
Setelan jas berwarna biru tua, sepatu kulit berwarna coklat muda dan sebuah topeng abu-abu menutupi sebagian wajahku. Pesta terlihat ramai dan banyak orang yang berdatangan. Area Indoor pesta serta lantai dansa yang tidak ada sepinya. Tampak dari area Outdoor Ku lihat Adreano sedang berkeliling, sementara Joseph dan Aku berada di area indoor pesta mendengar arahan dari Youngjoo.
"Simon kau coba perhatikan para pelayan yang berlalu-lalang, mungkin kau akan menemukan anak itu." Jelas Youngjoo dari alat komunikasi yang ku gunakan.
"Kenapa? kau sudah berhasil meretas kamera di area Penthouse ini?" Tanyaku pada Youngjoo dengan suara sedikit pelan.
"Tentu saja! Tinggalkan si Joseph dan coba cara menuju lorong kamar istirahat!" Perintah Youngjoo dari alat komunikasi.
"Biar aku lihat dulu, banyak penjaga yang berada di sekitar area lorong..." Ucapku sambil melihat ke arah area lorong kamar istirahat.
"Kalau begitu tunggu dan cari anak yang memasukkan Sabu kedalam tas Adreano, aku yakin dia datang kembali mencari tuannya." Ucap Youngjoo yang kemudian memutuskan kontak komunikasi denganku.
Joseph nampak bahagia diantara banyak makanan, dia makan banyak sekali. Ia berkeliling dan banyak gadis-gadis yang mendekatinya. Aku membiarkan itu, karena siapa tahu dia mendapatkan petunjuk.
Pandanganku menuju kearah Adreano, Aku pikir aku bisa mengobrol dengannya di area outdoor. Aku berjalan perlahan menuju area outdoor, belum aku sampai sana, seorang wanita datang menghampiri Adreano. Wanita itu nampak sedang berbincang dengannya. Aku pun membatalkan niatku ke arah Adreano dan memperhatikan wanita itu.
"Estelle?" ucapku pelan.
Aku tidak akan salah menduga atau salah orang dengan ciri-ciri yang terpampang jelas. Aku yakin itu adalah Estelle.
'Estelle Blaire, adik dari Bianca si Ketua OSIS. Apa yang membuatmu mendekati Adreano. Ataukah OSIS sudah menunjukkan ketertarikannya terhadap keberadaan Adreano?' Gumamku sambil melihat keduanya.
Aku mundur dan melihat kearah Joseph. Joseph menyadari bahwa Aku melihat kearahnya dan menyudahi percakapannya dengan para gadis-gadis. Ia kemudian datang mendekati ku.
"Ada apa? ada yang mencurigakan?" Tanya Joseph berbisik padaku.
"Estelle Blaire mendekati Adreano" Kataku singkat.
Joseph menengok kearah ku seolah-olah dia tidak percaya dengan apa yang aku katakan.
"What? Estelle? kau tahu darimana kalau itu dia?"
Aku menunjuk kearah Adreano dan Estelle yang bergandengan masuk ke area indoor pesta. Tampaknya mereka menjadi pusat perhatian. Joseph yang melihatnya langsung terkejut, Aku bisa lihat dari mulutnya yang menganga di bawah topeng wajahnya.
"Wah, kau benar bro!" Seru Joseph.
Beberapa menit kemudian lantai dansa mulai di padati pasangan yang menari, termasuk Adreano dan Estelle. Keduanya tampak tenang dan menikmati tariannya.
Tiba-tiba alat komunikasi ku berbunyi lagi dan terdengarlah suara Younjoo.
"Apa yang dilakukan Adreano!" serunya dari alat komunikasi.
"Tunggu, kita harus lihat dulu bagaimana kelanjutannya" Balasku sambil menepuk pundak Joseph.
Joseph menoleh dan berbisik di dekatku,
"...kau tahu tadi saat aku mengobrol dengan nona-nona itu, mereka mengatakan hal yang normal dan tidak ada yang mencurigakan. Tapi, mereka bilang biasanya di ruang privasi ada semacam pertemuan beberapa orang yang terkenal, biasanya yang diajak masuk ke sana adalah tamu-tamu istimewa. Kadang ada Influencer atau anak-anak dari orang tua yang berpengaruh..." Jelasnya sambil menunjuk kearah lorong menuju ruang privasi.
Aku masih memikirkan cara untuk salah satu dari kami masuk ke area privasi. Ini benar-benar menyulitkan. Apa mungkin mereka berpesta Narkotika di dalam sana?
'Ah! sudahlah pokoknya dugaan batinku tidak penting saat ini ' Kataku dalam hati kesal.
"Yo, Joseph kau perhatikan Adreano, aku ke toilet sebentar. Hubungi aku kalau mereka mulai bergerak mencurigakan..." Kataku pada Joseph seraya menepuk pundaknya dan bergerak menuju arah toilet berada.
. . .
Nyaris hiruk-pikuk pesta tak terdengar di arah menuju toilet. Lorong menuju area toilet cukup sepi dan tidak ada penjagaan. Aku jalan perlahan tanpa membuat suara yang berisik. Ku buka pintu toilet pria perlahan.
Tentunya aku kesini bukan untuk buang air, melainkan berbincang dengan Youngjoo. Namun terdengar suara seseorang yang sedang menelepon di salah satu bilik toiletnya. Aku memberhentikan langkahku dan menutup pintu masuk ke arah toilet perlahan, kemudian bersandar di sisinya. Toilet benar-benar sepi dan hanya ada Aku dan si penelepon itu.
"Ibu akan baik-baik saja setelah di operasi, kak kau tolong jaga dia..."
"Hah?! apa kau bertanya aku dapat uang sebanyak itu dari mana? Sudahlah aku sudah katakan kalau aku bekerja keras untuk biayanya dari dulu, kakak tenang saja..."
"Tak usah khawatir, aku akan baik-baik saja. Sudah... Jaga ibu saja"
"Iya, aku pergi dulu. Aku sedang bekerja..."
Aku menaikkan alis sebelah. Kemudian perlahan mengunci pintu masuk ke toilet pria. Terdengar suara flush dari bilik toilet tersebut. Dan terdengar suara bunyi membuka kunci pintu bilik toilet.
...click...crack...
Suara pintu bilik itu terbuka.
Seorang Pemuda memakai baju pelayan keluar dari dalamnya. Aku tersenyum tipis, suatu kebetulan pemuda itu ternyata adalah orang yang ada di data Youngjoo berikan siang tadi. Pemuda itulah yang menabrak Adreano pagi ini. Ia nampaknya belum menyadari keberadaan Ku karena masih berkutat dengan handphone nya.
"What a coincidence (Suatu kebetulan)?" ucapku sambil berjalan kearahnya dengan perlahan. Nampaknya itu membuatnya kaget dan segera menatapku.
"Ada apa tuan tamu?" Jawabnya gugup seraya meletakkan handphone ke saku celana hitamnya.
"Hmm... saya rasa anda adalah orang yang mirip dengan seseorang yang sedang saya cari" kataku sambil berdeham dan terus berjalan mendekati dirinya hingga terpojok.
"Apa maksud tuan, saya tidak mengerti" ucapnya lirih bergemetar dipojokkan.
Aku mendekatinya dan menahan badanku dengan tangan kiri ku ke tembok. Pemuda itu tersentak kaget dan semakin gemetar.
"Hei... Jujur saja, kali ini kau ketahuan. Siapa yang menyuruhmu pagi ini?" kataku sambil menggertak.
"Apa yang pagi ini? Saya tidak mengerti".
*Cckkk*
Aku berdecak kesal mendengar jawaban dia yang serba tidak tahu.
"Kau! Rion Dwell murid Akademi Lydenn, kau mendapatkan scholarship dari Blaire Foundation" ucapku sambil menarik kerah kemejanya.
"Ha?! Memangnya siapa kau?" Tanyanya tak percaya.
"Howard" jawabku singkat sambil tersenyum licik.
Sepertinya dia mengetahui siapa Aku dan berada di kubu mana diri ku. Dia semakin bergetar hebat dan terlihat ketakutan.
"Jadi mengakulah Rion!" Kataku lagi sambil memukul tembok dengan tangan kananku. Hal itu sukses membuatnya takut dan tersungkur ke lantai.
Aku berjongkok dan menatap kearahnya yang ketakutan.
"Jadi, katakan apa yang kau tahu kalau kau tak mau keluarga dan dirimu dalam bahaya..." ucapku berbisik di telinga kanannya.
"kkau... tak akan berbuat b-begituu bb-bukann" Rion menanggapi ucapan ku dengan terbata-bata.
"Kita tidak ada yang tahu, asal kau mau bekerjasama dengan Ku... Akan berbeda lagi ceritanya"
Suasana kembali hening serta mencekam. Rion memeluk kakinya di lantai. Ia menggigit kuku ibu jarinya. Mungkin dia akan mengakuinya. Aku melihat kearah jam tangan Ku, pukul delapan lewat tiga puluh dua. Aku masih memperhatikan Rion yang sedang berpikir keras.
Aku menghela nafas panjang.
"huuftt... hhaaa".
"Aku... Aku yang melakukannya pagi ini..." Rion akhirnya membuka mulutnya meskipun terdengar pelan.
"Apa?! Yang keras!" Perintahku.
"Aakuu yang menaruhnya di tas anak baru itu!" Jawab Rion lantang.
Aku tersenyum tipis, seakan akan aku baru saja mendapatkan mangsa yang empuk.
"Ya, benar. Akui saja itu akan menguntungkanmu. Tenang saja setelah kau menjawab beberapa pertanyaanku aku akan menjamin keluarga mu..." Kataku seraya membenahi kerah baju Rion dan merapihkan dasinya.
"Kau harus berjanji, Howard!" Ucapnya lagi.
"Tentu saja, sekarang kau ikut aku!"
Aku mengajaknya keluar dari toilet dan menuju area lift untuk meninggalkan Penthouse. Aku buru-buru menekan tombol lift menuju Lobby Hotel. Sesampainya di Lobby aku membawanya ke luar dan mencari tempat sepi. Ku dorong tubuh Rion dan ku lepaskan topengku. Ku longgarkan dasi Ku dan berkacak pinggang menatap langit kemudian melontarkan pandangan tajam ke arah Rion.
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanyaku.
"Dd-iia... Eddie" Ucapnya lirih.
Aku mengangkat sebelah alisku.
"Vlyx? Eddie Vlyx? OSIS?" Balasku.
"I-Iyaa. Dia mengatakan harus memberi sambutan kepada anak baru i-ituu..." Jawabnya.
"What a psycho ! (dasar psikopat)" Ucapku mengumpat.
Eddie Vlyx. Sekertaris kedua di OSIS, cucu dari menteri kesehatan. Benar-benar dia terkenal menjengkelkan dan ambisius. Meski begitu dia paling loyal terhadap Bianca Blaire.
"A-apalagi yang ingin kau tanyakan..." Ucap Rion spontan.
"Oh iya, Kala itu kau tahu sesuatu tidak dari mereka?" Tanyaku padanya.
"S-sepertinya **-tidak ada. Tetapi aku dengar- dengar, katanya mereka berusaha mengalihkan perhatian para guru dan siswa tentang penyelundupan beberapa unit barang..." jawab Rion dengan raut wajah gelisah.
"Bagus. Ada lagi yang kau tahu?" Tanyaku lagi.
"Aku rasa mereka menyembunyikannya di gudang olahraga outdoor, karena ini musim gugur jadi para murid melakukan olahraga indoor jadi, Gudang Olahraga outdoor nyaris tidak ada yang datangi..." Jelas Rion.
Aku melihat kearah jam tanganku, itu sudah pukul delapan lewat empat puluh lima. Tak lama kemudian aku memakai topengku lagi dan mengalihkan perhatian ku kearah Rion yang gelisah. Aku mengambil dompet di saku celana setelan Ku. Terdapat beberapa uang seratus ribu dollar dan beberapa lembar cek bank. Ku keluarkan tiga cek bank dan dua ratus ribu dollar dari dalamnya, kemudian ku menyodorkannya ke arah Rion.
"Kau segitunya kah membutuhkan Uang?" Tanyaku lirih.
"M-maafkan a-akuu..." Ucapnya pelan.
Rion mengambilnya dan membungkuk berkali-kali sambil berterimakasih. Jujur itu membuatku merasa tidak nyaman. Aku menyuruhnya kembali ke pesta terlebih dahulu dan membungkam mulutnya.
Semilir angin malam nan sejuk menghembuskan rambutku perlahan. Aku menyalakan alat komunikasi Ku kembali, kemudian berjalan memasuki Lobby Hotel. Youngjoo sepertinya belum menghubungiku, begitupula Joseph.
'Malam ini terlalu tenang untuk acara seperti ini, seperti ada yang mau mati saja...' Gumamku saat memasuki Lobby Hotel.
Sudah lima belas menit terakhir kali aku melihat Rion. Aku duduk di Sofa yang tersedia di Lobby Hotel. Aku berusaha menghubungi Youngjoo, tapi tak ada jawaban. Kemudian, aku menghubungi Joseph dan tersambung.
"Gimana keadaannya?" Tanyaku pada Joseph melalui alat komunikasi.
"Gak ada apa-apa. Masih normal aja, itu Adreano sama Estelle masih ngobrol-ngobrol... Eh, bentar kok dia jalan ke arah ruang privasi sama Estelle!!" Ujar Joseph dengan nada panik.
"Baguslah, justru itu yang kita inginkan! Adreano tidak bisa di remehkan memang, hahaha" Jawabku sambil tertawa pelan.
"Ya, sudah biar ku pantau dulu. Tunggu Aku atau Youngjoo mengabari mu lagi" Ucap Joseph yang kemudian memutuskan kontak komunikasinya dengan ku.
Ku lihat jam tangan ku lagi, ternyata sudah mau pukul sembilan malam. Aku khawatir bagaimana kita akan kembali ke asrama. Aku memejamkan mataku sejenak untuk memikirkan banyak hal.
. . .
Akademi Lydenn, pertama kali aku mendengarnya ketika acara pemakaman ibuku setelah beliau meninggal akibat kecelakaan. Aku duduk bersimpuh dengan tegar di dampingi kakak angkatku. Dia memelukku dan menghiburku.
Sesaat sesudah itu semua dan masa berkabung telah lewat. Kakakku datang kepadaku, dia bilang ibu meninggal karena partai politik lawan Ayah. Mendengarnya Aku sangat marah dan kecewa. Mereka tidak suka dengan Ayah beserta rekannya yang duduk di kursi dewan mulai menyerangnya. Ayah selalu membela rakyat dan menjalankan tanggung jawabnya, begitu pula rekan-rekannya. Setelah kepergian ibuku, Ayah menjadi sedih dan tergoyahkan. Aku dan Kakakku bertekad untuk berjalan bersama dengan Ayah serta menguatkannya.
Beragam upaya kami lalui, hingga ada berita bocor dari Badan Intelejen, bahwa File Rahasia bernama "The Execution" berhasil di retas dan di ambil oleh pihak yang kemungkinan namanya ada didalamnya. Diketahui bahwa File ini berisikan data aktivitas penyelewengan kekuasaan dan korupsi banyak pejabat. Tak hanya itu, sindikat *******, jaringan narkoba dan penggelapan dana juga ada di dalamnya. Kemudian, di rumorkan bahwa file rahasia itu ada bersama pemilik Akademi Lydenn yang di sokong oleh Blaire Foundation.
Itulah sebabnya Aku masuk Akademi Lydenn, entah apa, tapi aku juga akan mengabdikan diri ku pada keadilan sosial bukan bagi mereka yang selalu memiliki uang dan kekuasaan. Sama seperti Ayahku, yang selalu membela yang benar namun di kucilkan dan di hina karena kesalahpahaman dan kebencian atas kebenaran.
'Tapi apakah Aku pantas?...' Batinku.
"Sudah setahun lebih disini, tapi aku belum banyak menemukan Clue. Thank God ! Adreano setidaknya membukakan jalan..." Ucapku pelan.
. . .
Jam menunjukkan pukul sembilan duapuluh. Alat komunikasi ku tiba-tiba aktif dan terdengar suara Youngjoo berteriak-teriak.
"Hoiii, Simon cepat kau naik susul Joseph dan Adreano!! Ide buruk!" Katanya.
"Ha?! kenapa apa? Aku segera kesana!" Jawabku spontan seraya berlari buru-buru menaiki lift menuju Penthouse.
"Adreano akan di jebak atas pembunuhan nantinya kalau kau terlambat! Cepatlah!!" Teriak Youngjoo dari alat komunikasi.
Lift melesat melewati beberapa lantai.
"Apa maksudmu pembu-" Belum sempat Aku menyelesaikan kalimat pertanyaanku, tubuh Rion, terjun bebas ke bawah, pas sekali kami bertatapan lewat kaca lift transparan yang mengarah ke pemandangan luar hotel.
Tubuh Rion jatuh ke bawah dan Lift bergerak melesat naik ke atas. Aku melihatnya kaget dan membelalakkan mataku. Tubuh Rion sepertinya penuh luka pukulan dan wajahnya berdarah, Rion yang malang.
Aku benar-benar terkejut, sesampainya di Penthouse, acara sudah dipenuhi tamu yang panik dan ketakutan. Suasana menjadi tak terkendali. Tapi keadaanku, masihlah Speechless dan Shock. Samar-samar aku melihat dua orang berlari ke arah ku dan membopong tubuh ku seraya berlari ke arah lift dan menuju area Lobby Hotel, kali ini aku benar-benar lemas sekali.
. . .