
Hari-hari terus berlanjut semenjak peristiwa hari itu. Estelle dan Adrianne beradaptasi dengan kelas baru mereka. Hubungan keduanya tampak merenggang karena adanya teman-teman baru. Mereka sibuk dengan urusan dan pekerjaan sekolah mereka masing-masing. Keduanya menjadi jarang bersama.
Adrianne kini menjadi siswi kelas 2-2. Ia merupakan anak yang ceria dan pandai bergaul. Banyak anak-anak di kelasnya itu yang berbicara dan mengajaknya hangout bareng. Adrianne juga murid yang pandai serta rajin. Itulah daya tariknya, ia sangat rendah hati.
Saat menetap di kelas 2-2 Adrianne tidak tahu tentang perseteruan antara Komite Sekolah dengan OSIS. Adrianne menjalani hari-harinya dengan normal. Ia bahkan berteman baik dengan anak dari Komite Sekolah periode aktif tahun itu.
Pertemuannya dengan anak laki-laki berambut pirang itu dan juga teman-temanya, telah mengubah hidup Adrianne. Ia kemudian menjadi dekat dengan kelompok itu dan bergabung dengan mereka. Sampai saat itu juga ia masih belum menyadari perseteruan tersebut. Bahkan, dirinya tak tahu tentang Estelle yang ditempatkan di kelas unggulan pendukung OSIS.
Adrianne benar-benar tidak peduli, ia hanya berpikir untuk dirinya dan masa depannya saja. Ia sadar bahwa dirinya akan menjadi partner dari kembarannya nanti dalam memimpin sebuah perusahaan besar, Heinze Group. Ia tidak ingin membebani kembarannya itu yang sangat tertarik untuk mengabdikan dirinya untuk negara. Oleh karena itu, dia berusaha sangat keras dan sekuatnya.
Semuanya tampak normal dan biasa saja. Adrianne mengenal Park Hyerim, Harris Widjaja, Joseph Cardia, Simon Howard, Kim Youngjoo dan Wang Jia Rong yang tidak terlalu dekat dengannya. Mereka cukup dekat dan sering bersama. Estelle yang berbeda kelas dengan Adrianne jarang sekali memberi kabar atau keduanya menjadi jarang bertemu hanya untuk sekedar mengobrol.
. . .
[ Pagi Hari, di Musim Semi ]
Seorang gadis berambut pendek hitam dengan wajah oriental yang menggendong sebuah pedang bambu di punggungnya, berdiri tegak di hadapan sebuah pohon sakura besar di pinggir jalan dekat gerbang gedung sekolah. Ia menyatukan kedua telapak tangannya dan tampak memejamkan mata. Angin sepoi-sepoi membelai lembut rambut pendeknya. Ia mengenakan seragam musim semi Akademi Lydenn dan membawa tas kecil jinjing hitam bersamanya.
Gadis itu kemudian membuka perlahan matanya dan terkejut. Adrianne berdiri dihadapannya dengan tatapan hangat. Ia kemudian melambaikan tangannya ke wajah gadis itu,
"Halo!! Apa kau sedang berdoa?" Tanya Adrianne yang kemudian menyingkir dari pandangan gadis itu.
"Iya, lebih tepatnya memohon hal yang baik-baik" Jawab Gadis itu sambil tersenyum lembut.
"Aku harap kau akan mendapatkan sesuatu yang baik hari ini!" Ujar Adrianne yang kemudian hendak berjalan menuju pintu absen.
"Semangat Oda!" Ucap Adrianne setelah melakukan absen dengan ID Pass. Ia segera berjalan menaiki anak tangga menuju kelasnya.
Gadis yang bernama Oda itu terkejut mendengar namanya disebutkan oleh orang yang tak dikenalnya. Kemudian ia tersadar bahwa di blazernya terdapat papan nama logam yang tertulis jelas namanya. Gadis itu kemudian tersenyum singkat dan melakukan proses absensi. Ia adalah Oda Amane.
. . .
Pagi itu Adrianne terlihat melewati depan kelas 2-1 dan mengintip sedikit dari jendela. Ia melihat Estelle yang sedang bercengkrama dengan teman-teman barunya. Adrianne kemudian tersenyum lalu berjalan menuju kelasnya.
Sesampainya di kelas ia bertemu dengan Hyerim yang kemudian menyapanya.
"Adrianne, Pagi!" Serunya sambil memakan permen Chupa Chups.
"Pagi, Hyerim-Ah ! Sepertinya hari ini ada sesuatu yang menarik..." Ucap Adrianne sambil duduk di kursinya.
"Tentu saja! Aku rasa Joseph akan telat hari ini. Aku yakin dia akan disuruh berdiri di luar, hahaha" Ujar Hyerim sambil tertawa.
Adrianne hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya berkali-kali. Kim Youngjoo kemudian membalikkan badannya kearah meja Adrianne yang duduk dibelakangnya.
"Ada apa?" Tanya Adrianne singkat kepada Youngjoo.
"Mau bertaruh denganku?" ucap Youngjoo dengan senyum jahilnya.
"Bertaruh apa dan berapa?" Tanya Adrianne yang tertarik.
"Pilihlah diantara salah satu keadaan yang akan terjadi pada Joseph. Pilih dia akan mendapat hukuman berlari di lapangan atau hanya berdiri di luar kelas sampai jam istirahat? Aku pilih dia akan dihukum lari lapangan" Jelas Youngjoo.
"Baiklah, aku akan memilih dia berdiri di koridor sampai jam istirahat tiba, deal ?" Ucap Adrianne meyakinkan.
"Deal! Taruhannya seratus dollar" Ucap Youngjoo sambil mengeluarkan selembar uang seratus dollar dari dompetnya.
Adrianne mengambil selembar uang seratus dollar dari laci tasnya, kemudian meletakkannya di atas mejanya.
Hyerim yang mendengar taruhan tersebut merasa tertarik dan ikutan. Ia bertaruh bahwa Joseph akan berlari di lapangan, sama seperti Youngjoo. Ia juga meletakkan selembar uang seratus dollar di meja Adrianne.
Tak lama dari itu, jam pelajaran pertama dimulai. Guru sudah memasuki ruangan namun, Joseph belum nampak batang hidungnya. Sudah dapat dipastikan ia telat atau ketiduran. Guru tersebut kemudian mengabsen muridnya satu persatu dan berhenti pada nama Joseph. Guru itu memanggilnya tiga kali namun tidak ada respon, kemudian bertanya pada murid-muridnya.
"Maaf pak, sepertinya dia ketidu-" Belum selesai Youngjoo menjawabnya, Joseph datang membuka pintu dengan keras.
*Brakkk*
Suara pintu geser yang dibuka paksa Joseph. Suara itu mengangetkan se-antero kelas.
Guru tersebut hanya menggelengkan kepalanya dan menulis sesuatu di podiumnya. Ia kemudian berdeham,
"Ekhemm... Mr. Cardia terlambat 15 menit, silahkan berdiri di koridor sampai jam istirahat, yang mana jam pelajaran saya habis di kelas ini. Silahkan berdiri di luar sekarang" Ucap Sang Guru sambil mempersilahkan Joseph keluar dengan senyuman mencurigakan.
"Eh, tunggu du-" Kalimat Joseph terpotong begitu melihat tatapan tajam gurunya itu.
Joseph berjalan keluar kelas dan menutup pintu kelasnya lagi. Ia dihukum berdiri di koridor hingga jam istirahat. Adrianne yang memenangkan taruhan berusaha untuk menahan tawanya. Dilain pihak, Hyerim dan Youngjoo terlihat terkejut dan lesu. Padahal guru tersebut terkenal dengan menghukum muridnya yang terlambat untuk berlari puluhan putaran di lapangan. Setelah hal itu, pelajaran pun segera dimulai.
. . .
Adrianne memenangkan taruhan tersebut, kemudian dia mendapat untung dua ratus dollar. Saat jam istirahat, Ia kemudian bergegas menuju Cafétaria Lydenn dan membeli setoples permen Chupa Chups, Dua kotak berisi donat dan Empat botol minuman dingin. Adrianne membawanya kembali ke kelasnya.
Di dalam kelas terdapat Joseph yang lesu dan bermuka masam. Ia meletakkan kepalanya di meja dan menghela nafas berkali-kali. Disekelilingnya terdapat, Hyerim yang tertawa kecil, Youngjoo yang menarik-narik rambutnya, Simon yang tenang dengan Harris disebelahnya yang mendengarkan musik lewat handsfree nya. Adrianne kemudian masuk kedalam kelas dan berjalan mendekati mereka.
"Hahaha aku menang!" Tawa bangga Adrianne.
"Iya, iya. Kau hanya beruntung kali ini" Ucap Youngjoo tak terima.
"Jangan gak Ikhlas gitu dong" Balas Adrianne yang meletakkan barang bawaannya dari Cafétaria tadi ke mejanya.
"Menang apa?" Tanya Joseph yang tampak mengernyitkan dahinya.
"Bukan apa-apa" Ucap Hyerim kemudian.
Simon melihat kearah makanan dan minuman yang dibawa Adrianne dan tertawa kecil,
"Kau beli itu semua dari 'kemenangan' mu?" Tanya Simon.
"Tentu saja, ini hanya untuk bersenang-senang tentunya. Aku beli permen ini untukmu Hyerim-Ah, Lalu kalian makanlah donat-donat ini. Oiya aku berikan kau dua botol minuman dingin Joseph! Aku juga akan meminjamkan buku catatanku padamu" Jelas Adrianne sambil membagikan makanannya.
"Terimakasih, aku akan coba" Ucap Harris yang mengambil sebuah donat dari kotak karton.
"Sama-sama. Makanlah bersama!" Ucap Adrianne terlihat senang.
"Adrianne, your like my angel savior..." Ucap Joseph sambil meminum salah satu botol minuman yang diberikan Adrianne padanya.
"Oh! Adrianne kau baik sekali. Kau seperti malaikat yang dikirimkan ke bumi..." Kata Hyerim sambil memeluk toples permen Chupa Chups dihadapannya.
Mereka menghabiskan waktu bersama di jam-jam istirahat. Adrianne berada di antara mereka dengan wajah senang. Tampak dari jendela kelas 2-2, Estelle melihat kearah Adrianne yang tampak hangat berbincang-bincang dengan teman barunya. Estelle kemudian menampilkan ekspresi sedikit sedih dengan perasaan gusar. Ia kemudian meninggalkan kelas 2-2 dan berjalan masuk kedalam kelasnya.
Mulai dari hari itu, Estelle semakin menghindari Adrianne. Ia semakin sibuk dengan pekerjaannya sebagai anggota OSIS. Bianca memintanya untuk membantu di OSIS sebagai Blaire Foundation, dengan kata lain sebagai keluarga dari penyokong terbesar Akademi Lydenn ini. Hal tersebut membuat sikap Estelle berubah menjadi lebih dingin.
. . .
Sepulang sekolah, di sore hari dikala matahari mulai tenggelam. Adrianne pergi sendiri ke dekat Danau Swansale. Ia pergi ke danau itu untuk menenangkan dirinya sembari memberi makan angsa-angsa di sana. Daerah danau cukup sepi dengan dikelilingi oleh lebatnya pohon Conifer. Jalanan menuju danau juga sudah mulai sepi. Adrianne kemudian bergegas untuk kembali ke Asramanya.
Sebuah Mobil sedan hitam melesat cepat dengan truk dan mobil SUV dibelakangnya. Mobil-mobil itu melewati jalan dekat danau dan pergi menuju lebatnya hutan Conifer. Memang terdapat jalan lagi di sana, tetapi warga sekolah dan pengunjung lainnya tidak bisa memasukinya sembarangan. Ada rumor yang mengatakan bahwa daerah sana hanyalah sebuah mansion pemilik pendiri Akademi yang sedang dipugar. Dan ada juga yang mengatakan bahwa daerah itu tempat rahasia, dengan lab percobaan di dalamnya.
Adrianne yang melihat mobil-mobil itu melintas kemudian menyembunyikan dirinya di balik batang pohon yang besar sambil mengintip kearah mobil-mobil itu, yang kemudian lenyap ke dalam hutan. Adrianne memastikan keadaan di sekitarnya dan berjalan cepat menuju area asrama yang berjarak jauh dari danau.
'Apa itu tadi? Aku baru kali ini melihatnya. Apa didalamnya benar-benar ada sesuatu? Apa ini kebetulan sekali atau apa? Tapi, aku penasaran. Tapi tampaknya itu berbahaya. Tapi, apa boleh buat? Aku akan ke danau itu lagi besok untuk memastikannya ' Pikir Adrianne sepanjang jalan menuju asramanya.
. . .