
Tim Hoki Es, Lydenn Faith Alliance merupakan tim yang cukup disegani sejak awal akademi berdiri. Tak lama kemudian generasi berlanjut dan melahirkan tim hoki es baru, yaitu Lydenn Raising Star. Kedua tim hoki es itu merupakan kebanggaan dari Akademi Lydenn.
Tahun ini kompetisi semakin memanas, walaupun berada di musim dingin. Kedua tim kebanggaan Akademi Lydenn, berkemungkinan besar akan berlawanan satu sama lain pada Festival Olahraga Musim Dingin kali ini. Antusiasme murid-murid dari berbagai akademi dan juga para penggemar hoki es cukup tinggi, serta sangat bersemangat daripada tahun-tahun sebelumnya.
. . .
Pukul delapan lewat lima belas, Tim hoki es Lydenn Faith Alliance selesai melakukan pemanasan dan bersiap untuk mengganti pakaian mereka ke pakaian resmi pertandingan tim. Mereka juga mempersiapkan diri mereka dengan strategi permainan yang sudah dirancang sebaik mungkin.
Adreano betul-betul memperhatikan penjelasan kaptennya. Ia telah menggunakan pakaian tim hoki, lengkap dengan peralatannya. Hingga suatu ketika di tengah-tengah diskusi, handphone Adreano berdering di lokernya.
Riiinggg...Riiinggg....Drrtt...Rrringgg...
Suara handphone yang terdengar di dalam loker milik Adreano. Seluruh tim spontan berhenti berdiskusi dan bertanya satu sama lain.
"Punya siapa?" Ujar Simon yang menghentikan diskusi.
Semuanya menggeleng dan Adreano beranjak dari tempatnya, ia segera mengecek lokernya.
"Ah... Maaf ini punyaku, bisa aku angkat dan berbicara?" Ucap Adreano sambil memegang handphonenya yang masih berdering.
"Baiklah, tenang saja diskusi ini sudah selesai. Kalau sudah, temui kami di tribun bagian barat" Kata Simon yang mempersilahkan Adreano untuk mengangkat panggilan dari handphone tersebut.
Adreano segera membawa handphonenya dan mengunci kembali lokernya. Ia pergi menuju belakang gedung. Sesampainya di sana, Adreano mengangkat panggilan tersebut.
"Bro! kau meninggalkan stik hoki di asrama, kau dimana?" Tanya Joseph pada panggilan tersebut.
"Kau mengantarkannya padaku? Kalau iya, aku di gedung tempat arena hoki berada" Jawab Adreano melewati handphonenya.
"Iya iya aku sedang berjalan ke sana, tunggu sebentar nanti ku kabari lagi. Kau tunggu, aku akan cepat! " Ujar Joseph yang kemudian mengakhiri panggilan tersebut.
Adreano melihat layar handphonenya dan kemudian membuatnya dalam mode diam. Ia segera mengantongi handphonenya dan berjalan menuju arah depan pintu masuk gedung. Adreano berjalan pelan dan melihat pemandangan di sekitar area pintu masuk gedung.
Banyak pengunjung yang sudah mulai berdatangan. Tim hoki asal akademi lainnya juga mulai berdatangan, mereka membawa sekelompok pendukung. Murid-murid Akademi Lydenn mulai berhamburan dan membaur bersama pengunjung lainnya, mereka tampak mengenakan pakaian pendukung tim favorit mereka. Panggung konser yang terletak tepat di ujung jalan dari gedung arena es tampaknya sudah berdiri kokoh. Pukul sembilan nanti acara pembukaan akan segera dimulai.
Waktu terus bergulir, Joseph belum juga menunjukkan batang hidungnya. Adreano menunggunya di taman samping gedung sambil memperhatikan keadaan sekitarnya. Ia memperhatikan siapa saja yang datang ke acara pesta olahraga tersebut.
'VIP akan lewat pintu depan... Menteri Kesehatan itu pasti datang melihat cucunya bermain...' Pikir Adreano.
Tiba-tiba seseorang datang dari arah belakang tubuh Adreano. Dia tampak tinggi dengan pakaian seragam tim hoki es. Rambutnya pirang dan pandangan matanya terlihat dingin. Ia berjalan melewati Adreano dan kemudian berhenti di depannya. Kemudian ia membalikkan tubuhnya. Adreano merasa terganggu dengan orang tersebut dan menaikan sebelah alisnya.
"Ah! Kau Lydenn Faith Alliance, aku belum pernah melihatmu..." Ujar seorang pemuda tadi yang berdiri di depan Adreano.
Adreano memperhatikan pemuda di depannya dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Kau dari Lydenn Rising Star?" Ucap Adreano.
Pemuda itu kemudian melihat kearah seragam yang ia kenakan dan tersenyum singkat,
"Kau benar, siapa namamu?" Tanya Pemuda itu kepada Adreano.
"Heinze, Adreano Heinze" Balas Adreano singkat. Ia kemudian menatap pemuda itu dengan pandangan datar.
"Heinze..." Ucap pemuda itu lirih.
Adreano tampak tidak mempedulikan pemuda yang ada di depannya itu. Ia masih menunggu Joseph yang tak kunjung datang.
"Baiklah, Heinze aku akan menantikan permainanmu. Bertahanlah!" Ucap Pemuda itu sambil tersenyum kecil.
"Kau sedang apa disini? Bukankah sebentar lagi acara pembukaan akan dimulai?" Tanya pemuda itu lagi.
"Aku tahu, aku hanya sedang menunggu seseorang" Jawab Adreano dengan malasnya.
"Ah... Menunggu seseorang..." Gumam pemuda itu.
Adreano kembali melirik kearah pemuda berambut pirang itu,
"Kenapa kau masih disini? Bukankah kau tadi hanya lewat?" Tanya Adreano dengan niatan mengusir pemuda itu.
"Kau benar, aku akan pergi ke dekat panggung. Aku pergi dulu" Balas Pemuda tersebut yang kemudian mendekati Adreano, lalu ia menepuk pundaknya dan berbisik.
"Kau ingin tahu sesuatu tentang Adrianne, bukan?" Bisik Pemuda itu. Adreano yang mendengarnya langsung tersentak kaget.
Adreano mengernyitkan dahinya dan menarik tengkuk leher pemuda yang ada di depannya. Ia kemudian bergantian berbisik di telinga kiri pemuda itu.
"Jaga mulut mu, jangan sok tahu!" Bisik Adreano yang terdengar mengintimidasi. Namun pemuda tersebut hanya terkekeh pelan kemudian tersenyum.
"Aku lebih tahu daripada temanmu itu..." Balas Pemuda itu sambil melepaskan cengkraman tangan Adreano yang ada di tengkuknya.
Tak lama dari itu, seseorang datang menghampiri mereka dengan aura kebencian yang tinggi. Rupanya itu adalah Joseph yang datang sambil membawa stik hoki es milik Adreano. Stik hoki es tersebut diacungkan ke arah pemuda berambut pirang di dekat Adreano.
"Menyingkirlah! Dia temanku" Seru Joseph dengan wajah tenang namun terdengar serius.
Pemuda tersebut menyingkirkan tubuhnya dari dekat Adreano sambil mengangkat kedua tangannya sebagai tanda mundur. Pemuda itu memperhatikan Joseph dengan tatapan dingin dan serius. Ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan keduanya.
"Uruslah, urusanmu sendiri Jonathan!" Teriak Joseph kepada pemuda berambut pirang tadi. Ia adalah Jonathan Cardia.
Pemuda itu tidak menghiraukan teriakan tersebut dan hanya berjalan menuju ujung jalan seraya melambaikan tangannya. Sedangkan Joseph menatap punggungnya dengan tatapan penuh kebencian. Adreano yang terkejut mendengar nama pemuda tadi hanya memperhatikan keduanya yang tak akur itu.
Joseph mengalihkan pandangannya dan segera memberikan tongkat hoki kepada Adreano. Keduanya pun berjalan memasuki gedung dan mencari tribun bagian barat.
"Kau bertemu dengannya?" Ucap Joseph yang tiba-tiba sambil berjalan dengan tenang memasuki gedung yang ramai.
"Kebetulan" Balas Adreano yang mencari tribun barat.
"Apa yang dikatakannya?" Tanya Joseph lagi.
"Hanya mencoba memancingku" Jawab Adreano sambil menunjuk kearah bagian barat tribun. Keduanya berjalan perlahan menuju kursi penonton bagian barat yang masih terlihat sepi dan hanya beberapa orang di sana.
"Aku tak tahu, yang pasti dia tahu lebih banyak daripada aku" Ucap Joseph lirih.
Adreano menatap ke arah Joseph dengan wajah bingung.
"Dia lebih tahu? But Why (tapi kenapa)?" Tanya Adreano pada Joseph. Kemudian keduanya duduk di kursi penonton.
"Dia ada di sana saat Adrianne ditemukan" Balas Joseph.
Adreano hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah kursi timnya berada. Di sana ada Simon dan yang lainnya. Adreano kemudian berdiri dari kursinya. Joseph yang disampingnya memperhatikannya dengan perasaan tidak enak.
"Pertandingan sebentar lagi, aku harus berkumpul dengan tim ku" Ujar Adreano yang kemudian perlahan berjalan menuju kursi anggota timnya berada.
Joseph hanya mengangguk dan memperhatikan Adreano yang pergi. Tak lama dari itu, Amane, Hyerim, Youngjoo, dan Harris datang menghampiri Joseph. Mereka datang bersamaan dan menghampiri Joseph yang baru saja ditinggalkan oleh Adreano. Setelah itu mereka ber-lima duduk bersebelahan dan bersiap untuk acara pembukaan. Sedangkan Adreano dengan timnya bersiap untuk apel pagi sebelum memulai pertandingan.
. . .