True Colors

True Colors
Cooperating with Him ( 1 )



Waktu berlalu dan sudah saatnya Adreano pergi melihat asramanya. Kala itu, Pukul 3. Joseph Cardia dengan senang hati membantu Adreano untuk mengambil baju seragam. Adreano hanya diantar hingga depan pintu asrama.


Bangunan bagian Barat, ternyata tidak bisa dibilang biasa untuk ukuran asrama. Semuanya tampak berkelas dan luas. Seperti apartemen modern nampak di dalam dan klasik ketika di luar.


Adreano menekan kode untuk membuka kunci pintu.


Teng... Tinggg...


Bunyi nyaring dari digital door lock yang terbuka. Adreano segera membuka pintu, dan membawa kopernya masuk ke dalam. Adreano menaikan salah satu alisnya, dan hanya menghela nafas panjang. Dia merasa bahwa ini seperti bukan asrama pada umumnya apalagi, sebelumnya ia merasakan bagaimana rasanya di asrama militer.


"Pintu sebelah Kiri..." Kata Adreano pelan sambil melihat ke arah pintu yang ada di sebelah kirinya. Adreano menoleh kearah kanan dan melihat pintu lainnya.


Pintu sebelah kanan terdapat papan kayu tergantung dengan guratan warna emas bertuliskan 'Joseph Cardia'. Adreano segera menarik kopernya dan membuka pintu kamarnya. Ia meletakkan ranselnya diatas meja belajar dan mendorong koper besarnya kearah dekat lemari.


"ah... aku masih harus membaca informasi yang ada di amplop coklat itu, sepertinya dia belum kembali" Ucap Adreano sambil pergi keluar kamarnya.


Di dalam asrama tersebut ternyata terdapat dapur kecil dan ruang tamu kecil serta sebuah kamar mandi yang cukup bagus. Cat tembok di asrama ini benar-benar memberikan kesan rapih dan maskulin. Benar- benar sekolah yang luar biasa.


Adreano mengambil gelas dan mengisinya dengan air mineral. Ia kemudian duduk di sofa di ruang tamu yang membelakangi pintu.


Ia meminum segelas air tersebut dan membuka amplop coklat besar itu. Adreano mengeluarkan file berisikan informasi umum tentang Akademi Lydenn. Ia pun membacanya seksama.


'The Lydenn Academia. Sebuah sekolah yang didirikan oleh pemerintah setempat dengan tujuan memberikan pelayanan bagi anak para duta atau konsuler luar negeri. Sekolah ini tak jarang memiliki murid dari berbagai macam negara. Beberapa tahun setelah pembukaan sekolah tersebut, pemerintah setempat mendapatkan donasi besar dari golongan pejabat dan pengusaha terkenal yang membuat nama sekolah itu semakin meroket dan banyak mengalami perubahan. Sekolah tersebut berubah menjadi sekolah swasta bagi orang-orang elite. Sekolah tersebut bahkan banyak memiliki lulusan terbaik dan luar biasa'. Adreano membaca dalam hati.


"Oh, pantas banyak dari mereka yang merupakan anak anak dari pengusaha dari berbagai negara dan pejabat setempat. Aku tahu kenapa Adrianne berusaha masuk ke Akademi ini, dia pasti ingin berteman atau sekedar mencari koneksi supaya keluarga Heinze tidak dipandang sebelah mata oleh dewan setempat" kata Adreano sambil meminum airnya.


"Aku tidak tahu kenapa adikmu berpikiran seperti itu, tapi yang jelas kupikir dia lebih ingin membantu kau. Lagi pula siapa yang akan memandang keluarga kalian sebelah mata? gila ya? hahaha" Kata Joseph yang datang dari arah pintu dan meletakkan paper bag berisi seragam sekolah diatas meja.


Adreano yang kaget mendengar kata-kata Joseph yang tiba-tiba datang tanpa sepengetahuannya langsung terbatuk-batuk karena tersedak air. Joseph yang melihat itu hanya terkekeh kecil dan menepuk punggung Adreano keras, kemudian duduk berhadapan dengan Adreano.


"Arghh... sejak kapan kau disana?!" Kata Adreano meninggikan suaranya.


"Mungkin sejak kau serius sekali membaca file ini" Jawab Joseph sambil menyentuh beberapa file milik Adreano.


Adreano buru-buru mengambil file-file tersebut dari tangan Joseph dengan wajah tidak senang. Joseph hanya pasrah dan menghela nafas sambil menaikan kedua tangannya.


"Hei, katakanlah kau datang kesini dengan membawa niat lain bukan?" Tanya Joseph dengan wajah serius.


Adreano memasang wajah datarnya dan menatap kearahnya Joseph.


"Kalau iya kau mau apa? Melaporkan ku? cobalah!" Jawab Adreano ketus.


"Apa maksud mu? sama-sama mencari sesuatu? Jangan bercanda!" Balas Adreano.


Joseph menyilangkan Kakinya dan benar benar memasang tampang dingin. Dia benar-benar berbeda daripada saat pertama bertemu.


"Nama, Adreano Heinze. Dulu bersekolah di akademi militer di Ibukota. Heinze adalah perusahaan besar dan merupakan perusahaan asuransi. Kakekmu adalah Seorang Jendral di Angkatan Darat. Sementara itu, Pamanmu memiliki usaha galangan kapal yang besar serta gudang dan yang pastinya memiliki hubungan dengan Underground people. Karena, kau satu-satunya keturunan Heinze yang laki-laki, keluarga mu memberikanmu tahta sebagai penerus, tak heran kau bisa mendapatkan informasi sebanyak itu. Karena, hubungan kedekatanmu dengan orang-orang pamanmu. Atau mungkin kau sudah memiliki orang-orang mu sendiri? benar begitu?" Kata Joseph yang menatap Adreano tajam.


Adreano mengernyitkan keningnya dan menahan tinjunya. Ia hampir saja melepas tinju kearah Joseph. Joseph yang melihat itu semakin tertarik memancing amarah Adreano dan hanya tersenyum singkat.


"Adrianne, kematiannya begitu cepat bukan? mungkin karena dia mengetahui sesuatu hal yang harusnya tak ia ketahui" lanjut Joseph sambil tersenyum kearah Adreano.


Adreano langsung menarik kerah baju Joseph yang berada di depannya dan menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Tutup mulutmu itu!" Kata Adreano terdengar marah.


"Whoa whoa... maaf maaf aku tak berniat jadi musuhmu. Aku juga tidak akan membahas adikmu kalau kau tak izinkan. Jadi, tolong lepaskan cengkramanmu. Ohookk... Ohookk kau akan membunuhku." Kata Joseph sambil menepuk-nepuk tangan Adreano yang berada di kerah bajunya.


Adreano, menghembuskan nafasnya dengan berat dan melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Joseph. Ia kembali duduk ke sofa sambil meminum segelas air. Joseph pun mengambil nafas panjang dan duduk lagi berhadapan dengan Adreano. Suasana mendadak hening sejenak.


"Sungguh luar biasa Mr. Cardia bicara seperti itu. Kau sepertinya ingin bekerjasama dengan ku?" Tanya Adreano dengan tampang serius nya.


"Tentu saja, kau tahu? Aku harus menjalin kerjasama dengan orang-orang yang hebat kalau mau lebih diakui oleh ayahku." Jawab Joseph dengan nada santainya.


"Lalu, kau mau mencari apa disini? atau jangan-jangan kau ingin menyerang kakakmu itu ya disini?" Tanya Adreano lagi.


"Ya. Karena dia menyembunyikan banyak hal busuk tanpa diketahui ayahku. Dia menjatuhkan reputasi ku didepan Ayah dan dan sekarang dia berusaha mencampuri hidupku bahkan ingin mengendalikan ku untuk duduk di kursi pemimpin" Jawab Joseph sambil terlihat sedih dan kesal.


"Hemm... Kalau kau mau mengalahkannya berhentilah menjadi cengeng dan asah instingmu. Kau ada bakat" Ucap Adreano sambil berdeham pelan.


Joseph melihat kearah Adreano dan kembali kepada dirinya lagi. Joseph merasa bahwa kata-kata Adreano seperti memberinya semangat untuk maju.


"Bekerjasamalah denganku!" Kata Joseph dengan Penuh Percaya diri sambil mengulurkan tangannya ke ke Adreano.


Adreano melirik kearah uluran tangan Joseph yang menunggu dijabat. Ia kemudian menghembuskan nafas panjang dan kemudian menjabat tangan Joseph sebentar. Joseph terlihat senang dengan hal tersebut.


"Jadi, apa benefitnya kalau kita kerjasama?" Tanya Adreano yang terdengar ogah-ogahan menanyakan hal tersebut kepada Joseph.


"Jadi, ..."


. . .