
[Entah sudah berapa lama aku berjalan, namun tetap saja aku masih belum menemukan tanda ke arah area kemping. Aku menoleh pada Alesya yang ada di sampingku.
"Lo yakin jalan sini?" Tanya ku, memandang curiga. Sebab sejak tadi aku merasa kami berdua hanya berputar-putar saja. Apalagi dilihat dari waktu yang sudah mulai sore membuatku semakin khawatir sebab posisi kami yang berada di hutan.
Alesya melipat kedua tangannya di depan dada, memutar matanya malas, "Lo gak percayaan banget sih!" Desisnya kesal. "Udah buruan, gue udah laper!"
"Emangnya lo doang yang laper?"
"La Lo la lo dasar junior gak sopan! Gue itu senior lo seharusnya lo itu panggil gue pake kak!"
"Emangnya wajib ya?"
Alesya berdecak kesal mendengar jawaban santai dariku. "Ck, sialan! Dasar seenaknya." Sungut Alesya, berjalan mendahului ku.
Menghembuskan nafas lelah, aku mau tidak mau harus mengikuti Alesya. Sebab akan merepotkan jika 'senior manja' itu tersesat sendirian. Aku mempercepat langkahku saat sosok Alesya mulai tidak terlihat. Bertanya-tanya bagaimana bisa Alesya berjalan begitu cepat.
Saat netraku kembali melihat Alesya, aku dengan buru-buru menghampirinya, namun naas aku tidak menyadari aku yang berjalan terlalu dekat ke tepian jurang, membuatku terpeleset dan jatuh.
Rasa sakit yang amat kentara langsung menghantam sekujur tubuhku terutama kaki saat tubuhku berhenti berguling. Rasa pusing yang mengikuti membuat pandanganku kabur dan detik berikutnya yang ku tahu adalah kegelapan.]
Itulah yang seharusnya terjadi, namun sekarang malah terbalik. Bukan Viana yang terperosok ke jurang, namun Alesya. Ia bersyukur dirinya dengan tepat waktu meraih batang pohon, sehingga ia bisa mengurangi benturan akibat dampak dari terjatuh jadi ia hanya mendapat beberapa lecet.
Dan disinilah Alesya sekarang, tersesat di hutan antah berantah. Niatnya ingin mencari jalan kembali ke tempat kemping tapi sial baginya sebab justru ia semakin tersesat ke dalam hutan. Sepertinya dewi fortuna sangat membencinya.
"Huh, nasib lo sial benget sih. Niat nolongin malah diri sendiri yang kena."
Walaupun ia sudah berusaha untuk tetap bersama Viana namun tetap saja Alesya masih kehilangan jejaknya. Dan informasi dari novel pun sepertinya tidak berguna sebab adanya perubahan.
Alesya berhenti begitu telinganya mendengar suara dari semak-semak. Manik matanya bergerak dengan cepat, melirik sekitarnya.
"Gue gak mungkin ketemu serigala, digigit, terus jadi manusia serigala kan?" Gumamnya saat mengingat salah satu adegan film di televisi. "Gak gak mungkin kan?" Lanjutnya dengan suara yang semakin mengecil di akhir.
Jantungnya berpacu semakin cepat, keringat dingin pun turut mengalir di pelipisnya saat suara sesuatu yang menerobos semak belukar semakin terdengar jelas. Alesya dengan kaki gemetar melangkah mundur perlahan. Otaknya sudah dipenuhi oleh banyak skenario buruk saat sesuatu itu semakin dekat. Alesya ingin lari tetapi sialnya kakinya yang tidak bisa diajak bekerjasama. Seolah kakinya membeku di tempat.
Matanya melebar dalam ketakutan saat semak-semak yang bergoyang itu bergerak menuju dirinya. Atensinya masih menatap ke arah semak-semak setinggi pinggangnya itu dengan waspada ketika gerakannya semakin mendekati dirinya setiap detiknya.
Kakinya tiba-tiba lemas dan berakhir jatuh terduduk. Alesya refleks menutupi wajahnya dengan tangan ketika sesuatu dari semak-semak itu melompat ke arahnya.
Alesya dengan perlahan membuka matanya, mengintip dari sela-sela jarinya saat tidak terjadi apapun. Ketakutan yang ia rasakan seketika berganti menjadi kemarahan saat melihat makhluk di depannya.
"Dasar lo kelinci g*blok! Gue pikir apaan tadi!" Alesya melempar botol air miliknya dengan kesal ke arah kelinci, membuat makhluk tidak berdosa itu berlari ketakutan. Masa bodo, salahkan kelinci itu yang membuatnya takut setengah mati.
Berdiri, Alesya menepuk-nepuk celana olahraganya yang kotor diiringi dengan bibirnya terus menyemburkan sumpah serapah. Meluapkan segala kekesalannya yang ia rasakan pada kelinci tidak berdosa itu. Namun Alesya sesaat berhenti, tubuhnya membeku saat ia tiba-tiba merasakan sesuatu menyentuh bahunya.
"Akhirnya kete-"
"AAAAA JANGAN MAKAN GUE DULU! GUE MASIH PENGEN LIAT COGAN DI SINI!!"
...***...
Suara dari daun kering dan ranting yang terinjak terdengar mengiringi setiap langkah saat menyusuri hutan. Canggung, itulah kata yang cocok untuk menggambarkan suasana yang Alesya rasakan sekarang.
"Kok lo bisa nemuin gue."
Suara Alesya memecah keheningan yang di antara mereka. Alesya masih tidak berani melihat orang di depannya sebab rasa malu karena kejadian beberapa saat lalu.
"Gue sering berkemah waktu kecil di sini, jadi akrab sama lingkungannya."
"Oh."
Benar juga, di novel memang disebutkan jika Rey memang sering kemping saat masih kecil. Namun tidak disebutkan bahwa lokasinya sama dengan tempat study tour.
"Dan kenapa lo bisa kesasar sejauh ini?"
"Gue jatuh pas nyari Viana."
"Kenapa lo nyari dia?"
"Gue, Maya sama kak Darren ke pisah sama Viana waktu turun. Oh iya Viana gimana?"
"Dia baik-baik aja. Gue ketemu mereka bertiga di jalan dan mereka juga yang minta bantuan gue buat nyariin lo."
Alesya menghembuskan nafas lega saat mendengarnya. Ia senang sebab berhasil mencegah kejadian buruk itu. "Makasih."
Rey menggeliat, merentangkan kedua tangannya lalu berbalik dan tersenyum ke arah Alesya, "Gak masalah, ini emang tugas gue," Ujarnya seraya memberikan ibu jari kemudian kembali menghadap ke depan.
Keheningan kembali mengiringi langkah mereka. Alesya ia menatap punggung di depannya. Jika di pikirkan kembali, di dalam novel Rey lah yang menyelamatkan Viana dan membawanya ke area kemping.
Dan acara kemping menjadi kacau saat itu sebab Viana tidak sadarkan diri dengan tubuh yang dipenuhi memar serta kepalanya yang berdarah. Karena kejadian itu, acara kemping diakhiri dan Viana dilarikan ke rumah sakit.
Rey selalu berkunjung dan menemani Viana di rumah sakit semenjak itu. Bahkan Rey juga selalu menemani Viana yang melakukan rawat jalan karena kakinya patah. Dan dari situlah hubungan Rey dan viana menjadi dekat.
Namun hal itu sepertinya tidak akan terjadi.
'Maaf Viana gue gak bermaksud buat ngambil momen penting lo.' Batinnya menyesal. Namun mau tidak mau ini harus dilakukan. Bahkan jika ia dan Viana tidak berteman sekalipun Alesya tetap akan melakukannya. Karena setelah kejadian itu Alesya semakin dibenci sebab rumor yang mengatakan jika Alesya yang mendorong Viana ke jurang. Dan itu bisa mengancam kehidupan damai sekolah nya.
Setelah beberapa saat hanya melihat pohon dan semak belukar, akhirnya Alesya dapat kembali melihat hiruk pikuk orang-orang di area kemping.
"Ok, kita udah sampe," Ujar Rey dengan wajah sumringah.
"Gue saranin lo jangan terlalu deket sama Darren."
Alesya mengerutkan dahi, ia menoleh, "...kenapa?"
"..."
Mengernyit, Alesya memandang penuh tanda tanya pada Rey yang tidak menjawab. Pandangan laki-laki itu lurus ke depan. Alesya pun mengikuti arah pandang Rey dan mendapati dua orang yang tengah berlari kecil ke arah mereka.
Setelah terdiam sesaat, Rey tersenyum dan menjawab, "Gak kenapa napa."
Alesya mengerutkan kening bukan sebab Rey yang tidak menjawab pertanyaan namun pada sorot mata Rey. Entah kenapa cara Rey menatap Darren mengingatkannya pada cara si mesum itu saat melihat Darren.
Tatapan seolah mengatakan bahwa ada sesuatu. Hal itu membuat Alesya tidak bisa tidak khawatir. Karena Darren merupakan karakter yang belum ia ketahui apa perannya di dalam novel.
"Alesya!"
Lamunannya berakhir saat suara Viana menyentuh gendang telinganya. Ia melambai pada Viana dan Darren yang hanya berjarak beberapa langkah darinya.
Saat Alesya ingin bertanya lagi namun ternyata Rey juga sudah pergi.
...***...
Mendengus lelah, Alesya akhirnya bisa bebas dari cengkeraman Viana dan Darren. Padahal ia hanya mendapat beberapa luka dan memar tapi mereka berdua terlalu heboh sampai menyuruhnya untuk tetap berada di tenda PMR. Apalagi Bara yang justru malah menyuruhnya untuk pulang.
Begitu sampai di tenda kelasnya, Alesya langsung disuguhi dengan pemandangan dari tiga orang gadis yang dengan santai tengah bergosip di pinggir tenda.
"Oh lo udah balik sya," tanya Silvi saat melihat Alesya. Dua lainnya pun ikut menoleh.
Alesya hanya memberi tatapan datar pada ketiganya. Apa-apaan dengan reaksi mereka yang terlampau santai itu? "Dasar temen laknat!" Geramnya dan ikut duduk bersama mereka. "gue kesasar kalian malah enak-enakan di sini. Kalian gak ada rasa khawatir gitu?"
"Ngapain khawatir? You know lah kan Rey yang nyari You...B-by the way, I masih gak percaya deh you udah gak ngejar Langit lagi. " Maya dengan segera mengubah topik saat mendapati Alesya yang tengah menatapnya nyalang. Dan terima kasih pada Lulu yang langsung menimpali.
"Bener juga ya? Kalo diingat-ingat dulu Alesya kek kesetanan ngejar Langit."
Tubuh Alesya seketika menegang ketika. mendengar omongan Lulu, "Ugh, bisa gak usah ngomongin dia gak? Merinding gue."
"Hahaha terus gimana kalo Rey? Dia kan tipe soft boy manis gitu." Ujar Silvi,berpendapat.
"Lebih kek goblok boy gak sih?"
"Kalo tipe bad boy kek Anton?"
"Mana mau gue sama cowo bom waktu ke dia."
"Kalo Bara gimana? Dia kan cool boy dan gentle-"
"Lebih ke narasi boy sih menurut gue mah."
Tak mau menyerah, Silvi kembali berujar, "Arya deh dia-"
"Playboy? Najis!"
Silvi cemberut, menatap kesal Alesya. Padahal yang dia sebutkan itu merupakan cowo-cowo top di sekolah loh! Sebenarnya dia yang salah menjelaskan atau salah orang sih.
"Kalo Langit gimana? Dia kan tipe cold boy." Kali ini bukan Silvi yang berbicara, namun Maya.
"Cold dari mananya coba? Orang ke anjing kena rabies gitu dibilang cold lagi. Cold itu Raka gak mudah tersenyum, tak mudah tergoyahkan dan tak mudah tergoda. 100% jutek."
Terang Alesya panjang lebar, membuat Silvi bergeming tidak bisa berkata-kata.
"Kalo begitu boleh dong Langit buat I?!" Seru Maya dengan antusias, membuatnya mendapat tatapan aneh dari ketiganya.
"Ambil aja, gue ikhlas. Mau di sembelit juga gak papa."
"Lo nggak nanti di serbu sama pendukungnya Langit Viana?"
Mengangguk setuju pada Silvi, Lulu ikut menimpali, "Iya,mereka kan serem banget."
"Bener juga ya? Huh I jadi iri deh sama you."
"Huh?" Alesya menoleh pada Maya yang duduk di sebelahnya, memandang penuh tanya pada ucapan tiba-tiba Maya.
"Which is you bisa milih laki-laki yang mana aja. Secara kan You populer."
Sekarang bukan hanya Alesya saja, namun Silvi dan Lulu juga sama menatap Maya.
"Hahaha cuma bercanda kok, that just joke." Jelas Maya segera setelah ia menyadari suasana yang malah menjadi canggung.
Silvi, Lulu dan Alesya tertawa hambar seraya saling pandang.
'Masa sih?'
Sementara itu di tempat lain tidak tidak jauh dari tempat mereka, dimana laki laki yang menjadi bahan perbincangan keempat gadis tersebut memasang berbagai ekspresi wajah.
"Mohon bersabar, ini ujian hahaha." Tawa Alan menggelegar di saat ia melewati meja yang berisi anak-anak Shadow itu. Viana yang juga berada di sebelah Alan terkikik geli.