
"Enak banget ya?" Cibir Alesya melihat laki-laki yang kabur darinya tengah tertidur dalam posisi duduk, bersandar pada tembok.
Alesya tak menduga jika ia akan menemukan laki-laki ini saat berkeliling sekolah. Maya bilang siapa tau dengan berkeliling sekolah akan membantunya untuk mendapat ingatannya kembali. Niatnya ingin menolak namun tak enak juga. Karena itulah saat waktu istirahat -yang juga kebetulan diperpanjang karena ada rapat guru- mereka berdua melakukannya.
Namun karena Maya mendadak pergi sesaat setelah mendapat telepon, Alesya menjelajahi sekolah yang luar biasa luas ini sendirian. Dan dia berakhir di belakang sekolah dan menemukan orang yang tertidur seperti mayat ini.
Memang tak dipungkiri jika tempat ini sangat cocok untuk bersantai. Suasananya sangat tenang dan sejuk karena pepohonan rindang yang ditanam lumayan banyak. Serta lokasinya yang jauh dari tempat yang bisa dikunjungi para siswa menjadi nilai plusnya.
Menurunkan tangannya yang bersedekah dada. Alesya membungkuk, memperhatikan name tag yang terpasang di sebelah dada kiri laki-laki tersebut.
"Alan Geralda," Gumamnya.
Alesya beralih menatap orang yang tengah tertidur lelap. Dirinya mengakui jika laki-laki ini- Alan- termasuk kedalam kategori tampan, tampan maskulin tepatnya. Dirinya untuk beberapa saat terus menatap lekat laki-laki di depannya. Sampai suara benda jatuh terdengar dengan keras, membangunkan orang yang sedang Alesya tatap.
Dengan segera Alesya berdiri, jantungnya berdegup kencang saat melihat Alan yang ia tatap sendari tadi membuka matanya. Dengan gugup, ia merapikan rambutnya. Melihat sekeliling seolah-olah tak ada yang terjadi. Dalam hatinya Alesya menjerit karena malu.
Alan hendak membuka suaranya namun terhenti saat sebuah suara kembali terdengar, kali ini bukan suara benda jatuh, melainkan suara manusia.
"DASAR ******!"
Mereka berdua saling memandang. Alan memasang wajah bertanya yang dibalas dengan gelengan kepala Alesya. Memasang wajah berpikir, Alan lalu berdiri. Tangannya menepuk-nepuk celananya yang sedikit berdebu karena duduk di lantai. Kemudian melangkah pergi.
Alesya dengan refleks meraih seragam Alan, "Mau kemana?"
"Meriksa."
Mengerti, Alesya segera melepaskan pegangannya dan mengikutinya dari belakang. Alan tak protes dan membiarkan Alesya mengikutinya. Mereka berdua berjalan dengan tenang ke arah sumber suara yang masih dapat didengar.
"Kayaknya suaranya dari sini," Ujar Alan, menunjuk dengan ibu jarinya ke ruangan di sebelahnya.
Alesya menatap ke atas, tepatnya pada tanda yang tergantung. Ia bersyukur sekolah ini selalu menuliskan nama ruangan. Nanti kan repot jika tiba-tiba ruangan ini ruang guru?
"Gudang."
Keduanya mengintip ke dalam melalui celah pintu kayu ganda. Netra mereka melakukan kontak saat keduanya paham dengan situasi yang tengah terjadi.
'Bullying,' Batin keduanya bersamaan.
Di dalam gudang terlihat tiga orang siswa perempuan yang tengah mengitari seorang siswa perempuan lainnya.
Genggaman tangan Alesya mengeras. Sorot matanya penuh dengan amarah. 'Mau di dunia nyata maupun di novel, para bangsat itu selalu ada ya?' Batinnya geram.
Ia tak memiliki kenangan yang baik tentang para sampah yang menindas orang yang lebih lemah hanya agar terlihat lebih superior.
Alesya dengan cepat berlari saat melihat salah satu dari para pembully itu mengangkat ember, hendak menyiramkannya ke siswa yang tengah terduduk di tengah mereka. Tangan Alesya dengan segera meraih dan melemparkan ke lantai ember berisi air, yang ia yakini itu air pel.
"Apa-apaan lo!" Desis siswa perempuan itu kesal karena tiba-tiba ember di tangannya dilempar, membuat kegiatannya terganggu. Menatap tajam Alesya.
"Bukannya gue yang seharusnya bertanya apa yang kalian lakukan?" Alesya bersedekah dada, balas menatap gadis yang memakai bando itu tak kalah tajam.
"Ini bukan urusan lo."
"Itu jadi urusan gue sekarang."
Siswa itu tersenyum sinis,memandang rendah Alesya, " Heh! Lo sekarang berakting jadi pahlawan? Hah, percuma! Lo gak akan jadi suci hanya karena lo ngelakuin ini, "
Alis Alesya terangkat sebelah, "Terus."
Melihat tanggapan santai Alesya membuat siswa itu semakin kesal, ia menggertakan giginya, "Dasar cewe murahan! Lo sama dia sama-sama ******," Ujarnya menunjuk antara Alesya dan siswa korban bully.
"Bukan hanya ngegoda Langit, bahkan kalian berdua juga ngegoda ketua OSIS. Dan sekarang, lo bahkan ngegoda anak baru juga. Dasar Pelacur!"
Tangan Alesya seketika mencengkram mulut siswa itu dengan kencang, tak memperdulikan rengekan kesakitan yang dikeluarkan. Serta teriakan panik dari kedua orang pelaku lainnya.
"Lo ngomong apa hah? ******?! PELACUR?! " Serunya dengan ekspresi bengis.
Ia sudah muak, sudah sangat muak dengan orang-orang seperti mereka. Orang-orang yang menindas orang lain hanya karena tidak mendapatkan apa yang mereka mau dan melampiaskannya kepada orang lain. Tak peduli jika tindakan mereka menghancurkan orang lain, tak peduli jika orang yang mereka tindas harus meregang nyawa. Mereka tidak peduli, tidak pernah peduli.
"Heh dengerin sini lo anak babi! Seperti yang lo bilang, gue emang gak suci kayak 'lo-lo' pada. Dan karena itu gue bisa ngelakuin apapun yang gue mau ke kalian bertiga. Dan gue gak akan pernah segan-segan." Ujarnya dengan penuh penekanan pada setiap perkataannya.
Alesya melepas cengkramannya dengan kasar dan sedikit mendorong,ia menatap dengan dingin pada mereka bertiga. "Pergi dan jangan tunjukin muka lo di depan gue atau gue patahin leher lo."
Geng pembully itu segera lari keluar dari gudang. Meninggalkan keheningan di dalam.
"Emmm….makasih, Alesya."
Alesya memalingkan wajahnya saat mendengar suara dari korban dari bullying tadi yang memecah keheningan.
"Iya sama-sama." Sautnya disertai senyum tipis. "Udah buruan bangun, ngapain lo duduk terus. Apa kaki lo sakit? Sebelah mana? Mau gue anterin ke uks?" Lanjutnya, ia berjongkok memeriksa gadis itu.
Gadis itu sedikit terkekeh mendengar pertanyaan bertubi-tubi yang dilontarkan Alesya padanya, "Gak, gak usah, gue gak papa kok. Cuma agak kesemutan aja," Terangnya.
"Oh syukurlah kalo gitu, sini gue bantu bangun." Alesya berdiri. Ia mengulurkan tangannya pada gadis itu, berniat membantunya.
Alesya tercengang. Namun tidak di perdulikan Langit yang segera merangkul gadis itu, membantunya berdiri. Dan ketercengangan Alesya bertambah dua kali lipat saat mendengar nama yang keluar dari mulut Langit.
"Viana, lo gak papa?"
"Gue gak papa."
'Tunggu, Viana? Maksudnya Viana Ellaine Ghisellin.'
Alesya menatap gadis itu dengan cermat, menelisik setiap jengkal tubuhnya.
◖Wajahnya yang bulat serta pipinya yang sedikit chubby, hidungnya yang kecil namun mancung. Senyum menawan yang selalu menghiasi wajahnya itu mampu menghilangkan suasana suram di sekitarnya.
Bulu mata lentiknya menghiasi matanya yang indah bak batu obsidian itu menatap ke bawah tepat ke arah Langit dari koridor lantai dua. Pada saat itu langit menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta pada gadis itu, Vianna Ellaine Ghisellin.
Satu-satunya orang yang berani menentangnya. Menentang dirinya yang merupakan Ketua dari Geng Shadow yang disegani banyak orang◗
Alis Langit bertautan ketika menyadari gadis yang ia panggil Viana itu sedikit tertatih saat berdiri. Matanya menatap Alesya yang masih sibuk dengan dunianya.
"ALESYA!!" Seru Langit, jarinya menunjuk Alesya tepat di wajahnya, "Gue pikir lo udah sedikit sadar, tapi ternyata lo masih sama aja. Gue bahkan ragu kalo lo beneran amnesia dan sekar-."
"Woy," Sela Alesya setelah pulih dari keterkejutannya, ia menatap Langit dengan wajah kesal, "Lo bisa kan gak usah menggonggong di depan muka gue?"
Alesya melirik ke arah Viana, "Dan…." Alesya berhenti sejenak, menurunkan jari yang tertunjuk ke arahnya menggunakan jarinya "Gue pikir lo harus belajar mendengarkan perkataan orang lain geh."
Dahi Langit berkerut, dirinya bingung mengapa Alesya tiba-tiba berkata seperti itu. "Jangan ubah topik-"
Sekali lagi Alesya memotong perkataan Langit, "Liat? Sepertinya lo lupa dengan ucapan gue saat di kantin. "
Melihat sekelilingnya, Alesya lalu melangkah ke arah tumpukan alat-alat kebersihan yang tergeletak di sudut gudang. Ia mengambil sebilah bambu yang sepertinya milik anak-anak pramuka untuk kebutuhan tenda. "Lo belajar sejarah Indonesia kan? Pastilah, lo kan Leadernya Geng Shadow."
Kerutan di dahi ketiga orang itu terlihat semakin mendalam ketika melihat perilaku aneh Alesya. Ditambah dengan pertanyaannya itu. Apa hubungannya ketua Geng Shadow dengan sejarah indonesia?
Alesya mengangkat bilah bambu itu tepat di depan wajahnya, lalu mengusap bagian yang runcing dengan jari telunjuk. Entah mengapa perasaan kedua laki-laki itu tak enak saat melihatnya.
"Dulu…." Alesya memulai, "saat bangsa kita berperang, para pejuang kita kekurangan senjata. Jadi untuk mengakali hal tersebut, mereka menggunakan bambu yang diruncingkan di ujungnya," Tutur Alesya.
Kemudian dia berbalik ke arah mereka. Menatap ke arah Langit dengan senyum manis menghiasi wajahnya. Namun senyuman itu tak sampai matanya, matanya justru menyala dengan kilatan berbahaya.
Alesya melanjutkan ucapannya, mengabaikan ketiga orang yang tiba-tiba berkeringat dingin. "Oleh karena itu, sebab gak ada pisau, kita gunain bambu ini aja ya? Ayo buka celananya Langit, atau….lo mau gue bukain?"
Alan dan Viana tak bisa menyembunyikan kebingungan serta keterkejutan mereka atas ucapan Alesya yang tak ada angin tak ada hujan menyuruh Langit untuk membuka celana.
Namun berbeda dengan Langit yang mengerti arti dari ucapan itu. Ia menelan ludahnya saat sekelebatan ingatan menghampirinya.
"Sekali lagi lo ngebacot di depan muka gue, gue pastiin barang berharga lo gue potong, GUE BABAT!!!"
Dengan susah payah menelan ludah, Langit menatap bergantian antara bambu yang di pegang Alesya dengan Juniornya. Tanpa sengaja Langit menatap mata Alesya yang juga tengah menatapnya. Tubuhnya tiba-tiba merinding, dengan segera Langit menggenggam lengan Viana dan dengan cepat pergi keluar dari gudang.
"Ck, cemen," Alesya bergumam saat melihat Langit yang kabur. Lalu matanya menangkap sosok Alan yang terdiam yang menatap ke arah pintu. Alisnya mengernyit tak suka.
"Ngapain lo natap Viana kek gitu? Lo mau macem-macem ya?" Tuduhnya saat menyadari kemana arah tatapan Alan.
"Enggak lah. Gue bukan orang mesum ya." Sanggah Alan tak terima.
"Ya tapi kan lo emang mesum."
Alan menatap datar Alesya, 'Dia nyebut gue mesum, padahal dia sendiri yang yang ke gitu,' Batinnya saat mengingat kejadian Alesya yang menyuruh Langit membuka celananya.
"Dan lo juga bukannya bantuin malang diem aja," Lanjut Alesya kesal karena Alan hanya diam saja saat melihat pembullyan tadi dan malah hanya menatap Viana dengan tatapan aneh? Entahlah dia juga bingung.
Alan menggaruk keningnya yang tak gatal, diam-diam mengakui jika ia salah karena tidak membantu. "Kan udah diselesain sama lo."
"Kan lo bisa gitu ngejulurin kaki panjang lo biar mereka kesandung pas lari."
"Ya sorry."
"Cory~," Cemooh Alesya dan melenggang pergi.
"Gah! Terserah lah." Alan mangkat kedua tangannya, menyerah. Tidak kuat dengan sikap Alesya.
...◖◇◗...
Hujan, saat-saat dimana sang protagonis dan juga pasangannya basah kuyup karena kehujanan, lalu mereka berteduh. Melewati waktu dengan mengobrol dan menjadi saling dekat. Suasana yang amat romantis. Tapi itu cuma di novel.
Alesya mendengus melirik tajam Alan yang juga ternyata sedang meliriknya, " Ngapain lo ngelirik gue?"
"Lo juga ngapain ngelirik gue?"
Mereka berdua saling menatap, lalu dengan serempak membuang muka membangun muka.