True Colors

True Colors
Lento Con Gran Espressione



Dentingan suara piano di sebuah ruangan terdengar merdu di malam hari, ditemani cahaya bulan di musim gugur. Suara piano itu memainkan Chopin-Nocturne No.20, in C Sharp Minor, alunan nada permainannya sesuai dengan partitur. Jari jemari lentik tersebut, mahir memainkannya dengan penuh penghayatan.


Seorang gadis duduk memainkan alunan nada piano tersebut. Rambut pirang-ikalnya yang panjang terurai nampak bersinar karena pantulan cahaya bulan yang masuk melalui jendela di sebelah tempatnya bermain piano. Matanya terpejam, bulu matanya lentik, jari jemarinya tetap memainkan alunan musik. Mengenakan seragam musim gugur Akademi Lyndenn membuatnya terlihat anggun dan berwibawa.


Seorang gadis lain datang menuju kearahnya, perlahan dengan langkah penuh kegelisahan. Gadis itu kemudian berdiri hampir dekat dengan pianonya. Suara piano terhenti, si Gadis pemain piano itu membuka matanya perlahan. Warna matanya yang seperti zamrud terlihat mengkilap. Dia menatap kearah gadis yang berdiri di depan piano itu.


"Ada apa, Estelle?" Tanyanya.


Gadis lain bermata biru itu, menggigit bibirnya kemudian berkata,


"Bianca... Brankas itu sudah tiba disini" Ucapnya takut-takut.


Gadis bermata zamrud itu bernama, Bianca. Dia adalah ketua OSIS akademi Lyndenn.


"Kerja bagus, sister..." Katanya sambil beranjak dari kursi piano itu.


"Bianca, bolehkah aku datang ke acara prom itu?" Tanya Estelle ragu.


"Tentu saja, Estelle my dearest sister" Balas Bianca seraya mengusap wajah Estelle perlahan dengan jari jemari lentiknya.


Estelle yang mendengar itu menahan ekspresinya, dan tetap memasang wajah datar. Ia berjalan dibelakang, mengikuti langkah kaki Bianca.


"Terimakasih..." Ucap Estelle pelan.


Bianca tersenyum tipis dan berjalan menuju luar ruangan meninggalkan Estelle di belakangnya. Nampaknya, Bianca tidak terlalu memperdulikan keberadaan Estelle. Di lain sisi, Estelle bersiap untuk berangkat ke prom malam itu yang sebentar lagi di mulai.


. . .


Hall of Lyndenn telah di dekorasi untuk merayakan acara malam itu. Seluruh ruangan telah dipenuhi berbagai makanan dan minuman serta spot-spot untuk berfoto. Acara Prom malam akan dimulai sebentar lagi. Para murid telah bersiap masuk ke tempat pesta. Berbagai kostum dan riasan cantik serta menarik semakin memeriahkan acara malam itu.


Tampak sayup-sayup terdengar suara keramaian dari arah pintu masuk. Area masuk menuju Hall of Lyndenn, hampir dipadati oleh murid perempuan. Dan ternyata yang membuat keramaian itu adalah, keempat sosok pangeran tampan yang kala itu benar-benar menggunakan kostum ala kerajaan. Mereka adalah, Adreano, Joseph, Simon dan Youngjoo.


Keempat orang itu datang secara bersamaan dengan aura yang luar biasa. Kostum yang mereka kenakan benar-benar cocok dengan visual mereka. Mereka juga nampaknya menata rambutnya dengan stylenya masing-masing sesuai konsep. Mereka tampil sesuai dengan konsep kostumnya.


Joseph dan Adreano menampilkan gaya kesan kerajaan barat dengan pakaian resmi serta pendant brooch yang menghiasi pakaian keduanya. Rambut keduanya pun ditata rapih dengan memperlihatkan dahi mereka yang lebar dan bersih. Sementara itu, Simon menggunakan konsep pakaian kerajaan timur, dengan rambut panjang seperti drama China ber-genre Wuxia dan Xinxia, lengkap membawa kipas bambunya. Lalu, Youngjoo menggunakan pakaian bangsawan tradisional Korea, dengan rambut diikat dan mengenakan topi dengan hiasan manik-manik khusus menjuntai dari topinya, kali ini ia mengenakan softlens dan tidak menggunakan kacamatanya.


Seluruh perhatian mengarah kepada keempatnya. Banyak yang mengambil foto dan mereka membukakan jalan bagi keempatnya. Mereka berjalan di atas karpet merah, serasa sedang mau menuju tempat penghargaan.


"Kyaaa!! Lihat itu Youngjoo tidak pakai kacamata! Sudah ku bilang dia tampan bukan tanpa memakainya?" Seru salah satu murid perempuan.


"Huwaaa... Ini bukan tempat syuting drama kerajaan bukan??" Ujar salah satu murid laki-laki.


"Ya Tuhan! Lihatlah Joseph dan Adreano. Astaga, ini bukan cerita dongeng bukan?!" Ucap salah satu murid perempuan lainnya yang antusias.


Sementara itu di lain sisi, nampaknya Amane, Hyerim, Harris dan Jia melihat kearah keempat temannya itu dengan raut wajah tidak senang.


"Coba lihat itu, betapa bodohnya senyuman Joseph..." Ujar Hyerim berkacak pinggang.


"Aku kasihan sama Adreano, padahal dia anak baru..." Lanjut Harris.


"Iya benar, Aku kasihan melihat Adreano dan Simon-senpai yang terpaksa mengikuti Joseph dan Youngjoo-senpai..." Sambung Amane.


"Cck...cckk..cckk.. Tak perlu dikasihani, dia ikutan tersenyum bodoh juga itu..." Kata Jia sambil menunjuk ke arah Adreano dan Simon.


Kemudian keempatnya tertawa kecil, Hyerim melambaikan tangan kearah Keempat teman laki-lakinya yang berada di seberang ruangan. Adreano melihat kerah lambaian tangan Hyerim dan mengisyaratkan Joseph, Simon dan Youngjoo untuk segera menghampiri keempat teman lainnya. Kemudian mereka pun bergabung.


Tak lama dari itu, acara pembukaan prom segera dimulai. Tampak dari arah tangga bagian atas ruang aula, empat orang mengenakan seragam musim gugur akademi sedang berjalan turun. Di kerah blazer mereka terdapat pin emas, mereka adalah OSIS.


Bianca Blaire, si ketua OSIS dengan karisma dan kecantikannya menyapa seluruh murid Akademi Lydenn yang memadati seisi aula.


"Hello Everyone ! Aku harap kalian suka dengan dekorasi tahun ini. Tanpa basa-basi lagi, mari kita mulai saja pestanya!" Seru Bianca mengangkat gelas minuman berisi soda nanas.


"Yeahhh!! " Seru seisi aula sambil mengangkat gelas minuman mereka dengan semangat.


Pesta dimulai, musik dimainkan. Keempat anggota OSIS tersebut ikut berbaur dengan murid lainnya. Mereka harus tetap mengenakan seragam sekolah mereka sesuai dengan peraturan yang ada sejak dulu. Aturan tersebut menandakan bahwa mereka masih menjalankan tugasnya termasuk pada saat melakukan pesta atau acara tahunan sekolah yang merupakan bagian dari program kerja mereka.


Selain Bianca, ada wakil ketua OSIS bernama Jonathan Cardia. Jonathan merupakan half-brother dari Joseph. Tubuhnya cukup besar dengan tingginya sekitar 188cm dengan rambut pirang dan diberkahi wajah yang tampan. Ia adalah siswa tahun terakhir di Akademi sama seperti Bianca dan Jia.


Selanjutnya ada, sekretaris satu Lee Hyeon. Lee Hyeon merupakan teman masa kecil Park Hyerim, banyak yang mengetahuinya bahwa Hyeon menyukai Hyerim sehingga, Keluarga keduanya berencana ingin menjodohkan mereka. Lee Hyeon merupakan anak ketiga dari pemilik perusahaan Elektronik dari Korea. Penampilannya, cukup dewasa dengan tinggi sekitar 181cm dan tubuh yang proporsional. Ia memiliki rambut berwarna hitam dan mengenakan kacamata. Ia satu angkatan dengan Adreano dan kawan-kawan.


Eddie Vlyx, Sekretaris kedua OSIS. Ia berambut hitam dengan tinggi 177cm, dengan alis tebal. Eddie sering dijuluki sebagai psikopat karena terkadang senyumnya yang lebar membuat orang-orang menjadi takut, banyak yang menayangkan hal itu karena Eddie sebenarnya termasuk tampan. Eddie juga siswa tahun terakhir di Akademi Lydenn.


Untuk bendahara OSIS bisa dibilang Eddie yang sebenarnya menjabat. Namun, Eddie menjadikan Hyeon sebagai saingannya dan tidak suka dengan jabatannya hanya karena kalah satu suara saat pemilihan. Akhirnya, Bianca membiarkan ia dikenal sebagai sekretaris kedua. Sebenarnya Eddie menyukai Bianca, tetapi Bianca selalu menolaknya meskipun sikap Eddie loyal terhadapnya.


Waktu terus berjalan, pesta semakin meriah. Semua menikmati acaranya tanpa memandang kubu mana yang mereka dukung. Semua orang bersukacita dalam acara tersebut tak terkecuali Adreano dan kawan-kawan.


"Hei, aku mau keluar dulu mencari udara. Sesak rasanya disini" Ujar Adreano.


"Yasudah, kau keluar saja dulu. Dingin di luar" Balas Hyerim.


Adreano pergi keluar aula. Ia melihat kearah langit malam. Kala itu penuh bintang dan tampak cerah dengan sinar bulan purnama. Suhu udara malam semakin dingin, Adreano menghembuskan nafasnya dan menciptakan uap di udara. Di luar aula tampak sepi, suara ramainya orang berpesta tak terdengar karena aula kedap suara. Adreano berjalan menuju taman yang ada di depannya.


Terlihat dari kejauhan, terdapat gazebo yang bagus. Adreano pin mendekati area gazebo tersebut. Rupanya itu taman bunga yang cukup luas. Adreano menoleh kearah barisan bunga Camelia dan tersentak kaget. Seseorang berdiri diantara barisan bunga itu dengan gaun malam panjang berwarna putih terhembus angin lembut, serta wajahnya ditutupi oleh topeng porcelain berbentuk kelinci putih.


Adreano menatapnya lama dan memastikan penglihatannya sekali lagi. Seseorang itu meletakkan jari telunjuknya ke arah mulut topengnya sebagai tanda diam. Kemudian dia melambai dan mengisyaratkan agar Adreano mengikutinya, si Topeng Kelinci itu berlari menuju area sekolah.


Adreano yang melihat itu segera mengikuti langkahnya dengan berlari hingga akhirnya keduanya memasuki area sekolah, si Topeng Kelinci itu menunjukkan jalan menuju suatu tempat, itu adalah gudang olahraga outdoor. Kemudian, si Topeng Kelinci itu memberikan sebuah kunci ke telapak tangan Adreano. Hal itu membuat Adreano heran dan merasa curiga serta waspada.


"Kau menyuruh aku membukanya?" Tanya Adreano memastikan.


'Ah! apa ini jebakan? Gawat! ' Pikir Adreano.


Meskipun curiga, Adreano juga penasaran karena gudang ini sesuai informasi yang ia dapatkan menyembunyikan sesuatu. Dia tetap waspada dan siap dalam mode bertarung jika terjadi apa-apa. Setelah memantapkan pikirannya, Adreano membuka pintu gudang.


Di dalamnya terdapat banyak sekali peti kayu cargo. Si Topeng Kelinci itu berjalan masuk kedalam gudangnya. Ia mengeluarkan buku catatan kecil dari saku gaunnya, dan menuliskan sesuatu.


"Ini semua barang yang ingin kau tahu loh!^^ " Tulisnya pada kertas yang ditunjukkan ke arah Adreano.


Adreano menaikan sebelah alisnya. Dan si Topeng Kelinci itu mulai menulis lagi.


"Oh! Kau tenang saja! Aku tidak menjebakmu. Aku datang justru ingin membantumu, agar semua ini cepat berakhir (・_・;)" Tulisnya lagi.


"Apa yang bisa membuatku percaya bahwa kau tidak menipuku?" Tanya Adreano sambil berbicara dekat dengan wajah si Topeng Kelinci.


Si Topeng Kelinci buru-buru mundur beberapa langkah dengan kikuk, kemudian mulai menulis lagi. Adreano tersenyum melihat tingkahnya.


"Aku bisa menjamin keselamatanmu, kita di pihak yang sama! (。•̀ᴗ-)✧" Tulisnya.


Adreano tertawa kecil melihat tiap emoji yang ditambahkan di tiap kalimat yang si Topeng Kelinci itu. Hal itu membuat si Topeng Kelinci merasa malu dan menutupi wajahnya dengan tangannya, meskipun wajahnya sudah tertutup topeng.


"Hahaha, Kau ini lucu sekali ya. Aku akan percaya denganmu tentang satu hal ini. Cepat beri tahu aku apa isi semua ini..." Ucap Adreano.


Si Topeng Kelinci mulai mengguratkan penanya lagi.


"Tolong kau intip celah-celah dari peti-peti itu..." Tulisnya.


Adreano mengangguk dan segera ia melihat kedalam celah peti-peti tersebut dengan cepat. Ia terkejut, karena isinya adalah senjata.


'Apa ini ada hubungannya dengan kasus penyelundupan senjata yang pernah di beritahukan pelatihku? ' Pikir Adreano singkat


Si Topeng Kelinci itu menarik pelan baju Adreano dan memiringkan kepalanya sebagai tanda bingung.


"Ah... aku sudah melihatnya. Apa aku benar-benar bisa mempercayai mu Miss Bunny?" Ucap Adreano sambil tersenyum hangat.


Si Topeng Kelinci terdiam sejenak dan kembali menulis di buku catatan kecilnya.


"Tentu saja! Mari berteman ( ╹▽╹ )! " Tulisnya lagi.


"Hahaha, kau lucu sekali seperti adikku..." tawa Adreano pelan.


Sayup terdengar suara langkah kaki orang menuju area sekitar gudang olahraga outdoor. Adreano yang peka terhadap itu langsung menggandeng tangan gadis bertopeng kelinci itu dan mengajaknya keluar lalu mengunci pintu gudangnya seperti semula saat meraka datang. Adreano cekatan karena dirinya sendiri juga merupakan Agent khusus terlatih. Ia terus menggandeng tangan gadis bertopeng kelinci itu, dan mengajaknya untuk bersembunyi di hutan belakang gudang.


. . .


Langkah kaki orang itu semakin jelas. Ternyata itu dua orang, mereka adalah Bianca dan Eddie yang sepertinya mendebatkan sesuatu.


"Bianca... Tenanglah, besok pagi-pagi sekali mereka akan mengangkutnya. Ini hanya sementara dan kau jangan panik" Ucap Eddie yang berusaha menenangkan Bianca.


"Aku hanya waspada! Ini semua permintaan kakekmu jangan seret aku juga, kau benar-benar menyusahkan!" Balas Bianca dengan nada kesal.


"Maafkan aku, hei sudahlah biarkan aku melihat senyumanmu..." Ucap Eddie sambil memeluk Bianca dari belakang.


Tampak Bianca melepaskan pelukan Eddie dan menggertaknya.


"Tutup mulutmu, Brengsek ! Kau juga yang membunuh Anak itu bukan?! Kau mau membuatku gila ya dengan Narkotika pada anak baru itu!" Ujar Bianca sambil menampar pipi Eddie keras.


Eddie yang meringis kesakitan langsung berubah tertawa kencang.


"Hahahaha.....hahahaha..." Tawa Eddie


"My Darling Bianca, Jangan kau lupakan perjanjian kita dan ikuti saja, oke?" lanjutnya lagi.


Bianca yang mendengarnya langsung tersentak dan terdiam. Ia kemudian pasrah ketika Eddie menggandeng tangannya dan mengajaknya pergi dari area sekolah.


. . .


Sementara itu, Adreano dan si Topeng Kelinci yang bersembunyi di area hutan hanya bisa melihat tingkah laku dari Bianca dan Eddie dan hanya dapat mendengar suara tawa keras serta tamparan keras. Adreano menghembuskan nafasnya lega. Ia kemudian melihat keadaan sekitar untuk memastikan aman atau tidak, kemudian kembali menggandeng tangan gadis bertopeng kelinci itu.


Keduanya berlari bersama di bawah sinar bulan menuju taman bunga depan aula. Setelah beberapa menit, keduanya kembali ketempat semula saat mereka pertama bertemu. Adreano menyadari bahwa dirinya telah menggandeng tangan gadis bertopeng kelinci itu dan segera melepaskannya.


"Ah... Maaf " Ucapnya singkat.


Adreano kemudian melepaskan mantel hitam atau outer dari kostumnya dan memakainya ke tubuh gadis bertopeng kelinci itu.


"Hari sudah mulai dingin, lain kali kalau kita bertemu lagi, gunakanlah pakaian yang hangat" Kata Adreano seraya tersenyum.


Hembusan angin malam membelai lembut rambut Adreano yang kemudian terlihat mengkilap karena cahaya bulan. Keduanya dalam keadaan yang sama hingga akhirnya Adreano memutuskan untuk pergi terlebih dahulu, ia berjanji pada gadis bertopeng kelinci itu, bahwa ia tak akan menengok ke arahnya sampai depan pintu masuk aula. Benar saja, ketika sampai di area aula, saat Adreano menoleh kebelakang nya, gadis bertopeng kelinci itu telah lenyap dalam malam. Adreano tersenyum dan kembali masuk ke ruang Aula.


"Lento Con Gran Espressione..." Ucap Adreano pelan.


Lento Con Gran Espressione, dalam bahasa Italia berarti bahwa "Lambat dengan ekspresi hebat", sama seperti tingkah dari gadis bertopeng kelinci itu.


. . .


p.s : Lento Con Gran Espressione juga mengacu pada permainan nada piano dari Chopin - Nocturne No.20, in C Sharp Minor, selebihnya kalian bisa cari dan dengarkan musiknya di Google atau YouTube.