anak-anak yang di sponsori Blaire Foundation yang kemudian di jadikan percobaan dalam riset penelitian manusia seperti pembuatan virus dan mutasi gen. Tak hanya itu, rumor lainnya adalah Bianca yang menganiaya Estelle juga mencuat kepermukaan....


...Bianca mati-matian berusaha mengurus kasus Blaire Foundation dan membantah rumor bahwa dirinya menganiaya Estelle. Hal itu ia lakukan demi mendapatkan pengakuan sang ayahanda, Navi Blaire. Estelle jarang tersorot publik dan hanya menjadi partner Bianca saja dalam menjalankan Blaire Foundation. Sementara itu setelah Kasus itu, Navi Blaire melarikan diri ke luar negeri dan menyerahkan Foundation kepada Bianca. Bianca percaya bahwa hal itu adalah bukti pengakuan ayahnya, dia dengan senang hati menjalankannya demi melindungi Ayahnya....


...Tahun dimana Bianca menjadi OSIS di Akademi Lydenn, telah membawa banyak perubahan ke dalamnya. Dengan uangnya, Bianca mampu mengendalikan orang-orang penting di negeri ini. Namun, sebenarnya Bianca hanya berusaha melindungi Ayahnya dan nama Blaire agar tidak dipandang sebelah mata lagi. Bianca banyak melakukan perjanjian dengan elite politik untuk menjamin keamanan nama Blaire....


...Adrianne Heinze, merupakan teman dekat Estelle Blaire yang kemudian ditemukan tewas di dalam Akademi. Atas tewasnya Adrianne, Hubungan Estelle Blaire terlihat merenggang dengan kakaknya, Bianca. Perlahan Estelle menjauh dari segala kegiatan OSIS, namun Bianca kerap mendesaknya untuk tetap di genggamannya....


...Bianca dengan segala caranya melakukan aktivitas di dalam Akademi Lydenn, dimana ia juga merupakan pemegang kekuasaan disana. Namun, Bianca kerap mendapatkan perlawanan dari Ketua Komite dan jajarannya. Ketua Komite Akademi Lydenn, Ibu dari Kim Youngjoo yang juga istri dari sekretariat kerjasama multilateral, sangat tidak suka dengan sikap Bianca yang menjadikan sekolah sebagai tempat pengendalian keuntungan pribadinya. Ketua Komite menginginkan, kondisi akademi selayaknya tempat menuntut ilmu tanpa berurusan dengan Politik. Ketua Komite dan jajarannya merupakan Alumni dari Akademi tersebut. Keduanya terlibat dalam perang dingin dan menyebabkan sekolah memiliki dua kubu pendukung....


. . .


Aku merasa tercerahkan begitu membaca informasi yang ada di dalamnya. Aku sampai tertegun sejenak dan kemudian melihat kearah kakek.


"Darimana informasi ini?" Kataku yang masih terkejut.


"Apapun itu bisa Aku usahakan, demi melindungi cucuku. Kau tak perlu risau, ini terverifikasi" Jawabnya sambil kembali memakan roti.


Aku hanya mengangguk kemudian meminum teh yang sudah di tuangkan kakek. Aku ikut mencicipi roti yang ku beli tadi. Ternyata rasanya memang lezat sehingga membuatku tersenyum. Kakek yang melihat cucunya tersenyum itu juga ikutan tersenyum.


"Adreano, kau isi lembaran laporan itu. Aku perlu melaporkannya kepada temanku si Kepala Agent itu, kau isi pengamatan mu selama disana" Jelas kakek padaku.


"Baik, akan Aku tulis sekarang, mohon tunggu sebentar" Jawabku.


Kakek kemudian beranjak dari sofa kemudian melihat kearah jendela dan memandangi kebun dengan bunga-bunga. Sepertinya dia sedang memandangi bunga Camelia yan di tanamnya dengan Adrianne, setahun yang lalu. Sementara itu aku menulis laporan ku sesuai yang terdapat pada notes jurnal milikku.


Tak lama kemudian aku menyelesaikan tulisan laporan dan memasukanya kembali ke dalam map coklat dan mengaitkannya lagi. Kakek menoleh kearah ku dan berjalan mendekat. Beliau mengacak-acak rambutku seraya tertawa keras.


"Kembalilah, dan selalu berhati-hati. Datanglah lagi kalau kau ada waktu dan bawakan aku roti-roti itu..."


Aku hanya pasrah ketika rambutku diacak-acak olehnya dan tersenyum tipis. Aku segera merapikannya sebentar dan menutupinya dengan barett milikku. Kakek mengantarku ke depan pintu hingga aku masuk ke dalam mobil sedan hitam yang siap mengantarku kembali ke Akademi Lydenn. Tak lupa ia memberiku beberapa bingkisan berisi makanan rumahan. Aku pun kembali ke Akademi Lydenn dengan selamat dan berjalan menuju Asramaku.


'Setidaknya biarkan aku berteman lagi dengan orang-orang yang baik, Rowan...' Batinku.


Saat aku memasuki ruang asrama, Cardia tampak menungguku di ruang tamu kecil kami dengan senyuman konyolnya.


"Bro! kau dari mana aja ! Ku kira kau melarikan diri dari kejamnya akademi..." Rengeknya.


"Ya, enggaklah. Aku tak sebodoh kau!" Ucapku menyentil dahinya kencang.


Joseph menahan rasa sakit di dahinya. Dan pasrah. Dia terlihat seperti anak anjing yang sedih. Aku pun tertawa kecil.


"Hei! lihatlah apa yang aku bawa..." Kataku sambil mengangkat Paper bag besar dari rumah kakekku.


Joseph spontan melihat kearah paper bag itu dan nampak bahagia. Aku bahkan seolah-olah bisa melihat dia mengibaskan ekornya.


"Bro! Bro! Apa itu? sepertinya makanan! bagi yaa!" serunya.


Aku membiarkan ia membuka bingkisan itu sementara Aku melepaskan mantel, syal dan topi barett ku.


"Ya benar... Setidaknya Aku tak kesepian lagi tanpamu, Rowan..." Ucapku lirih pelan.


Joseph dengan mulut penuh makanannya melihat kearah ku.


"Mmmm...ghauu bwilangg apwaa brou? (Kau bilang apa, Bro?)" Tanyanya.


Aku hanya menyibakan tanganku.


"Bukan apa-apa...makanlah!"


. . .