Transmigration

Transmigration
Chapter 13



"Ck, rame banget," Gerutu Alesya saat melihat kondisi mall yang begitu ramai oleh pengunjung. Mungkin karena ini hari minggu, jadi banyak yang memanfaatkannya untuk berbelanja atau hanya sekedar jalan-jalan.


Maya terkikik mendengar gerutuan Alesya dan ia menengok ke arah gadis di sampingnya yang tengah memasang raut masam. "C'mon Al, semangat dong. Kita kan udah rencanain ini satu minggu yang lalu."


Alesya mendengus kasar, secara tak langsung menyetujui apa yang dikatakan Maya. "Jadi kita mau kemana dulu?"


Mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu, Maya menatap sekeliling memikirkan kemana mereka harus pergi. "Emmm, what if-" Maya tersentak saat matanya melakukan kontak dengan Alesya,"gi-gimana kalo kita liat-liat dulu, window shopping?" Cadang Maya, dengan cepat memperbaiki kata-katanya dan tersenyum kaku.


"Oke." Alesya dengan girang menggenggam tangan Maya lalu menariknya berkeliling. Ia senang Maya tak menggunakan bahasa alien itu lagi. Memang seharusnya ia meminta -mengancam- Maya dari dulu.


'Mama Alesya is very scary.'


Setelah sekitar satu jam berkeliling, melihat-lihat, mereka akhirnya berhenti di sebuah toko tas atas permintaan Maya. Begitu masuk, Alesya langsung disuguhi oleh tas-tas yang berjejer rapi di etalase maupun yang di letakkan di atas meja.


Alesya mendengus tak percaya pada Maya yang melengos masuk begitu saja meninggalkannya di depan pintu masuk toko. Menghembuskan nafas lelah, Alesya masuk ke toko dan ikut melihat-lihat mengabaikan Maya yang tengah berada di dunianya sendiri.


"Al."


Menengok ke arah sumber suara, Alesya yang tengah melihat-lihat menaikkan sebelah alisnya, memberi tatapan bertanya pada Maya.


"Gimana?" Tanya Maya, menunjukkan sebuah tas kecil jenis saddle bag berwarna hijau tua.


Kaki Alesya melangkah dengan pelan, menghampiri Maya. Matanya menatap tas itu dengan cermat, lalu menatap Maya. "Lo beli tas buat apa?"


Maya mengerutkan kening, tidak mengerti mengapa Alesya menanyakan hal itu, "Buat nyimpen barang?" Ujarnya ragu.


Alesya melipat kedua tangannya di depan dada, "Cuma nyimpen barang?" Celetuk Alesya yang mengundang tanya dari Maya.


"Iya, emangnya kenapa Al."


"Gak kenapa-napa sih. Siapa tau kan lo mau sekalian buat ngelindungin diri. Jadi beli yang bahannya keras, biar sekali pukul langsung k.o." Terangnya dan mendapat tatapan datar dari Maya.


"Al-"


"Ok, ok gue cuma bercanda,dibawa serius amat sih." Alesya segera menyela ucapan Maya, lalu mengalihkan perhatiannya pada etalase tas dan pandangannya jatuh pada tas berjenis Hobo bag berwarna putih gading.


"Nih, gue rekomendasiin yang ini," Ujarnya menyerahkan tas itu pada Maya. Memiringkan kepalanya, Maya menatap heran Alesya.


"Gak cuma tampilannya yang menarik, tasnya kuat dan juga awet buat nyimpen banyak barang," Terangnya mengabaikan tatapan kagum yang dipancarkan dari mata Maya.


"Wow Al, I didn't know you knew so much about bags (Wow Al, gue gak tau lo tau banyak soal tas) ," Puji Maya, namun Maya segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat menyadari ia berbicara dalam bahasa Inggris. Ia menatap Alesya yang juga tengah menatapnya tajam. Maya meneguk ludahnya, ia berlari ke arah kasir, sekali lagi meninggalkan Alesya.


...◖◇◗...


Denting bel berbunyi dengan nyaring namun lembut di saat bersamaan ketika Maya membuka pintu. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe yang lumayan sepi, hanya ada beberapa pengunjung. Kontras dengan mall yang sangat ramai. Senyum terukir di wajah gadis yang memiliki gaya rambut ekor kuda tersebut saat netranya menangkap sosok yang ia kenal tengah duduk di meja paling belakang di dekat jendela.


Kakinya melangkah menuju sosok yang duduk membelakangi arah ia datang. Maya mengambil tempat duduk dan memperhatikan jika orang yang duduk di depannya ini tak menyadari kedatangannya. Sosok itu terus melihat ke luar jendela, namun matanya terlihat kosong. "Alesya," Panggilnya pelan.


Sosok itu, Alesya sedikit tersentak saat namanya dipanggil. Alesya melirik Maya yang memanggilnya, ia menurunkan tangannya yang ia gunakan sejak tadi yang dijadikan tumpuan kepalanya. "Kapan sampenya?"


"Baru tadi."


Alunan musik violin yang diputar di dalam kafe mengisi keheningan diantara keduanya. Sangat tenang,dan juga damai. Kafe ini memang sangat cocok untuk mencari ketenangan di antara hiruk pikuknya kehidupan.


"Mau pesan apa kak?"


Baik Maya maupun Alesya menoleh pada pelayan perempuan yang memecahkan keheningan itu.


"Ice Blend Strawberry Javachip-nya aja satu, sama Croffle-nya satu." Pesan Maya setelah melihat daftar menu.


"Itu saja?" Tanya pelayanan itu lagi setelah menulis pesanan Maya.


Maya menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada sang pelayan, "Itu aja."


Lalu pelayan itu mengalihkan perhatiannya pada Alesya,baru hendak bertanya Alesya sudah berbicara.


Pelayan itu kembali menuliskan pesanan," Mohon tunggu sebentar ya," Ujar pelayan tersebut dan pergi.


"Al,Kalo lo punya masalah, lo bisa cerita ke gue."


Alesya yang tengah meminum minumannya mendongak, menatap Maya yang juga tengah menatapnya.


Maya memperhatikan Alesya yang terdiam, tidak membalas ucapannya. 'Tatapan itu lagi' batinnya saat melihat sorot mata sendu Alesya. Sorot mata yang juga ia lihat saat dirinya mengajak Alesya ke toko buku setelah membeli tas. Alesya menolak ajakannya dan memilih menunggu di cafe yang terletak di ujung mall.


"Tadi, lo beli buku apa?"


'So dia gak mau cerita?' Menghela nafas panjang, Maya menatap Alesya dengan skeptis. Tak percaya Alesya malah mengubah topik. Tapi apa yang bisa diperbuatnya jika orang yang bersangkutan tak aku buka mulut. Jika di paksa justru itu malah jadi tak nyaman.


"Cuma beberapa novel,"Jawab Maya, memandang paper bag di samping kursinya. Keduanya kembali diam, entah mengapa Maya merasa suasananya menjadi canggung. Padahal saat siang tadi mereka berdua baik-baik saja.


Jujur, Maya penasaran dengan hubungan antara Alesya dan juga toko buku itu. Kepalanya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Namun ia menahannya.


"Ini pesanannya."Pelayan yang sama kembali dengan membawa pesanan mereka.


"Terimakasih." Maya tersenyum pada pelayan saat mengucapkan terimakasih dan diangguki oleh pelayan itu sebagai balasan.


Meja itu kembali hening, keduanya memilih untuk diam dan menikmati pesanan mereka. Membiarkan suara ketikan dari keyboard dari laptop pengunjung lain dan juga suara alunan violin yang menemani kegiatan makan mereka di sore itu.


"Total semuanya xxx.xxxx."


Alesya hendak membayar namun Maya dengan sigap menahan tangannya. "It's on me."


"Ini kak." Maya menyerahkan kartu kreditnya pada kasir.


"Mbak boleh tau gak ini musik yang diputar musik apa ya?" Tanya seorang pria yang mengenakan turtleneck hitam yang dipadukan dengan jas abu-abu pada seorang pelayan.


"Maaf Pak saya tidak tahu," Ujar sang pelayan, menyatukan kedua tangannya meminta maaf.


"Oh, begitu ya,"


"Chopin, Nocturnes, Op. 9: No. 2," Ujar Alesya tiba-tiba dan mendapat tatapan dari keempat orang yang tengah berada di meja kasir. Namun Alesya tidak memperdulikannya, matanya hanya fokus pada dessert yang terlihat dari etalase kaca. "Mbak, BlackForest satu di bawa pulang."


...◖◇◗...


Bulan dan bintang tak terlihat di langit malam karena hujan deras yang mengguyur bumi sejak sore. Udara dingin malam menjadi dua kali lipat karena hujan. Jam menunjukkan pukul dua dini hari dimana semua orang sudah terlelap dengan mimpi mereka.


Namun tidak dengan Alesya yang masih terjaga dan duduk termenung di pinggir kasur. Tangannya menggenggam kue yang ia beli tadi di cafe. Alesya memandangi bergantian antara kue di genggamannya dan lilin serta korek api di sampingnya.


Rasa logam menyeruak memenuhi mulutnya saat Alesya tanpa sadar menggigit bibir bawahnya dengan keras. Ia mendesis saat rasa perih menghantamnya.


Setelah lebih dari tiga jam duduk termenung, akhirnya Alesya bangun. Dirinya meletakkan kue itu di atas kasur lalu menancapkan lilin kecil pada kue itu dan menyalakannya.


Lilit itu bersinar terang di dalam kamar yang gelap gulita. Alesya menarik dan menghembuskan nafasnya berulang kali, mencoba menenangkan jantingnyanyang berdebar dengan kencang, sampai ia bisa mendengarnya.


Setelah beberapa saat diam Alesya memejamkan matanya, "Selamat ulang tahun, idiot" Gumamnya dan meniup lilin. Membuat kamarnya sepenuhnya ngelap kembali.


"Alexia ayo ulangi lagi!


"Gak mau."


"Pelit banget sih. "


"Lagian kenapa lo maksa banget, dan gimana lo bisa tau itu lagunya Chopin?"


"Ck, lagunya Chopin punya ciri khasnya sendiri dan gue emang suka sama lagu itu. Udah di jawabkan? Ayo mainin lagi!"


"Ogah."


"Ayolah Alexia kenapa lo pelit banget sih sama temen lo yang lali ulang tahun!"