True Colors

True Colors
The Unresolved Stories



Malam mulai larut, Joseph dan Adreano masih terbangun, padahal besok adalah hari festival olahraga musim dingin. Adreano harus bermain hoki di pagi hari melawan tim hoki es pemihak OSIS.


"Sudah, aku tak tahu banyak lagi tentang hal itu. Ini sudah larut malam, besok kau harus bermain dengan baik bro! " Ucap Joseph yang memberhentikan ceritanya.


"Apa maksudmu sudah? Bagaimana kelanjutannya? Itu belum selesai!" Ujar Adreano sembari menggoyang-goyangkan tubuh Joseph didepannya.


"Aku juga tidak tahu, bro kelanjutannya! Yang jelas setelah itu gak ada yang tahu lagi. lalu di awal musim panas, Adrianne ditemukan tewas di tepi danau..." Kata Joseph menjelaskan.


Adreano berpikir sejenak,


'Ini tak bisa dibiarkan begini! Cerita ini terlalu menggantung...' Ucap Adreano dalam hati.


Joseph yang melihat Adreano terdiam langsung memasang wajah khawatir. Ia juga merasa tak enak telah memberikan sebuah cerita secara setengah-setengah. Tak lama kemudian Adreano kembali menatap kearah Joseph.


"Hei, kalian semua mengenal Adrianne, bukan?" Tanya Adreano tiba-tiba.


"Tentu saja, kami cukup dekat dari pertama bertemu. Walaupun dia tidak peduli dengan perseteruan antara Komite dengan OSIS..." Jawab Joseph takut-takut.


"Dalam cerita yang kau katakan tadi, bukankah Oda belum ada diantara kalian?" Tanya Adreano lagi dengan serius.


"Memang belum, tapi kemudian dia yang pertama kali menghampiri kami setelah kematian Adrianne. Dia memang dekat dengan Adrianne karena satu club..." Jelas Joseph.


"Berarti dia baru diantara kalian? Dia ikut club apa sekarang?" Tanya Adreano lagi.


"Iya dia baru... Dari awal masuk sekolah ini dia berada di club Kendō. Adrianne juga mengikuti club tersebut bukannya? Apa kau tidak tahu?" Ucap Joseph.


Adreano hanya melirik kearah Joseph dengan tatapan dingin. Saat itulah Joseph menyadari bahwa rupanya Adreano tidak tahu bahwa kembarannya itu mengikuti club olahraga tersebut. Lalu Joseph merasa paham dengan situasi yang diterima Adreano saat ini.


"Kenapa dia mengikuti club olahraga? Dia bilang club seni..." Gumam Adreano.


Joseph yang tidak berani bertanya kepada Adreano hanya diam di tempatnya. Pukul sepuluh malam, malam kian larut. Keduanya terdiam dalam kecanggungan. Hingga akhirnya Adreano memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


"Ini sudah malam, kita sudahi saja kebingungan ini. Kau beristirahatlah bro, besok pertandingan tim kubu kita diadakan pagi hari" Ucap Joseph yang menepuk pundak Adreano pelan.


Adreano kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke depan pintu kamarnya. Ia kemudian menoleh lagi kearah Joseph.


"Terimakasih untuk hari ini..." Ucap Adreano pelan sembari menundukkan kepalanya. Kemudian Ia masuk ke dalam kamarnya.


Joseph kemudian hanya tersenyum singkat dan melambai ke arah Adreano, kemudian masuk ke kamarnya.


. . .


Di dalam kamarnya Adreano merasa lelah dan gelisah. Ia mengunci kamarnya dan menyender di pintu kamarnya, ia terduduk. Kedua telapak tangannya yang lebar menutupi wajahnya, kemudian menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskan secara berat dan panjang. Ia kembali mengusap wajahnya.


"Ha... Adrianne, apa yang kau lakukan?" Ucap Adreano pelan dengan lirih.


Adreano bangkit dari lantai dan berjalan menuju lemarinya. Dibukanya lemari itu dan diambilnya sebuah handphone lainnya. Adreano mengaktifkan handphone tersebut dan membuka kunci layarnya. Ia kemudian melihat ke daftar kontak dan menelpon seseorang.


Tuut....Tuutt...


Suara handphone yang memanggil kontak seseorang. Tak lama dari itu panggilan terjawab, terdengarlah seseorang yang berbicara.


"Halo" Ucap seseorang lewat panggilan tersebut.


"Ini aku," Balas Adreano singkat.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seseorang itu.


"Temukan data apapun mengenai Oda Amane, berikan aku datanya besok" Tegas Adreano.


"Oda? Apa anda yakin?" Tanya seseorang itu lagi.


"Iya, cepat laksanakan!" Perintah Adreano.


"Baik, aku akan kirimkan lewat surel besok" Ucap seseorang itu yang terdengar panik. Kemudian Adreano segera mengakhiri panggilan tersebut.


Adreano segera menonaktifkan kembali Handphone tersebut. Ia meletakkannya kembali di bagian terdalam lemari dan menutupinya dengan pakaian-pakaian. Adreano segera menghempaskan tubuhnya ke kasur yang ada di dekatnya.


Pandangannya tertuju ke arah langit-langit kamar, sambil memikirkan sesuatu.


'Adrianne, oh Adrianne... Kau membahayakan dirimu sendiri. Bagaimanapun juga, sikapmu itulah yang membuat diriku khawatir. Kembar bukan berarti sama persis, sifat pasti tetap ada perbedaan...' Pikir Adreano sambil memejamkan matanya.


. . .


Pukul lima tiga dua, dimana hari telah lama berganti. Adreano perlahan membuka matanya dan melihat jam yang ada di meja, sebelah tempat tidurnya. Ia mengusap matanya dan duduk di tempat tidurnya.


"Ah... Aku ketiduran. Kemarin cukup melelahkan" Ucap Adreano sambil menguap.


Ia kemudian bergegas untuk mandi. Meskipun cuaca dingin tetap harus menjaga kebersihan tubuh. Dengan air hangat Adreano pun membasahi tubuhnya dan terlihat lebih sadar dari mata mengantuknya.


Setelah beberapa menit, Adreano menyelesaikan mandinya lalu, segera mengenakan seragam tim hoki es yang di berikan Simon padanya. Ia merapihkan rambutnya, menggunakan kaus kaki olahraga sebetis, memakai sepasang sepatu olahraga dan membawa perlengkapan bermain hoki es serta atribut lainnya, seperti sepatu skating, dan helm pelindung. Kemudian ia mengenakan jaket hitam padding panjang dan kupluk berwarna abu-abu.


Adreano meraih handphonenya, sebuah pesan masuk dari Simon,


"Hei! kau sudah bangun bukan? kita berlatih bersama dulu sebentar, lebih ke Warming Up sebelum pertandingan" Tulis Simon pada pesan tersebut.


"Aku akan segera menuju Ice Rink (arena es), tunggulah..." Ketik Adreano pada papan pesan dan kemudian ia mengirimnya.


Sebuah pesan balasan kemudian masuk, Adreano membacanya sambil mengetuk pintu kamar Joseph.


"Oke, seluruh tim belum banyak yang tiba. Pelan-pelan saja" Balas Simon.


Tokk...Tokk..Tokk


Suara ketukan pintu kamar Joseph. Adreano meletakkan handphonenya di laci kecil tas selempang olahraga yang ia gantungkan pada pundak kanannya.


Kemudian terdengar suara rusuh dari dalam kamar yang membuat Adreano kaget. Joseph kemudian membuka pintu kamarnya, dengan rambut acak-acakan dan piyamanya.


"Ah! Bro! Kau sudah mau pergi?" Tanyanya dengan wajah mengantuk.


"Iya, aku harus berlatih dulu" Jawab cepat Adreano.


"Aku akan datang bersama yang lainnya, sebelum pembukaan nanti pukul sembilan, semangat, Bro! Khooaammm... " Ucap Joseph sambil menguap. Adreano hanya mengangguk dan pergi keluar asramanya.


Joseph yang mengantar Adreano keluar dari asramanya melambaikan tangannya pada Adreano. Adreano sudah pergi menuju lantai dasar gedung asrama mereka dan keluar. Joseph kembali masuk ke Asrama dan pintu terkunci otomatis. Ia kemudian setengah sadar berjalan ke wastafel di kamar mandi dan membasuh wajahnya. Ia kemudian berjalan menuju dapur dan menghangatkan susu dan meletakkannya ke gelas. Joseph membawa susunya berjalan menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti. Pandangannya tertuju ke arah sofa di ruang tamu kecil.


Sebuah stik hoki es tergeletak di atas karpet. Joseph langsung kaget dan segera mengambil stik hoki tersebut.


"Bro!! Astaga, bagaimana kau bisa main hoki tanpa ini!" Seru Joseph sambil memegang stik dan susu hangat di tangannya.


Joseph buru-buru meminum susu hangatnya dan meletakkan stik hoki di atas sofa. Ia kemudian menghabiskan segelas susu tersebut dan meletakkan gelasnya di wastafel dapur.


"Astaga, aku harus mengantarkannya. Arghhhh... aku harus bersiap-siap lebih dulu!" Seru Joseph yang frustasi.


Joseph kemudian bergegas menuju kamarnya dan mengambil perlengkapan mandi dan baju ganti. Ia berniat untuk memberikan stik hoki tersebut kepada Adreano.


. . .


Salju tidak turun hari ini, dan suhu udara tidak terlalu dingin. Sinar matahari menembus awan-awan putih di langit. Kala itu pukul enam lewat empat satu, pemandangan daerah sekitar kawasan Akademi Lydenn semuanya terlihat lebih ceria. Dekorasi untuk acara festival olahraga musim dingin, terpampang di mana-mana.


Adreano berjalan dengan hati-hati di jalanan yang cukup licin. Tiap ia menghembuskan nafasnya, terciptalah uap. Ia kemudian melihat sekitarnya lalu, menarik nafas dalam-dalam. Udara segar pagi hari di musim dingin, memasuki relung paru-parunya. Adreano tampak bersemangat untuk perlombaan hoki es pertamanya.


Tak sadar bahwa stik hokinya tertinggal, Adreano tetap berjalan ke arah tempat pertandingan hoki es akan diadakan, Gedung olahraga dengan Ice Rink (arena es). Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya ia sebentar lagi sampai di depan gedung tersebut. Terdapat sosok Simon dan tiga orang yang sedang bercengkrama di depan gedung tersebut. Adreano segera berjalan mendekati mereka.


Simon tampaknya melihat keberadaan Adreano yang berjalan menuju ke arahnya. Simon pun melambaikan tangannya. Adreano kemudian berjalan cepat menghampirinya.


"Apa aku terlambat?" Tanya Adreano setelah sampai di depan gedung.


"Tentu saja tidak, sekarang kita baru berlima dengan kau, tinggal seseorang lagi, bagaimana kalau aku membagi peran pertandingan ini?" Ucap Simon.


"Siap Kapten!" Seru salah satu anggota tim berambut merah.


"Oh iya, mereka dari kelas kita dan tergabung dalam tim hoki ini, Adreano. Biar ku perkenalkan sekaligus membagi rolenya" Jelas Simon.


Semuanya mengangguk setuju,


"Seperti yang kita ketahui, Akademi Lydenn punya dua tim hoki es. Ada Lydenn Rising Star dan Lydenn Faith Alliance. Kita adalah Lydenn Faith Alliance, kemudian Lydenn Rising Star memiliki kapten dari pihak OSIS. Tahun ini kedua tim akan berpartisipasi dalam festival olahraga musim dingin kali ini. Tahun ini kita menjadi tuan rumah lagi setelah kemenangan mempertahankan kejuaraan dengan tim campuran, pada tahun lalu. Karena saat ini Akademi Lydenn dan beberapa Akademi lainnya memiliki beberapa tim, maka peraturan berubah dan kali ini menjadi perlombaan antara tim hoki es tanpa memandang asal sekolahnya. Festival Olahraga Musim Dingin lebih terkenal dengan julukan Kejuaraan Tim Hoki Es Nasional. Sebentar lagi banyak penonton yang akan datang. Festival Olahraga Musim Dingin ini aslinya tetaplah acara tahunan sekolah kita, biasanya kita membuka stan-stan, mengadakan konser, dan perlombaan Ice skating" Jelas Simon panjang lebar.


Adreano tampak mendengarkan perkataan Simon dengan serius. Tak lama dari itu, seseorang berlari menghampiri mereka.


"Maaf kapten! Aku kesiangan, Ha..." Ucapnya sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Tampaknya dia membawa sekantong plastik besar di tangannya.


"Langsung saja bergabung" Ucap salah satu anggota tim berambut cokelat.


"Ya... Karena semuanya sudah berkumpul mari kita langsung bahas saja intinya. Sebelumnya aku akan memperkenalkan Adreano kepada kalian semua. Kita sangat berterimakasih kepadanya, karena Salah satu pemain andalan kita harus mengalami cedera, jadi dia harus menggantikannya" Ucap Simon menjelaskan.


"Terimakasih, Adreano! Kami menantikan permainan bersamamu! Perkenalkan namaku Franz, Franz Brown" Ucap anggota tim berambut cokelat itu pada Adreano sambil mengajaknya bersalaman.


"Heinze, Adreano Heinze" Balas Adreano sambil tersenyum dan bersalaman dengan Franz.


"Hi! Adreano, Nice to meet 'ya! Jake Rodriguez" Ucap salah satu anggota tim berambut merah itu, ia kemudian bersalaman dengan Adreano.


"Yo! Adreano kita sebelumnya berlatih bersama. Aku berani jamin kepada kalian, dia hebat untuk seseorang yang baru dalam hal ini. Ah! iya namaku Daniel Mitchell" Ucap salah satu anggota tim yang terlambat tadi, Adreano kemudian berjabat tangan dengannya.


"Aku John Collins" Ucap salah satu anggota tim berambut pirang, Adreano pun berjabat tangan dengannya.


"Baiklah kalian sudah saling mengenal, sebelum latihan dimulai aku akan mengumumkan posisinya. Adreano, Aku dan Jake adalah Forwards dimana kita harus mencetak skor dan melindungi daerah kita, sedangkan Daniel dan John akan menjadi Defenceman, yang mana tugasnya adalah melindungi daerah kita, Lalu seperti biasa Franz akan menjadi Goaltender, yang kurang lebih sama seperti menjaga gawang" Jelas Simon.


"Kapten, apa anda yakin menempatkan Adreano sebagai Forwards?" Ucap John.


"Kau meragukan kemampuan Adreano?" Ucap Simon sambil merangkul pundak John.


"Eummm... Aku belum pernah melihatnya bermain di Hockey rink (arena bermain hoki es), karena beda jadwal latihan kapten..." Kata John dengan nada tidak enak.


"Kau bisa melihatnya saat kita latihan nanti" Ucap Adreano sambil tersenyum hangat ke arah John.


"Nah, dengarkan itu John. Percayalah padaku dia hebat dan cepat belajar!" Seru Daniel.


Simon menganggukkan kepalanya berkali-kali tanda sangat setuju. John pun mencoba percaya pada anggota timnya.


"Ngomong-ngomong apa yang kau bawa di kantong plastik itu?" Tanya Franz kepada Daniel.


"Oh iya! tadi aku sempat berpikir bahwa aku telat jadi aku mampir ke Cafetaria dan membelikan roti dan susu! Kita butuh energi untuk menang, bukan?" Kata Daniel dengan percaya diri.


Semuanya tertawa, kecuali Adreano yang sadar dan memikirkan stik hokinya yang tertinggal di asrama. Simon menyadari itu dan hanya tersenyum kecil melihat wajah kecewa Adreano. Kemudian ia meminjamkan salah satu stik hoki es nya pada Adreano. Mereka semua pun bersiap pergi pemanasan dan memasuki gedung tempat Hockey Rink yang telah disiapkan.


. . .


p.s


(。•́︿•̀。) I'm sorry for not updated,


Re: kemarin habis Vaksinasi. Jadi maaf kalau Re: gak teratur Updatenya.


Terimakasih sudah mau membaca karya Re:


(。•̀ᴗ-)✧