
Mobil terus bergerak menuju jalanan kota. Hingga akhirnya mobil berhenti di depan sebuah Restoran Jepang di sudut kota. Jalanan kala itu sudah gelap, hanya beberapa lampu jalanan yang setidaknya memberikan penerangan pada jalan.
Mereka pun segera turun dari mobil. Adreano melihat keadaan lingkungan sekitar. Ia mengamati tempat tersebut dengan teliti. Mungkin karena kebiasaannya saat di Akademi Militernya dulu.
Di depan restoran tersebut sudah berdiri penjaga pintu mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan topi hitamnya. Mereka memberikan salam kepada Kim Youngjoo dan membisikan sesuatu ke telinganya. Kemudian mereka dipersilahkan masuk.
Di dalam restoran tersebut sudah berdiri seorang pelayan wanita mengenakan pakaian khas Jepang. Kala itu suasana di dalam restoran tidak terlalu ramai. Pelayan wanita itu membungkuk empat puluh lima derajat tanda memberi salam. Ia kemudian langsung mengantarkan Youngjoo, Adreano, Joseph dan Simon memasuki sebuah ruangan. Pelayan tersebut membuka pintu geser dengan lebar dan membiarkan mereka masuk. Setelah mereka berada di dalam ruangan tersebut Youngjoo memberikan sinyal kepada pelayan wanita itu untuk segera meninggalkan mereka.
"Itsumo no yō ni, arigatō (terimakasih, lakukan seperti biasanya)" Ucap Youngjoo kepada pelayan wanita itu.
Pelayan wanita tersebut mengangguk pelan dan membungkuk tanda hormat kepada mereka semua.
"Hai', wakai masutā (Baiklah, Tuan Muda)" Kata pelayan wanita tersebut dan segera berjalan kearah pintu dan keluar, tak lupa ia menutup pintu tersebut rapat-rapat.
Adreano melihat kearah pintu yang tertutup dan hanya diam. Sementara itu Youngjoo menarik selembar kaligrafi yang tergantung di dinding ruangan tersebut dan memutar Katana (pedang) yang ada di meja depan kaligrafi tersebut. Yang benar saja, yang tadinya hanya kayu biasa kemudian mulai bergeser dan membukakan jalan rahasia.
"Ayo, masuk Adreano, ini adalah pengalaman pertama kau, selanjutnya kau perlu mengingatnya." tukas Youngjoo sambil membetulkan posisi kacamatanya.
"Ah...kemana jalan ini akan menuju?" Tanya Adreano spontan.
"Kau akan tahu sendiri bro! ini merupakan tempat penting hahaha" Joseph menjawab pertanyaan Adreano seraya menggantungkan lengan kanannya ke leher Adreano.
Mereka pun memasuki jalan rahasia tersebut dan menuruni sebuah tangga. Ternyata di dalamnya ada ruangan yang cukup fancy daripada saat memasuki restoran pertama kali. Terdapat empat orang yang nampaknya sudah menunggu kehadiran mereka. Tiga orang perempuan dan seorang laki-laki yang sibuk berkutik dengan laptopnya.
"Hei! hei kalian telat 10 menit tahu?! benar benar menjengkelkan!" Teriak Hyerim yang terlihat kesal karena keterlambatan mereka.
"Kau ya?! baru juga Dateng udah diteriakin sama toa!" Balas Joseph kepada Hyerim.
"Sudahlah kalian berdua tiap ketemu berantem. Pasti ini nanti jodoh ini!" Saut Youngjoo kembali.
"Haaa...Bikin sakit kepala. Duduk lah kalian cepat. Jangan lupa kau kenalkan dirimu anak baru" Tunjuk salah satu wanita yang lebih tinggi dari Hyerim.
Adreano dan Joseph duduk di sofa hitam dan berhadapan dengan seorang anak laki-laki yang sedang sibuk dengan laptopnya. Youngjoo melepaskan mantelnya begitupula Simon, mereka hendak bermain billiard.
Ruangan tersebut merupakan ruangan rahasia yang digunakan oleh beberapa anak kubu Oposisi sekolah atau lebih tepatnya mereka yang lebih memiliki power untuk melakukan diskusi atau apapun. Terdapat satu set meja Sushi lengkap dengan chef-nya, serta kulkas transparan yang berisikan banyak minuman dan Snack. Tak lupa terdapat satu set meja billiard dan terdapat meja yang diatasnya lengkap dengan satu set papan catur dan bidaknya. Sudut ruangannya terdapat sebuah perpustakaan kecil klasik dengan banyak buku di setiap raknya. Lantainya dilapisi dengan karpet berwarna merah legam dan dindingnya dihiasi wallpaper elegan. Terdapat dua sofa hitam dan sebuah meja besar. Dan lampu lampu bergaya klasik menggantung di langit-langitnya. Tak lupa terdapat sebuah lukisan serta kaligrafi khas Jepang. Benar-benar perpaduan menarik era Jepang Westernisasi.
Joseph menyuruh Adreano untuk memperkenalkan dirinya lagi dengan lebih jelas. Adreano pun hanya mengangguk dan mulai memperkenalkan dirinya.
"Salam kenal, Adreano Heinze. Dari Heinze Group" Adreano buru-buru menyudahi kalimatnya.
"Hahaha, kau pria yang memegang prinsip. Perkenalan yang cukup singkat. Tapi sudahlah, gue udah tau juga" Ucap seorang wanita yang duduk di kursi Sushi bar yang membelakangi Adreano dan yang lainnya. Ia tidak berbicara formal.
Yang lainnya mulai fokus kearah Adreano, begitupula anak laki-laki yang tadinya sibuk dengan laptopnya kini mengalihkan perhatiannya kearah Adreano. Saat itu juga Youngjoo dan Simon berhenti bermain billiard .
"Biar ku perkenalkan satu per satu kepada Adreano-san. Kita akan berada di perahu yang sama, jadi lebih baik saling mengenal" kata seorang anak perempuan yang memiliki wajah oriental.
"Kalau begitu mohon diperkenalkan" Kata Adreano dengan sopan sambil sedikit membungkukkan badan memberi tanda hormat.
Anak perempuan tersebut tersenyum hangat dan mulai memperkenalkan dirinya.
Anak perempuan yang berwajah oriental yang memperkenalkan dirinya pertama kali adalah, Oda Amane. Yang kerap disapa Amane. Keluarga Oda merupakan keluarga Jepang yang memiliki bisnis di bagian teknologi dan transportasi terbesar di Jepang serta kawasan Asia Tenggara. Amane memilih pendidikannya di Akademi Lydenn karena tertarik dengan kualitas pendidikannya. Amane berkulit kuning Langsat, mata tidak terlalu sipit, rambut pendek sebahu dan memiliki poni ke samping kanan, tubuh ramping tidak terlalu pendek dan tidak terlalu tinggi. Amane gadis yang memiliki ikatan kuat dengan budaya negaranya. Dia merupakan bagian dari kelas 1-4.
Selanjutnya, Park Hyerim. Merupakan Putri Konglomerat Shimwa Group yang bergerak di bidang farmasi dan produk kecantikan di Korea dan jangkauan pasarnya sudah cukup besar hingga mendunia. Hyerim memilih Akademi Lydenn karena tertarik dengan seragam sekolah dan fashionnya. Dia bagian dari kelas 2-2 dan sekelas dengan Adreano.
Joseph Cardia, putra kedua dari seorang pemimpin gangster di wilayah negara tempat Akademi Lydenn berdiri ini, dengan seorang penari ballet yang merupakan istri keduanya. Joseph memiliki tinggi 182cm dengan rambut pirang pendek tertata rapih dan memiliki mata berwarna biru. Wajahnya selalu ceria dan ia terlihat menyenangkan meski kadang sering berkata santai hingga kasar, namun Joseph anak yang baik. Ia bagian dari kelas 2-2 sekelas dengan Adreano.
Kim Youngjoo, Ibunya merupakan Ketua Komite Sekolah Akademi Lydenn. Ayahnya merupakan sekertariat jendral Organisasi Internasional kerjasama Multilateral. Youngjoo merupakan anak yang pandai dalam ilmu eksakta dan memiliki adik perempuan yang baru duduk di bangku sekolah menengah pertama. Youngjoo memiliki tinggi 178cm dengan kulit kuning langsat. Rambut berwarna hitam, mata yang tidak terlalu sipit dan tidak lebar juga. Memiliki lesung pipi disebelah kanan. Gaya bahasanya lebih ke santai dan hampir sama dengan Joseph karena mereka sering bermain bersama sejak SMP, yang kebetulan satu sekolah pula. Youngjoo terlihat dingin dan kata-katanya terdengar tajam namun ia baik dalam menilai kondisi dan menyikapi suatu permasalahan. Dia merupakan ketua kelas 2-2 yang menjemput Adreano di hari pertama.
Anak laki-laki yang berkutat dengan laptopnya adalah, Harris Widjaja. Seorang Anak pengusaha di Singapura yang memiliki ikatan dengan seseorang terkenal di Indonesia. Keluarga Harris bergerak di bidang perhotelan dan wisata. Meskipun begitu, Harris lebih menyukai Hacking system dan membuat sebuah game daripada mengurus masalah perebutan kekuasaan dengan sepupu-sepupunya. Ia adalah anak jenius dalam IT dan bahasa. Harris merupakan bagian dari kelas 2-5.
Seorang anak perempuan yang lebih terlihat dewasa yang sebelumnya tertawa pada saat perkenalan Adreano itu adalah Wang Jia Rong. Ia memiliki nama lain Catherine. Jia merupakan salah satu anak dari Panglima Militer dari Tiongkok dan masih memiliki ikatan dengan Dinasti Qing. Karena suatu hal Jia harus dikirim ke luar negeri dimana Akademi Lydenn berdiri ini. Sikapnya yang dewasa dan terlihat santai. Ia juga anak yang pemberani. Jia memiliki tubuh yang cukup tinggi untuk seorang perempuan yaitu 170cm. Rambutnya hitam mengkilap, matanya berwarna seperti batu amber. Nampak khas sekali wajahnya cukup oriental dengan mata yang sedikit meruncing di sudutnya. Ia merupakan bagian dari kelas 3-1.
Setelah diperkenalkan satu per satu dengan lebih jelas oleh Amane, Adreano semakin tertarik dengan mereka yang berada di kubu ini. Amane dan Harris kemudian berjalan ke arah meja billiard. Diikuti Jia Rong dan Joseph yang merangkul Adreano.
"Hei, Mr. Heinze Sekarang kau sudah tahu siapa aja kita disini. Bagaimana pendapatmu" kata Hyerim.
"Untuk apa pendapat dari ku?" jawab Adreano cepat.
"Ya, untuk mengetahui keputusan kau. Sebenarnya kau akan berpihak kemana. Tapi gue yakin lu tidak ada niat saat ini untuk berpihak kemana pun." Ucap Jia Rong dengan santainya.
"Ah! Mu-" Belum selesai Adreano menjawab Jia Rong memotong perkataannya.
"Disini tidak ada yang namanya 'Mungkin' apalagi jika diucapkan oleh peluru bebas seperti kau" potong Jia Rong.
"Kalau kau belum sempat terpikir untuk berpihak, seperti yang dikatakan Jia Rong-san kau hanyalah peluru bebas yang akan digunakan oleh kedua belah pihak yang berkonflik, Adreano-san" Ucap Amane menerangkan.
"Aku? Peluru bebas? Apa maksud kalian?" Tanya Adreano dengan tampang serius.
"Saat ini keberadaan kau sendiri sangat diinginkan oleh kedua belah pihak yang berkonflik. Disamping itu, Ibu dari Youngjoo telah merencanakan dirimu untuk diakusisi olehnya. Karena, beliau berpikir akan membuka sesuatu hal menarik dengan meletakkan kau dibawah sayapnya." Jelas Simon kepada Adreano.
"Lah, kalau begitu kalian berusaha meng-akusisi gue dong sekarang?" Tanya Adreano lagi dengan bahasa Informalnya karena panik.
"Ah... Bro! calm calm, Kita ga setamak orang tua kita atau wali kita. Justru kami tertarik dengan keberadaan kau ya, karena Adrianne sebelumnya merupakan teman kami" Kata Harris yang kemudian menepuk-nepuk pundak Adreano tanda menenangkannya.
Adreano sempat terdiam sejenak dan memikirkan suatu hal. Ia harus mengubah rencananya semenjak kedatangannya di Akademi Lydenn. Ia bahkan memikirkan Adrianne yang ternyata sudah mengenal mereka sejak awal.
"Hentikan semua pikiran yang tak berguna itu. Lebih baik kita beritahu dia tentang Akademi Lydenn ini dengan sesungguhnya. Seperti itu kan yang kau mau, Adreano?" Ucap Youngjoo dengan tegas.
"Ya sudah, hentikan bualan yang tak berujung ini. Dan cepat beritahu dia. Dia benar-benar peluru bebas dengan pemikiran tajam..." Balas Jia Rong dengan nada menggertak.
Adreano memandang kearah Jia Rong dengan tatapan dingin. Namun, Jia Rong membalasnya dengan senyuman licik seperti penyihir malam. Adreano merasa dirinya membutuhkan bantuan mereka sehingga ia lebih bersikap lunak terhadap mereka semua.
"Baiklah, Mohon bantuannya. Sebelumnya, maafkan ketidak sopanan saya, Nice to meet you all " Ucap Adreano dengan sopannya.
"Kau sudah menentukan pilihan mu? kau tahu bukan, kau tidak bisa menariknya lagi?" Kata Joseph kepada Adreano.
"Tentu saja, Silahkan gunakan peluru bebas ini hingga kalian merasa bahwa aku tidak berguna lagi" Jawab Adreano dengan percaya diri dan senyuman di bibirnya.
Tak ada yang tahu saat itu yang direncanakan Adreano. Adreano dengan cepat mengubah rencananya dan berusaha menutupinya. Kepandaiannya mengubah rencana berdasarkan peristiwa yang sudah terjadi ini merupakan cara mengambil keputusan yang diajarkan oleh Ayahnya dan Akademi Militernya.
Jia Rong tetap mengamati Adreano dan merasa bahwa Adreano memiliki motif tersendiri. Oleh karena itu, dia mengingatkan yang lainnya untuk berhati-hati lewat sikapnya.
. . .