Transmigration

Transmigration
Chapter 8



"Gak ada ya?" Alesya bergumam, matanya masih terpaku di jendela kelas. Tak menyadari jika ia sedang diperhatikan.


"Lagi ngapain?"


Alesya terlonjak kaget, kepalanya segera menoleh ke arah suara. Laki-laki yang tengah bersandar di pinggiran pintu itu mengerutkan kening, menatap heran Alesya yang seperti ketahuan sedang mencuri.


"I-itu…."


Alesya dengan ragu berkata, ia menghindari kontak mata dengan laki-laki yang tengah bersandar di ambang pintu yang menatapnya heran. "Gue nyari-"


"Oh," Laki-laki itu memotong perkataan Alesya, memasang raut paham, "LANGIT!!, ALESYA NYARIIN-"


Dengan segera Alesya menarik seragam laki-laki tersebut. Memberi jelingan tajam, "Gue gak nyari Langit!" Alesya melepas genggamannya pada seragam, "Gue nyari Bara."


"Bara ya," Laki-laki itu menoleh ke dalam kelas, "Gak ada tuh, coba ke gedung dua geh, biasanya dia lagi ngelakuin ritual paginya," Ujarnya mengundang kerutan di dahi Alesya.


"Ritual pagi?" Ulang Alesya meminta konfirmasi jika yang ia dengar tak salah.


Laki-laki itu mengangguk. Ia melambai saat Alesya melenggang pergi setelah mengucapkan terimakasih.


"Alesya ngapain nyariin gue?" Tanya Langit saat melihat siswa yang memanggilnya tadi masuk ke dalam.


"Gak, dia nyariin Bara"


"Terus kenapa lo manggil gue tadi?"


"Gue salah paham, gue pikir Alesya dateng buat nyari lo kek biasanya, ternyata bukan."


Laki-laki itu memang sempat mendengar kabar bahwa Alesya sudah tak tertarik lagi dengan Langit. Tapi ia tak terlalu mempercayainya karena ia -sebagai teman sekelas Langit- menjadi saksi hidup bagaimana selama ini Alesya mengejar Langit. Namun dengan kejadian ini ia menjadi yakin seratus persen bahwa kabar itu benar.


'Kalo gitu, mereka bakalan mulai ngejar-ngejar lagi ya?' batinnya, membayangkan kejadian yang akan terjadi di masa depan.


... ◖◇◗...


"Dasar penggila otot," Cibir Alesya menatap datar Bara yang tengah berenang.


Sekarang ia paham mengapa Bara selalu menjemputnya pagi-pagi, dan juga selalu pergi terburu-buru saat sampai di sekolah. Ternyata untuk hal ini. Alesya menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut tubuh kekar Bara yang ditutupi baju renang full body saat naik ke permukaan. "Lo gak kedinginan apa?"


Bara melirik Alesya sekilas, "Gak tuh," Jawabnya datar seraya melepas kacamata renang serta topi renangnya. "Ada apa?"


"Lo dicariin Pak Arthur."


Alis tebal Bara mengernyit, ia menatap Alesya ragu, "Cuma itu?"


Alesya mengangguk, "Cuma itu."


"Lo kan bisa telepon," Ujarnya terus terang.


Bingung kenapa Alesya harus repot-repot mencarinya padahal tinggal di telepon doang, apa Alesya juga lupa cara memakai telepon? Namun ia juga heran mengapa Pak Arthur juga tidak meneleponnya saja.


"Udah!" Sautnya ngegas. Alesya menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "Lonya gak ngangkat .Gue juga gak akan capek-capek nyariin lo kalo lo bisa di telepon."


"Mau ngapain?" Ujar Bara. Ia lumayan kaget dengan ucapan Alesya yang tak santai.


"Gak tau. Gue pergi, jangan lupa lo," Ancam Alesya disertai renungan tajam.


"Iyaa."


Bara memandang kepergian Alesya. Terus-terang ia lebih suka Alesya yang sekarang. Yang terlihat lebih dewasa serta tidak mengejar-ngejar Langit.


Mengacak-acak rambutnya, Bara memandangi riak air di kolam renang. Menghela nafas berat. Entah mengapa perasaannya menjadi rumit semenjak kecelakaan Alesya.


...◖◇◗...


Angin yang berhembus pelan menerpa pepohonan, menimbulkan suara desiran dedaunan yang menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Alesya melirik bergantian antara minuman kaleng di tangannya dengan gadis yang duduk di sampingnya. Sudah beberapa menit terlewat dengan keheningan di antara keduanya.


Alesya masih bertanya-tanya mengapa ia bisa menyetujui ajakannya. Sebenarnya ia senang karena bertemu dengan tokoh-tidak, orang yang dikaguminya, sang protagonis novel ini Viana. Namun disaat bersamaan ia sedikit,TIDAK bukan sedikit tapi sangat-sangat gugup serta khawatir karena ia bisa dibilang sangat mengetahui kepribadian gadis yang memiliki rambut pendek yang melewati bahu ini.


"Kenapa gak di minum?"


Alesya terperanjat saat Viana berbicara, ia sedikit menoleh dan mendapati Viana sedang tersenyum ke arahnya, dengan mata polos. Yang justru membuatnya semakin merinding.


"Gak kenapa-napa. Ini mau diminum."


Alesya membuka penutup minuman dan dengan segera meneguknya habis, mengundang kekehan dari Viana.


"Gak usah langsung diabisin juga kali."


Mendengar suara kekehan itu, Alesya tidak bisa tidak terpesona. Mata Viana yang sedikit menyempit serta bibirnya yang melengkung dengan indah. Ia sekarang mengerti mengapa Langit dan para tokoh novel lainnya begitu terpikat oleh Viana. 'Damagenya protagonis emang beda ya?'


Tapi Alesya tidak bisa lengah, di hadapannya sekarang adalah Viana. "Kenapa lo ngajak gue ke sini dan juga kenapa lo ngasih minuman."


Sekarang alis Alesya yang naik sebelah. Bingung dengan ucapan yang dilontarkan Viana. "Maksudnya?"


"Ya terimakasih buat yang kemarin dan….maaf untuk perilaku Langit?" Ujar Viana dengan polos. Ia memejamkan matanya, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Mengabaikan Alesya yang menatapnya.


"Oh iya walaupun lo amnesia, tapi…." Viana diam sesaat, netranya menatap lurus ke depan, "perjanjian kita tetap berlaku kan?"


"Huh?"


Viana terkikik geli, ia berdiri lalu menatap tepat pada iris Alesya. Dirinya dapat melihat kebingungan murni di mata itu. "Gue anggep iya, bye."


Alesya terperanga, menatap kepergian Viana yang tiba-tiba. Perjanjian apa maksudnya? Dan apakah ini cara memperlakukan orang yang sering mengganggunya? Mungkin jika orang lain yang seperti ini ia kan mengabaikannya namun ini Viana, dia tak akan melakukan sesuatu tanpa sebab.


Alesya menatap dedaunan kering yang berterbangan terbawa angin. Semakin lama, ia merasa semakin banyak misteri yang muncul. Bara yang bersikap lumayan ramah padanya, munculnya Darren, Maya dan Alan dan sekarang perilaku aneh Viana.


"Perjanjian ya?" Gumamnya. Mungkin ini bisa menjadi kesempatannya menjalin hubungan pertemanan dengan Viana.


...◖◇◗...


Rintikan air terus berjatuhan dari atas langit, membuat suhu lumayan dingin. Alesya menatap hujan dari balik jendela kelas, entah mengapa ia merasa akan terjadi hal buruk.


"Al, c'mon."


"Ah iya."


Alesya bangkit dari duduknya, mengikuti Maya menuju kantin. Dalam hati ia berharap bahwa firasatnya ini hanya berasal dari terbawa suasana hujan dan juga yang tadi pagi. Namun harapannya seketika musnah.


Hujan masih mengguyur bahkan setelah berjam-jam. Justru semakin besar dari waktu ke waktu. Sejujurnya ia tak masalah jika hujan turun. Namun sekarang hal itu menjadi masalahnya, karena hujan ia tak bisa pulang, mana Bara udah pulang duluan. Dan sekarang ponselnya mati, mau minta dijemput supir gak bisa karena ponselnya mati. Mau minta tolong pesanin gojek juga gak ada orang lagi.


Sungguh sial nasibnya. Seandainya Bara mengabarinya lebih awal jika akan pulang duluan, Alesya bisa meminjam payung sekolah. Namun semua payung sekolah sudah habis. Padahal sekolah ini sangat besar dan juga elit, namun payung saja kehabisan. 'Dasar, sekolah elit tapi payung sulit.'


"Pendek, lo belum pulang?"


Sekarang Alesya yakin darimana asal kegelisahannya begitu suara itu terdengar. Dirinya sangat merutuki nasibnya yang sepertinya selalu sial. 'Pasti cuma imajinasi, iya gak mungkin orang itu ada di sini gak mung-'


"Jangan sentuh-sentuh gue mesum!" Seru Alesya, menepis lengan di pundaknya. Dan melangkah menjauh.


Perempatan imajiner muncul di dahi Alan, merasa sakit hati karena tangannya ditepis dan juga kesal karena di sebut mesum.


"Stop panggil gue mesum, gue punya nama. Nama gue Alan, Alan Geralda," Ujarnya dengan penekanan di akhir kalimat.


"Lah kan kenyataanya lo mesum. Lo itu mesum, maling pula," Celetuk Alesya, seolah yang ia katakan adalah kebenaran mutlak.


Beberapa menit berlalu namun hujan juga tak kunjung reda. Alesya mendengus kasar, melirik tajam laki-laki di sebelahnya yang juga tengah meliriknya, "Ngapain lo ngelirik gue ke gitu?"


"Lo juga ngapain ngelirik gue?"


Mereka saling menatap satu sama lain, lalu membuang muka serempak.


Alesya mempertanyakan keberuntungannya. Mengapa dari sekian banyaknya orang di dunia ini kenapa dirinya harus bersama dengan Alan. Moodnya yang memang sudah hancur karena hujan kini bertambah hancur.


Bagaikan kata pepatah setelah gelap terbitlah terang, setelah hujan muncullah pelangi. Dan itulah yang dirasakannya saat suara yang akrab terdengar di telinganya.


"Alesya? Kenapa belum pulang?" Tanya sang penyelamat, Darren dengan senyum yang menghiasi wajah berkacamatanya.


"Kejebak hujan kak, "Alesya menjawab dengan nada lembut yang sukses membuat Alan terperangah. "Kalo kak Darren sendiri kenapa belum pulang?"


"Tadi masih ada urusan, dan baru sekarang mau pulang."


Alesya ber-oh ria mendengar penjelasan Darren. Netranya menangkap paper bag yang berisi buku. "Kak, bukannya bakal ke basahan ya bukunya kalo pulang sekarang?"


Darren mengikuti arah mata Alesya, lalu tersenyum. "Gak bakalan, soalnya gue bawa mobil."


"Kak Darren udah punya SIM?" Celetuk Alesya, membuat Darren sedikit terkekeh.


"Punya kok."


"Oh iya, lo ikut aja pulangnya sama gue," Ajak Darren, Alesya hendak menolak namun langsung di sela Darren dengan senyuman.


"Lo anak baru itu kan?"


Alan merespon dengan anggukan.


"Ayo ikut juga. Kayaknya hujannya juga masih lama." Darren tersenyum ke arah keduanya dan mulai berjalan ke arah parkiran.


Alesya mengikuti karena ia juga harus segera pulang dan mengerjakan PR yang harus dikumpulkan besok. Namun ia segera berhenti saat menyadari jika Alan tak mengikuti. Ia menengok ke belakang. Dahinya berkerut saat melihat Alan yang memandang Darren dengan tatapan yang cukup rumit.


'Apa mereka saling kenal?'