
"A-aku gak bisa,"
"Kenapa?" Tanyanya, menatap tepat di mata perempuan di depannya.
Perempuan itu hanya diam, memalingkan wajahnya. Kekesalan lelaki itu semakin bertambah saat sang perempuan di depannya menghindari kontak mata dengannya.
"Aku tanya sekali lagi, kenapa?" Suara lelaki tersebut terdengar dalam dan dingin, membuat sang perempuan merinding. Lelaki itu tak menyadari jika genggamannya pada lengan kecil itu semakin mengerat, membuat sang pemilik lengan meringis.
Sekali lagi tak ada jawaban. Lelaki berjas tersebut menarik perempuan itu kencang, alhasil perempuan tersebut menabrak dada bidangnya. Tangan kekar sang lelaki mengangkat dagu perempuan yang sejak tadi tertunduk. Mendekatkan kepalanya pada orang di depannya.
Setiap detik berlalu, semakin menghilang juga jarak diantara keduanya. Mungkin disebabkan hujan, mereka berdua dapat merasakan nafas panas satu sama lain dengan jelas, dan jarak mereka berdua semakin menipis, lalu-
BRAK!!
Sebuah laptop terjatuh dengan suara gedubrak yang nyaring. Alesya -yang merupakan sang pelaku- mengubur wajahnya yang sudah memerah bak tomat dengan bantal. Mengabaikan laptopnya yang sudah jungkir balik, -R.I.P laptop-chan-
"Sialan malu baget anjir. Mereka yang ngelakuin,gue yang malu," Gumamnya.
Alesya turun dari kasur, mengambil laptopnya yang terjatuh, untung tak rusak. Netranya menangkap judul dari film yang dirinya tonton. Dirinya tak bisa tidak merutuki kelalaiannya. Niatnya ingin menonton film komedi agar tak bosan justru yang di tonton Alesya malah film Romcom.
Tanpa sadar Alesya menyentuh bibirnya saat melihat layar yang ter-pause. Tiba-tiba bayangan dirinya berciuman dengan seorang laki-laki memenuhi kepalanya. Laki-laki tinggi dan juga tampan yang menyen-
Suara dering telepon membuyarkan lamunannya, membawa Alesya kembali ke kenyataan.
Alesya menampar pipinya sendiri, mengutuk pikiran laknatnya, "Gue mikir apaan sih."
Dirinya mengambil ponsel di atas nakas yang tak berhenti berdering, kemudian duduk di pinggiran kasur.
"Maya? Ngapain dia nelepon?" Alesya memandang layar ponsel yang bertuliskan nama Maya. Bimbang apakah harus diangkat atau dibiarkan saja.
"Angkat ajalah, siapa tau penting," Putusnya setelah beberapa saat pertimbangan, ia menggeser tanda terima, menempelkannya ke telinga.
"Halo….Al," Suara Maya dari balik telepon terdengar agak ragu-ragu. Namun Alesya memilih mengabaikan.
"Ada apa? Kalo gak penting gue matiin, " Alesya berucap dengan ketus.
"Al, you marah sama I?"
"Gak," Sebenarnya Alesya bukan marah, namun hanya kecewa.
"...."
Tak ada sahutan dari seberang telepon beberapa saat. Membuat Alesya mengernyit karena Maya yang tiba-tiba terdiam. Tapi suara yang muncul berikutnya membuat dirinya kerutan di dahinya tambah dalam diiringi rasa khawatir.
"May?.... Lo…. Kenapa?"
Tak berselang lama, terdengar sahutan dari seberang telepon, jutsu hal itu malah membuat Alesya menjadi khawatir mendengar tangisan Maya.
"MAAF!! HUAAAA!" Alesya menjauhkan telpon miliknya dari telinga lantaran suara tangisan Maya yang memekakkan telinganya.
"Maaf, hiks. Gue gak bermaksud gak ngebela lo saat berantem sama Langit hiks. Tapi gue takut sama lo Al. Lo beda banget sama Alesya yang gue kenal. Gue takut hiks."
Alesya terdiam mendengar ucapan Maya, bukan karena Maya yang tak menggunakan bahasa Inggris dalam ucapannya. Ya itu termasuk namun tak begitu penting. Karena keterdiaman Alesya sebagian besar karena hal lain.
Sejenak dirinya sadar bahwa dia bukan berasal dari sini. Dia bukan Alesya Gabriella. Dia Alexia. Bohong jika Alesya tak gelisah, entah mengapa dirinya bisa lupa. Apa penyakit lupanya bertambah parah? Atau dia terlalu terlena dengan dunia ini?.
Alesya menutup telepon setelah menenangkan Maya, serta menyatakan bahwa dirinya paham dengan posisi Maya dan memaafkannya.
Melempar ponsel ke sembarang arah, Alesya berbaring terlentang. Matanya menatap langit-langit, membuat dirinya merasakan deja vu. Ia teringat saat pertama kali tersadar di rumah sakit.
Bangun, Alesya berjalan menuju kamar mandi. Dia butuh menenangkan dirinya.
Sejujurnya Alesya bertanya-tanya kenapa Maya, yang menyandang status sebagai temannya tak datang menjenguk, apa mereka bertengkar sebelumnya? Dan juga Orang tua Alesya. Dirinya tidak bisa tidak bertanya-tanya kemana kedua orang tua Alesya saat anaknya berada di rumah sakit. Justru yang menemaninya hanyalah Bi Yuni, yang merupakan ART dan juga Om Chandra, adik dari ayah Alesya.
Yah, namun dirinya sudah tak asing dan tak aneh dengan perlakuan orang tua seperti itu. Walaupun Alesya tak mau mengakuinya, tapi dia juga tak bisa memungkiri jika dia sedikit berharap orang tua Alesya adalah orang tua yang memiliki kasih sayang kepada anaknya.
Namun, harapan hanyalah eksistensi dari khayalan.
Suara gemericik Air adalah satu-satunya suara yang memenuhi kamar mandi. Sedangkan orang yang menghidupkan air itu hanya menatap genangan air yang memenuhi wastafel, bahkan sudah mengalir melewati bibir wastafel.
Alesya menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya. Tangannya menutup keran, lalu membuka penutupnya dan pusaran air. Alesya melenggang pergi keluar kamar mandi, meninggalkan air di wastafel menyurut.
...◖◇◗...
Asap rokok mengepul di udara, di terpa angin malam yang dingin. Namun hal itu tidak mengganggu Langit. Dirinya masih setia dengan rokok di antara sela jarinya. Memandang langit malam yang bertabur bintang di balkon rumahnya.
"....saya sebagai temen yang baik…."
"Huh, temen ya?" Langit menyesap rokoknya, tersenyum miris saat tiba-tiba teringat ucapan Alesya saat di ruang BK.
Dirinya masih ingin menyangkal bahwa Alesya amnesia, tapi Bara mengatakannya sendiri. Dan juga jika itu Alesya yang biasa, Alesya pasti langsung menghampirinya ke kelas, lalu menempel seperti permen karet saat masuk ke sekolah. Namun sampai bel masuk pun Alesya tidak menghampirinya. Mereka bahkan baru bertemu saat di kantin.
Lalu perkataan Rey saat di Basecamp juga menghantuinya. Entah mengapa hatinya ngilu. "Apa iya?"
Jika benar bahwa itu sifat asli Alesya, lalu kenapa sangat berbeda jauh dengan sifat dan tingkah lakunya dulu? Seolah-olah Alesya yang dulu dan yang sekarang adalah orang yang berbeda.
Netra Langit terjatuh pada sebuah mobil hitam yang terparkir di halaman rumahnya. Gambaran saat kecelakaan itu memenuhi bidang penglihatannya.
Langit sayup-sayup mendengar suara yang amat dikenalnya. Suara milik orang yang selalu mengganggunya hampir dua puluh empat jam per hari. Memutar kepalanya, Langit menangkap sosok Alesya dan juga orang yang tak lama ini mencuri hatinya, Viana. Langit seketika langsung berjalan dengan cepat dari parkiran menuju ke tempat kedua sosok itu berada. Langkahnya seketika berubah menjadi lari saat melihat Alesya mendorong Viana.
"Lo apa-apaan sih!" Langit langsung menahan Viana agar tak jatuh, dirinya dengan sigap memposisikan dirinya di antara Alesya dan Viana.
"Langit, kok kamu belain dia sih! " Seru Alesya tak terima, menatap tak suka ke arah Viana yang berada di belakangnya.
"Terus lo pikir gue harus ngebela lo gitu? Ngebela orang yang ngedorong orang lain," Ujar Langit, menatap Alesya tak suka.
Alesya tersentak, terkejut dengan ucapan langit. Ia meraih jaket kulit Langit, "Langit, aku bisa jelasin."
"Ck, lepas" Langit menepis tangan Alesya, dirinya menggenggam tangan Viana dan berbalik, membelakangi Alesya dengan dingin. "Ayo Vin."
"Langit!"
Langit mengabaikan teriakan Alesya. Langit dapat melihat para siswa yang menonton berbisik-bisik. Namun Langit tidak mempedulikannya. Dirinya masih setia menggenggam tangan Viana dan membawanya ke parkiran.
"LANGIT!!"
BRAK!!
Sekarang yang ia dengar bukan hanya suara teriakan Alesya yang memanggil namanya, namun juga suara benturan keras. Langit menoleh melihat Viana yang menutup mulutnya, sorot matanya menunjukan keterkejutan serta ketakutan. Dirinya pun juga melihat Anton, Rey, Bara serta para siswa lainnya berlari ke arahnya. Tidak bukan ke arahnya, namun ke arah tempat benturan itu terjadi. Keributan seketika memenuhi area gerbang.
Seolah waktu melambat, langit berbalik.Disana, tepat depannya, terbaring tubuh yang berlumuran darah. Tubuhnya pun seketika lemas, seolah seluruh energinya menghilang. Darahnya banyak, sangat banyak. Bahkan saat dia mengalami kecelakaan motor darahnya tak sebanyak ini.
"Woy, tengah malem. Tidur sana, telat sekolah baru tau rasa lo," Tepukan di bahunya menyadarkan Langit dari pikirannya. Matanya melirik rokoknya yang sudah pendek, lalu dialihkan pada orang yang menepuk pundaknya.
"Gue gak sekolah,"
"Kenapa? libur?" Alis orang itu mengerut, tangan kirinya memegang dagunya dalam pose berpikir, "perasaan gak ada tanggal merah geh."
"Gue di skors. "
"Oh diskors…. APA?! DI.SKORS!!" Teriakan itu bergema di ruangan yang sepi,"Dasar anak badung, sekolah itu yang bener dan bla bla bla."
Langit mengambil rokok dan menyalakannya. Kembali menikmati suasana malam, mengabaikan ceramah sang kakak.
...◖◇◗...
Begitu membuka pintu kaca, suhu dingin khas minimarket menerpa Alesya. Walaupun sudah memakai jaket, Alesya masih merasa kedinginan. Sebenarnya dirinya malas untuk keluar malam, namun stok snacknya habis. Wajar saja, dirinya selalu diam di kamar selama dua hari terakhir sambil menonton film dan ia tak bisa menonton film tanpa snack. Karena itu bagaikan sayur tanpa garam.
Mengambil keranjang, Alesya melangkah ke arah etalase untuk makanan ringan. Tangannya mengambil snack yang berjajar, dari yang gurih, manis sampai pedas ia masukan ke dalam keranjang.
Alesya tak bisa menahan senyumnya saat menemukan snack favoritnya yang tinggal satu. Tangannya hendak yang hendak meraihnya tergantung di udara saat snacknya itu diambil oleh orang lain.
Kepalanya menoleh, mengikuti orang yang berani mengambil snack favoritnya. " Hey, itu punya gue," Alesya meraih hoodie orang yang mengambil snack favoritnya.
"Huh? Siapa yang ambil duluan dia yang punya," Ujar laki-laki itu datar, melangkahkan kaki jenjangnya, namun terhenti saat Alesya kembali menarik hoodienya.
"Tapi gue yang pertama liat," Sautnya tak mau kalah.
Laki-laki tersebut mendecak kesal," Heh dengerin ya cewe pendek, emangnya ada bukti lo yang liat duluan?"
Uluh hati Alesya terasa tertusuk dengan pisau saat laki-laki itu menyebutnya pendek. Padahal ia lumayan tinggi. "Mata gue buktinya,"
Walaupun tak bisa melihat seluruh wajahnya secara utuh karena topi yang di pakainya, namun Alesya dapat melihat laki-laki itu tersenyum. Bukan tersenyum tulus atau sejenisnya. Namun senyum mengejek.
"Heh ternyata bukan badan lo aja yang kecil, tapi ternyata otak lo juga kecil ya?"
"Arghhh, bodo amat lah!" Alesya menggeram frustasi, ia mengulurkan tangannya meraih keranjang belanjaan laki-laki itu. Namun dengan cekatan laki-laki itu mengangkat keranjangnya ke atas.
"Heh pendek, lo mau jadi maling karena gak dapet jajanan?"
"Berisik lo!" Alesya berjinjit, berusaha meraih keranjang. Namun usahanya sia-sia. Malah dirinya yang capek sendiri.
"Lo pengen banget ya?" Laki-laki tersebut menurunkan keranjangnya, lalu mengambil snack yang diincar Alesya. Menyobeknya dan memakannya tepat di depan Alesya.
"Udah habis," Ujarnya menunjukan kemasan snack yang kosong ke depan wajah Alesya.
Alesya tercengang dengan tindakan tak terduga itu. "Ba**sat lo."
"Hah?Apa?"
"BA**SAT LO!!" Seketika Alesya melempar keranjangnya ke arah laki-laki itu. Tak hanya itu saja, ia juga memukulnya dengan botol minuman.
"Woy lo udah gila ya!!" Serunya di sela-sela pukulan Alesya.
"HEY KALIAN BERDUA BERHENTI!! " Teriak pegawai minimarket kepada mereka berdua.
Pintu minimarket tertutup, meninggalkan Alesya dan laki-laki tersebut berdua di luar. Mereka berdua dengan Serempak memalingkan wajah saat bersitatap. "Hump,"
"Alesya! Lagi ngapain lo disitu!" Alesya melihat sekeliling saat mendengar suara Bara. Matanya berhenti di gerobak tukang gorengan. Alesya melihat Bara duduk diatas motor yang sudah siap pergi.
"Ayo pulang!" Titahnya, Alesya langsung berjalan menghampiri Bara. Ia berhenti di tengah jalan, berbalik Aesya menjulurkan lidahnya pada laki-laki ber hoodie tersebut, lalu segera berlari.
"Heh!" Laki-laki itu mendengus melihat kejadian di depannya. Ia mengusap wajahnya. Ekspresi rumit menghiasi wajahnya saat Netranya mengawasi kepergian kedua orang tersebut.