Transmigration

Transmigration
Chapter 20



Hamparan padang rumput hijau yang dikelilingi pepohonan rindang langsung memenuhi penglihatan. Rasa lelah dan letih dari perjalanan panjang seketika sirna layaknya gelembung yang pecah. 


"Gila… keren banget." Gumam Silvi, tak henti-hentinya berdecak kagum. 


Alesya yang mendengarnya pun setuju. Memang tidak dapat dipungkiri jika tempat ini amat mengagumkan. Padang rumput yang luas, sungai jernih tepat yang berada tepat di sampingnya serta deretan pepohonan rindang serta pegunungan menambah pesona tempat ini. 


Ternyata melihatnya langsung lebih mengagumkan ketimbang hanya membacanya dari kata-kata di novel. 


"Tadi siapa ya yang bilang 'kenapa harus kemping? Kek novel-novel aja'," Cibir Lulu, mengabaikan delikan tajam dari Silvi dengan netranya yang masih menata ke depan.


Silvi sontak menoleh, ia mendelik tajam pada Lulu yang masih menatap ke depan. Seolah-olah tatapan Silvi bukanlah apa-apa melainkan hanya angin lalu. 


Silvi  yang merasa diabaikan pun hendak membela diri, namun terhenti karena Lulu yang melengos  pergi begitu saja. Tidak terima, Silvi langsung mengejarnya, meninggalkan Alesya dan Maya.


Mendecakkan lidah, Maya menatap tidak percaya pada kedua orang yang malah kejar-kejaran layaknya bocah. "Tck, really?" 


Alesya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku mereka berdua, ia masih tidak percaya jika mereka berdua baru  berteman beberapa minggu ini. 


Senyum tidak bisa Alesya sembunyikan. Jantungnya berdebar kencang, ia tidak sabar dengan berbagai kegiatan yang akan dilakukan saat kemping. Karena ini pertama kalinya dirinya pergi ke acara sekolah. Sebab ketika ada acara sekolah ia selalu tidak bisa ikut karena tidak diizinkan dan malah disuruh untuk berlatih violin. 


Jadi ini merupakan kesempatan untuknya agar merasakan kegiatan sekolah yang selalu dibicarakan anak-anak sekelasnya dulu. Dengan teman yang sekarang ia miliki serta dengan tokoh novel favoritnya membuat kebahagiannya berlipat ganda. 


Namun semua itu pupus seketika. Rasa senangnya kini berganti dengan kemarahan. 


...***...


Saat pertama kali diperkenalkan oleh kepala sekolah sebagai siswa pertama yang diterima melalui jalur beasiswa, tidak ada satu haripun Viana tidak mendapatkan pandangan merendahkan.


Bukan tanpa sebab, pasalnya Cendikia Permata Bangsa atau lebih dikenal dengan CPB high school merupakan sekolah elit dari para elit. Dimana ada dua syarat tidak tertulis untuk dapat masuk ke sekolah ini. Itu adalah uang dan kekuasaan. Itulah mengapa CPB highschool disebut sebagai tempat perkumpulan para kasta tinggi  sebab rata-rata siswanya adalah anak pejabat ataupun pengusaha yang memiliki pengaruh besar. 


Namun siswa bernama Viana Ellaine  Ghisellin mampu mematahkan stereotip itu. Dia yang merupakan golongan kasta rendah itu berhasil memasuki sekolah elit ini. Bahkan Viana berhasil meraih berbagai prestasi serta masuk ke dalam OSIS CPB yang dikenal amat sulit untuk menjadi anggotanya. Namun Viana bahkan berhasil masuk dan menempati posisi sebagai sekretaris. 


Viana bahkan berani mengatakan dengan lantang bahwa uang dan kekuasaan bukanlah segalanya  saat upacara di hadapan sekolah. Ditambah Viana juga berani menantang Langit Biantara, ketua geng dari Shadow dan juga siswa yang disegani di sekolah. 


Tentu saja hal itu mendapat berbagai tanggapan, ada yang mengagumi keberaniannya dan ada juga yang membencinya. Terutama karena Viana yang berhasil mendapatkan hati dari Langit, siswa yang dikenal dingin dan acuh pada perempuan. 


Salah satu siswa yang membenci Viana tentu saja Alesya Gabriella. Alesya yang notabennya sudah mengejar Langit dari awal masuk sekolah dan selalu ditolak merasa terhina karena kalah dari siswa rendahan. 


Dan Alesya menjadi pengganggu nomor satu Viana, bahkan Alesya mendapat gelar sebagai antagonis dan Viana sebagai protagonis yang teraniaya. Cerita itu amat terkenal bukan hanya di CPB melainkan juga di sekolah lain. 


Menggertakkan giginya, Hani memandang kedua orang di hadapannya dengan kesal. Hani tidak menyangka dari sekian banyaknya orang, ia dipergoki oleh orang yang sama. Padahal Hani yakin tempat yang ia jadikan untuk memberi pelajaran pada j*lang s*alan ini tersembunyi dengan baik dan jauh dari area kemping utama.


Matanya melirik Viana yang tengah dibantu oleh laki-laki yang merupakan seniornya itu keluar dari sungai. Tanpa sadar Hani tersenyum saat melihat tubuh Viana yang basah kuyup dan bergetar kedinginan. Memang tidak salah ia memilih untuk menceburkan orang tidak tahu diri itu ke sungai. 


"Heh lo kayaknya seneng banget anak babi."


Senyumnya langsung hilang saat mendengar kata-kata itu, kekesalannya seketika kembali lagi. Menoleh, Hani menatap tajam pada orang yang baru saja melontarkan kata-kata itu. Tapi ia langsung tertegun saat mendapati Alesya yang ternyata tengah menatapnya dengan dingin. 


Melepas tangannya yang bersedekap dada, perlahan Alesya berjalan mendekat, menutup  jarak antara dirinya dan pemimpin dari  ketiga orang ini. "Lo kayaknya lupa deh sama apa yang gue ucapin pas di gudang."


Secara tidak sadar Hani mundur. Entah karena suhu pegunungan atau apa, ia merasakan hawa dingin menjalar di lehernya saat jarak antara mereka berdua semakin menipis. "Tapi lo yang nyamperin gue duluan!" Hani protes tidak terima. 


"Terus?"


Hani tertegun mendengar nada acuh Alesya. Bola matanya bergerak tidak karuan saat punggungnya menabrak pohon. 'Sial, kenapa gue takut gini sih!' batinnya frustasi saat Alesya  yang masih berjalan mendekat. 


"Gue gak bilang kalo harus lo yang nyamperin gue," Alesya berhenti, ia menatap tepat pada manik mata yang masih bergerak mencari jalan keluar, "Apa yang gue ucapin itu lo jangan nunjukin muka lo di depan gue lagi. Dan sekarang muka lo itu keliatan sama mata gue." 


"Kenapa lo jadi ngelindungin dia hah?! Lo lupa ****** ini yang udah ngerebut Langit dari lo-"


Pupil Hani melebar karena terkejut saat tiba-tiba ia merasa sesak karena tidak bisa memasok udara untuk paru-parunya. Dengan tangan gemetar ia mencakar tangan mulus yang mencekiknya,mencoba membebaskan diri. 


Alesya yang tiba-tiba mencekik Hani sontak membuat orang yang ada di sana terkejut. Teman-temannya segera menghampiri hendak membantu, tapi langkah mereka terhenti ketika mendapat  tatapan tajam Alesya. Tanpa sepatahkan katapun mereka tahu bahwa Alesya menyuruh mereka untuk tidak mendekat.


"Lo nanya kenapa? Simpel, karena cuma gue yang boleh ngebully dia dan lo anak babi, gak usah ikut campur sama urusan gue." Ujar Alesya dengan lantang, serta menambah kekuatan pada cekikannya. 


Alan yang melihat itu pun segera menghampiri, "Pendek berhenti! Lepasin dia, anak orang mati woy!" Alan dengan panik menarik tangan Alesya yang mencengkram leher Hani, mencoba melepaskannya. Kepanikannya semakin menjadi-jadi saat Hani mulai batuk dan wajahnya pun sudah mulai pucat. 


Dengan sekuat tenaga akhirnya Alan berhasil melepaskannya. Dan dengan segera ia menahan Alesya  yang meronta berusaha melepaskan diri. 


"Bawa temen lo sana!" Teriak Alan pada dua gadis yang masih mematung. "Cepetan bangsat!" Seru Alan frustasi sebab kedua gadis masih diam. Dengan cepat mereka menghampiri dan membawa Hani menjauh.


"Lepasin gue brengsek! Sialan jangan kabur lo bangsat! Sini lo gue patahin leher lo!"


Suara desiran air sungai terdengar jelas di keheningan yang mengundari di antara mereka setelah beberapa menit ketiga orang itu tidak terlihat lagi. Alan juga sudah melepaskan Alesya. 


"Hmm, makasih udah nolongin gue lagi," Ujar Viana dengan suara yang sedikit gemetar. Mungkin karena rasa dingin yang sebab tubuhnya yang basah kuyup. 


"Makasih? Lo mau terus bilang makasih doang hah?" Cibir Alesya yang mengundang kebingungan dari Viana serta Alan yang mendengarnya. Namun Alesya mengabaikannya dan fokus menatap Viana, mengamati segala ekspresi yang terlihat di wajahnya. 


Alesya ingat kejadian ini. Ini adalah peristiwa yang tertulis di novel yang namun yang melakukannya bukan hanya Hani, namun juga Alesya. Dimana Alesya dan Hani bekerja sama untuk memberi pelajaran pada Viana yang semakin dekat dengan Langit dan mendapat semua perhatian. 


Sama seperti saat kejadian di gudang,dimana di novelnya Alesyalah yang melakukan pembullyan itu. Setelah menyiram Viana dengan air Alesya meninggalkan viana di gudang dan menguncinya. Lalu Langit datang menolong viana dan semenjak kejadian itu viana sedikit membuka hatinya ke Langit.


Sekarang ia yakin jika alur novel yang melibatkan Viana akan terus berjalan sesuai dengan apa yang tertulis hanya saja orang yang terlibat akan berubah karena adanya variabel. Dan variabel itu adalah dirinya. 


Viana mengerutkan keningnya saat ucapan terima kasihnya tidak direspon dengan baik oleh Alesya. Bingung mengapa Alesya  malah berbicara seperti itu. 


Tangannya yang sedikit membiru mencengkram jaket Alan yang ia kenakan. "Maksudnya?"


Alesya mendengus geli melihat Viana. Sosok Viana mengingatkannya pada orang bego dari masa lalu, malahan sama persis . "Lo nanya maksudnya? Lo," Laesya menunjuk Viana, "orang-orang kayak lo itu selalu bilang gak papa gak papa mulu padahal kalian itu mampu buat ngelawan tapi malah memilih buat diem aja!"