Transmigration

Transmigration
Chapter 22



Walaupun sayup-sayup, suara dari orang-orang yang berada di area kemping dapat terdengar dari tempat mereka berada. Dahan-dahan pohon bergoyang mengikuti arah angin, menimbulkan suara gemerisik yang khas di bawah langit biru yang kini mulai di warnai warna oranye. 


Bersandar di pohon yang lumayan besar sambil bersedekah dada, Alesya melirik Viana yang tengah duduk di batang pohon tua, mengawasi setiap gerak-gerik dari protagonis ini. Dari tempatnya berdiri, Alesya dapat melihat Viana yang tampak gugup dan ragu, bahkan sesekali matanya menangkap Viana yang tengah menggigit bibir bawahnya.


Mendengus, Alesya kembali memikirkan apa alasan Viana menemuinya. Sebenarnya Alesya sudah bertanya sejak mereka datang ke tempat ini, namun Viana malah hanya diam dan akhirnya mereka berdua berakhir dalam situasi yang menurutnya cukup menyebalkan ini. 


"...jadi...sampe kapan lo diem aja?"


Jika ia pikirkan kembali, ini adalah kali ketiga mereka mengadakan pertemuan. Pertemuan yang tidak seharusnya ada di novel. Netra Alesya menangkap Viana yang terperanjat sesaat sebelum segera kembali ke sosoknya yang ramah. Bulu kuduk Alesya seketika merinding saat Viana tersenyum ke arahnya. 


Mungkin orang-orang melihat Viana sebagai gadis baik hati dan pemberani, namun itu bukanlah sikap aslinya. Viana itu orang yang memiliki tingkat egois dan manipulatif, sebab dia rela memanfaatkan orang lain demi memenuhi ambisinya, tidak peduli apakah itu merugikan orang yang bersangkutan atau tidak. Tetapi justru hal itulah yang membuat Viana bisa bertahan sampai sejauh ini. Juga salah satu alasan mengapa ia sangat menyukai karakter Viana .


Menghembuskan nafas pelan, Viana akhirnya membuka suara, "...gue pengen bilang kalau perjanjian yang kita buat kita akhiri disini."


"..."


"..."


"Huh! Tunggu sebentar, lo pengen mengakhiri perjanjian yang bahkan gue gak tau itu perjanjian apa gitu?!" Seru Alesya tidak percaya. 


Viana mengangguk, yang justru membuat kekesalan Alesya bertambah, "Ok, gue bakalan setuju buat mengakhiri 'perjanjian' yang bahkan gue gak tau itu perjanjian apa. Tapi dengan satu syarat."


"....Apa?"


Sepertinya Viana sangat ingin memutus hubungan dengannya, terlihat dari nada suara serta tatapan matanya yang tampak putus asa. Meskipun Alesya tidak tahu alasan dibalik perilaku protagonis satu ini. Padahal dari dua pertemuan mereka sebelumnya Viana amat enggan memutus perjanjian itu. Namun tiba-tiba gadis di hadapannya ini ingin memutusnya sekarang. "Gue pengen tau perjanjian yang 'kita' buat itu."


Alis Alesya mengerut sempurna ketika Viana tiba-tiba berdiri, lalu netranya bertemu dengan manik Viana. Kali ini bukan tatapan putus asa, namun keyakinan penuh yang dapat dilihatnya dari manik hitam itu. 


"Ada kalanya sesuatu lebih baik tidak terungkap dan tetap menjadi rahasia, dan mulai saat ini kita gak punya hubungan apapun."


Dengan segera Viana berbalik, melangkahkan kakinya, memunggungi Alesya saat matanya terasa panas tanpa sebab, hatinya terasa sesak saat menyadari bahwa dia tidak memiliki alasan lagi bertemu dengan senior yang ia kagumi lagi. Seharusnya Viana membantu Alesya saat itu bukan malah memanfaatkannya. Apa jadinya jika saat itu ia mengulurkan tangan bukan untuk menyepakati perjanjian, namun ia mengulurkan tangan untuk meminta Alesya berteman dengannya. Apakah mereka akan berteman sekarang? 


Viana tidak tahu. Yang lalu biarlah berlalu. Lagipula percuma jika ia berandai-andai karena itu tidak akan merubah apap-


"Kalo gitu, berarti kita bisa memulai dari awal kan?"


"Huh?" Berhenti, dahi Viana mengernyit dalam kebingungan. Ia berbalik, menatap Alesya yang ternyata mulai berjalan mendekatinya.


"Walaupun samar, tapi gue sedikit inget kalo perjanjian itu awal dari hubungan yang kita jalin sekarang." Meskipun sekilas, namun sekarang Alesya dapat melihat gambaran-gambaran dari ingatan pemilik tubuh ini. 'Ini di sekolah ya?' Batinnya ketika ia melihat kedua sosok yang tengah saling berhadapan. Langkahnya terhenti tepat di depan Viana yang tengah menggigit bibirnya. 


"Karena itu udah berakhir, jadi... ayo kita mulai dari awal lagi, nama gue Alesya Gabriella," Sambungnya seraya mengulurkan tangannya.


Yah lebih baik berada di samping protagonis kan? Lagipula itu memang rencananya sejak awal dan plusnya ia berteman dengan tokoh favoritnya, siaa sih yang akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini? oh tentu saja bukan dirinya.


Viana tertegun sejenak, dia memandang bergantian antara tangan yang terulur dengan Alesya. 


"Gak mau?"


Tanpa Viana sadari air mata sudah merembes dari kelopak matanya.Hatinya tiba-tiba terasa lebih ringan. Beban yang selalu ia rasakan seperti lenyap begitu saja. Beban dari perasaan bersalah yang selalu menggerogotinya. 


Sebuah senyum terbentuk di wajahnya saat Viana dengan perasaan senang menyambut uluran tangan Alesya. Itu bukanlah senyum palsu yang biasa ia pasang untuk menutupi niat aslinya, tapi itu senyum tulus. Senyum yang sudah sangat lama tidak ia tujukan, "Viana Ellaine Ghisellin, salam kenal."


...***...


Suara musik EDM menggema disertai suara riuh dari orang-orang. Bau alkohol serta rokok bercampur dengan parfum menyeruak membuat siapapun pengap. 


"Sialan kenapa di sekolah kita gak ada cewe cantik ya?" Celetuk seorang laki-laki saat, matanya masih terpaku pada sekumpulan anak gadis yang tengah duduk di meja sebelah tempat ia dan ketiga temannya duduk.


"Sekolah kita kan khusus laki-laki," Timpal temannya yang memakai topi. Melirik sekilas temannya yang berkulit sawo matang itu aneh.


"..."


"Sialan gue mau pindah."


"Pindah kemana lo? ke neraka? hahaha" Cibir salah satu temannya seraya menyesap minuman di gelas.


"Lo tuh yang ke neraka, Gue mau pindah ke CPB." 


"Wih gayanya, emangnya lo mau ngapain di sana?"


"Ck, lo gak tau ya cewe-cewe di CPB mantep semua anjir!"


"Iya Kan? Gue juga pernah liat satu pas balapan waktu itu, tapi sayangnya dia sama Shadow."


"Lo tau siapa namanya?"


Meletakan minumannya, ia memandang remeh pada temanya itu, "Gak mungkin dia tau."


"Ck, diem. Gue nanya bukan ke lo."


"Gue tau."


"Siapa?!" Ujar mereka berdua kompak.


"Kalo gak salah namanya Alesya."


"Siapa yang lo sebut tadi?" 


Serempak, mereka bertiga menoleh dan mendapati seorang laki-laki yang di tangannya terdapat sebuah gelas yang sudah tandas.


Walaupun ruangan ini remang-remang sebab sumber penerangan hanya berasal dari lampu disko yang berkelap-kelip, mereka tahu siapa laki-laki di hadapan mereka sekarang, itu adalah nomor dua dari Black Flame, Kaisel. 


"Ulangi gue bilang!"


Teriakan yang berpadu dengan bisingnya sekitar tidak dapat mengurangi keterkejutan mereka. Tubuh mereka bergetar ketakutan sebab Kaisel terkenal dengan kebrutalannya setara dengan eksekutor Shadow.


"A-alesya," Sahut laki-laki berkulit sawo matang.


'Ternyata dia juga ada pas balapan itu ya? Apa mungkin dia ada hubungannya?' Renungnya saat mengingat itu adalah salah satu nama yang tertera di kertas laporan Raka. "Alesya ya? Hmm~." 


Mereka bertiga merinding begitu mendengar senandungan dingin itu. Tak lama kemudian sebuah bogeman mentah mendarat tepat di wajah laki-laki yang menjawab pertanyaannya tadi, "Tanda terima kasih gue, bye."


Kaisel mengambil satu botol minuman dari meja, lalu melambai dan pergi. Meninggalkan laki-laki yang meringis kesakitan impas dari pukulannya.


...***...


Udara dingin dataran tinggi berhembus menyentuh kulit. Membuat para siswa menangis dalam diam karena menggigil kedinginan juga rasa lelah yang mulai menghampiri. Yah kecuali kedua orang yang tengah memimpin acara hiking ini yang masih dengan semangat 45 berjalan di depan mereka. 


Gila,itulah kata yang terlintas di benak setiap siswa saat melihat Pak Arthur yang merupakan guru olahraga sekaligus pemimpin dari acara ini, juga Bara yang merupakan ketua pelaksana masih sempat-sempatnya push up di tengah jalan. Seolah meledek mereka.


'Sialan, kalo bukan karena ini termasuk alur penting novel gak mau gue ikut,' Rutuk Alesya. Nafasnya sudah tersengal-sengal sebab lelah. 


"Ayo semuanya semangat!" 


Suara penyemangat pak Arthur dan keluhan dari para peserta hiking saling sahut menyahut. Guru eksentrik itu dengan semangat terus berbicara, mengabaikan gerutuan dan keluhan dari para siswa maupun para guru. 


"Cape banget," Dengan suara parau Alesya mendudukan dirinya di sembarang tempat. Akhirnya setelah tiga jam perjalanan mereka akhirnya sampai. 


Bukan hanya Alesya namun banyak juga yang sudah terduduk di rumput ataupun tanah, bahkan ada beberapa yang rebahan saking lelahnya. Mengabaikan status dan gengsi yang selalu mereka junjung tinggi. 


"Alesya!" Seru Viana menghampiri dirinya dan langsung duduk di sampingnya. Sebenarnya Viana ingin berangkat bersama Alesya, namun karena ia anggota OSIS hal itu tidak bisa terlaksana.


Melihat interaksi Alesya dan Viana langsung merebut seluruh atensi para siswa yang begitu melihatnya seketika tercengang. Bagaimana tidak kedua orang yang memiliki hubungan buruk itu kini tengah tertawa bersama, seolah mereka sejak awal berteman baik. 


"Apa kiamat bentar lagi ya?" Celetuk Rey  yang membuat mereka yang sudah terkejut kini berganti menjadi ketakutan.


Namun semua itu segera sirna saat langit yang gelap perlahan sedikit demi sedikit disinari oleh cahaya kuning keemasan yang mulai merembes dari ufuk timur. Suara kicauan burung mulai saling bersahutan, mengiringi sang surya menyapa bumi.


Alesya merasa seperti melihat lukisan dari pelukis ternama. Hamparan perkebunan serta rumah dari warga setempat menambah kemegahan dari pemandangan yang ia lihat. 


Melirik gadis di sampingnya, Alesya melihat kebahagiaan dari wajah Viana. Melihat wajah bagian itu membuatnya teringat dengan sosok itu. Kembali melihat matahari terbit, Alesya sudah membulatkan tekadnya. Ia akan melindungi Viana, sebab setelah ini skenario buruk akan terjadi. 


Juga ia tidak ingin kembali gagal melindungi seseorang. 


"Gue terima tawaran lo," Ucap Hani pada orang di depannya.


Orang itu melirik Hani lalu terkikik saat melihat Hani yang masih memandangi Alesya dan Viana.


"Good choice."