
"GAK BOLEH!!" Seru Bara, lalu dengan segera menghampiri Alesya dan menutup pandangan Alesya dengan memposisikan tubuhnya di hadapannya. Menghalangi dirinya melihat Raka.
Alesya hendak protes, namun ia terkesiap saat netranya bertemu dengan tatapan tajam Bara. Tanpa sadar ia memalingkan wajahnya, menghindari tatapan menusuk itu.
"Apa yang dibilang Bara benar Alesya, dia gak baik buat lo," Ujar Langit dengan tenang, namun semua orang dapat menyadari kekesalan di balik suaranya yang tenang.
"Liat aja tampang soknya itu," Cibir Arya, ikut menimpali. Matanya menyipit memperhatikan Raka yang tengah duduk di motornya dengan kesal.
Sedangkan Anton sudah menggeram bak anjing yang siap mengamuk. Menatap penuh dendam pada sang ketua Black Flame.
"Tapi kan-"
Rey hendak bersuara namun mulutnya langsung ditutup oleh tangan Arya. Ia menatap Arya dengan pandangan bertanya namun Arya malah membalasnya dengan tatapan tajam, seolah memberi isyarat agar Rey diam.
"Apaan sih kalian ngatur-ngatur," Alesya merenggut kesal. Kenapa mereka sok ikut campur coba? Bukannya mereka gak peduli ya sama Alesya, namun apaan dengan tingkah mereka ini.
Semua ini semakin membingungkannya. Sifat mereka yang tertulis di novel dan yang ia lihat sekarang sangat berbeda jauh. Apa ini yang dinamakan efek kupu-kupu? Namun dirinya tak peduli, itu bisa ia pikirkan nanti. Sekarang ia memiliki prioritas lain.
"Bodo amat, gue mau minta nomornya!" Alesya memproklamasikan niatnya dengan semangat berapi-api. Menepis tangan Bara. 'Tunggu aku, karakter favorit nomor dua!'
Baru akan melangkah, tudung jaket Alesya di tarik, alhasil ia terjungkal ke belakang dan punggungnya berbenturan dengan dada bidang sang pelaku. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Alan yang menahannya. Alesya memberikan renungan tajam yang hanya dibalas dengan wajah bosan Alan.
"Lo harus dengerin mereka. Lagipula lo bakal ditolak juga. "
"Apaan sih! Lepas!" Seru Alesya memberontak. "Lagian apa kurangnya gue coba? Gue udah cantik, sexy dan-"
"Pendek, " Selang Alan dengan acuh.
Mulut Alesya ternganga, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia memandang Alan dengan raut tak percaya yang terlukis di wajahnya.
Tetapi Alan mengabaikannya, ia malah menatap ke arah Bara, lalu berkata, "Udah lo tenang aja, biar gue yang jaga dia. Lo fokus aja ke urusan lo. Bukannya itu lebih mendesak sekarang?.
Mata Bara membola dalam keterkejutan mendengar penuturan Alan. Namun ia segera menatapnya penuh selidik seolah meminta penjelasan bagaimana Alan tau akan hal ini.
"Tenang, gue ada di pihak lo."
Namun jawaban itu tak memuaskan rasa ingin tahu Bara. Ia masih ragu, apalagi Bara belum mengenal pasti orang ini.
Alis Alesya bertautan dalam kebingungan. Tak paham apa yang sedang mereka berdua bicarakan. Ia menatap bergantian antara Alan dan Bara yang tengah saling tatap-tatapan. Melihat hal ini, Alesya mencoba mengambil kesempatan untuk lepas dari genggaman Alan namun gagal saat lehernya dirangkul oleh lengan Alan dan menariknya menjauh dari jalan yang akan digunakan untuk balapan -menjauhkan Alesya dari melihat Raka.
Langit yang sejak tadi menonton interaksi antara Alan dan Alesya melihat mereka berdua dengan tatapan gelap dan Rey melihatnya itu terkikik. Lalu menepuk bahu Langit dan menyodorkan permen dari dagangannya.
"Penyesalan memang selalu di akhir," Rey berujar dengan nada serta tatapan tabah. Sementara tatapannya lurus ke depan, menatap kedua orang yang sejak tadi dilihat Langit.
Langit tidak bisa tidak menatap Rey dengan pandangan heran. Sangat jarang melihat Rey yang seperti ini. Terakhir kali Rey bersikap seperti ini saat kejadian tiga tahun lalu. Ia tak bisa melupakan sorot mata Rey yang seolah tahu apa yang akan terjadi, seolah ia sudah memprediksi hal-hal seperti itu akan terjadi.
"Gue tau kok."
"Gue paham apa yang bahkan lo gak paham."
Ingatan dan suara Rey saling tumpang tindih di benak Langit. Langit tertegun ketika Rey memasang senyuman yang berbeda dengan senyuman main-main yang bisa ia pasang.
"Udah buruan sana, siap-sip. Jangan murung mulu, nanti lo di bogem lagi sama Bara."
Langit menata Rey, tersentuh karena sahabatnya ini peduli padanya. Tapi semua itu langsung hancur saat Rey melanjutkan kata-katanya.
"Kasian anak-anak yang lain yang bakal tertekan karena lo berdua berantem. Juga Arya yang harus misahin kalian."
Langit menatap datar lalu berdecak dan pergi ke arah garis start dengan perasaan kesal.
Arya yang sejam tadi berada di dekat mereka menyaksikannya terkikik geli dan merangkul Rey, "Lo emang paling bisa ya," Pujinya kagum karena Rey yang selalu bisa memanaskan suasana. Baik itu dalam konteks yang baik dan kebanyakan yang buruk.
"Nyesel gue muji lo," Ujarnya setengah jijik. "Oh iya gue baru inget, taruhan dari kita apaan ya?" Arya bertanya, ia menatap para peserta yang sudah menaiki motor, bersiap meluncur di jalanan malam.
"SIAP SEMUANYA?!!" Teriak seorang gadis dengan celana jeans robek-robek pendek yang menyerupai hotpants, serta hoodie yang tak menutupi perutnya. Suara mesin motor berderu saling bersahutan sebagai jawaban.
Arya bersiul, membuat catatan dalam benaknya untuk meminta nomor gadis itu. Berbagai skenario sudah terbentuk di kepalanya bagaimana ia meminta nomor gadis itu.
"Taruhannya mobil lo, " Jawab Rey serentak dengan bendera yang dikibarkan gadis pembawa bendera yang diperhatikan Arya. Serta para peserta yang segera melaju membelah jalanan.
Jantung Arya terasa terbang selaras dengan angin yang menerbangkan rambut dua ponytail gadis itu. Kepala Arya dengan kaku berputar, menoleh Rey yang berada di sampingnya. Menatap dengan ngeri. "L-lo bilang apa barusan?" Tanya Arya, ingin memastikan -ingin menyangkal- apa yang ia dengar barusan.
Dengan senang hati Rey mengulangi ucapannya, " Taruhannya mobil lo."
Jiwa Arya seperti melayang entah kemana. Mulutnya membuka dan menutup seperti ikan yang keluar dari air. Matanya melesat dengan kecepatan cahaya ke arah tempat hadiah. Dan benar saja ada dua mobil di sana, satu mobil berwarna hitam dan satu lagi mobil berwarna merah yang merupakan miliknya terparkir di sana.
"KENAPA KALIAN JADIIN RAISA TARUHAN HAH!! DASAR TEMEN LAKNAT!!" Teriak Arya dengan frustasi. Ia dengan segera berlari ke arah gadis itu untuk meminta balapannya dihentikan. Gadis pembawa bendera itu menatap aneh serta bingung dengan tingkah Arya yang akhirnya diseret oleh anggota geng Shadow serta meminta maaf pada gadis tersebut.
Dan balapan malam itu diiringi dengan tangisan dari Arya Kamandanu yang menangisi dan menangis nama sang mobil kesayangannya, Raisa.
...◖◇◗...
"Mo-mobil G-g-gue…..hiks Raisa gue….hiks." Arya bergumam sambil mengelus mobil merahnya. Kadang ia juga menciumnya.
Mereka yang melihat hal itu hanya memutar matanya jijik. Bahkan Bara sudah muntah karena tak kuat melihat tangisan Arya dengan ingus di hidungnya.
"Ck, bisa gak lo berhenti nangis malu tau gak?" Tegur Langit menatap datar ke arah Arya yang menangis sesegukan, padahal mobilnya juga sudah kembali padanya.
"Berisik lo temen laknat!!"
Mendapat balasan seperti itu, Langit memutar matanya malas. Lalu duduk di pinggir Bara yang tengah dibantu Anton mengurangi mualnya. Mengambil sebatang rokok, Langit menjepit rokoknya di antara dua jarinya. Meletakkannya di mulutnya lalu menghidupkan korek api dan membakar ujungnya. Ia menghisap lalu menghembuskannya.
Langit memejamkan matanya, menikmati hembusan angin dingin yang menerpa wajahnya. Ditemani dengan isak tangis Arya, kata-kata menghibur anggota Shadow dan Rey yang mencoba menenangkan Arya serta sumpah serapa Anton karena bajunya terkena muntahan Bara. Ia masih bertanya-tanya bagaimana ia bisa bertemu dengan orang-orang seperti mereka.
Diantara suara-suara teman-temannya itu, sayup-sayup Langit dapat mendengar percakapan dari dua orang yang tak jauh darinya. Ia menatap lurus ke depan, memusatkan perhatiannya pada dua orang itu.
"Dia belum datang?" Tanya orang yang menjadi panitia dalam balapan ini.
Gadis yang merupakan pembawa bendera untuk memulai balapan itu menggeleng. "Belum."
Dahi Langit mengerut. Ia tahu siapa yang tengah mereka berdua bicarakan. Abimanyu Raka, ketua dari Black Flame. Ini sudah sepuluh menit berlalu sejak ia melewati garis finish namun Raka belum muncul juga. Padahal semua peserta sudah kembali.
Ia ingat bahwa Raka dan dia saling susul menyusul saat balapan, lalu dia berhasil menyalip dan memimpin. "Aneh," Gumam Langit. Ini tak pernah terjadi sebelumnya, Raka merupakan orang yang tak bisa dianggap remeh dalam hal balapan dan orang yang ia akui kemampuannya jadi mengapa ia belum kembali?
Dan ada satu hal lagi yang aneh. Matanya menyisir sekeliling, ia mencari sosok Alesya di antara orang-orang yang berlalu-lalang. Namun nihil, ia tak bisa menemukannya. Apa Alesya sudah pulang?
Langit kembali menyesap rokoknya seraya menatap sekitarnya. Lalu terhenti di satu titik, ia merasa ada yang ganjal. Seolah ada yang hilang. Dengan segera langit berdiri dan berlari ke tempat itu saat menyadari apa yang hilang. "Motor gue kemana?" Gumamnya pada diri sendiri. Motornya tak ada, padahal ia memarkirkannya di sini, ia merutuki kecerobohannya yang lupa mencabut kunci motornya.
Ternyata gumaman Langit didengar oleh Anton yang kebetulan berada di sana sedang membersihkan bajunya.
"Tadi di bawa Alesya, katanya sih nyusul Raka. Kayaknya dia ngebet banget pengen dapet nomor cecu*guk ba*gsat itu," Jelas Anton yang diiringi dengan kutukan.
Langit membeku, tak bisa berkata-kata saking syoknya.
Sementara itu dengan Alesya….
"OMG mereka serasi baget!" Bisik Alesya girang melihat pemandangan di depannya. "Kenapa sih lo malah sama Langit, mendingan kan sama Raka aja." Lanjutnya, matanya masih setia menatap kedua orang yang tengah duduk di kursi di depan minimarket itu di balik semak-semak.
"Kyaa! Berkibarlah kapalku!" Ujar Alesya girang seraya mengibarkan bendera merah putih yang kebetulan ia temukan di semak-semak tadi.