
[ Musim dingin tahun lalu ]
Seorang gadis menatap jalanan dingin di hadapannya. Gadis itu mengenakan pakaian tebal dengan sepatu boots dan sepasang sarung tangan membalut tangannya. Ia membawa koper jinjing beratnya perlahan menyusuri jalan.
Gadis itu menundukkan kepalanya. Salju perlahan turun dan berjatuhan mengenai tubuhnya. Rambut hitam legamnya yang tertutup topi barett itu tampak lurus tergerai, hingga angin musim dingin menerbangkan beberapa helai rambutnya. Gadis itu tampak menitikkan air matanya. Ia terus berjalan dengan pelan di jalanan dingin itu.
Tangis gadis itu terdengar pelan. Air matanya membasahi pipinya, mulutnya bergetar dan nafasnya tidak teratur. Gadis itu menghentikan langkahnya di depan sebuah bangunan. Ia kemudian menatap ke arah bangunan besar yang tertutup salju putih. Tangisnya kemudian berhenti. Ia mengusap perlahan wajahnya dan berjalan di sepanjang jalan menuju bangunan tersebut.
Angin musim dingin yang bertiup cukup kencang menerbangkan topi Barrett milik gadis itu. Gadis itu tampak panik dan berusaha mengejar dan menangkap topinya. Kemudian seorang pemuda yang lebih tinggi darinya berdiri di hadapannya sambil tersenyum hangat memberikan topi. Gadis itu tampak terkejut dengan mata memerah sehabis menangis.
"Ini milikmu, bukan?" Ucap Pemuda itu.
Gadis itu hanya terdiam dan mengambil topinya dari tangan pemuda itu, seraya mengangguk,
"Terimakasih..." Ucap gadis itu pelan dan berusaha jalan meninggalkan pemuda itu.
Pemuda itu memandangi gadis itu yang berjalan menjauhi dirinya. Ia kemudian berjalan cepat kearahnya. Dan berada sejajar dengan gadis itu.
"Apa kau murid baru?" Ucap Pemuda itu kepada gadis yang berada disebelahnya.
"...Bukan" Balas Gadis itu pelan sambil berusaha menahan tangisnya.
"Ah! Maafkan aku... Jadi, kau di kelas mana?" Tanya pemuda itu lagi.
Gadis itu hanya terdiam dan berjalan cepat meninggalkan pemuda itu, tapi pemuda itu menggapai lengan sang gadis, kemudian gadis itu menatap kearah mata sang pemuda. Mata gadis itu berkaca-kaca, pemuda itu terkejut dan melepaskan genggamannya.
"Tunggu... Cuaca dingin, setidaknya balut lehermu agar tidak kedinginan" Ucap pemuda itu yang memalingkan wajahnya kearah syal yang ada di lehernya yang kemudian melepaskan syal merah dari lehernya.
Pemuda itu pura-pura tidak melihat wajah seorang gadis yang menahan tangisnya. Ia kemudian mengalungkan syal merahnya ke leher sang gadis di hadapannya seraya berkata,
"Jadilah orang yang kuat. Jangan menangis lagi dan makan yang cukup serta istirahat yang baik... Pulihlah!" Ucap Pemuda itu sambil mengikatkan simpul syal di leher hadis itu dan kemudian tersenyum.
Gadis itu hanya terdiam dan mendengarkan kata-kata sang pemuda. Ia membiarkan pemuda itu memakaikannya syal merah itu. Pemuda itu kemudian memasangkan topi barett itu perlahan ke kepala gadis itu dan tersenyum hangat kearah gadis yang ada di depannya. Pemuda itu kemudian membalikkan badannya dan melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan gadis itu yang sudah berada di pelataran bangunan besar tadi.
Gadis itu tampak tenang dan melihat kearah pemuda itu yang berjalan meninggalkannya. Ia menarik syal merah perlahan dan menutupi setengah bagian wajahnya. Di balik syal merah itu seorang gadis tersenyum dengan tatapan hangat.
Gadis itu berjalan masuk ke area dalam bangunan besar tadi, itu adalah bangunan asrama sebelah timur dari Akademi Lyndenn. Gadis itu bernama Wang Jia Rong yang saat itu menempati kelas 2-2, ia baru saja pulang dari negerinya karena kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan.
Wang Jia Rong kala itu benar-benar hancur. Ditambah lagi, pamannya yang nampak sudah merencanakan semua hal itu agar terjadi. Pamannya berusaha mengambil seluruh aset keluarganya Jia Rong dengan memanfaatkan sebagai wali dari Jia Rong. Kemudian, setelah pemakaman itu berlangsung, Jia Rong terpaksa harus bertunangan dengan seseorang yang tak diinginkan olehnya. Pernikahan sesungguhnya akan terjadi setelah Jia Rong memiliki umur yang legal untuk menikah.
Jia Rong berniat mengakhiri hidupnya setelah kembali ke Akademi Lydenn. Namun, Tuhan sepertinya mendengar doa kedua orang tuanya, dan mengirimkan seorang pemuda bernama Simon Howard di kala turunnya salju. Seorang pemuda itulah yang membuat Jia Rong tak kehilangan kesempatan hidupnya yang telah diberikan Tuhan. Seseorang bernama Simon Howard itulah yang membuatnya berubah.
Dengan kata-kata dari Simon dan syal merah di lehernya pada hari itu, Jia Rong berterimakasih kepadanya. Dan berteman baik dengannya. Begitupula dengan Simon yang kemudian mengenal sesosok Wang Jia Rong dengan baik dan memberikan perhatian khusus padanya.
. . .
Tahun berikutnya, masih di tempat yang sama, dengan musim yang sama, dengan gadis dan pemuda yang sama saling berhadapan. Salju turun perlahan dari langit. Gadis itu tersenyum ke arah pemuda yang setahun lalu menyelamatkannya. Menggandeng tangan pemuda itu dan berjalan menuju tempat pertemuan mereka pertama kali. Sesampainya di tempat itu, sang gadis melihat kearah pemuda itu dengan senyuman hangat di wajahnya. Gadis itu mengenakan syal merah di lehernya.
"Maafkan aku, Simon" Ucapnya.
Pemuda itu kemudian memegang kedua tangan gadis itu dan menatap kearah mata gadis yang ada didepannya.
"Kak, kau benar-benar pergi?" Balas Simon dengan raut wajah khawatir.
"Iya, Terimakasih sudah menyelamatkan aku hari itu, Howard..." Ucap Gadis bernama Jia Rong itu.
Simon mengeratkan genggamannya pada Jia.
"Jangan pergi, kumohon..." Kata Simon dengan nada bergetar.
Kemudian Jia Rong melepaskan genggaman tangan Simon dari kedua lengannya dan mendorongnya mundur. Ia kemudian merogoh ke dalam syalnya dan melepaskan sebuah kalung dengan liontin perak bertahta batu amber. Dibalik liontin tersebut terukir tulisan "Catherine 王家荣 ". Jia memberikan kalungnya ke telapak tangan Simon dan membuat jari Simon menggenggamnya erat.
"Hei Simon, Kau tahu? apa arti namaku?" Ucap Jia sembari memegang tangan Simon lembut.
Simon kemudian hanya menggelengkan kepalanya dan tetap diam, ia memperhatikan tangan Jia yang meletakkan kalung di tangan kanannya.
"Wang (王) adalah marga kami, yang artinya Raja, Jiā (家) yang berarti rumah, dan Rong (荣) yang diambil dari kata Róngyù (荣誉) yang artinya kehormatan. Orang tua ku menginginkan aku menjadi seseorang yang dapat mengatur dan mempertahankan rumahnya atau tanah air nya dengan penuh kehormatan" Setelah menjelaskan hal itu Jia hanya tertawa kecil.
Simon tetap terlihat sedih dan mendengarkan kata-kata Jia dengan seksama.
"Kau tahu? Kenapa keluarga ku, menamai putrinya dengan nama itu?" Tanya Jia lagi.
"Karena kehormatan keluargamu?" Jawab Simon pelan.
Jia Rong tersenyum,
"Ya, Meskipun Kaisar telah turun tahta. Tetap saja, darahnya masih mengalir didalam diri kami. Tapi, aku pikir namaku mengandung arti lain..." Jelas Jia.
"Apa itu?" Tanya Simon pada Jia yang melihat kearah wajahnya.
"Aku berpikir bahwa arti namaku adalah untuk mempertahankan apa yang telah menjadi 'rumah' bagiku. Dimana aku terlahir, dimana aku dibesarkan dan dimana orang tuaku berada. Itu sebabnya aku mengikuti takdirku dan kembali ke 'rumah' ku, Simon" Ucap Jia terdengar meyakinkan.
"Haruskah kau kembali, Jia?" Ungkap Simon.
Kali ini posisi keduanya berbeda dari saat mereka bertemu pertama kali. Jia berada di posisi dimana Simon meninggalkannya hari itu, dan Simon berdiri di posisi Jia pada hari itu.
"Tentu saja sama, tapi bukankah berbeda? Aku tak ada di sisimu..." Ucap Simon.
Jia mengambil langkah mundur lagi dan tersenyum hangat kearah Simon seraya menggelengkan kepalanya.
"Tidak... Hari itu bersalju, Tuhan mengirimkan seorang pemuda baik hati untukku. Terkadang bukan masalah orangnya berada disisi kita atau tidak, tapi kenangan yang membuat semuanya terlihat sama maupun berbeda. Dan aku menganggapnya sama, Simon. Tak peduli mau kau ada di sisiku atau tidak, selama salju abadi adanya dan memiliki putih yang sama di dunia ini, dirimu akan selalu ku ingat..." Ucap Jia dengan keceriaan di wajahnya.
Simon melangkahkan kakinya pelan mendekati Jia Rong dan segera memeluknya.
"Terimakasih banyak, Simon Howard..." Kata Jia Rong pelan sembari membalas pelukan Simon.
Simon melepaskan pelukannya dan menatap kearah mata Jia Rong,
"Aku harap kau bahagia, Jia Rong..." Ucapnya kemudian.
Jia menggenggam tangan Simon dan tersenyum hangat,
"Terimakasih sudah mengetahui diriku yang asli, kau temanku yang paling aku hargai..." Ucapnya yang kemudian meletakkan kedua tangannya di pipi Simon dan kemudian berjinjit mencium sebentar bibir Simon. Kemudian ia tersenyum dan melepaskan Simon.
Simon terdiam dan terlihat sedih, ia melihat Jia Rong yang pergi meninggalkannya. Jia Rong membalikkan tubuhnya seraya melambaikan tangannya, kemudian perlahan berjalan pergi menjauhi Simon. Melihat hal itu Simon berjalan pelan mengikuti Jia Rong, ia berjalan jauh dibelakang Jia.
Tak terasa mereka kembali ke tempat dimana mobil sedan hitam yang akan membawa Jia Rong pergi berada. Simon hanya melihat dari kejauhan, tampak seorang laki-laki tinggi lebih dewasa darinya mengenakan setelan jas hitam berdiri memegang payung hitam besar dan tampak menunggu Jia Rong. Kemudian, Jia berjalan cepat kearahnya dan memeluk laki-laki itu. Keduanya berpelukan, setelahnya Jia masuk kedalam mobil sedan hitam itu.
Simon yang melihatnya dari kejauhan hanya bisa diam. Kemudian laki-laki tinggi itu menutup payung hitamnya. Nampaknya Matanya bertemu dengan tatapan mata Simon. Kemudian, laki-laki itu membungkukkan badannya empat puluh lima derajat kearah Simon seperti mengucapkan tanda hormat, terimakasih dan salam perpisahan. Kemudian laki-laki itu menaiki mobilnya. Mobil sedan hitam itu mulai jalan di jalanan bersalju yang meninggalkan bekas roda. Simon berdiri melihat mobil itu melaju cepat meninggalkan area asrama Akademi Lydenn.
. . .
[ Di dalam Mobil ]
Jia Rong melihat sesosok tinggi Simon perlahan menghilang dari kaca belakang mobil. Mobilnya terus berjalan meninggalkan area Akademi Lydenn. Jia Rong menghela nafasnya dan laki-laki yang duduk di sebelahnya mendekapnya dan membelai rambut panjangnya perlahan.
"Semuanya sudah berakhir dan terimakasih atas keputusanmu, My Wife..." Ucap laki-laki itu pelan.
Jia Rong hanya menyembunyikan wajahnya di dada bidang calon suaminya itu.
'Terimakasih, selamat tinggal... Cinta pertamaku, Simon Howard '
Mobil terus bergerak meninggalkan Kawasan Akademi Lydenn. Melewati hutan yang pohonnya tertutup salju putih. Jalanan dingin dan licin. Danau Swansale yang dingin berlapis es dipermukaan nya terlihat sepi. Mobil berjalan terus hingga akhirnya menuju jalanan kota. Kepergian Wang Jia Rong dari Akademi Lydenn kala itu bersamaan dengan turunnya salju-salju lembut dari langit.
. . .
..........
...The unchanging days have passed...
...変わらない月日が過ぎ去った事...
...Even yesterday I stumbled upon something I drew and cried...
...描いた何かに躓いて泣いた昨日も...
...I love you...
...愛しく思えて...
...Gently wrap it up...
...優しく包み込んでゆく...
...The everlasting now...
...Looking up at the night sky...
...夜空見上げ...
...Stop when you hurt each other...
...傷つけあった時を止めて...
...Someone is by my side because I'm not alone...
...一人じゃないよって 誰かがそばで...
.............
.
🎶Aimer - Everlasting Snow
. . .