True Colors

True Colors
Snowy Day



Angin dingin berhembus perlahan dengan suhu udara yang semakin menurun. Dahan pohon tak lagi memiliki hijaunya daun, berdiri kokoh meski berada di dinginnya udara, berdiri kokoh tertutup oleh putihnya salju. Salju turun perlahan dari langit, jatuh ke ke bumi dengan lembut membelai bumi. Jalanan kota tertutup putihnya salju, begitupula banyak bangunan.


Matahari malu menampakkan dirinya. Suhu udara semakin menurun, rasanya ingin bermalas-malasan, meringkuk di dalam selimut di depan perapian sambil ditemani minuman hangat. Cerobong asap mulai mengepul satu persatu dari banyaknya bangunan di tanah negeri itu. Setiap keluarga berkumpul bersama di rumahnya dengan kehangatan dan keceriaan.


Tak semua orang bersukacita, tak semua orang merasakan kehangatan. Di sisi lain kehidupan yang begitu kejam, mereka yang tak bisa merasakannya akan terasingkan dan berpikiran berbeda. Mereka hanya berpikir sederhana,


"Bagaimana caranya agar cerobong asap rumahku tetap mengepul?"


Mereka hanya memikirkan bagaimana melewati dinginnya udara dan bagaimana bertahan hidup untuk esok. Mereka membutuhkan uluran tangan, namun bukan untuk di rendahkan dan di manfaatkan. Mereka kesulitan pun bukan pilihannya saat terlahir, mereka hanya yang paling keras dalam menjalankan takdir yang telah digariskan untuk mereka. Terlahir merupakan anugerah, dengan nasib yang berbeda-beda membuat manusia belajar untuk bersimpati maupun berempati. Tak hanya itu, tapi juga membuat manusia berekspresi dan tetap bersyukur dalam keadaan apapun.


Melihat keadaan di sekitarnya, Seorang pemuda bekerja keras untuk mengubah nasibnya dan orang disekitarnya. Ia bertekad akan menjadi seorang anggota dewan yang menyuarakan aspirasi rakyat. Ia bekerja dengan jujur, penuh arti dan tanggung jawab.


Bertahun-tahun sudah di lewati oleh si Pemuda itu. Kini ia menggunakan lencana anggota dewan di dadanya. Ia berhasil mencapai setengah jalan dari cita-citanya. Banyak rintangan yang harus ia tempuh dalam menjalankan tugasnya. Ia selalu percaya bahwa, di dunia ini masih banyak dari mereka yang baik. Memang terdengar naif, namun itu suatu hal yang setidaknya perlu di tanamkan dalam hati dan pikirannya. Setelah itu, cita-citanya di turunkan ke anak-anaknya. Ia mengajarkan anak-anaknya untuk tetap percaya pada dirinya dan tidak takut dalam mengambil keputusan menyangkut kepentingan banyak orang.


. . .


Seorang pria paruh baya menatap kearah luar jendela. Dibalik kacamatanya, pandangan matanya tampak gelisah dan lelah. Ia perlahan menghembuskan nafasnya perlahan yang menghasilkan uap di udara.


Seorang wanita masuk ke ruang baca miliknya. Ia membawa selimut ditangannya dan berjalan mendekati pria paruh baya itu,


"Ayah, hari semakin dingin" Ucap wanita itu sambil tersenyum lembut sambil meletakkan selimut hangat di pundaknya.


"Iya, hari semakin dingin. Aku harap cerobong asap di rumah-rumah menyala, dan mereka memiliki cukup makanan dan selimut untuk keluarganya..." Ucap pria paruh baya itu yang kemudian berjalan pelan menuju kursi kerjanya.


Wanita itu nampak khawatir, ia memperhatikan ayahnya itu dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang.


"Ayah, Simon berhasil dalam ujiannya, aku mengiriminya sesuatu untuk menghadiahinya" Ucap wanita itu yang kemudian duduk di sofa di depan meja kerja ayahnya.


"Dia bukan anak kecil lagi, Joy. Untuk apa kau melakukannya" Ujar sang ayah kepada putranya itu.


"Aku tahu, tapi dimataku dia tetaplah Adik kecilku..." Balas Joy sambil tersenyum.


Mr. Howard meminum teh hangat yang ada di mejanya. Kemudian, ia bertanya lagi kepada putrinya,


"Kapan dia kembali?" Tanyanya singkat.


"Ah, Simon akan kembali seusai acara festival olahraga musim dingin. Dia hebat dalam bermain Ice hockey, dia akan bermain kali ini. Aku yakin dia sibuk mempersiapkan dirinya" Jawab Joy kepada Ayahnya.


Mr. Howard hanya mengangguk tanda paham. Ia kemudian meminum tehnya lagi dan tersenyum tulus. Ia terlihat senang mendengar kabar tentang putranya itu.


"Bagaimana temannya?" Tanya Mr. Howard kepada Joy.


"Simon bilang dia bertemu dengan Adreano Heinze. Dia bilang keduanya cukup akrab, tampaknya Adreano merupakan kembaran dari Adrianne Heinze" Jelas Joy kepada sang Ayah.


"Heinze..." gumam Mr. Howard.


Joy mengalihkan pandangannya kearah jendela dan berjalan mendekati bingkai jendela, kemudian meletakkannya jari jemari nya di kaca jendela. Pandangannya tertuju pada jalanan di depan Mansion yang tertutup salju tebal.


"Aku harap Simon makan dan tidur dengan baik. Tak memikirkan hal sulit dan belajar dengan baik..." Ucap Joy pelan.


. . .


Akademi Lydenn di musim dingin memiliki jam belajar mengajar yang lebih singkat. Karena sudah melaksanakan ujian dan kondisi cuaca yang cukup ekstrem, Akademi membuat jamnya lebih singkat. Mereka akan pulang pukul satu siang. Udara yang dingin membuat murid serta guru-guru kehilangan semangat semenjak pagi hari. Banyak guru yang memerintahkan muridnya untuk belajar mandiri.


Suasana koridor tampak lebih hidup di musim dingin. Semuanya mengenakan pakaian seragam musim dingin dan mantel hangat. Pemanas ruangan tampaknya tetap tidak dapat melawan dinginnya udara di musim dingin.


"bbrrrrr... dingin banget tahun ini!" seru Joseph sambil mendekap erat jaketnya.


"Hah... iya tahun ini. Gimana mau menjalankan festival olahraga musim dingin kalau dinginnya udah bikin males" lanjut Youngjoo.


Adreano hanya tersenyum kecil dan menghembuskan nafasnya, uap muncul di udara. Ia kemudian mengenakan sarung tangan hitamnya,


"Tahun ini terasa seperti berada di pos penjagaan Utara..." Ucap Adreano.


"Sedingin itu kah? Berapa lama kau berada di sana, Adreano?" Tanya Youngjoo.


Adreano menampilkan ekspresi wajah berpikir dan menjawab Youngjoo sambil menaikan sebelah alisnya,


"Mungkin... Tiga bulan lebih" Jawabnya serius.


"Hah?! lama banget! Ah! aku rasa, aku akan pulang duluan dan berhenti jadi tentara..." Ujar Joseph sambil menggigil kedinginan


"Hahaha, itu sebabnya mereka di militer tidak menerima orang yang setengah-setengah seperti dirimu, bodoh!" Ungkap Youngjoo sambil tertawa kecil.


Joseph yang mendengar itu kemudian memukul keras punggung Youngjoo, kemudian keduanya terlibat dalam perdebatan. Adreano yang berada di antara keduanya berusaha menenangkan dan terlihat pasrah. Beberapa saat kemudian, pintu belakang kelas terbuka pelan dan menampilkan sesosok tinggi Simon dengan pakaian tim hoki esnya.


"Ngapain kau ke kelas ini dengan pakaian begitu? " tanya Youngjoo pada Simon yang kemudian tak menghiraukan Joseph lagi.


"Ah! Ini... Salah satu anggota tim kami mengalami cedera patah dalam latihan lalu kami-" Belum selesai Simon menjelaskan, Joseph memotong pembicaraannya.


"Ya! Benar sekali, Joseph!" Seru Simon dengan muka berharap.


"Skip" Ucap singkat dari mulut Youngjoo.


"Sama kayak anak kacamata ini " Lanjut Joseph.


Simon yang mendengarnya langsung menampilkan raut wajah sedih dan kecewa, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Adreano yang hanya duduk diam di dekat Joseph dan Youngjoo.


"Kenapa?" Tanya Adreano heran.


Tanpa basa-basi lagi, Simon menyeret tubuh Adreano dengan paksa dan berusaha meninggalkan area kelas. Adreano yang panik melontarkan tatapan tajam kearah Joseph dan Youngjoo yang melambai kepadanya.


Simon benar-benar membawa Adreano pergi ke tempat para tim hoki es sedang berlatih. Lokasinya berada di Area sekolah, tempat khusus seperti area gedung olahraga indoor namun memiliki area bermain es. Adreano memperhatikan sekelilingnya dan melihat beberapa murid laki-laki yang mengenakan seragam sama seperti Simon sedang sibuk berada di arena es.


"Simon, kau seenaknya lagi menyeretku" Ucap Adreano dengan wajah datarnya.


"Maafkan aku Adreano kali ini tolong bantu Aku. Tidak, tolong bantu tim ini. Festival olahraga musim dingin sebentar lagi" Pinta Simon kepada Adreano.


"Aku tak bisa se-profesional kalian, tapi aku akan berusaha" Balas Adreano.


Simon kemudian mengambil seragam, sepatu skating, dan tongkat hoki yang berada di dekatnya, kemudian memberikannya ke Adreano.


"Pakai ini dan temui aku di arena es" ucapnya yang kemudian segera memasuki arena es dan mengobrol dengan rekan tim lainnya.


Adreano menatap kearah seragam itu dan kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang ganti. Ia segera mengganti pakaian seragamnya dengan perlengkapan permainan hoki. Dia melepaskan sepatunya lalu, setelah selesai mengganti pakaiannya dia meletakkan seragamnya di salah satu loker. Ia berjalan dengan membawa stik hoki dan sepasang sepatu skating dan memanggil Simon di arena es,


"Simon!" Serunya.


Simon yang melihat itu langsung melesat menuju pinggir arena es. Rupanya seruan Adreano membuat latihan terhenti, pandangan seluruh tim menuju kearahnya.


"Kau sudah berganti? Pakai sepatumu dan masuk ke arena!" Ucap Simon semangat.


Adreano mengangguk dan mengenakan sepatu skating lalu meluncur perlahan di atas arena es. Ia mampu berdiri tegak dan mengendalikan langkahnya di atas tumpuan Blade sepatu skating nya itu. Adreano berdiri di samping Simon dan memasang helm di kepalanya.


"Wah, kau ternyata bisa mengendalikannya?" Ucap Simon sambil merangkul pundak Adreano.


"Aku membantumu, aku ingin kau membalasnya kali ini, karena kau membawaku terpaksa" Ujar Adreano dengan tatapan tajam matanya ke arah Simon.


"Baiklah tenang saja, aku akan membayarnya setelah permainanmu di tim, Adreano" Ucap Simon sambil tersenyum hangat di balik helm pelindungnya.


Adreano mendengarkan segala penjelasan singkat dan perturan main dari Simon. Kemudian, Simon memperkenalkan Adreano kepada rekan timnya. Adreano nampaknya mulai berbaur dengan mereka. Tak lama dari itu, mereka memulai latihannya kembali dengan Adreano sebagai salah satu anggota tim mereka.


Sejam lebih telah berlalu, kala itu waktu terasa cepat di musim dingin. Sudah waktunya untuk pulang ke asrama. Seluruh kegiatan latihan dihentikan dan semuanya berhenti dari kegiatan lalu bergegas menuju asrama. Tim Hoki es Simon masih berkumpul bersama di ruang ganti. Mereka membahas permainan hoki Adreano,


"Ketua tim hebat sekali bisa menemukan orang seperti Adreano!" Puji seorang anggota tim.


"Kau benar, dengan adanya Adreano kita benar-benar tertolong! empat hari festival akan segera dimulai" Lanjut Anggota tim lainnya.


Simon yang mendengar itu kemudian berjalan mendekati anggota timnya bersama Adreano di sisinya. Keduanya telah rapih mengganti pakaiannya ke seragam musim dingin akademi.


"Kawanku hebat bukan? Sudah kubilang akan kucari penggantinya secepatnya!" Ucap Simon yang tampak senang.


Adreano hanya diam dan tersenyum kearah anggota tim yang membicarakannya. Ia kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu keluar ruang ganti. Simon kemudian berpamitan dengan anggota tim lainnya dan menyusul Adreano yang sedang berjalan keluar dari tempat latihan, aula olahraga musim dingin.


"Adreano tunggu!" Teriak Simon yang setengah berlari mengejar Adreano.


Adreano membuka pintu dan keluar, begitupula Simon.


"Hei, terimakasih untuk hari ini" Ucap Simon sambil menepuk pelan pundak kanan Adreano.


"Sama-sama" Balas Adreano singkat.


Keduanya berjalan dalam diam dan terus berjalan menuju keluar pintu gerbang sekolah. Simon yang canggung hanya dia menatap punggung Adreano yang jalan di depannya.


"Kau tampak lebih hidup saat bersama anggota tim mu..." Ucap Adreano yang memecahkan perasaan canggung keduanya.


"Tentu saja, mereka tim ku. Aku benar-benar menyukai ice hockey sejak di sekolah menengah pertama" Jawabnya yang kemudian mendekati Adreano dan berjalan sejajar dengannya.


"Tak heran kau kapten tim yang disegani" Kata Adreano.


"Terimakasih pujiannya" Balas Simon.


Keduanya berjalan melewati taman-taman dan menuju ke area asrama. Tampak sebuah mobil sedan hitam terparkir di halaman depannya. Seorang perempuan mengenakan mantel hangat berwarna merah tua dipayungi oleh seorang pelayannya, ia sembari membawa koper jinjing ditangannya. Gadis itu tampak familier, rupanya itu adalah Jia Rong.


Simon yang melihatnya langsung segera berlari menuju kearah Jia dan menyuruh Adreano untuk masuk ke dalam gedung asramanya terlebih dahulu. Adreano menuruti perkataan Simon, namun ia memandangi Simon yang berlari menuju Jia Rong. Keduanya tampak membicarakan sesuatu. Adreano memutuskan untuk tidak ikut campur dalam urusan keduanya dan pergi masuk ke gedung asramanya.


. . .