True Colors

True Colors
Something to Lose



Pagi menyingsing, pesta malam itu di Akademi Lydenn membuat banyak murid kelelahan. Mereka kebanyakan masih terlelap dalam mimpinya. Tak terkecuali Joseph, yang masih meringkuk dalam selimutnya. Adreano terlihat tenang di meja belajarnya pagi ini sambil meminum kopi hangatnya, Ia nampaknya baru saja mengirim sebuah surel kepada seseorang.


Adreano beranjak dari kursinya dan melihat jam yang ada di mejanya. Pukul lima dua lima, Adreano membuka tirai jendela kamarnya perlahan. Tak lama setelah itu handphone keduanya bergetar di atas meja belajar. Segeralah Adreano mengangkat panggilan tersebut, dan terdengarlah suara,


"Apa informasi ini benar adanya?" tanya suara dari handphone itu.


"Tentu saja, saya sudah mengirimkan detailnya di surel berikutnya" Ucap Adreano pelan.


"Tunggu sebentar hingga kami selesai memastikannya, jangan tutup panggilan ini" Kata suara itu.


"Baiklah..." Balas Adreano.


Selang beberapa menit, suara di handphone itu kembali,


"Apa anda masih di sana?" tanyanya.


"Ya, saya masih bersama Anda" Balas Adreano.


"Setelah memastikannya, ternyata laporan Anda memberikan petunjuk baru terhadap kasus penyelundupan. Harap berhati-hati dengan orang-orang yang berhubungan dengan Menteri Kesehatan" Jelas suara itu.


"Apa ada tindakan dari atasan?" Tanya Adreano.


"Atasan hanya menginstruksikan kepada Anda agar tetap waspada dan berhati-hati. Selain itu, atasan telah mengirimkan Agent lainya untuk menghubungi Anda dari dalam lingkungan Akademi. Temui dia pagi ini di klinik sekolah" Jelas suara itu lagi.


"Baiklah, Saya mengerti" Jawab Adreano, lalu panggilan tersebut terputus.


Adreano segera mengambil mantel dan syalnya. Ia mengenakan jam tangan dan menggunakan topi hitam, tak lupa ia membawa handphone keduanya itu. Perlahan dibukanya pintu kamar dan memastikan keberadaan teman se-asramanyanya itu. Rupanya, Joseph masih di dalam kamarnya. Melihat kondisi itu, Adreano bergegas keluar dari asrama mereka dan segera menuruni tangga keluar gedung kemudian beranjak menuju sekolah.


Sekolah tampak sepi, udara semakin dingin. Hembusan angin musim gugur menggugurkan daun-daun kuning dari dahan pohonnya. Adreano melangkahkan kakinya menuju area sekolah, ini masih setengah enam lewat dan matahari perlahan terbit namun cahayanya terhalangi awan mendung. Tampak dari kejauhan ada beberapa karyawan sekolahan yang sibuk menyapu guguran daun di halaman.


Adreano menyapa mereka dengan ramah, mereka membalas sapaan ramah Adreano dengan baik. Adreano masuk ke area sekolah, selagi penjagaan melemah. Melewati tiap-tiap lorong perlahan namun pasti, Adreano berhasil mencapai klinik sekolah. Dia mengingatnya saat Simon pertama kali mengajaknya.


Pintu Klinik sekolah yang kokoh dengan papan tergantung bertuliskan "School Clinic", Adreano berdiri menatapnya sebentar dan menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan. Ditariknya gagang pintu berwarna emas itu, kemudian berjalan masuk ke dalam klinik sekolah. Terdapat siluet tubuh dibalik tirai putih pembatas di dalamnya, yang kemudian tirai itu terhembus angin dari luar ruangan, sepertinya jendela terbuka. Adreano mendekat kearah silut itu.


"Kau sudah tiba?" Ucap suara dibalik tirai itu.


"Iya..." Balas singkat Adreano.


Orang dibalik tirai itu menyibakan tirai penghalangnya dan menatap kearah Adreano. Adreano yang kemudian melihat sosok orang itu langsung terkejut.


"Huh? Harris?" Tanya Adreano heran.


"Iya, Mr. Heinze, code agent zero seven" Ucapnya dengan senyuman hangat di wajahnya.


Adreano yang masih tampak keheranan hanya memandangi Harris kemudian duduk di sebelahnya, di salah satu tempat tidur yang menghadap jendela.


"Kau pasti bingung, bukan? Kenapa aku" Ujarnya sambil menatap kearah jendela yang terbuka dengan pemandangan Pohon Ginkgo yang terus menggugurkan daunnya.


"Ada apa sebenarnya?" Tanya Adreano serius dan mengikuti arah pandang Harris.


"Rowan Duxels..." Ucapnya lirih kepada Adreano.


Adreano yang mendengarnya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Harris yang duduk disebelahnya. Wajah marah terpampang jelas di wajahnya.


"Kau tahu sesuatu?" Tanya Adreano lagi sambil meredam amarahnya.


"Tentu saja, Dia sepupu jauh ku, satu-satunya orang yang mengerti diriku..." Balas Harris.


Raut wajah Adreano kembali tenang dan menatap kearah luar jendela lagi. Suasana menjadi mendadak sunyi dan canggung. Adreano membuka mulutnya,


"Kenapa kau bisa berakhir seperti ini?"


Harris tersenyum dan menyibakkan rambut depannya yang terhembus angin,


"Hanya ingin membalas dendam, aku kemudian mengikuti jalannya, seperti yang kau lihat sekarang aku menjadi anggota luar kalian. Saat itu, dia jujur padaku bahwa dia Anggota Intelejen yang diutus dari akademinya. Dia juga banyak bercerita tentang dirimu..." Jelas Harris dengan nada sedih.


"Tentu saja, dia mati karena melawan 'mereka' bukankah itu sudah jelas? Kecelakaan malam itu bukan kebetulan..." Ucap Harris lirih.


Adreano memasang wajah sedih dan murung ketika ia mendengar kata kecelakaan yang menewaskan, sahabatnya itu. Keduanya termenung,


"Jadi, Adreano tolong bantu aku dan sudahi ini. Banyak dari kita yang menderita di Akademi ini, tanpa kau ketahui. Keserakahan dan ambisi orang-orang dewasa di sekitar kita merenggut kebahagiaan yang seharusnya kita dapatkan sebagai remaja, jiwa muda" Jelas Harris seraya mengeratkan tangannya ke pundak Adreano.


"Apa maksudmu? Menderita karena orang-orang dewasa?" Tukas Adreano.


"Ku tanya padamu, apa yang dipikirkan orang tua mu yang hanya peduli dengan mempertahankan ambisi dan ego mereka? Mereka hanya menjadikan anak-anak nya sebagai atribut mereka. Begitu kau memalukan mereka, kau akan dihakimi keduanya. Mereka akan menyalahkan semua masalahnya karena keberadaan mu. Begitulah tinggal di dalam lingkaran sosial ini" Kata Harris yang menjelaskan.


Mendengarnya membuat Adreano menjadi tidak enak. Di dalam pikirannya, Adreano memikirkan hal itu dengan serius. Kenyataan yang ia lihat dan rasakan memang benar seperti yang dikatakan Harris.


"Bukankah untuk mendapatkan keinginan harus dengan pengorbanan? Ya, semua manusia harus mengalaminya. Pengorbanan yang mencakup berbagai aspek. Entah itu Uang, kekuasaan, waktu, barang, bahkan paling parahnya lagi adalah manusia lainnya ataupun hal yang disayangi. Bukankah itu pengetahuan dasar agar kau bisa hidup di dunia yang kejam ini?" Kata Harris melanjutkan.


"Pengorbanan apa yang kau maksud kali ini, Harris?" Tanya Adreano pada Harris.


"Inilah Lydenn, tempat pengorbanan itu. Semua aspek bisa kau pertaruhkan disini" Jawab Harris.


Angin berhembus perlahan masuk ke dalam ruangan membelai rambut keduanya dengan lembut. Suasana terasa canggung lagi,


"Misi untukmu kali ini adalah, Melenyapkan akademi ini, zero seven" Ujar Harris tiba-tiba.


Begitu mendengarkan perkataan Harris, mata Adreano terbuka lebar. Ia nampaknya terkejut dengan perkataan Harris.


"Tunggu... Apa maksudmu melenya-" Belum selesai Adreano membalas perkataan Harris, di saat itu pula Harris memotongnya,


"Kau berpikir, tak ada hubungannya, bukan? Ini hanyalah sekolah dan kau berpikir Apa salahnya ini hanya tempat menuntut ilmu?"


Adreano tertegun sejenak dan menatap kearah Harris lagi dengan ekspresi wajah gelisah.


"Adreano, Akademi ini tidak berjalan baik seperti se-dahulu kala. Kau masuk Akademi Militer untuk melayani negara ini, bukan?" Tanya Harris meyakinkan Adreano.


"...Tentu saja, aku sudah bersumpah. Aku akan melindungi negara ini" Jawab Adreano.


Harris tersenyum,


"Kalau begitu apa kau percaya bahwa itu memang benar misi dari atasanmu? Mereka mengatakan agar aku meyakinkanmu" Ucap Harris yang kembali meyakinkan Adreano.


"Tentu saja, kalau itu perintahnya. Berarti suatu keadaan ada yang membahayakan negara..." Balas Adreano lagi.


Sinar matahari mulai perlahan tampak dibalik awan mendung yang bergeser. Sedikit demi sedikit cahayanya mulai menyinari bumi. Perlahan cahaya itu masuk ke dalam ruang klinik. Suhu udara tampak sedikit lebih hangat.


Harris menampilkan ekspresi wajah yang sedih lagi dan berbicara lagi kepada Adreano,


"Rowan... Rowan bilang dia sangat menghormati dan menghargai dirimu. Dia bilang kalau suatu hari kau akan menjadi orang yang hebat" Kata Harris sambil mengusap matanya.


Adreano tampak diam seribu bahasa. Perasaan campur aduk di hatinya mulai mempengaruhi jiwanya. Harris dan Adreano tampak sedih dan muram. Keduanya sama-sama memiliki hubungan baik dengan Rowan Duxels.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah dari atasan memberikan sesuatu?" Tanya Adreano serius.


Harris merogoh kantong mantelnya, tampak ia mengeluarkan sesuatu yang terbungkus dust bag berwarna hitam. Ia langsung memberikannya kepada Adreano.


"Gunakan itu, pengaruhi reputasi akademi ini dan selesaikanlah. Kita akan menutup sekolah ini selanjutnya. Berhati-hatilah!" Ucap Harris.


Adreano membuka isinya, terdapat satu external HDD, dua memory chips, dan satu flashdisk. Segera Adreano tutup kembali dust bag hitam itu, kemudian meletakkannya di kantong dalam mantel hitamnya.


Keduanya beranjak dari tempat tidur dan saling berjabat tangan. Adreano segera pergi meninggalkan ruangan klinik sekolah dan meninggalkan Harris sendirian.


"Rowan... Ini akan segera berakhir. Aku dan dirinya akan menjalani hidup yang lebih baik lagi nantinya..." Ucap Harris pelan sambil melihat kearah luar jendela, dimana pohon gingko terus menggugurkan daunnya.


. . .