True Colors

True Colors
The Masquerade



Pukul empat. Mereka bergegas menaiki SUV hitam yang sudah menunggu mereka di gerbang keluar sebelah timur. Youngjoo mengisyaratkan sang sopir untuk segera meninggalkan Akademi Lydenn dan bergegas menuju suatu tempat.


Di mobil tersebut tampaknya akan di mulai sebuah diskusi. Diskusi tersebut di mulai oleh Youngjoo.


"Kita akan pergi ke Hotel Marianne. Mereka akan mengadakan sebuah pertemuan. Dan pertemuan ini tidak biasa" ucap Youngjoo.


"Banyak anak Konglomerat dan Pejabat, entah dari negeri ini atau luar negeri yang akan menghadiri pertemuan tersebut. Pertemuan itu mereka lakukan setiap enam bulan sekali" sambung Simon.


"Dan mereka lebih dibilang berpesta daripada sedang melakukan pertemuan bisnis atau politik. Tak jarang pula beberapa diantara mereka berasal dari kalangan Gangster" lanjut Joseph.


"Hotel Marianne? Aku belum pernah ke sana..." ucap Adreano pelan.


'Bohong...', batin Adreano.


"Ya! sudahlah, pokoknya kita akan datang ke sana. Kau akan melihatnya sendiri" tukas Joseph yang menanggapi ucapan Adreano.


Simon hanya terkekeh melihat Joseph yang menanggapi Adreano dengan wajah kesal. Sementara itu, Youngjoo berbicara dengan sopirnya untuk menunjukkan sebuah tempat.


"Acara ekslusif berarti harus ada Undangan eksklusif pula, siapa yang memilikinya diantara kita?" Tanya Simon.


Joseph langsung menatap kearah Youngjoo dengan tatapan tajam. "Hei! kau pasti punya kan?" .


Youngjoo tersenyum, kemudian merogoh kantong yang ada di mantel hitamnya. Ia mengeluarkan tiga amplop berwarna hitam-emas dan tersegel rapih.


"Ya jelas ada lah, memangnya aku tidak memperkirakannya?". Youngjoo langsung membagikan ketiga amplop tersebut kepada Joseph, Adreano dan Simon.


"Hah?! kok cuman tiga bro?" protes Joseph.


"Ah! Berisik banget si Joseph ini. Ya kalau kita masuk semua siapa yang jaga-jaga di luar, bodoh!" Jawab Youngjoo sambil menunjukkan koper jinjing hitam sedang yang ia angkat.


"ohhh! hemmm okeyy!" Kata Joseph dengan jari tangan yang membuat lingkaran.


"Jadi kau akan memantau kami dan memberi instruksi terkait keadaan?" Jelas Adreano.


"Nah! jawaban yang tepat dari mantan murid akademi militer! gak kayak si bodoh satu ini" Jawab Youngjoo sambil menepis pelan kepala Joseph.


Simon kembali terkekeh pelan melihat tingkah Joseph dan Youngjoo yang sangat akrab. Kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah Adreano yang sedang membaca isi amplop undangan yang mereka terima.


"Bagaimana isinya?" Tanya Simon sembari menepuk pundak Adreano yang duduk di sampingnya.


Adreano sedikit melirik kearah Simon, "Ah! Disini tertulis kalau pesta ini "Masquerade", itu artinya wajib mengenakan topeng..." Jelasnya.


Joseph menengok kearah Adreano sembari rambutnya sedang di tarik Youngjoo. "What?! (apa), Ya Tuhan mau masuk aja ribet betul!" Katanya dengan meninggikan nada bicaranya.


Youngjoo melepaskan tangannya dari rambut Joseph, kemudian ia membuka koper hitam jinjingnya. Di dalam koper tersebut, terdapat sebuah laptop, headphone dan beberapa peralatan gawai yang canggih. Youngjoo kemudian mengambil semacam alat komunikasi semacam handsfree, dan memberikannya kepada tiga orang temannya itu.


"Pakailah itu agar tetap saling terhubung. Untuk masalah topengnya tentu saja aku sudah tahu. Simon tolong kau periksa seat belakang mu itu" pinta Youngjoo kepada Simon.


"Oke" Simon langsung mengambil tiga tas belanja besar dengan tulisan brand ternama itu lalu, membagikannya ke Joseph dan Adreano.


"Kau se-niat ini? Bukankah ini hanya masalah ku? Bahkan kau sampai mendapatkan tiga undangan ini..." Tanya Adreano yang heran kepada Youngjoo.


Youngjoo membetulkan posisi kacamatanya dan berbicara, "Daripada dibilang niat, bukankah aku ini bisa dibilang teliti dan hati-hati? Lagipula masalah ini memang masalah mu, tetapi dari sini kita bisa menyelidiki suatu hal dan melihat dirimu apakah kau memang pantas di kubu kami dan bukan seorang peng-"


Belum selesai Youngjoo menjawabnya, Simon memotong pembicaraannya. "Hei sudahlah! kita sudah sampai di lokasi".


Youngjoo menoleh kearah jendela dan ternyata benar, mereka sudah sampai di area Hotel Marianne. Mobil menuju area parkir basement hotel.


"Kalau begitu bersiaplah berganti pakaian dan pasang alat komunikasi itu dengan benar dan jangan sampai ketahuan!" Perintah Youngjoo.


Joseph, Adreano dan Simon mengangguk mantap. Kemudian, mobil telah berhenti. Ketiganya bergegas turun dan mengganti pakaian mereka sesuai dengan tema pesta tersebut.


. . .


Hotel Marianne, merupakan salah satu hotel bintang lima yang ada di negara ini. Hotel ini memiliki 15 lantai dan Penthouse. Tak hanya itu, fasilitas di dalam hotelnya pun lengkap dan berkelas. Banyak orang-orang penting yang mengadakan acara-acara resmi ataupun pribadi disini. Keluarga Heinze memiliki 2,5% dari saham mereka.


Pukul enam lewat tiga puluh menit waktu matahari terbenam. Lobby hotel dipenuhi banyak tamu VIP yang berdatangan. Mobil-mobil mewah datang silih berganti. Layanan hotel mulai sibuk dengan permintaan dari para tamunya. Banyak para penjaga yang sudah berlalu-lalang menjalankan tugasnya. Acara penting sebentar lagi diadakan. Acara tersebut diadakan di bagian Penthouse. Lift khusus sibuk naik dan turun membawa para tamu undangan. Diperkirakan ada enam puluh lima tamu undangan yang menghadiri acaranya.


Area Penthouse telah di dekor sedemikian rupa agar indah dan terlihat beberapa penjaga berjas hitam yang bersiap di tempatnya masing-masing. Banyak pelayan hotel yang sibuk berlalu-lalang membawa makanan maupun minuman. Suara hiruk-pikuk mulai terdengar, para tamu sudah berada di Area Penthouse dan hendak melakukan verifikasi undangan mereka di area pintu masuk sebelum memasuki area pesta. Area Penthouse cukup luas. Terdapat area Outdoor, Indoor dan beberapa ruangan kamar yang bisanya digunakan tamu saat pesta sebagai ruang privasi atau istirahat, tak lupa Public restroom atau toilet.


Pukul tujuh lewat lima menit. Para tamu yang sudah memverifikasi undangannya dan melewati pengecekan keamanan, dipersilahkan memasuki area pesta tersebut. Semua tamu tersebut dari awal masuk hotel telah mengenakan topeng.


Adreano, Joseph dan Simon sudah berada di area pesta. Dengan kata lain, mereka berhasil lolos verifikasi. Ketiganya berpencar dan tetap terhubung dengan alat komunikasi serta arahan dari Youngjoo. Ketiganya juga menyepakati akan bertemu kembali di toilet Penthouse.


. . .


Adreano mengamati sekitarnya, semua orang pada saat itu mengenakan topeng dan tampak berbicang satu sama lain. Ada yang berpasangan, ada yang berkelompok dan ada yang sedang menikmati hidangan. Adreano memutuskan untuk mengambil segelas minuman dan berjalan mendekati pembatas kaca bangunan.


Keindahan gemerlap lampu gedung-gedung pencakar langit kala itu benar-benar indah. Adreano menyeruput pelan minuman di gelasnya dan kembali melihat keadaan sekitarnya. Adreano merasa tidak ada yang mencurigakan di daerah outdoor. Ia melihat ke jam tangannya. Pukul Tujuh lewat dua puluh menit.


Adreano berkeliling di sekitar area kolam renang, ia memutar pelan gelasnya. dan kembali ke posisi awal dan menghela nafas panjang.


"Apa yang membuatmu menghela nafas panjang di acara pesta semeriah ini"


Terdengar suara seorang wanita tepat dibelakang Adreano. Ia kemudian menoleh kearah asal suara itu. Wanita itu nampak tersenyum dibalik putih topeng di wajahnya. Adreano hanya diam dan memperhatikannya berjalan mendekat.


'ah dia ke sini...' batin Adreano.


"Apa kau baru di acara ini? kau sepertinya berkeliling-keliling nampak ke bingungan, maaf aku memperhatikanmu..." Kata Wanita itu.


Adreano tersenyum, "Ah, terimakasih telah memperhatikan saya, saya baru menyanggupi untuk hadir di pesta ini"


"Kalau begitu boleh saya temani melihat keindahan malam ini?" Tanya Wanita itu.


"Tentu saja, nona boleh. It's my pleasure (dengan senang hati)" Jawab Adreano dengan sopan.


Wanita itu berambut hitam updo elegan , dengan cocktail dress berwarna royal purple, dengan kalung silver berliontin safir persis seperti warna matanya dibalik topeng putih dengan bulu di sisi kanannya.


Adreano benar-benar merasa tidak nyaman dengan keadaan canggung tersebut. Segeralah ia ingin membuka topik percakapan.


"Pestanya-" Kata keduanya bersamaan.


Wanita itu tertawa kecil dan Adreano tersenyum.


"Silahkan Nona, berbicara terlebih dulu" Kata Adreano mempersilahkan.


"Haha, baiklah terimakasih. Tidak perlu begitu formal. Kau seperti berada di pesta bangsawan Eropa saja..." Kata Wanita itu sembari tertawa kecil.


"Ah! maafkan saya nona..." Adreano meminta maaf kepada wanita itu.


"Tapi, aku belum pernah melihat mu di acara pesta ini. Kau benar-benar anak baru ya?" Tanya Wanita itu lagi.


"Iya, kali ini saya baru datang karena di desak seseorang" Jawab Adreano mantap.


'Maaf membohonginya...' Kata Adreano dalam hati.


"Ah! ternyata begitu. Ternyata kita sama, aku di desak ayahku..." Kata Wanita itu dengan nada sedih.


Adreano menatap kearah wanita itu. Wanita itu nampak sedih walaupun tertutup oleh topeng diwajahnya. Mulutnya terlihat cemberut. Tak lama kemudian, Acara dansa dimulai, lagu pertama di mainkan. Wanita itu kembali semangat dan kemudian hendak menatap Adreano, buru-buru Adreano memalingkan wajahnya kearah pemandangan gedung- gedung.


"Hei! ini lagu kesukaanku. Maukah kau menjadi partner menari ku?" Tanya Wanita itu sambil tersenyum ke arah Adreano.


Adreano kembali menatap Wanita itu, dan tersenyum tipis. Kemudian ia menyodorkan tangannya, meminta izin dengan hormat untuk menjadi partner menari nya. "Baiklah, Nona. Terimakasih atas tawarannya".


Keduanya berjalan menuju area Indoor pesta, tangan wanita itu merangkul lengan Adreano. Terdengar suara berbisik-bisik para tamu yang melihat keduanya. Namun, Wanita itu tidak menghiraukannya.


Adreano mencuri dengar, dari beberapa orang yang berbisik atau yang membicarakan keduanya.


"lihat, mereka cukup serasi ya..."


"Pantas Nona, terus menolak banyak pria yang mengajaknya bicara dan berdansa..."


"apa jangan-jangan itu pacarnya nona..."


"...dia nona dari perusahaan terkemuka itu bukannya??..."


Tak lama kemudian keduanya sampai di area indoor pesta, tepat di lantai dansa.


"Shall we dance (bolehkah kita menari)?" ucap Adreano kepada wanita itu sambil menyodorkan tangannya dengan sopan.


Wanita itu tersenyum dibalik topengnya dan meletakkan tangannya diatas telapak tangan Adreano dan memulai tariannya.



🎶 Midnight Waltz - Masquerade Party


by Brandon Fletcher


. . .