
Adreano mengeluarkan tas ransel hitamnya dan segera turun dari mobil. Sopirnya telah mengeluarkan satu koper besar yang dibawa Adreano. Adreano mengambil nafas dalam dan menghembuskanya perlahan. Ia menoleh kearah sopirnya tersebut.
"Terimakasih...". Ucap Adreano dan segera menarik kopernya. Sopir itu mengangguk dan memberi hormat kepada Adreano dan bergegas pergi.
Adreano menarik kopernya kearah bangunan besar yang ditengahnya terdapat jam besar dengan kaca patri warna-warni yang cantik. Suasana di Beranda Akademi Lydenn cukup sepi. Adreano memasuki Lobby dan terdapat petugas keamanan yang menjaga setiap pintu absen otomatis.
"Permisi, Ruang Administrasi disebelah mana?". Tanya Adreano kepada salah satu petugas keamanan.
Petugas keamanan itu menoleh kearahnya. Kemudian menjawab,
"Ah, kau pasti murid baru semester ini ya? biar ku tunjukkan ruang administrasinya. Sekolah ini sangat besar jadi akan kuantar"
Adreano hanya mengangguk pelan dengan wajah datarnya. Ia menarik kopernya dan mengikuti sang petugas keamanan yang akan membawanya ke ruang administrasi.
Lorong-lorong bangunan tersebut sangat klasik, terdapat beberapa vas bunga, lampu lampu bergaya Eropa kuno, visi misi sekolah yang terbingkai emas, pameran manekin baju baju seragam dan Layar besar yang menampilkan berbagai macam informasi. Mata Adreano tertuju kepada ubin yang terbuat dari marmer yang mengkilap. Tak terasa mereka sudah berada di depan ruang administrasi.
"Kita sudah sampai. Good luck!". Kata petugas keamanan itu yang melambaikan tangannya ke Adreano dan pergi meninggalkannya.
"Maaf sudah merepotkan, terimakasih". Kata Adreano.
Diketuknya pintu kayu bertuliskan "Administration Room" itu. Terdengar jawaban dari dalamnya.
"Ya! silahkan masuk!"
Adreano membuka pintu dan memasuki ruangan. Ia tak lupa memberi salam. Pandangannya tertuju kearah wanita paruh baya yang mengenakan setelan kerja dan menggunakan kacamata plus. Wanita itu menatap kearahnya sambil mengernyitkan dahinya.
"Mr Heinze, selamat datang di Academy Lydenn. Aku turut berdukacita atas kepergian saudara anda". Kata wanita itu dengan nada sedih.
"Terimakasih Nyonya...Jane". Balas Adreano sambil melihat kearah papan nama yang berada di meja kerja beliau.
"Mr. Heinze, Sekarang anda akan memasuki Semester baru. Saat penilaian masuk ke sekolah ini anda mendapatkan nilai yang cukup tinggi. Kelas yang akan anda tempati adalah, Kelas 2-2. Kamar Asrama anda berada di bagian barat gedung utama, seragam lainnya anda bisa ambil bersama dengan teman se-asrama anda ke bagian perlengkapan. Untuk absen dan akses selama di Akademi ini, Saya harap anda tidak melupakan ID Pass anda." Jelas Nyonya Jane sambil mengeluarkan secarik kertas berisikan perjanjian yang harus ditandatangani dan sebuah ID Pass dengan Card Holder.
"Terimakasih banyak atas penjelasannya, Nyonya Jane." Respon Adreano sambil menandatangani surat perjanjian.
"Ada yang ingin anda tanyakan Mr. Heinze?" Tanya Nyonya Jane.
"Tidak, terimakasih. Sudah cukup jelas" jawab Adreano singkat.
"Baiklah, Sekali lagi selamat datang." Kata Nyonya Jane sambil mengambil kertas perjanjian yang telah ditandatangani Adreano dan mengecapnya denga stampel resmi sekolah.
Adreano mengambil ID Passnya dan mengalungkannya ke leher. Ia memberi hormat kepada Nyonya Jane dan segera meninggalkan ruangan administrasi. Di luar ruangan administrasi ada seseorang yang sudah menunggunya.
Kim Youngjoo, begitulah yang tertulis di name tag silver di seragamnya. Dia berdiri di hadapan Adreano dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Selamat Datang murid baru, Kim Youngjoo, Ketua kelas 2-2" Katanya sambil membenarkan kacamata dengan tangan kirinya.
Adreano menjabat tangannya dengan ramah.
"Adreano Heinze." Jawabnya singkat.
Keduanya pun segera berjalan melewati banyak lorong dan menaiki tangga menuju lantai 2 dimana kelas 2-2 berada. Sepanjang perjalanan menuju kelas, baru terasa bahwa itu adalah sekolah. Karena acara pembukaan semester baru dimulai pukul sembilan limabelas, banyak murid-murid yang bercengkrama di lorong ataupun di dalam kelas. Adreano menarik kopernya dan mengikuti langkah Sang Ketua kelas.
Samar-samar terdengar, murid perempuan yang berbisik-bisik saat melihat Adreano dan Ketua Kelas lewat.
' hey lihat itu! waahh... itu ketua kelas 2-2 dengan anak barunya!! '
' Ternyata itu Kembarannya, Adrianne yang tewas tak jelas itu?! ternyata sama sama visual ya? '
' Hey!! coba lihat itu Kim Youngjoo membawa pangeran lain!! '
Kim Youngjoo hanya membetulkan posisi kacamatanya dan terus berjalan dengan Adreano yang berada disebelahnya. Adreano yang sedikit mendengar bisikan murid-murid di lorong hanya menaikan salah satu alisnya dan menggeleng perlahan.
Perjalanan ke kelas menjadi terasa lambat dan ramai, karena banyak yang penasaran dengan kehadiran Kim Youngjoo dan Adreano. Hingga, tibalah mereka di depan kelas 2-2. Di depan kelas mereka sudah berdiri banyak murid-murid dari kelas lain.
' loh kok, bukan murid kelasan sini, tapi malah kelas tetangga. Emang ada sirkus apa? kayak di alun-alun kota. ' batin Adreano dalam hati.
Kim Youngjoo membuka pintu kelas dan menyuruh Adreano segera masuk. Setelah Adreano masuk ke kelas, Kim Youngjoo langsung menutup pintu kelas dengan keras. Hal tersebut membuat anak-anak yang berada di dalam kelas terkejut dan menoleh kearah papan tulis berada. Salah satu dari mereka berteriak.
Youngjoo hanya meliriknya dan tak merespon teriakan tersebut. Ia mengambil kapur dan menuliskan nama Adreano. Adreano melihatnya menuliskan namanya. Untuk seorang laki-laki tulisannya sangat rapih. Adreano mengangguk pelan. Youngjoo melirik kearah Adreano yang membuat Adreano tersentak kaget. Youngjoo tersenyum singkat dan menepuk punggung Adreano pelan.
"Ya, semuanya Perhatian! Karena guru wali kelas kita gak datang hari ini, jadinya tugas saya disini memperkenalkan anak baru" Teriakan Youngjoo terdengar sepenjuru kelas.
"Hai, Selamat Pagi. Adreano Heinze." Kata Adreano singkat jelas padat mantap.
Seluruh kelas menoleh kearah Adreano dengan salam kenalnya yang singkat itu. Mereka bersorak dan membalas salam kenalnya itu. Setelah itu keadaan kelas kembali ke seperti awal lagi. Ada yang bercengkrama, ada yang ngambis , ada yang Mabar, ada yang tidur, ada yang makan, ada yang sibuk membenahi pakaian dan lainnya. Adreano melihat kearah kursi kosong baris kedua dari belakang dekat jendela.
"Welcome bro, kau bisa tempati kursi kosong itu." Kata Youngjoo sambil meninggalkan Adreano dan kembali ke tempat duduknya.
Adreano menarik kopernya dan meletakkannya di sudut ruangan paling belakang. Ia menempati kursi kosong itu dan segera melepaskan baret dan mantelnya. Tak lupa dia merapihkan sebentar pakaiannya kemudian meletakkan tasnya di atas meja. Baru sedetik ia meletakkan tasnya, Seorang gadis berambut hitam legam yang di potong shaggy itu membalikkan kursinya dan menghadap Adreano, hal itu membuat Adreano heran.
"Annyeong! (halo). Namaku Park Hyerim. Selanjutnya kita akan berteman ya!" seru gadis itu sambil menyodorkan tangannya.
"halo... .Adreano." Jawab Adreano singkat lagi.
Hyerim mengernyitkan keningnya dan berbicara lagi.
"Kau tahu aku kan? kita pernah bertemu dulu kecil saat pesta perayaan cabang baru perusahaan farmasi kami." Tanya Hyerim.
Belum sempat menjawabnya. Seseorang Berpostur tinggi dan berambut pirang datang dan menjawabi pertanyaan Hyerim.
"Sudahlah, Hyerim jangan memaksa seseorang untuk mengingat mu seperti itu" Katanya dengan nada mengejek.
"Diam kau, Mr. Cardia!!" seru Hyerim sambil mengayunkan tinju kearah lelaki berambut pirang itu. Adreano segera menahannya karena reflek.
"Ah... maaf" ucap Adreano sambil melepaskan kepalan tangan Hyerim dengan cepat.
Melihat keadaan itu laki-laki berambut pirang itu tertawa dan membuat Hyerim merah seperti tomat karena malu.
"Thanks bro, I'm Joseph Cardia! My mom's france and my dad's British. And this is I am! nice catch! (Terimakasih bro, namaku Joseph Cardia! Ibuku orang Perancis dan ayahku orang Inggris. dan inilah aku. Tangkapan yang bagus)". Katanya sambil merangkul pundak Adreano.
"Yeah, Nice to meet you" . Ucap Adreano singkat. Ia membiarkan Joseph merangkul pundaknya.
Hyerim malu dan pergi keluar kelas bersama dengan anak perempuan lainnya. Joseph kembali tertawa dan bertanya kepada Adreano.
"Jadi, dimana kau akan menetap. Di Asrama bagian mana nih?" tanya Joseph.
"Bagian Barat" jawab Adreano.
"Seriusan bagian Barat?" tanyanya lagi.
"iya serius." balas Adreano.
"Widih, kita satu kamar bro!" seru Joseph kegirangan.
Adreano yang heran hanya mengernyitkan dahinya.
' Astaga, demi apa ini Tuhan, sama orang macem dia. Semoga aja ni anak bisa diajak kompromi. ' Batin Adreano.
Joseph ternyata duduk dibelakang Adreano. Ia kembali ketempat duduknya dan melihat kearah koper milik Adreano, yang diletakkan dekat dengan kursinya.
"Sedikit juga bawaan mu" ucap Joseph sambil memutar-mutar kopernya.
"Ya gitu" balas Adreano sambil mengintip kearah tas ranselnya.
Adreano mengecek amplop coklat besar itu agar tidak terlipat-lipat. Setelah itu pandangannya tertuju keluar jendela. Pemandangannya memang cukup bagus dari tempat duduknya. Adreano melirik jam tangannya. Sembilan limabelas.
Saatnya Upacara pembukaan Semester Baru.
Pengumuman dari pengeras suara memerintahkan semua murid untuk pergi ke Hall of Lydenn dan segera menempati kursi dengan rombongan kelasnya. Joseph mengajak Adreano berjalan bersama menuju Hall of Lydenn sambil bercerita tentang dirinya, namun Adreano hanya menyimaknya sepanjang perjalanan menuju kesana.
. . .