
Musim gugur telah mencapai puncaknya. Suhu udara hampir nol derajat celcius. Musim gugur yang akan segera meninggalkan tanah ini akan bergantian dengan musim dingin. Banyak yang mengenakan pakaian tebal dan sarung tangan.
Musim gugur identik dengan Halloween dan Thanksgiving Event. Akademi Lydenn tidak akan melewatkan acara tahunan tersebut. Ketua Komite menyepakati event tersebut akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Seluruh murid Akademi Lydenn diharapkan dapat mengikuti kegiatan ini. Banyak murid-murid yang sudah menantikan acara tahunan seperti ini.
Antusiasme murid-murid Akademi Lydenn cukup tinggi. Banyak diantara mereka yang sudah mempersiapkan kostum, make-up, hal yang akan dilakukan, dan juga dengan siapa mereka akan pergi ke acara pesta utama. Hal itu sangat membuat mereka bersemangat. Tak terkecuali Amane, Hyerim, Harris, Joseph, Jia, dan Simon. Tampaknya mereka juga sangat antusias akan acara tahunan tersebut.
. . .
Suatu malam di ruangan rahasia Restoran Jepang. Adreano, Amane, Hyerim, Harris, Joseph, Jia, dan Simon berkumpul bersama lagi. Mereka sedang membicarakan tentang acara mendatang.
"Jadi, Ibu lo beneran menyerahkan dekorasi dan jalan acaranya ke Bianca?" Tanya Jia yang sambil memakan gelato rasa matchanya.
"Iya, jie. Beliau bilang event ginian mah urusan dia aja, asal gak macem-macem" Jawab Youngjoo sambil bermain UNO dengan Joseph, Simon dan Adreano.
Jia mengangguk tanda mengerti dan segera fokus memakan gelatonya. Sementara itu, Harris sedang sibuk mendesain poster untuk acara event tersebut. Amane yang baru bergabung langsung duduk bersebelahan dengan Hyerim yang sibuk memainkan handphonenya yang kemudian, mengajak Amane ber-selfie. Semuanya tampak asik dengan kegiatannya hingga akhirnya suara Joseph mengalihkan perhatian mereka.
"Jadi, pada mau pakai kostum apaan?" Tanya Joseph sambil fokus bermain UNO.
"Yang simple aja paling. Bukan anak-anak lagi kita juga..." Jawab Harris.
"Eumm... kalo gue, pengen jadi Maleficent tahun ini. Gue bakal totalitas, lagian ini tahun terakhir gue di akademi" Lanjut Jia.
"Kalau Amane-san mau pakai kostum apa untuk pertama kali ikut acara tahunan di Lydenn?" Tanya Joseph lagi sambil mengambil beberapa kartu baru yang tertumpuk di sisi meja.
Amane melihat kearah Joseph dan menampilkan ekspresi wajah berpikir. Kemudian menjawabnya dengan semangat.
"Mononoke Princess dari karya Ghibli Studio! aku akan menjadi dirinya!"
Hyerim yang duduk bersebelahan dengan Amane langsung memberikan komentarnya.
"Hee... semangat sekali. Semoga berhasil! Kalau Hyerim mau jadi devil, hihihi"
"Kau setiap hari juga sudah seperti devil, Miss Cerewet!" Komen Joseph sambil meletakkan beberapa kartu UNO di meja permainan.
"Kau! benar-benar menyebalkan!" Ucap Hyerim ketus dan memalingkan wajahnya dari Joseph.
"Trus, Kau sendiri mau pakai apaan?" Balas Jia kepada Joseph.
Joseph hanya menoleh kearah Jia dan memasang wajah bingung, kemudian fokus kembali memainkan UNO nya. Hingga Tiba "kartu +4" terakhir dalam giliran Joseph, Simon tersenyum ramah kearahnya. Melihat hal tersebut, Joseph menggebrak meja dan meletakkan semua kartu yang ia pegang ke meja.
"Lah! apa-apaan ini Simon! " Teriaknya.
"Tapi, bukankah kita semua dari tadi terus-menerus mengeluarkan kartu bertanda "+" dan kau mengikutinya, kan sekarang baru kau yang tak ada..." Balas Simon dengan tenang.
"Berisik banget sih, gak usah pake gebrak meja segala, bodoh. Kalah yaudah kalah!" Balas Youngjoo sambil memukul keras punggung Joseph.
"Oww... Sakit ya! Kim Youngjoo" Kata Joseph yang membalas Youngjoo dengan menjambak rambutnya.
"Heh! lepas gak! cepet lepasin sakit woi !" Teriak Youngjoo.
"Eh, sudahlah hentikan. Lagipula itu hanya permainan biasa..." Ucap Harris berusaha melerai.
Adreano berdiri dari kursinya dan memisahkan mereka berdua.
"Dimana pun kalian begini ya?" Ucap Adreano dengan senyuman kesalnya.
"Ya begitu deh..." Kata Jia menanggapi.
Simon hanya tertawa kecil melihat tingkah Joseph dan Youngjoo yang ribut di hadapannya. Adreano kembali duduk di kursinya. Dan menyudahi permainan UNO.
"Kau udahan mainnya?" Tanya Simon kepada Adreano.
"Iya, sudah" Balasnya singkat.
"Kalau gitu gue udahan juga!" Seru Joseph mengikuti.
"Yaudahlah, gak usah main lagi kalau gitu. Rusuh si Joseph satu ini..." Ucap Youngjoo sambil merapikan kartu-kartu di meja.
"Kok?! jadi gue sih, Juu ! " Balas Joseph menanggapi.
Adreano hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua sahabat yang terlalu akrab itu. Begitupula yang lainnya, mereka hanya bisa pasrah melihat tingkah keduanya yang kelewat akrab itu.
"Jadi, Acara ini wajib diikuti kah?" Tanya Adreano pelan.
"Tentu saja! Kita harus mengisi masa muda kita dengan hal-hal yang menyenangkan!" Ucap Joseph dan Youngjoo bersamaan.
"Gak usah ikutan deh, Juu" Ucap Joseph jengkel.
Youngjoo tak mau menanggapi ucapan dari Joseph lagi dan langsung mengajak Adreano berbicara.
"Gimana? kau harus ikut ya, ini bakalan seru karena Bianca yang dekor! Apalagi sama si Eddie, bwahahahaa" Tawa Youngjoo.
"Memangnya kenapa kalau mereka yang dekor? apa ada sesuatu?" Tanya Adreano heran.
"Yang pasti sesuatu nya itu pasti ada. Tapi yang jelas masih normal." Balas Harris sambil menatap layar laptop nya.
Adreano menaikan sebelah alisnya setelah mendengar balasan dari Harris.
"Eh bentar, kayaknya pas gak sih ini?" Tanya Joseph spontan.
"Apanya yang pas, Joseph-san?" tanya Amane menanggapi.
"Lihat di meja ini! Bukankah ini pangeran semua? Mari kita buat "F4"!!" Seru Joseph.
Adreano kaget mendengarnya, Simon hanya terkekeh, Youngjoo tersedak air jusnya, Hyerim tertawa, Harris tidak peduli dan Jia tertawa dengan nada tinggi.
Joseph yang mendengar tawa semua orang malah tersenyum lebar. Dia menarik tangan Adreano dan membuatnya berdiri. Kemudian, Ia menarik Simon dan Youngjoo untuk diri bersebelahan.
"Lihat? bagus bukan? Kostum kita bisa saja pangeran!" Seru Joseph lagi dengan senang.
"Hey kau tak mengajak Harris?" Tukas Jia sambil menunjuk Harris yang duduk di sofa.
"Nah, Gak mau ah..." balas Harris yang tampak tak peduli.
Jia yang melihat tanggapan Harris kemudian mengangguk tanda mengerti dan melipat kedua tangannya.
"Trus kau mau apa sesudahnya?" Tanya Jia lagi.
"Ya ayok, beli kostumnya lah!" Seru Joseph sambil memegang handphone nya.
"Jangan-jangan kau sudah memesannya?" Tanya Simon.
Joseph hanya tertawa kecil dan menggaruk kepalanya yan tak gatal. Youngjoo melihat ekspresi wajah Joseph terlihat jengkel.
"Gila ini anak satu..." Ujar Youngjoo.
Mereka berdelapan tampak akrab dan bahagia. Saling bercengkrama, seperti layaknya murid sekolah pada umumnya. Atmosfer disekitar mereka terasa lebih hangat dan menyenangkan. Itulah yang namanya masa sekolah. Buat kenangan bersama dengan orang yang kau hargai dan kau kasihi.
Sementara itu ditengah-tengah suasana kebersamaan dan keakraban mereka. Adreano merasakan hal yang tak ia pahami. Ia merasa ada perasaan yang mengganjal. Tiba-tiba ia teringat akan misinya. Dan teringat oleh kawannya yang gugur dalam misi di sekolah ini.
'Andai kala itu aku ditugaskan bersama mu Rowan, semua orang ini pasti akan bersamamu dan tidak akan membiarkan dirimu sendirian seperti saat pertama kali kita bertemu dulu...' Pikir Adreano.
. . .
Setelah pertemuan tersebut mereka berdelapan memutuskan untuk kembali ke asramanya masing-masing. Benar saja, sesampainya di Asrama, Adreano melihat sebuah paket besar di ruang tamu kecil asramanya. Adreano yakin saat ia mau pergi, barang itu belum ada. Joseph benar-benar serius.
Adreano meletakkan mantel dan syalnya kemudian melepaskan sarung tangannya, sementara Joseph menghidupkan penghangat ruangan, kemudian ia setengah berlari dan membuka paket besar itu.
"Kau beneran ya?" Tanya Adreano.
"Tentu saja, hehehe" Jawabnya singkat.
Joseph melepaskan mantelnya dan meletakkan kupluk di kamarnya, lalu ia kembali ke ruang tamu kecil kami. Dia membuka segel-segel lain di paketnya dan mengeluarkan satu-persatu empat setelan baju.
"Lihat ini lihat!! Kostum dengan kualitas terbaik datang. Berterimakasih lah padaku, hehehe" Ucapnya senang seraya menyodorkan salah satu setelan baju yang masih tertutup Dust bag.
Adreano menerimanya, "Untukku?"
Joseph melirik kearah Adreano, "Iyalah! Kau nanti coba. Tapi aku pastikan itu muat untuk tubuh atletismu! hahaha" lanjutnya.
"Kau memandangi tubuhku kemarin untuk memperkirakan ukurannya? Dasar aneh..." Kata Adreano yang beranjak menuju kamarnya.
"Mungkin iya, tapi aku tidak se-parah yang kau bayangkan. Hanya sekali ini, Bro!" Balasnya.
"Kau ingin membicarakan perjanjian kita pas awal tidak?" Lanjut Joseph.
Adreano menghentikan langkahnya menuju pintu kamar. Dan menoleh kearah Joseph yang tengah merapikan paket tersebut dengan wajah serius.
"Ada apa?" Tanya Adreano.
"Kakakku, Kau tau kan dia Wakil Ketua OSIS?" Balasnya.
Adreano mengangguk.
"Kau tahu aku selalu memonitor aktivitasnya, bukan?" lanjutnya lagi.
Adreano kembali mendekati Joseph dan duduk dihadapannya dengan dipisahkan kardus paket.
"Dia menunjukkan aktivitas mencurigakan?" Tanya Adreano penasaran.
"Iya..." Jawabnya lirih.
"Apa yang ia lakukan?" Tanya Adreano lagi.
"Menurut informan yang aku percaya, Kakakku dan Bianca Blaire akan menjadikan pesta tersebut sebagai pengalihan. Menurut Informasi Simon sebelum yang ia dapatkan dari Rion, ada barang di gudang olahraga outdoor yang sangat penting bagi pihak OSIS. Dan itu cocok seperti yang dikatakan Informan ku bahwa, OSIS akan memindahkan barang itu pergi ke suatu tempat. Dan itu cukup dengan banyak pengamanan" Jelas Joseph kepada Adreano.
Adreano yang mendengar hal itu langsung memasang wajah serius. Ia langsung berpikir dan menganalisa.
'Apa mungkin itu adalah File rahasia? ' Batin Adreano.
Lamunan Adreano terpecahkan dengan jentikan jari dari Joseph.
"Bro! Kau harus berjanji padaku satu hal..." Ucap Joseph serius.
"Selama kita berada di jalan yang sama, kita akan bertemu lagi walaupun sudah berpisah nantinya!" Lanjut Joseph.
Adreano tertegun sejenak, "Tentu saja, Mr. Cardia" ucapnya seraya menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Joseph.
"Apapun itu, ini pertama kalinya aku memliki teman yang berada di jalan yang sama denganku..." Ucap Joseph pelan sambil menjabat erat tangan Adreano.
"Ya, Bro..." Ucap Adreano pelan.
Joseph yang mendengarnya samar seketika spontan memaksa Adreano untuk mengucapkannya sekali lagi. Adreano dengan cepat menolaknya dan masuk kedalam kamarnya lalu menguncinya. Joseph hanya tersenyum melihat kawan barunya itu akhirnya mau berbaur dengannya sedikit demi sedikit.
"Like a stray cat, but you're too powerful Mr. Heinze. So let's meet up again as the best friend..." Ucap Joseph berbisik seraya merapihkan paketnya.
. . .