Transmigration

Transmigration
Chapter 19



"Kenapa lo? Asem banget mukanya," Celetuk Lulu pada gadis di sampingnya yang tengah menidurkan kepalanya diatas meja taman. Suaranya terdengar agak samar sebab beradu dengan suara bising siswa lain yang juga tengah berada di area lapangan seperti mereka.


"Iya, kenapa kek banyak beban gitu sih?" Cibir Alesya ikut menimpali. Ia pun ikut bingung, biasanya Silvi itu gadis yang penuh semangat tapi hari ini dia terlihat seperti kehabisan energi. Padahal ini masih pagi.


Perlahan Silvi mengangkat kepalanya, menatap satu-persatu dari ketiga gadis yang duduk mengitarinya. Menghela nafas berat Silvi mulai berbicara, "Coba kalian bayangin aja, dari sekian banyaknya tempat study tour kenapa harus kemah?"


Dapat terdengar jelas nada ketidaksukaan dari ucapan Silvi. Netranya mengembara menatap siswa yang berkumpul di halaman sekolah dengan pakaian bebas serta ransel yang lumayan besar di punggung masing masing. Bahkan ada yang bawa koper.


"Iya juga sih." Lulu mengangguk setuju.


"Yeah I setuju sama you."


Alesya hanya mengangguk tidak mau berkomentar. Mau bagaimanapun ia bukan pihak sekolah yang berwenang memutuskan akan study tour kemana dan lagi pula jika tidak terjadi gangguan apapun, maka sesuai dengan yang tertulis di novel The Way I Fell For You akan terjadi peristiwa penting pada study tour ini -untuk protagonis-.


Menyilangkan tangannya, Silvi berujar dengan lantang, "Bener kan? Kek di novel-novel aja, study tournya kemah ck, gak asik tau gak."


Terbatuk, Alesya meringis dalam hati mendengar ucapan Silvi, 'Ini emang novel!' ingin ia meneriakkannya dengan lantang.


"Tapi kalian itu harusnya seneng karena kita bisa ikut loh."


Mereka berempat serempak menoleh pada asal suara lalu saling memandang satu sama lain. Alis mereka semua bertautan memandang aneh pada laki-laki yang tengah tersenyum itu.


"Bukannya yang paling seneng itu lo ketua kelas?" Celetuk Silvi, tepat sasaran.


"Yes, dari tadi kita liat you senyum-senyum sendiri ke baru dapet gebetan." Sekali lagi anak panah menusuk dada kiri Ketua Kelas.


"Lebih ke mesum sih menurut gue," Timpal Alesya tanpa dosa, mengabaikan ketua kelas yangs sudah muntah darah dan tergeletak di atas rumput.


Melihat sekeliling, Alesya setuju dengan apa yang dikatakan Ketua kelas. Ternyata apa yang dikatakan wali kelas mereka bukan hanya berlaku untuk kelas 11-4, tapi juga untuk kelas lain. Itulah sebabnya yang mengikuti kegiatan kemah ini hanya beberapa kelas saja, misalnya dari kelas 11 hanya dua saja yang ikut, kelas 11-1 dan 11-4 -info dari Silvi. Jika menggunakan jasa informasi Lulu harus menyuap dulu, itupun jika berhasil-.


Bagaimanapun, ini membuat Alesya tambah yakin bahwa banyak informasi yang tidak tertulis di dalam novel. Contoh nyatanya saja Maya, lalu Darren dan juga Alan yang mengaku sebagai kakaknya Viana.


Alesya memandang deretan gedung sekolah berlantai rata-rata empat itu, entah mengapa semakin lama ia merasa novel ini semakin banyak misteri.


...◖◇◗  ...


Suhu dingin seketika menusuk kulit Alesya saat memasuki bus, ia segera duduk di sembarang kursi. Lagipula siswa dibebaskan untuk memilih kursinya sendiri.


"Huh, dingin banget sih," Renggut Alesya menggosokkan kedua tangannya. Padahal ia sudah mengenakan turtleneck rajut tebal, namun tetap saja ia merasakan suhu dingin AC.


"Sya! Gue duduk sama lo ya!" Seru Silvi seraya mendudukkan dirinya di samping Alesya.


Alesya menatap Silvi dengan wajah datar, "....Iya silahkan." 'Orang lo udah duduk' lanjutnya dalam hati.


Alesya kembali menggosokkan kedua tangannya, namun dirinya segera terdiam begitu melihat pantulan di kaca jendela, tepatnya pada buku yang tengah dibaca Silvi yang terasa amat familiar. Alesya langsung menoleh dan merebut buku itu. Sontak hal itu mendapat protes dari Silvi yang diabaikannya.


Hal itu tak lepas dari perhatian Lulu dan Maya yang juga kebetulan duduk di depan dan di sebelah Alesya dan Silvi. Mereka bertiga menatap Alesya dengan tatapan penuh tanya, namun sepertinya orang yang bersangkutan tak menyadarinya sebab dilihat dari begitu fokus Alesya membolak-balik buku yang direbutnya.


'Sama.' Alesya mengusap pelan nama penulis dari buku novel di tangannya. S.F, itu nama pena penulisnya. Alesya ingat betul sebab bukan sekali dua kali ia membaca karya dari penulis ini. Juga Novel dari penulis inilah yang tengah ia masuki sekarang. Melihat ada namanya di sini, Alesya tidak bisa tidak bertanya-tanya apa maksudnya. Apa ini petunjuk? Atau hanya sekedar kebetulan?


Alesya seketika tersadar dari lamunannya saat bahunya ditepuk. Ia menoleh dan mendapati Silvi yang tengah menatapnya bingung bukan hanya dia ternyata Maya dan Lulu pun sama.


"Alesya? Lo kenapa?" Tanya Lulu khawatir.


Menggeleng pelan, Alesya mengembalikan buku itu pada Silvi. "Gak kenapa-napa kok," Jawabnya dengan senyum terpaksa di akhir.


Lulu ragu-ragu mengangguk dan kembali duduk di kursinya.


Memiringkan kepalanya, Silvi menatap heran Alesya yang terlihat gelisah. "Bukunya bukan punya gue, gue dapat minjem."


Kerutan terbentuk di dahi Alesya, "Dari siapa?"


Silvi menunjuk dengan ibu jarinya ke arah samping, "Maya."


Maya yang sejak tadi memperhatikan percakapan mengangguk saat Alesya menatapnya. "Itu buku yang I beli pas kita ke mall waktu itu. Memangnya kenapa Al?"


"Nggak, gue cuma mau nanya. Soalnya bukunya sama yang lagi gue baca." Elaknya, Alesya tak sepenuhnya berbohong juga tak mengungkapkan semuanya. Maya hanya ber-oh ria saja sebagai balasan.


Dan tepat setelah percakapan itu ketujuh bus dari CPB Highschool mulai berjalan, melintasi jalanan dan bergabung dengan kendaraan lain.


Sementara itu di bus lain


"Nah! Gue menang! Mana duitnya!" Rey berujar dengan semangat, mengulurkan tangannya pada keenam laki-laki yang menjadi korbannya.


Dengan ragu mereka menyerahkan uang pada Rey. Dalam hati menangis karena uang mereka melayang. Padahal mereka tahu tidak akan menang jika melawan Rey dalam bermain kartu, namun mereka terpancing emosi. Dan akhirnya mereka menyadari jika itu siasat dari si mata duitan kelas 11-2.


"Rey, kok lo bisa ikut study tour sih?" Tanya salah satu siswa 11-1 yang sejak tadi menonton. Yang lain pun ikut menoleh ke arah Rey, penasaran bagaimana salah satu eksekutif dari Shadow itu bisa berada di sini sedangkan kelasnya tidak lolos untuk ikut study tour.


"Oh, gue bukan mau study tour tapi kerja."


"Hah?" Ujar mereka semua kompak, menatap bingung Rey yang sepertinya tidak terganggu. Dirinya masih fokus menghitung uang miliknya.


"Ya gue kerja part time jadi asistennya Bara."


Mereka serempak menatap ke arah kursi paling depan dimana Bara duduk. Akan tetapi Bara mengabaikan tatapan bertanya mereka, terlihat dari dirinya yang masih fokus dengan ponsel. Menyadari Bara akan diam saja, mereka miliki menyerah dan kembali ke aktivitas mereka sebelumnya.


"Bara soal kecelakaan Raka, itu gak ada hubungannya sama lo kan?" Tanya Langit tiba-tiba, mengundang keheranan pada Bara.


Bara tak menyangka keheningan di antara mereka berdua akan dipecahkan oleh pertanyaan seperti itu. Mendongak Bara menatap Langit, "...lo nuduh gue?"


"Enggak, gue cuma pengen mastiin aja dan juga ngingetin agar lo gak berlebihan. Gue gak tau apa alasan di balik tindakan lo tapi selama lo gak macem-macem, kita bakal bantu." Jelas Langit panjang lebar.


Bara tidak langsung menjawab, ia menoleh ke arah jendela dimana menampilkan jejeran pohon pohon pinus sejauh mata memandang, ".....Gue tau batasan gue Lang, gue gak kayak mereka."


Mendengus kecil, Langit menyandarkan tubuhnya pada belakang kursi. Memejamkan kelopak matanya, ia teringat dengan laporan dari anggota Shadow yang kebetulan satu sekolah dengan Raka, Ketua dari Black Flame. Dari laporan itu dikatakan jika Raka sedang mencari penyebab rem motornya gagal berfungsi. Menyebabkan ia kecelakaan. Ya walaupun Raka baik-baik saja.


Akan tetapi Langit tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Sebab tepat saat itu Bara tiba-tiba memintanya untuk memenangkan Balapan, ia tak masalah toh itu yang ia inginkan. Namun yang membuatnya bingung adalah Bara yang meminta mobil yang menjadi taruhan dari Black Flame. Bagaikan tidak, harga motor Bara bahkan lebih mahal dari mobil itu dan jika Bara ingin mobil dia bisa langsung membelinya.


Langit melirik Bara yang duduk di sebelahnya, lalu kembali menutup mata. Semuanya menjadi rumit akhir-akhir ini.


...◖◇◗...


Deru suara knalpot motor terdengar saling bersahutan. Gerombolan motor itu berhenti di depan sebuah gerbang sekolah.


"Sial sekolahnya libur B*ngsat!" Geram frustasi orang yang menaiki motor berwarna hijau cerah yang memimpin kelompok motor itu. Menatap kesal Gerbang yang tertutup.


"Se-sekolah kita gak libur tuh, kok mereka libur y-ya?" Ujar salah satu dari mereka mencoba memecahkan suasana tegang, namun na'as suaranya malah terdengar gugup yang malahan menambah kemarahan pemimpin mereka.


"Diem lo!" Bentaknya. "Hmmm~gak apalah, kan bisa hari lain," Sambungnya, kali ini nadanya terdengar senang membuat mereka yang mendengarnya merinding.


"Ayo cabut!" Titahnya dan segera mereka kembali motor mereka menapaki jalan beraspal. Tidak menyadari seseorang yang mengawasi mereka sejak tadi.


"Ah, iya sayang aku ke sana sekarang."